
Aku duduk di sofa begitupun Yudha, ku tarik kepalaku dari dadanya. Dia heran atas kelakuanku yang berubah mendadak.
"Ada apa?" tanyanya menatapku.
"Aku tidak nyaman bersamamu." jawabku dengan wajah sedih. Dia tidak berkata seolah mengerti apa yang aku maksud.
Seandainya dia masih bujang, tanpa ada ikatan apapun dengan seorang wanita tentu aku akan merasa nyaman, bangga menjadi kekasihnya.
"Aku mau pulang sudah mau magrib." kataku mencoba berdiri. Tangannya menarikku, badanku kembali jatuh di pelukannya.
"Bagaimana kalau kamu tinggal di apartemen supaya tidak ada orang tahu keberadaanmu."
"Dimanapun aku tinggal akan di ketahui, karena kamu akan bicara sama istrimu dan istrimu akan bicara dengan tante Dewi."
"Aku baru tahu kamu ponakan Dewi, berarti kamu keluarga terpandang. Yang mana orang tuamu?"
"Yang punya anak haram!" jawabku dengan suara sedikit tinggi.
Yudha melepaskan pelukannya, dia menatapku aneh. Perlahan mengalihkan wajahnya padaku, ntah apa yang dia pikirkan. Aku merasa Yudha malu bahkan jijik kepadaku. Bukankah anak haram sangat tabu di perbincangkan disini, apalagi di pungut atau di jadikan istri.
"Kau mau pulang? aku antar dari belakang, kau kuat naik mobil khan?!" katanya datar.
Aku menyeringai sinis dan merasakan perubahan sikap Yudha karena aku anak haram. Rata-rata pria disini begitu. Aku menelan kesedihan ku dan melangkah keluar.
"Aku bisa pulang sendiri, keluarlah." kataku tersendat.
Dia tidak menjawab dan keluar begitu saja. Setelah mengunci pintu aku keluar dengan langkah pelan. Aku tidak ingin berjalan berendeng dengannya. Apa dia berkasta tinggi, sehingga dia tidak mengindahkan aku.
Peduli setan!! aku juga bisa tidak peduli, walaupun aku mencintainya, bahkan jauh di lubuk hatiku aku sangat menyayanginya.
Sampai tempat parkir aku tidak melihat mobilnya, rasanya hatiku sakit. Tega sekali dia meninggalkanku, air mataku bergulir jatuh.
Aku memacu mobilku agak kencang, kebetulan jalan agak sepi dan sebentar lagi mungkin turun hujan. Agak gerimis sampai di rumah tante hujan turun.
Di rumah sepi, memang selalu sepi karena tante sama om lebih senang di Villa, sekalian mengurus Villa. Aku naik ke atas menuju kamar, sayup-sayup aku mendengar musik dari kamar Dhevalee.
Hari ini terasa sangat berat, hatiku sedih mengingat hidupku yang tidak karuan. Keluar dari kamar mandi aku melihat Dhevalee rebahan di ranjsng.
"Ada apa Dheva?" tanyaku duduk di depan meja rias.
"Aku ingin menikah..." katanya tanpa menoleh. Pandangan matanya tertuju kelangit-langit kamar.
__ADS_1
"Menikahlah dengan orang yang kau cintai, yang siap lahir bathin."
"Kau kesel karena aku menjodohkan dirimu dengan Dirga?"
"Aku kecewa karena kau tidak bertanya padaku. Disamping itu aku tidak tertarik dengan Dirga. Apalagi menikah dengannya."
"Jangan terlalu idealis, cinta akan datang perlahan jika kau sudah menikah. Aku percaya itu."
"Ntahlah...lebih baik tidak menikah."
"Aku tahu tadi kau ketemu Yudha, aku melihat mobilnya mengikutimu." kata Dhevalee metapku.
"Aku memang ketemu tapi dia tidak mengikuti, kami beda jalan."
"Apa keuntunganmu menutupinya? aku melihat dari jendela, saat mobilmu masuk mobil dia ada di belakangnya."
"Aku kira dia tidak mengikutiku." kataku apa adanya.
"Kalian sering bertemu?" Akhirnya aku bercerita tentang tante Dewi yang datang dengan marah-marah.
"Berarti kamu sudah tidak aman bekerja disana. Nanti aku bilangin sama tante supaya Dirga menyewa bodyguard untuk melindungimu."
