
(POV YUDHA)
"Katakan kepadaku siapa laki-laki yang mengganggumu."
"Aku tidak tahu. Lupakan saja, saat ini aku sudah merasa aman dekat dengan bos. Untung bos mau mengajak saya satu mobil, kalau tidak, orang itu akan memaksa saya. Harusnya setiap hari saya pulang bersama bos untuk menghindari orang jahat. Mereka terlalu tergila-gila dengan penampilan saya."
"Tidak baik kalau kau terus ikut aku pulang, akan ada gosip yang kurang bagus. Padahal kita tidak ada hubungan apapun. Disamping itu aku banyak urusan. Tidak mungkin aku mengajak kau kesana kesini."
"Saya adalah sekretaris di kantor, wajar kalau saya selalu ikut bos, apapun pekerjaan itu, baik pekerjaan luar atau pekerjaan kantor saya akan kerjakan. Biarkan orang lain menilai kita dengan persepsinya masing-masing. Orang akan diam kalau kita bisa mewujudkan hubungan ini dengan kenyataan."
"Maksudmu? aku ini bos mu Anna, tidak mungkin aku menjalin hubungan lain selain atasan dan bawahan. Aku masih punya istri, sudah proses cerai. Aku punya selingkuhan yang sangat aku cintai, jadi kau jangan membuat kehidupanku kacau."
"Bos jangan salah mengartikan ucapan saya, tidak mungkin saya minta nikah dengan bos, saya sendiri juga tidak mau kalau bos melamar saya, yang saya maksudkan jika bos nenginginkan saya bekerja atau melayani bos saya siap tanpa imbalan. Kita sudah sama- sama dewasa, bos pasti mengerti." kata Anne menggodaku.
Seperti kata Panji jika kita memberi hati dia akan minta jantung. Tapi tidak semuanya benar, Anne sangat tulus membantuku. Aku tahu dia pasti kesepian sepertiku, haus akan kasih sayang dan kebutuhan biologis. Dia pasti menjaga image supaya tidak menjadi pergunjingan orang.
"Trimakasih Anne, suatu saat aku akan meminta kau untuk melayaniku."
"Bos, ini jalan menuju kota rumah saya sudah lewat."
"Aku akan ke tempat pengacaraku."
"Owh..baiklah, aku senang kalau bos mengajak saya pergi."
Matahari sudah lenyap di telan bumi, aku baru sampai di kantor pak De setelah 20 menit perjalanan tanpa macet. Masih banyak mobil yang di parkir, berarti client pak De masih banyak.
"Anna kamu diam di mobil atau ikut aku. Masalahnya aku agak lama disana pasti ngantre juga." kataku mematikan mesin mobil.
"Saya ikut bos kemanapun bos pergi."
"Kalau begitu turunlah."
Anna turun dengan wajah sumbringah, aku bisa menangkap keceriaannya. Angin malam terasa moist berhembus menyapu badanku. Aku melangkah masuk ke ruangan, ada Yuly skretaris pak De menyambutku. Wajahnya ceria, tapi ketika melihat Anna raut wajahnya berubah. Mungkin dia mengira Anna pacarku.
"Hallo bos, ada berita baru, nyonya hanun sudah pulang, ada di rumahnya sekarang." bisik Yuly disampingku.
__ADS_1
"Syukurlah, berarti akan cepat selesai." kataku senang.
"Semoga saja, kalau sudah cerai, bos jangan lupa ngajak aku dinner." kata Yuly, aku cuma tersenyum saja.
"Anna, duduk disana aku mau ke ruangan lawyer." kataku menyuruh Anna pergi dari sampingku.
"Saya ikut bos." Anna memegang lenganku. Aku cepat tepiskan tangan Anna.
"Mbak duduk saja disana, jangan bikin reseh. Yang berkepentingan saja boleh masuk." ketus suara Yuly.
"Saya skretarisnya mbak."
"Ini urusan keluarga, jangan ikut campur." Yuly melotot kepada Anna yang lebay.
Dengan terpaksa Anna menuju ke rest area. Aku diam saja melihat kedua wanita itu saling sindir dan berharap aku membelanya. Aku langsung menuju ruang pak De. Masih ada tiga client, sambil menunggu aku melihat ponsel dan melihat galeri. Luna, wajah itu sangat mempesona, rinduku tidak terperi.
