PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
DIAMBANG KEMATIAN


__ADS_3

(POV YUDHA)


Orang bilang bahagia itu sederhana, tapi dimana letak kesederhanaannya itu. Aku merasa bahagia itu sulit aku gapai, hanya keperihan menyesakkan dada. Orang bisa saja berkata, lari ke bar atau cari gadis perawan, bagiku itu bukan jalan keluar dan tidak bagus. Malah hidupku tambah rancu kalau itu aku lakukan.


Hidupku terasa hancur gara-gara jatuh cinta. Dulu aku cinta dengan Hanun tapi dia kedapatan selingkuh, sekarang cinta dengan Luna, orangnya kabur ntah dimana berada. Dua orang wanita yang menghancurkan kebahagiaanku. Apa aku tidak berhak berbahagia? Dimanapun Luna berada, aku tetap mencintainya, berusaha setia semoga saja dia mengerti bahwa aku selalu akan menantinya.


Dengan berbekal itikad yang bulat aku akan menceraikan Hanun. Aku tidak peduli pamorku jatuh atau kolegaku menarik sahamnya, yang penting aku bisa bercerai dengan Hanun.


Arrrhhh....aku menarik nafas dan membuangnya kasar. Aku tidak habis pikir kenapa Luna harus kabur, apa dia menganggapku main-main. Wanita sulit di mengerti pikirannya, sikapnya selalu berubah-ubah. Tapi aku yakin dia sangat mencintaiku, kadang aku tidak percaya karena dia begitu cantik dan sempurna, sedangkan aku sudah beristri dan sering menghujatnya serta menghinanya.


"Pak silahkan masuk, bos sudah menunggu." seorang wanita datang menghampiriku. Dia sekretaris disini.


"Ya.." jawabku pendek. Aku langsung masuk kedalam ruangan.


"Hahaha...ada apa lagi Yudha.."


"Pagi bos, kalau tidak bermasalah aku tidak mungkin datang." kataku duduk di sofa tamu.


"Mau cerai? sudah berapa kali bapak mendengar kata-kata itu."


"Ini benar, aku sudah tidak kuat."


"Hahaha...apa ada gadis lain, dimana kesetiaanmu Yudha. Bukankah kau selalu mengagung-agungkan istrimu."


"Itu dulu, semua ada alasannya kenapa aku mengambil tindakan begini. Kesabaranku sudah diambang batas, aku sudah tidak bisa bersabar lagi."


"Ceritakanlah, Yuly akan merekam, jangan ada yang bengkok dan keluar dari jalur yang menjurus kebohongan."


"Mana aku pernah bohong pak De."


"Bapak sarankan kepadamu sehabis bercerita tarik nafas yang panjang, jangan sampai setelah di rekam kau bilang tidak jadi cerai, rugi bandar."


"Ini benar pak De, kali ini aku serius." kataku meyakinkan. Kalau aku tidak ingat dia sudah tua, sudah aku cabut kumisnya yang seperti kumis lele.


Setelah pak De kenyang mengejek aku, akhirnya perceraianku di proses juga. Aku memberi dia wewenang untuk mewakiliku karena aku tidak mau bertemu dengan Hanun lagi.


"Tidak ada mediasi, aku tidak mau." kataku ketika pak De bertanya padaku.


"Semoga bisa, ini sepertinya alot."

__ADS_1


"Aku mohon semoga pak De bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat." kataku mengeluarkan cek.


Pak De berdiri menghampiriku dan memegang tanganku yang mau menulis nominal yang diminta.


"Simpan uangmu untuk anak-anak yatim piatu." berdesir darahku saat pak De mengatakan anak yatim. Aku menggigit bibir ku mengingat Luna, wanita yang telah aku hancurkan.


"Pak De, aku mencintai seseorang, tapi dia meninggalkanku." akhirnya aku nemberanikan diri untuk mengaku, suaraku terdengar bergetar saat aku sebutkan bahwa wanita itu adalah anak yatim piatu. Pak De terlihat kaget, lalu dia berusaha tersenyum.


"Siapapun orang yang kau cintai, dari manapun asal usulnya kamu tidak perlu merasa down dan menganggap wanita itu tidak berharga dimatamu. Sepanjang wanita itu baik budinya dan mencintaimu juga, tidak ada salahnya kau meminangnya dan menikahinya seperti wanita lain yang pernah kau nikahi." kata pak De mengguruiku.


"Aku banyak menyakitinya sehingga dia ragu untuk melanjutkan hubungan ini." kataku pelan seolah kepada diri sendiri


"Jika kau merasa menyakitinya, carilah dia. Tapi jika kau masih ragu-ragu dan ada perasaan rendah diri untuk mendampinginya maka lepaskan dia."


