PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
GODAAN


__ADS_3

(POV YUDHA)


Keberadaan Anna sebagai sekretarisku membuat Panji gerah. Owner Rep ku ini sering berceramah dan menasehati diriku. Panji masih muda pengalaman hidupnya yang pahit membuat dia lebih bijaksana dan lebih jeli melihat wanita yang ingin menjalin hubungan spesial denganku. Setiap ada wanita yang mau dekat denganku dia duluan berkomentar pedas.


"Bos tolong berhati-hati dengan Anna, saya kurang percaya dengannya. Tingkahnya di buat-buat dan sombong sangat manja dan genit." katanya tempo hari saat aku baru saja masuk keruanganku.


"Mungkin karena kau duluan mengenal Luna, jadi kau membandingkan Anna dengan Luna."


"Saya banyak mengenal perempuan selevel Anna, ada duit abang sayang, tidak ada duit abang ditendang. Bukan saya membandingkan, kenyataannya nona Luna lebih qualified."


"Aku hanya kasihan kepadanya, hitung- hitung aku menerima Anna karena menebus kesalahanku kepada Luna."


"Bos..kalau mau menebus dosa kepada nona Luna lebih baik pergi ke panti asuhan. Atau menyewa detektif untuk mencari nona Luna."


Begitu kata Panji ketika aku menerima Anna sebagai sekretaris. Apa aku yang salah, padahal Anna tidak pernah membuat masalah atau bekerja tidak benar, malah Anna sangat baik padaku dan memperhatikan makan dan kesehatanku. Apa Panji membawa fitnah dunia? Hahaha.


"Bos...mungkin saya agak cerewet, tapi saya tidak bisa melihat bos bekerja sampai malam tanpa minum jus atau jamu. Saya terbiasa melayani bekas suami saya dulu sedemikian rupa supaya dia sehat. Bagaimana kalau setiap hari saya bawain bos jamu stamina?" katanya dengan kelembutan seorang wanita. Itu hari ketiga dia bekerja. Perhatiannya sungguh tidak bisa diragukan lagi.


Aku terharu, Hanun dan Luna belum pernah memperhatikan aku sedetil itu, sedangkan Anna baru tiga hari bekerja sudah memikirkan kesehatanku. Panji buta hati, tidak bisa menilai mana orang baik dan tulus.


"Aku akan memberi kau uang untuk membuat jamu, kirimin aku nomer rekeningmu." kataku memandangnya dengan perasaan campur aduk. Aku merasa saat aku butuh perhatian Tuhan mengirimi ku malaikat. Surprise!


"Bos.. bukannya saya banyak uang, saya tidak mau menerima imbalan itu. Semua saya lakukan dengan tulus iklas tanpa pamrih."


"Kamu jangan sungkan, kau pantas menerimanya. Aku memberi untuk anakmu."


"Saya sangat bertrimakasih, bos sangat baik kepada saya dan anak saya. Saya malu menerimanya, tapi kalau bos memaksa apa boleh buat, saya akan menerimanya." kata Anna lalu menyodorkan nomor rekeningnya.


"Langsung di kirim ke Whatsapp saja Anna, supaya tidak ribet. Aku akan kirim lewat mobile banking."


Anna kaget ketika aku transfer lima juta, dia langsung memelukku dan menangis. Karena dia spontan memelukku aku jadi kaget dan ikut nemeluknya.


"Bos...tidak salah penilaian saya, bos sangat dermawan, saya sangat bersyukur bisa di terima bekerja disini dan berdampingan dengan bos."


"Hemm...hemm..." Panji nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Aku cepat melepaskan pelukanku sambil memperbaiki dasi.

__ADS_1


"Masih pagi bos....." kata panji dengan wajah kecut.


"Tidak seperti perkiraanmu Panji, Anna terharu saat aku memberi uang jamu yang dia akan bikin setiap hari demi menjaga staminaku." ucapku jujur supaya Panji tidak membuat fitnah dunia atau gosip miring mengenai peristiwa tadi.


"Bos memang baik Anna, setiap orang mengeluh kepadanya pasti di kasih uang. Semua karyawan tahu bos baik. Kita sebagai karyawan harus tahu diri, jangan mengambil keuntungan kala bos memperhatikan kita." ketus suara Panji. Aku tahu Panji pejantan tangguh yang tidak mempan dengan rayuan wanita. Apalagi wanita murahan.


"Maaf Pak Panji yang terhormat, saya mengerti maksud bapak, saya bukan wanita rendahan dan bisa dibayar. Saya rela menjadi tukang cuci mobil waktu saya belum bekerja disini. Yang penting halal. Tidak kurang pengusaha ingin menikahi saya, tapi saya bertahan demi buah hati saya." kata Anna dengan suara tinggi bercucuran air mata.


"Aku sangat nengerti apa yang kamu derita, jika jamu butuh apa-apa katakan padaku." ucapku ikut sedih mendengar penderitaan Anna. Aku ingat Luna, terbayang penderitaannya yang hampir sama dengan Anna.


"Anna jembali bekerja, bos hari ini jadwalnya padat. Saya juga akan mengawal bos keluar daerah." Panji menatap Anna tajam, kemudian membaca jadwal hari ini satu persatu.


