PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
PAK LUKAS


__ADS_3

Semua barang yang ada di kamar kini sudah diganti, meja, sofa panjang, bed sampai gorden. Keseriusan Yudha mengundang aku tidur di kamarnya perlu diacungin jempol. Berarti tidak ada alasan jijik karena bekas Anna.


Aku melihat Yudha di atas tempat tidur dengan perban baru melilit di telapak tangannya. Perlahan aku melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku bersyukur Sean selamat. Hari ini banyak sekali kejadian yang membuat aku terguncang.


Ntah sudah berapa kali aku berjanji atau bertekad untuk pergi dari sisinya, tapi ada saja yang membuat aku harus kembali lagi. Aku harus bagaimana? menutup mata dan telinga, pura-pura tidak tahu apa-apa. Sungguh absurd.


Selesai membersihkan dirì aku memilih tidur di Sofa panjang. Aku mengganti lampu kamar dengan lampu tidur. Aku melirik Yudha posisinya masih sama. Apa dia tidur beneran atau pura-pura, aku tidak peduli. Badan ini terasa lelah membuat aku cepat tertidur.


Hilir-hilir aku merasakan sesuatu yang berat yang mengguncang tubuhku. Aku terbangun dari tidur ketika merasakan ada yang menindihku. Rupanya tubuh ku sudah berada di tempat tidur. Yudha dengan buasnya menggoyang tubuhku tanpa jeda.


"Yudha......" aku tidak bisa melanjutkan protesku, mulutku sudah ditutup oleh bibirnya. Aku bingung menolak atau menerima kelakuannya. Rasanya aku cepat sekali luluh, padahal aku sudah berjanji mau tegar pantang menyerah kepelukan Yudha.


"Maaf sayank pertahananku ambruk jika berada dekat denganmu, tidak bisa aku menahan hasratku saat melihat tubuhmu." kilah Yudha setelah dia menggelepar disamping tubuhku.


"Alasan, dasar gatel." kataku membiarkan tangannya memelukku.


Mungkin aku sudah ketularan Virus cinta, kemarahanku seketika sirna atas perlakuannya kepadaku. Aku yakin dia hanya bisa bercinta denganku. Malam ini kami pergunakan dengan sebaik- baiknya tanpa khawatir. Setelah lelah kami membersihkan diri.


Malam ini aku berjanji dalam hati akan melupakan apa yang Yudha pernah perbuat dengan wanita lain. Aku akan fokus dengannya dan putraku. Kami akan berusaha memulai kehidupan berumah tangga yang sebenarnya.


"Siapa yang nenggigit lehermu?" tanya ku setelah kami kembali ke tempat tidur. Aku iseng bertanya.


Tangan kekarnya memelukku dengan mesra. Aku yakin tangannya pasti sakit tapi dia tahan tanpa mengeluh.


"Jangan merusak suasana hati kita yang lagi mesum hahaha..." candanya.


"Aku minta itu perselingkuhanmu yang terakhir, kau selalu membuat aku menangis. Aku mencintaimu." kataku sambil mengecup bibirnya.


"Tidak ada yang aku cintai selain kamu, kau membuat aku merasa hidup kembali. Aku bisa punya putra yang tampan, yang membuat aku bergairah kalau bekerja." rayuan Yudha berhamburan keluar dan aku percaya.


"Berapa cewek sudah kau garap ketika aku tidak ada disampingmu?"


"Pertanyaan yang sama untukmu sayank."


"Aku tidak pernah berselingkuh. Mana mungkin, lagian aku hamil." protesku.


"Setelah melahirkan bisa nggak?" tanyanya bikin gondok.

__ADS_1


"Uh.. aku jadi kesel dituduh tapi tidak melakukan. Tahu gitu aku jual diri saja, supaya langsung dapat uang."


"Ya aku percaya sayank, kau adalah hidupku. Aku bisa mati bila kau selingkuh. Tubuhmu hanya untukku."


"Tapi jika aku tahu kau berselingkuh lagi aku akan pergi bersama putraku." kataku mempermainkan bulu halus di wajahnya.


Yudha tersenyum, dengan gemas dia ******* bibirku. Dia menggigit bibirku sedikit sehingga reflek aku membuka mulut. Diapun leluasa menguasaiku. Dasar Yudha, aku selalu takluk dengan permainan cintanya.


"Tidak ada kata perpisahan lagi, kita berjodoh. Kemanapun kau lari aku akan menemukannya, jadi tidak usah lari jika kita sedang berselisih." katanya.


