PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
KABUR


__ADS_3

Semoga ponsel bibi bisa di pakai nelpon, jangan sampai tidak isi pulsa. Aku mulai menghubungi hotel tempatku bekerja, tapi baru saja tersambung sudah mati. Pulsa habis.


"Maaf bi, pulsanya habis aku tidak bisa nelpon."


"Bibi jarang beli pulsa, nanti kalau gajian bibi beliin pulsa dua puluh ribu." kata bibi kecewa aku juga kecewa. Aku kasihan melihat bibi. pppppBaru kali ini aku merasakan penderitaan orang tidak punya. Banyak keinginan tapi tidak berdaya. Ngeness.


"Bibi nanti aku beliin ponsel yang canggih."


"Nona jangan mengkhayal, tuan dan nyonya tidak mungkin memberi gaji. Nona sudah di beli oleh nyonya. Ibaratnya nona adalah budak belian."


"Aku yakin pasti ada jalan lain." ucapku pelan. Aku mengkhayal seandainya Yudha datang aku akan meminjam ponselnya. Tidak sabar rasanya menunggu dia datang.


"Bibi punya rumah?" tanyaku.


"Punya, tapi nona tidak boleh tinggal di rumah bibi, disana orangnya penjahat semua lebih baik tinggal disini."


"Belum apa-apa sudah ditolak."


"Hehe...bibi takut nona celaka, lebih baik mencegah daripada mengobati."


"Tapi disini aku seperti cewek murahan yang gampang di jamah. Aku seperti menunggu boom waktu yang kapan saja bisa meledak."


"Setidaknya kita bisa makan dan tidur di kasur, tidak seperti di rumah bibi, kumuh. Jika nyonya datang tidak mungkin tuan akan tidur dengan nona, jadi santai sajalah sebelum bibi punya uang untuk beli pulsa."


"Sepandai-pandai tupai melompat akan jatuh juga. Artinya hubunganku dan tuan pasti akan terendus. 0rang akan menyalahi aku dan mengatakan aku pelakor. Tidak ada orang yang akan membelaku walaupun aku katakan semua masalah itu terjadi karena tuan memaksaku."


"Jangan takut, bibi percaya padamu."


"Yailah bibi...semua ysng ada disini akan percaya, tapi orang luar bi."


"Biarin orang luar berpikiran jahat, yang penting nona tidak berbuat jahat." kata bibi tegas. Bicara sama bibi gak ada ujungnya. Aku berdiri.


"Bibi aku akan membersihkan kamar."


"Ya nanti bibi bantu."


Aku berjalan menuju gudang mengambil peralatan bersih-bersih. Dulu waktu di Los Angeles, aku tidak pernah menyangka akan menjadi pembantu, karena hidupku disana lumayan makmur. Disamping kuliah aku bekerja di resto cepat saji dengan bayaran lumayan gede. Aku juga sangat menjaga pergaulanku dan menolak pendekatan dari teman lelaki. Tapi sayang nasib buruk menimpaku.


Aku sedang asyik membersihkan toilet tiba- tiba bibi memanggilku. Wajahnya terlihat pucat.


"Cepat bawa pakaianmu ke belakang, nyonya datang bersama teman-temannya." kata bibi membuka almari.


"Yaya bi...."

__ADS_1


Aku menarik seprai, sarung bantal untuk di cuci. Dadaku jadi berdebar tidak karuan. Beginilah perasaan seorang pelakor setiap istri sah tuannya datang. Menyedihkan.


"Sudah siang begini belum selesai bersih- bersih, apa saja yang kau kerjakan dari pagi. Jangan upah saja yang di terima. Untung aku datang, kalau tidak datang ku pastikan kalian berdua santai."


"Tidak usah marah-marah nyonya, kami semua kerja dari pagi." sahut bibi tidak senang. Aku merasa bibi tidak takut menyahut


"Cepat bersihin ruang tamu, setelah itu ambil makanan dan minumam di mobil. Tata di ruang tamu."


"Lebih baik tamu nyonya dibawa keliling, ke taman belakang misalnya, disitu sangat asri banyak buah yang matang." sahut bibi sambil menata makanan.


"Kamu ngajari aku, dasar babu tidak ada etika. Karena Yudha aku mengajak kamu disini, ingat itu."


"Pergilah ke kebun belakang nyonya." kata bibi setengah mengusir.


Nyonya Hanun pergi ke belakang bersama teman-teman nya, jumlah mereka sekitar dua puluh orang. Dandanan mereka mewah, memakai barang brended.


Saat ini aku berada di ruang tamu, jadi aku bebas melihat keluar karena ruang tamu jendelanya terdiri dari kaca riben. Satu persatu aku perhatikan wanita sosiolita yang berjalan sambil membawa kipas cendana..


Mereka pasti bersaing dan merasa paling wahh... orang kaya baru. bathinku. Saat mataku mau beralih ke tempat lain seorang wanita menarik menarik perhatianku. Mata ku nanar melihat salah satu nyonya yang berbaju merah. Tidak salah lagi itu tante Dewi, adik papaku. Tante yang memotong rambutku, yang ikut menyiksaku.