"Tidak usah Devha, Dirga sangat sibuk jangan sedikit-dikit mengadu. Aku malu kalau menjadi bebannya. Bahkan aku katakan aku tidak mencintainya dan menyuruhnya meninggalkan diriku."
"Kalau gitu kamu aja ambil Dirga, aku tidak bisa jatuh cinta." kataku tersenyum sambil berdoa dalam hati supaya Dheva mau dengan Dirga.
"Jangan katakan kalau kau jatuh cinta dengan pemerkosamu, jika itu terjadi aku cekik kau." kata Dheva emosi.
"Mana mungkin aku jatuh cinta dengannya, kecuali ada sebab yang tidak bisa di jelaskan." kataku bohong.
Belum saatnya aku terus terang kepada tante dan Dhevalee, karena aku takut tiba-tiba dinikahkan dengan Dirga. Lagi pula sikap Yudha tadi cuek.
"Syukurlah kau waras Luna, aku sendiri sangat benci dengan laki-laki itu. Sudah punya istri tapi tetap mencari daun muda."
"Dia tidak bisa punya anak dengan istri pertamanya, hanya denganku Yudha bisa "On" dan aku bisa hamil."
Mata Dhevalee membulat, pandangan nya menusuk jantungku. Aku baru sadar salah bicara.
"Dheva, maksudku ......"
"Aku sangat mengerti perasaanmu Luna. Aku yang bodoh, salah aku menilaimu, ternyata temanku bisa berpihak kepada pemerkosanya. Aku kira kau masih teman kecilku yang anti lelaki, ternyata kau sudah menjelma menjadi ikan yang tidak perlu diajarin berenang."
__ADS_1
"Aku tetap temanmu Dheva, perasaan ku masih sama seperti dulu. Jangan khawatir, aku tidak mungkin menodai pertemanan kita."
"Semoga kau selalu sehat, bisa beraktivitas seperti biasanya." kata Dhevalee keluar dari kamarku.
Aku merasa Dhevalee memendam perasaan dan mencurigaiku. Tidak apa-apa, aku tahu sifatnya. Semasih tidak membahayakanku, Dhevalee tidak akan membuka rahasiaku kepada tante Dessire.
Aku meraih ponselku dan melihat siapa yang menelpon. Nomor pribadi.
"Hallo..." sahutku santai, aku tahu yang menelpon musuh.
"Awas kau sampai melapor ke polisi. Jika kau melawan perut buncitmu bisa aku injak-injak!!"
"Kau siapa?...." belum selesai telpon sudah di putus.
Aku mengunci pintu dan mematikan lampu, ada rasa takut. Kemana aku harus mengadu? ke Yudha atau Dirga? jadi bingung, karena dua-duanya susah di percaya.
Akhirnya aku mengambil ke putusan untuk minta perlindungan polisi. Kembali aku ragu-ragu, pusing juga berpikir sendiri. Memberitahu Dhevalee tidak mungkin, dia akan mengadu kepada tante dan Dirga.
Harus bagaimana? sungguh aku bingung, akhirnya aku mencoba chat Yudha.
"Yudha......" lama tidak terjawab.
"Yudha....."
"****** matilah kau, dasar babu gatel, beraninya kau chat suamiku!!"
Owh...dadaku bergetar, tidak menyangka kalau Yudha bersama istrinya. Aku menangis sedih. Saat ini aku pasrah, jika penjahat itu datang dan mengambil nyawaku aku pasrah. Sakit sekali hatiku mencintai suami orang. Jika boleh memilih aku lebih baik pergi jauh supaya tidak melihat laki-kaki itu.
Aku menangis sedih sampai tertidur. Bunyi ponsel membangunkanku, rasanya baru saja mataku tertutup sydah ada yang telpon. Aku menerima panggilan telpon itu dengan lesu.
"Hallo..."
"Ada apa menghubungiku." suara Yudha terdengar gelisah.
"Tidak ada apa salah kirim." jawabku berusaha tegar.
"Kenapa kamarmu lampunya gelap?"
"Supaya buaya darat tidak berani memperkosaku." kataku ketus.
"Aku berada di bawah di pinggir jalan. Jika ada sesuatu atau ada yang bikin kamu ketakutan cepat telpon aku." kata Yudha. Aku menutup telponnya.
__ADS_1
****