
(POV YUDHA)
Tidak bisa mengelak dari takdir, sekaya apapun, dan seganteng atau secantik apapun pasti akan mati. Semua orang tahu dan menyadari akan hal itu. Jika itu jalan yang terbaik, untuk melepas sakit yang di alaminya kita harus rela. Walaupun dalam hati rasa iklas untuk kepergiannya masih abu-abu.
Teman sejatiku adalah Dirga, walaupun dia lebih tua beberapa tahun dariku, tapi kami cocok. Susah senang dalam menjalani bisnis kami pernah alami. Seleraku juga hampir sama, contohnya seperti mencintai Luna. Siapa sangka dia juga mengharapkan Luna menjadi istrinya.
Waktu itu aku hampir mengalah, kami sempat tidak berkomonikasi lama. Sampai mobilku tiba-tiba berbelok ke rumahnya. Itu hari terakhir aku melihat nya dalam keadaan hidup.
Kehilangan Dirga membuatku semakin terpuruk. Sulit sekali menata hati menjadi lebih baik dan legowo. Karena terus ditimpa kehilangan membuatku membeku. Jiwaku membrontak untuk membasmi kecurangan yang diperbuat oleh saudara papa Luna.
"Bos..orang yang ditunggu sudah pada datang." suara panji membuatku tersadar dari lamunan. Aku menoleh ke pintu, rombongan saudara papanya Luna sudah datang. Aku bisa bayangkan bagaimana sakitnya badan Luna ketika menerima siksaan dari mereka. Mengingat kekejaman mereka aku emosi, manusia biadab semuanya.
"Silahkan duduk pak dan ibu semua." Aku berdiri menuju sofa tamu. Mereka duduk dengan rapi memakai pakaian branded hasil dari mencuri kekayaan Luna. Simpatiku hilang melihat mereka.
"Siang bos..." sapa mereka semua.
"Siang, aku harapkan supaya udara panas di jalanan tidak ikut terbawa masuk kesini. Gerah aku mendengar dan menyaksikan tindakan kalian yang semena-mena dan merasa kuat, serta berkuasa, padahal kekayaan kalian hasil merampok." kataku tidak bisa membendung emosi.
"Maaf ini ada apa tiba-tiba kau nenghujat kami. Kita ini lebih tua dari kau, tolong pakai etika kalau bicara." Om Cakra yang terkenal paling jahat di antara mereka membuat aku tambah emosi.
"Apa yang kalian lakukan terhadap Dirga. Kau tahu Dirga itu teman sejatiku, hidupku."
"Yudha, kau berani memaki kakakku. Kau salah mencari lawan, jangan sampai nasibmu seperti Dirga." tante Dewi membuat suasana semakin memanas.
"Dewi jangan ikut campur ini urusan laki-laki, kalian cukup menjadi penonton saja." om Cakra membentak adiknya.
__ADS_1
"Aku tidak menjadi lawan, aku hanya mengingatkan dosa-dosa kalian. Jadi kalian mengerti bahwa aku banyak punya bukti untuk membawa kalian ke balik jeruji besi."
"Hahaha....kau merasa hebat, lihat saja Dirga yang mencoba menggurui aku. Dia mati walaupun kami tidak ada turun tangan." paman Darun tertawa senang. Mereka memandang rendah diriku. Aku tidak takut, dua CCTV telah dipasang, ada di ruanganku. Kalau ada sesuatu alarm dan hubungan dengan kantor polisi sudah siap semua.
"Aku tidak mau berdebat dengan kalian aku mengingatkan supaya kalian mengembalikan modal yang kalian pinjam kepada anak perusahanku. Tidak ada alasan apapun." pekikku.
"Selama ini kita kerja sama, semua sudah ada bukti hitam diatas putih. Kalau kau menjatuhkan kami, kau juga turut jatuh. Kenapa kau mau menerima anggunan dari kami yang jelas-jelas bukan milik kami. Jika kami tarik ulur untuk membayarnya sepertinya tidak jadi masalah. Jika kau sita anggunan itu, yang rugi Luna, karena semua milik Luna." kata pak Randu tersenyum sinis.
"Kalau dulu aku tahu kalian mengambil harta Luna dengan cara kejam dan hampir merenggut nyawanya aku tidak akan terpedaya. Aku tidak tahu yang aku percayai selama ini adalah musang berbulu domba."