Namun aku tak mengatakan apa-apa, dan hanya tersenyum saja. Lalu kami berdua mulai memejamkan mata, dan mulai terlelap.


Suara alrm ponselku membuat aku membuka mata. Sudah pukul.07.00. Aku ingat persidangan, hatiku tiba-tiba mencelos mengingat Yudha yang akan memenuhi panggilan.


Selesai mandi dan berdandan seadanya aku pindah ke ruang tamu untuk menghubungi pak Lukas.


"Pagi pak Lukas, aku mengganggumu pagi ini, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu."


"Pagi Luna, aku tidak bisa berbicara lewat ponsel. Jika itu penting datang kesini, kau boleh sharing denganku." kata pak Lukas tegas.


Dia tamatan Harvard University dan belum menikah. Aku tidak tahu kenapa dia tidak menikah, mungkin karena dia terlalu dingin, cuek dan tegas. Aku sendiri sungkan padanya.


Demi Yudha akupun meluncur ke jalan tratai nomer 10x. Aku sudah berbicara dengan bibi, jika Yudha bangun supaya mengingatkan untuk pergi ke sidang. Aku sendiri tidak kuasa melihatnya.


Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Tidak butuh waktu lama aku sudah sampai di tempat yang dituju. Aku bingung dan bengong di depan rumah nomer 10x.


Tidak menyangka, dari luar rumah ini kelihatan sangat sederhana. Aku cepat menepi dan membiarkan mobil di pinggir jalan. Kemudian aku turun dari mobil dan memencet bell pintu.


"Pagi pak." kataku ketika pak Lukas sendiri yang membukakan pintu.


Aku terpaku dan merasa risih melihat pak Lukas hanya memakai celana pendek dan baju kaos oblong. Mana bodynya kekar begitu. Dadanya ada bulu halusnya. Bukannya pak Lukas pakai kemeja.


"Silahkan masuk." ajaknya mendahului ku. Aku masuk ke ruang tamunya yang sederhana. Ruangannya mungkin 5x5m. Disini ada sofa bentuk L yg biasa. Selebihnya tidak ada apa lagi.


"Silahkan duduk Luna, rumahku sederhana tapi aku nyaman disini." aku terasa disindir.


"Ya pak bagus...." kataku tidak berani menatapnya.

__ADS_1


"Kamu punya waktu terbatas, silahkan apa yang ingin kau katakan."


"Sebelumnya aku minta maaf pak, karena baru nenyampaikan prihal ayah dari anakku." kataku menunduk.


"Tatap lawan bicaramu, supaya kau tahu aku mendengarkan cerita ini atau tidak." kata pak Lukas membuat aku tersenyum.


"Kau sangat cantik dan sexy, siapapun akan menyukaimu."


"Trimakasih..pak." kataku salah tingkah kenapa pak Lukas malah memujiku, harusnya dia serius. Penampilannya beda sekali dengan di kantor.


"Apa kau mencintai Yudha?" aku langsung mendongak menatapnya.


"Ya pak, hanya dia."


"Kau cantik dan baik hati, sangat gampang mencari pendamping hidup." aku tersenyum lagi.


"Apa bapak tidak mau mendengar ceritaku?" akhirnya aku bertanya.


"Kau terlalu naif Luna, kami adalah pengacaramu, sampai sedetil-detilnya kami sudah tahu siapa kamu, suamimu dan semuanya. Aku baru sekali ini mau menangani kasus dari pak De, karena melihatmu."


Aku bengong, aku memang buta hukum, tahu begitu aku tidak datang.


"Kamu pasti menginginkan suamimu tidak di hukum ya?"


"Saya mohon pak, dia owner perusahan besar, saya akan mencabut tuntutan saya. Saya menuntut saudara papa saja."


"Luna sayank...kau jangan panik. Bagaimanapun suamimu akan kena, nanti kita bantu."


Aku tambah menunduk memandang ujung sepatuku. Kalau Dimas atau yang lain memanggilku sayank, aku maklumi. Tapi ini pak Lukas, orang yang berwibawa, dingin dan tegas.


"Trimakasih pak." hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku grogi.


"Luna sayank, aku tidak sedingin yang kau bayangkan jika berhadapan dengan wanita sepertimu. Aku sengaja berpenampilan begitu supaya para wanita tidak menggangguku."


Duuhhh....kenapa pak Lukas jadi perayu, apa dia salah makan obat?


*****

__ADS_1


__ADS_2