
Kembali aku kaget melihat di tembok, dibelakang singgasana Yudha, photoku dan photo Yudha di pajang sangat besar, memakai figura berwarna emas. Aku bertanya dalam hati apakah Yudha mengenaliku saat ini atau tidak. Kalau dia tahu ini aku, pasti aku ditahan atau di peluk, setidaknya dia menolak Anna. Rasanya aku ingin mencekik leher Yudha. Geram banget!!.
"Aku menanyakan namamu, supaya bisa di cairkan cek nya." kata Yudha duduk di depanku berbatas meja. Anna sibuk mengurus baju. Aku mengambil ceknya dan aku tulis nama Luna.
"Owh..Luna, nama yang misterius dan cantik. Berapa nominalnya yang harus aku bayar. Hitung semua, jangan sampai kurang nanti kau rugi." katanya pura-pura bego. Tanganku mau tulis di cek, dia malah menarik cek nya.
"Sebutkan saja nyonya Luna, aku masih bersabar." katanya acuh.
"Sembilan puluh juta." uff... suaraku keluar gemetar. Brengsek sekali, kenapa tubuhku tidak mau kompromi, gemetar semua. Inikah namanya cinta?
"Tenang nyonya, tarik nafas yang dalam... afirmasi positif. Apa yang kau lihat belum tentu sama dengan apa yang kau pikirkan. Begitu juga dengan apa yang kau pikirkan belum tentu sama dengan apa yang kau lihat. Berhati-hati lah dalam menilai segala sesuatunya."
"Hemm...." banyak petuah. Gerutuku dalam hati.
"Sayank, trimakasih kau sangat baik padaku." kata Anna keluar dari ruangan fitting. Senyumnya sumbringah menatap Yudha.
"Maaf Anna apa kau sudah pilih? kau boleh ambil dua selebihnya aku akan kasi istriku."
"Apa? untuk istrimu?" teriak Anna tidak percaya. Dia berdiri kaku dengan wajah merah. Aku tertawa dalam hati. Anna langsung kembali ke ruangan untuk mengganti pakaian.
"Aku masih punya istri Anna, ingat itu." mata Yudha melirik aku.
Apapun yang Yudha katakan aku tidak terpengaruh, sungguh!. Hatiku sakit.
"Kalau sudah selesai saya permisi." kataku berdiri dan menyambar cek dari tangan Yudha.
"Nyonya Luna, aku minta tolong untuk membawa kembali sisa gaun. Titip disitu, nanti aku akan membawa istriku kesana untuk fitting." kata Yudha datar.
"Putri, ida, tolong ambil semua paper bag, kita akan balik ke boutique."
"Siap nona."
"Permisi." kataku langsung pergi.
Aku terlihat tidak sopan, tapi aku punya alasan untuk berbuat begitu. Kakiku seolah tidak napak lantai. Khayalanku tidak sesuai kenyataan. Tangisku pecah setelah berada di mobil.
"Nona Luna apa yang terjadi? apakah mereka melakukan sesuatu terhadap nona?" tanya putri bingung.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku hanya terharu saja." kataku menghapus air mata yang deras mengalir. Tidak ku sangka akan kembali bertemu dengan Yudha. Tapi pertemuan ini membuka luka hatiku.
"Sabar nona, wanita itu memang cerewet dan sombong. Jangan diambil hati perkataannya."
Aku menarik nafas panjang berusaha membuang kesedihan. Sulit sekali menjadi tegar, melupakan Yudha yang selalu membuatku menangis. Dasar bajingan tengik!.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Pikiranku melayang kemana- mana, kasihan sekali Sean anakku. Ayahnya ditempel wanita murahan. Aku baru ingat wanita yang bernama Anna itu pernah diajak ke kantor pak De. Rupanya Yudha tidak mencariku selama ini karena dia sudah punya pacar. ****!
Sampai di kantor aku menyuruh Putri dan Ida menaruh pakaian dengan rapi, di ruangan fitting. Itu semua sudah laku. Mungkin Yudha menunggu Hanun dan mengajaknya kesini.
Aku menuju wastafel mencuci wajahku yang berantakan akibat menangis. Hari ini menyebalkan, lebih baik aku tidak bertemu Yudha daripada bikin sakit hati. Aku duduk di ruangan belakang menenangkan diri. Disini ada sekitar enam puluh karyawan dengan tugas yang berbeda.
