
Aku mengatur nafas berkali-kali berusaha tenang dan sabar. Semua ada hikmahnya. Kalau Yudha tidak menarik uangnya dari ATM ku, aku mungkin tidak menemukan kerjaan ini. Setiap hari ada saja yang memesan parcel. Aku sangat bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan padaku.
Hari ini aku mendapat pesanan 35 buah psrsel dengan harga berpariasi. Bangga tentunya, aku baru sebulan merintis. Aku juga sudah menambah dua karyawan. Ruang keluarga yang luas menjadi sempit kelihatan karena di penuhi pzrcel.
"Nona ada tuan Lukas." bisik Heny menghampiriku. Pak Lukas memang sering datang, disamping dia ada maunya, dia adalah pengacaraku.
"Ajak masuk, suruh tunggu." kataku pelan. Dari hati kecilku sebenarnya aku terganggu dengan kedatangannya. Perasaanku takut kalau dia menciumku makanya setiap dia datang aku mengajak Sean dan Heny atau yang lain ikut duduk diruang tamu. Antisipasi saja.
Aku merapikan parcel yang belum jadi. Dengan enggan aku keluar menuju ruang tamu.
"Pagi pak." kataku duduk di sofa.
"Pagi sayank, lagi sibuk ya."
"Setiap hari bertambah pelanggan, disamping perorangan, sekarang sudah merambah ke rumah sakit. Aku bersyukur sekali, berkat doamu juga pak." kataku tersenyum.
"Setiap masalah ada hikmahnya, semoga masalahmu dengan Yudha serta saudara papamu cepat selesai, kau bisa mengelola kembali bisnismu."
"Itu juga yang aku inginkan. Aku buta masalah hukum, aku akan menunggu putusan hakim." sahutku.
"Aku sudah promosikan parcelmu. Ini ada pesanan dari beberapa kantor pengacara. Biasanya mereka akan memberi parcel untuk client atau sebaliknya. Sekitar 50 orang yang pesan, kau boleh hubungi mereka."
"Trimakasih pak." kataku tulus. Aku menyimpan secarik kertas yang berisi nama pemesan. Mataku berbinar, ternyata pak Lukas baik dan perhatian. Aku mengambil kertas catatan itu dari pak Lukas. Pada saat bersamaan Sri masuk bersama Dhevalee. Aku kaget.
"Hallo Luna." sapa Dhevalee dia kaget melihat pak Lukas ada disini.
"Hallo Sri kenapa bisa bersama Dhevalee?" tanyaku mempersilahkan mereka duduk.
"Tadi mbak Dhevalee dan tuan Yudha datang ke boutique, dia menyuruh nganter kesini. Kebetulan aku juga mau kesini. Jadinya kita bareng." kata Sri.
"Kenapa kau tidak langsung bersama Yudha kesini, daripada ngerepotin karyawanku."
"Kau kangen sama Yudha?" celetuk Dhevalee. Kurang ajar banget, dasar penikung. bathinku.
"Dhevalee, kau adalah teman sejatiku dulu. Kita tahu sifat masing-masing dan seluruhnya kita tahu. Tanyakan kepada hati kecilmu jika kau menjadi aku, berada di posisiku, bagaimana perasaan kau. Tapi, kau tidak usah khawatir. Aku dari kecil dibuang ke Los Angeles, hidup mandiri. Sekarangpun aku begitu." ketus suaraku. Dhevalee terdiam, wajahnya memucat.
__ADS_1
"Maaf, aku keruang kerja dulu kalian boleh mengobrol berdua." kataku kepada Dhevalee dan pak Lukas. Aku lalu keluar bersama Sri.
"Maaf Nona, karena tuan Yudha yang minta tolong, maka saya mau mengantarkan mbak Dhevalee."
"Tidak apa-apa Sri, Dhevalee adalah temanku. Besok-besok siapapun menyuruh kamu jangan mau. Aku dalam pengawasan polisi. Di depan ada reserse yang jaga. Nyawaku sedang terancam."
"Maaf nona, saya juga dengar kisah nona dari teman di boutique, ngeri, semoga nona selalu dalam lindungan Tuhan."
"Siapa yang cerita?" tanyaku heran.
"Tuan Dimas."
"Dimas? kenapa dia kesana?" tanyaku heran. Selama aku bekerja dari rumah tidak ada customer yang bernama Dimas.