Perut Luna pasti sudah sangat besar dan sudah hampir melahirkan. Aku harus menyebar orang untuk menemukannya. Aku yakin dia akan memilih rumah sakit yang dulu dia ingini.
"Siapa yang kamu ajak Yudha, jangan salah pilih lagi." kata pak De ketika hanya ada kami berdua.
"Tahu darimana dia seorang janda dan sangat menderita. Bapak melihat sekilas saja bisa menilai orang." kata Pak De menatapku jantungku berdebar kalau sudah pak De memojokan aku. Selama ini pak De sering memberi wejangan yang sangat berarti untuk hidupku kedepannya.
"Aku tidak mungkin terpengaruh oleh wanita itu selain dengan Luna." ucapku tegas.
"Bapak harapkan supaya kamu lebih hati-hati, jangan sampai kamu seperti Dirga. Manusia akan bermanis-manis di depan kemudian nusuk dari belakang."
"Ada apa dengan Dirga?" tanyaku heran.
"Saudaranya akan menuntut atas kematian Dirga. Mereka berkeyakinan bahwa Dirga mati kena racun, intinya terbunuh. Pada saat di mandikan seluruh tubuhnya membiru."
"Owh, waktu itu aku ada disana. Karena banyak koleganya aku duduk di bangku. Siapa lawyernya pak De?"
"Katanya Winarno cs. Keluarga Dirga tidak ada kesini atau sekedar bertanya, padahal semasih Dirga hidup saudara nya dan kerabatnya sering kesini. Semua masalahnya bapak yang menangani. Seperti kau inilah."
"Pak De, aku baru ingat. Waktu Dirga sekarat dia memberikan aku dua flashdisk, jangan-jangan benda itu merekam petunjuk yang membuat Dirga meninggal."
__ADS_1
"Kenapa baru bilang? kau ceroboh sekali. Bisa saja itu sebuah petunjuk. Bapak nanti mampir ke rumahmu disini sangat riskan."
"Maaf Pak saya menyela sebentar, ibu ada di luar ingin bertemu bapak." kata Yuly menyela.
"Suruh tunggu dulu sudah hampir selesai." kata pak Dek berdiri.
"Pak De, kalau begitu aku pulang dulu."
"Ya..duluan, kembaliin wanita itu baru kamu pulang. Jangan kau bikin masalah baru." pesan pak De. Aku hanya nyengir saja.
"Bos tunggu." Anna memeluk pinggang ku, wanita ini tidak ada kapoknya. Aku menepis tangan Anna dengan kasar.
"Anna jaga sikap, aku tidak mau orang bergunjing." kataku sambil membuka ponsel karena ada telpon dari Private number.
"Hallo....." tidak ada sahutan, tapi aku mendengar suara nafas.
"Sayank...aku tahu ini kau." tetap tidak ada jawaban.
"Sayank...pulanglah aku sangat rindu padamu, aku sangat mencintaimu." aku tahu ini Luna, aku mendengar isak tangisnya.
"Sayank...sayank....." sambungan telpon terputus sepihak. Tidak berapa lama ponselku kembali bergetar. Aku melotot melihat fotoku dipeluk Anna berhamburan masuk. Seketika tangan ku gemetar, aku berteriak memanggil nama Luna. Aku mendorong dan menepis Anna.
Sungguh aku habis akal, mataku berair aku seperti orang gila mencari kesana kemari Luna, setiap mobil aku teliti. Akhirnya aku melihat mobil yang masih menyala lampu dan mesinnya, itu mobil terakhir. Aku melangkah lebar kesana. Tiba-tiba seorang pemuda dan wanita setengah baya mendahului aku dan mereka naik ke mobil.
Jlebb!!. Aku menghentikan langkahku, aku yakin Luna ada di dalam mobil itu. Aku cepat lari ke mobil untuk mengejar mobil yang baru pergi itu.
"Yudha!!" tetiak psk De, aku menoleh pak De datang menghampiriku.
"Kau kenapa seperti orang gila kesana kemari." tanya pak De heran. Anna juga datang menghampiriku.
"Tidak ada apa, aku agak puyeng aja." jawabku cepat.
"Bapak bawa mobil sendiri, kamu duluan antar wanita itu." kata pak De mengedikkan dagunya.
*****
__ADS_1