PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
CINTA MELEBIHI RASA BENCIKU


__ADS_3

Jangan ada yang bergosip kalau aku di tarik ke kamar Yudha. Dia memaksaku, aku tidak bisa melawan, tenaganya besar. Sampai di kamar aku langsung ke balkon di belakang. Duduk di kursi yang ada disana. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini, marah atau suka. Yang jelas aku sangat sakit hati mengingat dia dengan Anna.


"Yank minum dulu." Yudha membawa dua botol minuman ringan.


"Tidak mood aku mau pulang."


"Sudah kangen sama Dimas, aku cuma ingin mengklarifikasi masalah uang damai 500 juta dengan Anna supaya kamu tidak salah persepsi."


"Apa sih Dimas..Dimas...kau pikir aku murahan seperti jalangmu. Kalau aku mau, tidak kurang laki-laki baik yang ingin menikahiku. Tapi aku tidak mau, bukan aku tidak laku. Itu semua...."


"Karena kau sangat mencintai aku." potong Yudha cepat.


"Cihh...pede sekali, mana aku mau dengan play boy. Aku ingin hidup sendiri bersama anakku, jauh dari godaan laki-laki sepertimu."


"Minum sampai habis, setelah itu kita ngobrol masalah asetmu yang kau tuduhkan kepadaku, yang kau katakan bahwa aku yang merampok atau ingin menguasainya."


"Terlambat Yudha, laporan sudah masuk. Semua asetku sampai mobil Rubicon menjadi barang bukti. Setahun lamanya kau sudah diberi kesempatan mengklarifikasi, tapi kau malah hura- hura dengan Anna. Trimalah sekarang ganjarannya. Ajak cewek murahanmu ke penjara!" kembali aku marah.


Rasanya ingin marah melulu jika dekat Yudha. Aku emosi jiwa kalau ingat vidio yang di kirim Anna. Yudha seperti tidak merasa bersalah, kalau ketemu nyosor aja. Uuhhh....


"Yank, semua ada jawabannya, tidak seperti yang kau pikirkan." kata Yudha duduk di sampingku di sofa panjang.


"Aku dah tua, sudah punya anak, jadi jangan kau membodohiku lagi. Sudah kapok, lebih baik sendiri dan menyepi."


kataku beringsut dari sisinya.


"Aku bicara serius, waktunya sudah sangat mepet. Kau tega melihat ayah dari anakmu di penjara. Kau egois, tidak pernah berpikir kalau aku selama ini juga menderita. Pikirkan psychology anaknya. Bunuh saja aku sekalian."


"Menderita apa kau, bukankah selama ini kau ***-*** dengan Anna. Kau kerjanya menuduh aku saja. Padahal belum pernah aku selingkuh atau suka dengan laki-laki lain. Aku setia, kau yang tidak setia. Aku capek... aku lelah lahir bathin, hiks...hiks....."


"Untung ada bu Swari menampungku, aku melahirkan sendiri tanpa ada yang menunggu." sambungku lagi.

__ADS_1


"Luna, semakin aku biarkan, kau tambah semakin berbohong. Aku ini orang kaya, aku bisa menyewa orang untuk mendapatkanmu dalam sehari, tapi aku tidak mau. Aku juga beruntung punya sekretaris genius seperti Anna, jadi air matamu tidak bisa mengelabui kebejatanmu dengan Dimas." kata Yudha melempar puluhan foto ke atas meja.


"Apa artinya ini!!" bentak Yudha emosi.


Mataku terbelalak melihat satu persatu foto Dimas denganku. Rupanya Dimas lebih licik dari perkiraanku. Dia sering datang ke pavillion hanya untuk membuat foto, dan dikirim ke Anna. Brengsek banget laki-laki itu.


Rupanya selama ini Anna menghasut Yudha dengan cara memperlihatkan foto Dimas di rumah ku atau pas berada berdua. Berarti Dimas sudah dari dulu kenal Yudha lewat Anna. Aku yakin Anna adalah mata-mata atau suruhan dari Hanun atau tante Dewi.


"Apa kau percaya?" tanyaku sambil menghapus air mataku.


"Seperti kau percaya melihat vidio ku. Kau sudah tahu aku tidak mampu penetrasi dengan wanita lain selain kau, tetap juga kau permasalahkan."