"Aku tidak peduli dia siapa, aku mencintainya." kataku serius.


"Kalau kau mantap carilah dia dan nikahi." kata pak De kembali duduk.


Aku nengambil air mineral yang di atas meja dan meneguknya habis. Yuly yang selalu memandangku mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis Astaga, cewek zaman sekarang, bisa murahan begitu. Aku tidak munafik, tapi aku punya kreteria yang berbeda kalau menyangkut seorang gadis. Yang pertama tentu seperti Luna, kedua seperti Luna lagi dan seterusnya Luna.


"Pak..mau minum kopi?" tanya Yuly mendekatiku. Yaelah.. aku baru sadar dari tadi memandangnya. Mungkin dia gede rasa.


"Pak De aku mau pulang, ini cek sudah aku tanda tangani dan tolong isi angka supaya aku tidak berhutang."


"Sana pulang, ingat cari calon istri yang soleha." kata pak De menepuk bahuku.


"Trimakasih pak De." kataku keluar dari kantor pengacara.


Aku naik ke mobil mengedarkan pandangan sekeliling siapa tahu Luna ada di antara orang banyak. Tapi anganku untuk bertemu Luna selalu kosong.


Dengan perasaan hampa dan mata tidak lepas dari kerumunan orang atau pejalan kaki, aku memacu mobil Robicon itu menembus keramaian kota. Lagu the story never ends dari Lauv mengiringi perjalananku hari ini.


Tidak tahu kemana mobil ini melaju, sampai aku tidak tahu telah memasuki rumah Dirga. Scurity menghentikan mobilku.


"Maaf kami tidak menerima tamu." katanya kurang simpati.


"Saya teman pak Dirga, mau bertemu pak Dirga."


"Tidak boleh, maaf." ucap scurity itu tegas. Terpaksa aku mengeluarkan ponsel dan menelpon Dirga.

__ADS_1


"Hallo...."


"Dirga, apa kau sakit?" tanyaku heran mendengar suara Dirga seolah dalam.


"Ya..aku sakit, pulanglah aku tidak perlu ditengok."


"Aku akan masuk!!" sahutku tegas. lama tidak ada jawaban. Akhirnya ada seorang pemuda menghampiriku.


"Silahkan masuk pak."


"Trimakasih."


Aku masuk ke pekarangan rumah Dirga yang mirip mansion. Perasaanku tidak enak saat melihat orang-orang yang berada disana berwajah muram dan kuyu. Sekitar lima belas orang pria dan wanita duduk-duduk di luar kamar Dirga.


"Permisi bu, saya Yudha temannya Dirga." kataku kepada ibu yang pertama menyapaku.


"Dia ada di dalam habis di periksa dokter. Kamu boleh menengok sebentar saja, dokter melarangnya bertemu dengan siapapun." kata wanita itu menatapku.


"Ya bu saya mengerti." jawabku sopan.


Sebelum masuk ke dalam kamar aku disuruh memakai pakaian APD. Aku berpikir Dirga kena Covid-19. Saat ini aku tidak berpikir sejauh itu, yang penting aku bisa bertemu dengan Dirga. Dengan perasaan was-was aku membuka pintu.


Aku terhenyak memandang Dirga di atas tempat tidur tergolek lemah. Perlahan aku mendekatinya, matanya terlihat sayu dan wajahnya berubah tua dan menghitam. Badannya yang dulu kekar menjadi kurus.


"Dirga..." sapaku berdiri mematung di samping tempat tidurnya.


"Kaukah itu Yud...." suaranya jauh di tenggorokan.


"Aku teman sejatimu, kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau sakit. Aku bisa membawamu berobat ke Surabaya atau Singapore."


"Aku akan mati Yud... jagalah Luna Jangan kau sia-siakan dia..." suara Dirga lirih dan tercekat.


"Tidak, kau tidak boleh menyerah. Kita akan bersama lagi seperti dulu." aku berusaha menghiburnya serta nemberi support.


"Ma..af..kan aku....." dia memberi aku dua buah flashdisk dengan tangan lemah dan gemetar. Tadinya sku ragu mengambilnya, tapi aku cepat ambil ketika tangan Dirga terkulai.


"Dirga!!" tanpa sadar aku berteriak kaget melihat mata Dirga melotot kaku. Teriakanku membuat semua orang yang berada di luar menyerbu masuk. Mereka mendorongku supaya menjauh.


Aku terpaksa keluar ketika tanganku di tarik seseorang. Aku menoleh dan, astaga ternyata Hanun. Dia menatapku dengan sedih. Aku buru-buru menepis tangannya sambil menjauh.

__ADS_1


*****


__ADS_2