Tanganku sampai gemetar menahan marah, untung pakaianku tertutup. Tante Dewi tidak akan mengenali diriku.


"Bibi aku nanti beres-beres di dapur, bibi disini melayani nyonya."


"Mereka tidak perlu di layani, semua sudah tersedia." jawab bibi menggandeng tanganku menuju dapur.


"Mau kemana luna?" tanya bibi ketika aku keluar dari dapur.


"Mengintip mereka mengambil buah takut dihabisi. Semoga pak Koming ingat nyisain kita." kataku menuju ruang makan. Dari ruang makan aku bebas melihat mereka.


"Diam disini nona, saya akan mengambil beberapa buah untuk nona." kata bibi.


"Bibi, ambil yang banyak......" kataku. Saat aku lihat bibi dan kedua scurity sibuk dengan tamu-tamu itu, aku dengan gesit keluar rumah dan berlari ke jalan raya.


Aku berhenti berlari ketika banyak mata melihatku. Mereka pasti mengira aku gila berlari di tengah terik matahari. Nafasku ngos-ngosan. Setahun berada di Bali aku cukup mengenal jalan-jalan di kota ini, walaupun terbatas yang sering kulalui saja. Misalnya jalan ke rumahku, ke Hotel atau kerumah kedua temanku.


Ketika menjumpai pertigaan aku mulai bingung, yang mana aku pilih. Disini aku baca jalan Kedondong, tembus pantai. Yang lagi satu jalan Amertha, menuju mesjid. Akhirnya aku memilih jalan Amertha, belok kanan dan aku ketemu masjid yang besar. Tanpa sungkan aku masuk ke dalam mesjid untuk minta minum.


"Pak saya minta minum."


"Mari..mari, aku dibawa keluar. Ternyata dibawah pohon jambu ada dua buah meja yang penuh dengan berbagai nasi bungkus, snack dan minuman.


"Makanlah..." kata bapak itu menyuruh aku duduk di sebuah bangku tidak jauh dari situ.

__ADS_1


"Saya duduk di bawah saja pak." kataku duduk di lantai.


Saat air mengalir lewat tenggorokanku, air mataku langsung jatuh. Aku bersyukur kepadaNYA atas segala anugrah hari ini. Perlahan aku bangun dan mengembalikan nasi yang diberikan padaku. Aku rasa orang lain sangat membutuhkan, aku hanya butuh minum.


"Kenapa nasinya di kembalikan?" seorang ibu yang menjaga makanan bertanya dengan heran.


"Saya hanya butuh minum." kataku tersenyum tipis.


"Maaf bu, ini daerah mana, saya kesasar. Rumah ssya ada di Kuta." kataku berharap dia mau menjelaskan.


"Kuta dekat dari sini, sekitar satu kilometer. Tapi kalau naik gojek dua puluh menitan."


"Owh...begitu. Tapi boleh saya berteduh disitu untuk sementara?" tanyaku menunjuk ke sudut.


"Boleh saja, asal jangan bikin kotor."


"Trimakasih bu." jawabku lalu pindah ke pojok. Aku mencari tempat teduh untuk beristirahat.


Aku duduk dengan lutut ditekuk. Kedua tanganku memeluk lutut. Kalau sekarang aku berjalan menyusuri jalan raya, mungkin nyonya bisa menemukanku. Aku harus bersabar supaya Matahari terbenam barulah aku akan pergi.


Hari ini cuacanya panas, tapi di tempat aku duduk anginnya semilir membuat aku mengantuk. Tanpa sadar aku ketiduran. Ntah berapa lama aku tidur badanku terasa di goyang-goyang.


"Mbak bangun, sudah magrib." aku dengar suara anak-anak. Aku mendadak membuka mata, ada dua orang anak perempuan dan seorang bapak tua membangunkanku. Aku langsung berdiri.


"Maaf pak saya ketiduran." kataku malu.


"Tidsk apa-apa, apa saya boleh tanya, tujuan mbak kemana. Kalau bisa bantu saya akan bantu. masalahnya tidak elok seorang wanita berada disini seorang diri, takut terjadi sesuatu."


"Maaf Pak merepotkan, rumah saya di Kuta Pak. Saya kena rampok, semua tas hilang. Ponsel hilang. Jika bapak berkenan saya pinjam ponselnya untuk menelpon saudara saya." jelasku.


"Boleh..boleh..pakailah ini." kata pak tua menyerahkan ponselnya.


"Pak ini dimana dan patokannya apa,"


Setelah aku dikasi tahu posisiku, aku langsung menelpon Hotel. Biasanya para staft sudah pulang. Paling yang ada bagian shift malam. Akhirnya aku putuskan menelpon Dhevalee.


"Hallo...." Dhevalee sendiri yang menjawab. Aku sangat senang.


"Dhev ini aku, jemput aku di depan Mesjid...." kataku cepat. Aku terbiasa memakai bahasa Inggris dengan teman-temanku.


"Oh my God what are you doing?"


"Ceritanya panjang, jemput aku."

__ADS_1


"Oke..tunggu!!"


******


__ADS_2