"Dimas diam-diam mengambil gambarku, lalu mengatakan aku dan dia terjadi hubungan spesial yang kebenarannya tidak pernah kau selidiki. Sedangkan kau dan Anna nudis di atas tempat tidur. Siapapun akan berpikiran negatif dan percaya bahwa kalian berdua sedang ML"


"Terserah kau, kau melihatku jeleknya saja. Begini saja, pergilah kau, Sean aku yang mengajak. Aku tidak terima anakku diasuh oleh ayah tiri."


"Enak saja, itu anakku. Kenapa kau tidak memelihara anak dari Anna, apa kau malu punya calon istri wanita ******." kataku kesel.


"Kau sendiri yang ******, kau kira aku tidak tahu bahwa Dimas sering nginap di rumahmu."


"Hahaha...akhirnya kau mengaku juga." Yudha mengejekku. Sakitnya hatiku.


Dengan kemarahan yang menggunung aku berdiri dan menghapus air mataku, aku yakin kami tidak jodoh karena setiap bertemu selalu bertengkar serta saling curiga, padahal aku membuang masa remajaku lalu menerima cinta palsunya. Seandainya cinta bisa berbelok, dari dulu aku mengambil lajur cepat supaya bisa melupakannya.


"Kau memang senang kalau aku mati." kata Yudha, setelah itu dia memukul meja kaca.


"Praannkkkk...." suara kaca pecah.


"Yudhaaa...." teriakku memegang tangannya yang berdarah.


"Pergi kau, biarkan aku mati!!" teriak nya mendorongku. Hampir aku jatuh untung ada tempat tidur menyangga tubuhku.

__ADS_1


Aku bangun dan memeluknya, aku takut dia kalap dan melakukan yang tidak-tidak. Air mata lelakinya menetes, dia menangis. Aku berusaha memeriksa tangannya karena darahnya banyak.


Aku cepat menelpon dokter Alex, dia dokter pribadi Yudha. Tapi sebelumnya aku membalut luka ditangan kanannya.


"Maaf nona, dokter Alex menangani operasi di rumah sakit pusat. Pasien bisa dibawa langsung ke klinik, ada dokter jaga yang akan menangani." seorang suster menjawab telponku.


"Ganti baju, kita ke klinik." kataku mau membuka piyama Yudha.


"Tidak usah, biarkan aku sendiri." tolaknya. Aku tidak menghiraukannya, aku cepat bertindak mengambil celana pendek dan memakaikannya. Tentu saja aku melakukannya dengan susah payah karena dia menolak.


Aku memanggil bibi dan menyuruh membersihkan kamar. Aku yakin bibi dan Heny serta yang lain mendengar pertengkaran kami. Mereka tidak ada yang pura-pura bertanya.


"Ayo kita ke mobil." kataku mengambil kunci mobil. Aku melihat Yudha pucat dan berkeringat, aku takut jika terjadi sesuatu.


Yudha diam saja ketika berada di mobil aku menghapus keringat di wajahnya dan mengecup bibirnya. Sebenarnya rasa cintaku melebihi rasa benciku.


Mobil rubicon ini peganganku, jadi aku tidak begitu khawatir kalau ngebut. Aku pasang strobo supaya orang pada minggir dan memberi jalan.


"Jangan ngebut." keluar juga omongan dari mulut Yudha ketika merasakan lari mobil ku sangat kencang. Aku tidak menjawab, bibirku hanya tersenyum.


Sampai di klinik aku membantu Yudha turun dari mobil, dia banyak diam. Ada rasa bersalah di hatiku, seharusnya aku memdengarkan keluhannya. Dia adalah ayah dari anakku, jika terjadi sesuatu anakku tidak punya ayah. Oohh...


"Maaf suster saya nona Luna yang menelpon barusan." kataku ke suster jaga.


"Silahkan masuk, dokter Edy telah menunggu."


"Trimakasih suster."


Aku menunggu di luar ketika Yudha di tangani oleh dokter. Semoga tidak terlalu parah. Yudha ada-ada saja. Aku mengambil ponselku ketika berdering.


"Hallo...."

__ADS_1


"Nona cepat pulang, Sean hilang."


*****


__ADS_2