"Dia disuruh ibu untuk mengambil pakaian. Sudah dua kali ibu mengambil pakaian."
"Tapi koq tidak ada laporannya?"
"Ibu beli dengan nama samaran, saya juga tidak mengerti kenapa ibu begitu. Dia membeli dengan harga label."
"Apa ibu mengira kita tidak laris?"
"Ya benar, mungkin ibu begitu karena takut diketahui orang, dimana beliau sebenarnya kini berada?" tanyaku, mungkin Dimas yang tahu.
Sebelum selesai masalahku, mungkin ibu dan pak De tidak pulang. Dan aku juga tidak nongol di boutique dulu. Aku bekerja dari rumah, pendapatan di boutique aku transfer ke bank atas nama ibu Swari. Perlu di ketahui tidak sepersenpun aku mengambil uang boutique, diberi tumpangan di pavillion sudah bersyukur.
"Nona ini jumlah uang bulan ini, tolong dihitung." kata Sri memberiku segepok uang. Setelah menghitung aku letakan di brankas dan aku kunci, besok aku akan transfer ke ibu Swari.
"Nona saya tidak lama ya, tolong nona urus mbak Dhevalee."
"Trimakasih Sri, salam untuk semua karyawan." kataku memberi beberapa kotak cemilan.
"Trimakasih nona." senyum Sri mengembang. Aku mengangguk.
Aku kembali ke ruang tamu, rupanya mereka sudah mengambil minuman dari kulkas tamu. Situasinya tidak enak aku rasa Dhevalee dan pak lukas berdebat.
__ADS_1
"Maaf, aku agak lama. Dhevalee apa ada yang kau sampaikan?" tanyaku memandangnya.
"Aku ingin memberi kamu uang untuk anakmu, kasihan tidak bisa beli susu."
"Dhevalee, kau mabuk? kata-katamu tidak berkwalitas. Jangan aku dikasi uang Yudha. Makan tidak makan itu urusanku. Kalian berdua jangan terlalu ikut campur urusanku. Aku dan Sean sudah tenang."
"Hahaha...berapa kamu mau beri Luna uang? jangankan uang, aku mau beri rumah Luna tidak mau. Aku yang mau menjamin hidupnya dia menolak." kata pak Lukas tertawa.
"Kalau pak Lukas baik, tolong Luna supaya bisa membebaskan Yudha."
"Luna sudah minta tolong padaku, asal dia mau menjadi istriku gampang itu." kata pak lukas menatapku.
"Itu namanya tidak mau menolong kalau minta imbalan." kataku.
"Maaf aku mau ke kantor." kata pak Lukas berdiri menerima telpon. Aku menarik nafas lega setelah kepergian pak Lukas.
"Kau pacaran dengan pak lukas?" tanya Dhevalee menatapku.
"Dia pengacaraku. Jika dia mencintaiku itu wajar. Karena aku wanita dia seorang laki-laki."
"Tapi kamu mau tidur dengannya."
"Tidak, aku bukan free ***. Satu pria sudah cukup." jawabku lugas.
"Jadi kau tidak mau menolong Yudha, kau marah dengannya. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya."
"Pulang kau Dhevalee, kau pasti sudah tahu pintu keluar." kataku tenang.
"Kau tidak tahu balas budi. Saat kau menderita dan kelaparan hanya Yudha yang menolongmu."
"Dhevalee!! tanyakan bajingan itu kemana dibawa income dari seluruh bisnisku yang dia kelola. Apa manusia begitu harus aku kasihi. Berapa kali dia menyakiti hatiku dan berselingkuh dengan wanita murahan seperti kau." tunjukku marah.
"Jangan coba-coba mendekatiku atau membuat aku marah. Selama ini aku sabar, tapi tidak untuk kali ini." sambungku.
"Satu telunjukmu mengarah aku, tapi empat jarimu mengarah ke dirimu. Luna, kau merasa hebat baru ada pak Lukas? Ingat kau anak haram yang bisa hidup karena belas kasih orang. Kau miskin dan murahan!!"
__ADS_1
"Setidaknya aku bisa punya anak, karena aku bukan free ***, pemabuk dan hidup liar." kataku menghinanya. Dia bangun mau memukulku tapi Heny cepat memegangnya.
"Jangan disini ribut, keluar!!" teriak Heny mendorong Dhevalee.