Anna tidak menyahut dia menyeka air matanya kemudian kembali ke kursinya aku diam-diam mencuri pandang ke padanya karena aku kasihan, Panji seolah memusuhinya. Aku mengerti dan tahu maksud Panji supaya Anna tidak merepotkanku.


Aku jarang menemukan wanita yang setiap hari tersenyum manis, sabar ketika aku marah padanya. Kadang Anna banyak salah bekerja, tapi aku maklum karena dia mengatakan belum pernah bekerja sambil memikirkan anak di rumah. Dia membawakanku jamu serta makanan kesukaanku setiap hari. Baru dua minggu bekerja sudah menarik simpatiku.


"Maaf bos, saya dengar Anna mau membawakan bos jamu setiap hari, apa bos pernah minum jamu?" tanya Panji waktu itu.


"Tidak bisa, nanti bisa dibuang di wastafel." kataku seenaknya.


"Kalau tidak bisa katakan tidak mau. Supaya dia tidak sibuk dan bos tidak keluar uang."


"Jangan cepat tergoda bos, masalah yang bos hadapi sudah banyak. Cerai belum tuntas karena istri bos hilang dari peredaran, saya yakin dia keluar negeri dengan pacarnya, masalah dengan nona Luna belum juga tuntas."


"Tunggu Hanun datang, perceraian sudah hampir finish." kataku santai.


"Aku fokus sama Luna saja, aku yakin akan bisa menemukannya." sambung ku lagi.


"Bos, bagaimana kalau setiap hari saya mengambil jamu yang di kasi Anna. Akhir-akhir ini stamina saya turun terus, saya merasa kurang sehat."


"Ambilah, tapi jangan ketahuan Anna. Tidak enak dengannya. Maksud Anna baik dan mulia."


"Ya bos aku menutup mulut."


Sering bertemu denganku membuatku was-was, karena tingkah Anna kadang tidak bisa di kontrol. Suatu hari saat ada kecoa dia loncat memelukku karena takut. Hampir terjadi benturan bibir yang tidak terduga, untung aku cepat sadar.

__ADS_1


Bukan berarti aku tambah senang atau tambah bosan kepada Anna. Hanya saja aku menghindari rendezvous yang bisa menodai kesetiaanku dengan Luna. Seringnya kejadian yang membuat Anna terpaksa memelukku dan sengaja menempelkan toketnya ke dadaku membuat aku mengambil keputusan supaya dia rela pindah ke ruangan sebelah.


Aku risih satu ruangan dengan wanita yang berpakaian supermini dan sengaja menonjolkan asetnya. Jika ditanya ada saja alasannya.


"Anna, apa tidak ada seragam kantor yang lebih sopan dari yang kau pakai?" tanyaku suatu hari.


"Bos, pakaian ini semua ukurannya sama, jika wanita lain memakai akan terlihat bagus rapi dan sopan karena fostur tubuhnya biasa. Tapi kalau saya memakainya akan terlihat seronok karena saya sexy." kilah Anna.


Tapi aku rasa Anna sengaja membuat baju seragamnya mengecil, karena banyak karyawan yang bahenol mereka terlihat berpakaian sopan. Ntahlah, apa mataku salah lihat.


"Anna, semua barangmu akan di pindah ke ruangan sebelah, supaya kamu bekerja lebih khusuk disana. Jadi mulai sekarang ruanganmu di sebelah."


"Kenapa harus begitu? Apa salahku bos. Aku ingin satu ruangan supaya gampang bertanya."


"Kau tidak bersalah, memang harus di sebelah. Apalagi setiap hari banyak tamuku datang, rasanya tidak nyaman saja." kataku memberi pengertian.


"Aku tahu bos cemburu saat pria lain memandang diriku dengan seribu makna."


"Astaga, bukan begitu Anna. Aku ingin privasi. Kalau ada kamu aku kurang konsen." kataku.


Padahal karena rokmu yang terlalu pendek membuat pikiranku bersilancar. Bathinku.


"Bos adalah laki-laki normal, saya mengerti maksudnya. Tapi kalau bos mau, seluruh tubuh saya akan saya serahkan. Calling saya kalau bos butuh pelampiasan."


Waduhh..Anna, otakku menjadi mesum apalagi belahan di dadanya terlalu rendah. Tanganku bergetar ingin meremasnya. Untung saja benda di bawahku tidak berontak mendengar ajakan dan melihat tubuh sexy di depanku. Jadi aman dah.


"Kapan-kapan Anna." suaraku sedikit bergetar. Aku benci dengan jawabanku yang seolah memberi peluang kepada nya. Harusnya aku tegas menolaknya. Busyet, Anna tersenyum dan lidahnya membasahi bibirnya.


Aku lega setelah Anna pindah ruangan, walaupum dia sering ke ruanganku dengan berbagai alasan. Lama-lama aku bisa gelap mata karena seringnya memancing birahiku dengan cara sensual.


Seperti sore ini waktu aku mau pulang, Anna sudah bersandar di mobilku dengan wajah muram.


"Ada apa Anna?"


"Tadi ada karyawan yang nengajakku rendezvous di hotel dengan bayaran tinggi, aku langsung nenolaknya. Jika aku tidak mau dia ingin menculikku. Aku takut bos." keluh Anna.

__ADS_1


"Siapa karyawan itu, aku pecat dia." kataku emosi. Lalu aku mengajaknya naik ke mobilku.


****


__ADS_2