"Jangan berbelit-belit, kalau kau banyak mulut tanganku jadi gatal ingin merontokkan gigimu. Katakan apa masalahmu dan tujuanmu memanggil kami." om Cakra berdiri dengan dada di busungkan. Tante Narsih berdiri membisikan sesuatu pada kakaknya.
"Kita pulang saja ada yang lebih penting urusannya dari sekedar omong kosong ini." kata om Cakra kepada saudaranya. Dia menatap tajam padaku. Kemudian memandang semua saudaranya sambil memberi kode.
"Nanti dulu, pembicaraan kita belum selesai, jika kalian tidak sudi mengembalikan uang perusahan, aku akan melaporkan kalian ke polisi." kataku dengan nada tinggi.
1"Jangan terlalu tinggi mengangkat kepala, kelak kalian akan tertunduk malu karena kesombongan kalian."
"Mari pulang, biarkan manusia ini menari tanpa musik, dia akan pingsan sendiri." kata tante Dewi nengejekku.
Aku membiarkan mereka pergi dengan ancamanku yang tidak membuat mereka takut, malah aku yang khawatir tentang keselamatan Luna. Kadang aku kesel dengan kaburnya Luna, wanita yang tidak tahu dicintai, maunya hilang melulu. Dia pikir orang di luar sana baik, tidak ada orang sebaik aku merawatnya.
"Tokk...tookk...tookk."
Panji yang sedari tadi berdiri kaku di pojokan berjalan menuju pintu. Aku baru ingat dia masih ada di ruanganku, tentu dia menunggu perintahku.
__ADS_1
"Kau boleh pergi Panji. semua rekaman CCTV disimpan di DVR atau NVR, terserah pak Dawam yang penting aman." kataku.
"Siap pak..." jawabnya seraya membuka pintu. Panji terpaku dipintu dan akupun kaget, dadaku berdesir. Aku kira Luna yang datang, wajahnya sekilas mirip.
"Selamat siang bapak." kata gadis itu percaya diri.
"Siang kau siapa?" tanyaku curiga.
"Aku calon sekretaris bapak. Apa aku tidak boleh duduk?"
"Owh..silahkan." aku mendadak gugup. Panji yang masih berada diambang pintu aku suruh keluar. Tidak enak rasanya kalau kegugupanku di lihat anak buah. Mungkin karena mengira Luna yang datang aku jadi nervous.
"Aku belum butuh sekretaris, walaupun aku nanti mencari, pasti aku pilih laki-laki." kataku memandangnya.
"Maaf pak, saya memberanikan diri kesini, karena saya tahu bapak orang yang bijak dan dermawan. Bapak akan kasihan mendengar kepahitan hidup saya. Penderitaan saya panjang dan berjilid-jilid. Saya membanting tulang mencari uang demi menghidupi anak saya. Saya sendiri anak yatim piatu dan sekarang menyandang status janda karena suami berselingkuh...." kata wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
"Duduklah, siapa namamu." kataku prihatin. Wanita ini jika dipandang lama-lama tidak mirip sama sekali dengan Luna, tapi cantik dan sexy. Bisa juga karena aku mencintai Luna, semua wanita aku lihat levelnya di bawah Luna.
"Anna." katanya melempar senyum genit. Aku mengangguk.
"Bapak menerima saya? terimakasih saya ucapkan atas kesediaan bapak menerima saya." katanya menggeser duduknya mendekatiku.
"Saya belum menerima kamu, saat ini lawan bisnis saya banyak. Saat ini saya takut menerima karyawan baru, apalagi tidak ada rekomendasi."
"Ternyata bapak tega, saya tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Ini lamaran saya ke 20. Saya naik gojek dari satu perusahan ke perusahan lain." Anna mulai menangis.
__ADS_1
Sungguh hatiku ingat Luna. Apakah dia sudah makan atau belum. Aku sudah memberikan Black Card kepadanya, dan mengisinya satu miliar. Dia bebas memakainya, tapi sudah hampir sebulan Luna tidak memakai uangnya. Itu yang membuatku sangat khawatir. Aku akan lebih tenang jika Luna mau mengambil uang. Berarti dia dalam keadaan baik-baik saja.
*****