Sri datang menghampiriku, dia terlihat sangat khawatir dan sedih. Katanya nona Anna komplain karena pakaian dan aksesorisnya dibawa kembali ke boutique, padahal pacarnya sudah melunasinya. Dia marah-marah ke Sri.
"Kalau besok-besok ada yang komplain telponnya kasi aku saja, aku yang menjelaskan kepada mereka. mana nomer pacar wanita itu, aku akan bicara."
"Nona, yang marah nona Anna, bukan pacarnya." kata Sri meluruskan.
"Aku minta persetujuan kepada pacarnya, apakah dia memberi izin jika pakaian tadi diambil nona Anna kembali, atau tidak."
"Owh..ini nona." kata Sri memberi ponsel ksnti
"Hallo." terdengar suara Yudha berat dan berwibawa.
"Hallo pak Yudha, calon istri anda marah-marah kepada karyawan saya masalah gaun yang kami bawa. Jangan mengadu domba kami pak."
"Mengadu bagaimana?" tanya Yudha pelan. Aku seolah mendengar suara Yudha sangat dekat.
"Tuan Yudha yang terhormat, ambil pakaian anda semua, atau uang anda, aku tidak butuh pelanggan yang membuat aku naik darah. Ajarin calon istri anda etika dan tata susila...." kataku emosi.
"Nona...." panggil Sri.
"Sri, aku lagi emosi kau urusi pakaian." kataku keras. Sri ke belakang sambil menutup mulut.
"Maaf nyonya aku bersalah." sahut Yudha. Aku merasa aneh suara Yudha seperti berada di belakangku. Aku sontak menoleh dan kaget setengah mati. Ternyata Yudha ada di belakang bersandar di tembok. Asem!
"Bikin kaget saja, kenapa berada disitu." triakku berdiri. Kedua tanganku
__ADS_1
mengelus dada yang bergemuruh. Berarti dari tadi Yudha melihat tingkah ku yang sedang menelpon.
"Kau sibuk menelpon jadi aku tidak mau ganggu." kata Yudha tersenyum.
"Jawaban apa itu? katakan kau sudah datang."
"Yaya...aku sudah datang dan permisi mau duduk." kata Yudha di sofa tamu.
"Sri tolong antar pak Yudha ke tempat fitting baju." perintahku.
"Siap bu."
Aku menjadi gila sungguhan gara-gara tingkah Yudha. Geram sekali aku. Dia seenak jidatnya berulah.
"Mana istrinya pak yang mau fitting baju?" kata Sri memandang Yudha. Aku juga ingin lihat Hanun.
"Ada, tapi saya minta nyonya Luna yang fitting, karena body istri saya seukuran dengan nyonya Luna."
"Boleh pak." kata Sri memandangku.
"Maaf pak saya tidak bisa." jawabku cepat. Apa-apaan ini, Yudha mau meyakinkan dirinya bahwa aku Luna. Tidak bakalan aku mau. Persetan!!.
"Mohon mengerti, ini permintaan pelanggan nona Luna." sri memaksaku.
"Sri aku habis melahirkan perutku buncit mana bisa aku pakai baju sempit." kataku emosi.
"Nona sudah melahirkan?" semua karyawanku kaget, aku lupa, waktu ini aku bilang belum menikah. Sudah terlanjur bicara.... gimana lagi. Aku melirik Yudha dia diam saja. Aku TIDAK peduli!!.
"Ada apa ini?" suara ibu mengagetkan kami. Ibu datang dengan dua orang wanita.
"Tadi bapak ini minta tolong kepada nona Luna fitting baju yang dia beli. Sekarang akan dilaksanakan." kata Sri membuat aku tersenyum pahit.
"Owh begitu silahkan Luna, kasi konsumen yang terbaik." kata Ibu senang. Aku terpaksa melangkah ke ruangan fitting bersama Sri, Ida dan Putri. Ibu lanjut melihat-lihat bersama kedua temannya. Aku seketika ingat Sean anakku.
Yudha duduk di sofa yang sudah di siapkan. Aku baru melihat dia membawa camera. Apa lagi ulahnya, aku tidak bakal takluk. Sungguh!!. Sri, Ida dan Putri mulai sibuk membatu aku. Waktu aku membuka kerudungku, dan pakaianku, mereka bertiga takjub akan kecantikanku dan kehindahan tubuhku.
"Astaga nona, kau sungguh cantik dan sexy..." kata mereka hampir berbarengan. Mereka belum tahu siapa aku, akulah wanita yang selalu diikuti oleh kepedihan dan duka nestapa.
__ADS_1
****