
Sudah seminggu kematian Valeria, semua foto dan segala sesuatu yang di tinggalkan oleh Valeria di kumpulkan serta disimpan di gudang.Tidak ada satupun foto Valeria yang di pajang di rumah ini sekarang. Foto Vale diganti dengan foto Luna.
"Om dan tante, aku sudah banyak sekali merepotkan kalian, tapi kalau Om dan tante menyimpan semua foto Vale, aku jadi sedih. Lebih baik foto Vale di pajang dan fotoku di simpan. Aku merasa berdosa kalau begini." protesku memandang fotoku diapit oleh Om dan Tante di pajang di ruang tamu.
"Aku tidak akan bisa melupakan anak sendiri. Keinginanku hanya menyegarkan perasaanku. Itu hanya usaha saja."
"Luna, itu jangan di permasalahkan. Yang terpenting sekarang ini kamu happy tinggal disini dan besok mulai bekerja dengan Dirgantara." kata Om Abel.
"Luna mulai besok kau sudah bisa bekerja di Perusahan Dirgantara. Kau berdandanlah sebentar lagi kita akan makan di luar."
"Ya tante, aku akan bersiap." kataku masuk ke kamar.
Perutku belum kelihatan besar dengan kehamilan tiga bulan. Aku masih kelihatan langsing dan tambah menawan. Aku lebih membayangkan malunya punya anak tanpa suami, daripada gembiranya. Ini sudah terlanjur, apapun yang tetjadi aku terima.
Aku, tante dan om Abel satu mobil, kami tidak habis-habisnya bercerita tentang Valeria. Kemudian cerita pindah ke bisnis yang akan di geluti oleh om dan tante berupa Villa. Mereka sangat gembira ketika mengatakan bos nya Sony memberi harga murah dan malah memberi free satu Villa. Jadi sekarang om punya Villa 11. Hebat sekali dan aku bersyukur tentang itu.
"Luna, paman Randu waktu itu datang melayat, ntah apa maksudnya dia berkata supaya tante melapor padanya kalau ketemu kamu. Apa mereka sudah tahu bahwa kamu masih hidup?"
"Aku rasa nyonya Hanun yang mencari aku ke desa, tapi dia tidak bertemu dengan aku. Mungkin dia bertanya kepada ibu Kompyang tentang aku dan nyonya Hanun kaget kalau ternyata babunya bukanlah anak kandung ibu Konpyang. Dan mereka mendapat di jurang dengan mobilku yang kebetulan tidak terbakar. Jadi cerita ibu kompyang di tansfer oleh nyonya Hanun kepada teman-teman sosialitanya yang terdiri dari tante Dewi, orang yang ikut andil di dalam eksekusi sadis waktu itu."
"Benar dugaanmu dan yang paling dekat denganmu adalah Valeria dan Dhevalee. Om yakin mereka akan mengawasi rumah kita."
"Aku takut Dhevalee akan menjadi korban karena dia mirip denganku."
"Malah kemiripan kalian bagus, katakan kalau kau Dhevalee jika bertemu dengan orang lain. Tante sendiri kadang salah sebut padahal kalian berdua sudah kama tante kenal. Hanya kulit Dhevalee yang kebih coklat dan rambutnya lebih hitam."
"Benar itu, untuk itu kita hsrus ke show room mobil. Tante dan om sudah berjanji akan membelikan kamu mobil yang bisa di bawa kerja."
"Jangan repot-repot om aku bisa naik ojek online. Suasana Covid belum usai, lebih baik uang itu untuk keperluan keperluan Villa."
"Kami sudah sangat beruntung mendapat Villa murah dan bonus, apa salahnya kami memberikan kau yang terbaik."
__ADS_1
Akhirnya aku mengalah dan mereka membelikanku mobil SUV Robicon yang sedang naik daun saat ini. Itu sudah di lengkapi kaca anti peluru, penampilannya gagah dan oke!!
"Trimakasih tante dan om, hadiahnya keren banget, aku yakin Dhevalee akan ikutan."
"Hahaha....biarin saja, tinggal beli flat nomer yang sama."
Hidupku terasa berwarna kembali. Aku mulai menjalani rutinitas sebagai sekretaris bapak Dirgantara. Pria ini berusia 30 tahun, sudah matang tentunys. Masih lajang dan sudah tiga tahun ini menjadi Direntur Utama di Perusahan Mitra Utama yang bergerak dalam pembuatan minuman berakohol nomer tiga besarnya se Asia.
Ini hari kedua aku ngantor dan menjadi pusat perhatian dari tujuh ratus karyawan. Belum apa-apa aku sudah menjadi topik pembicaraan karyawan wsnita.
"Itu calon istri bapak, cantik ya." suara-suara itu menebar ke seluruh karyawan membuat aku risih.
Sedangkan aku dengan bapak Dirga saling menghormati dan membatasi diri, jangan sampai terjadi salah paham.
"Pagi pak, sehat hari ini?" sapaku tersenyum datar. Dia spontan berdiri dari kursi dan mengangguk. Aku abeh ssja mrlihatnys
"Pagi cantik, apa nyenyak tidurmu semalam." tanyanya membuat aku heran. Kenapa dia menanyakan tidurku? emangnya ada hantu di rumahku sehingga dia mengkhawatirkan.
"Lun...aku mau bicara, bagaimana perkembangan tentang hartamu yang di rampas. Coba ceritakan dari awal tentang dirimu. Masalahnya disini ada hukum adat, jangan sampai kau yang merampas milik orang lain."
"Tapi ini ham kerja pak."
"Kapan lagi kita bisa ngobrol santai. Wanita sepertimu mana mau sembarangan bicara. Aku hanya bisa ngobrol saat kerjaan sedikit kalau banyak kita tunda ceritanya."
"Saya rasa bapak sudah tahu dari Dhevalee tentang kehidupanku."
"Tapi itu garis besarnya, aku ingin supaya semua kamu ceritakan recara rinci. Nanti aku bisa memikirkan jalan mana kita tempuh."
"Oke aku akan cerita dari mama yang memberiku sertifikat itu."
Kami pindah duduk di sofa ruang tamu. Akupun mulai menuangkan kisah kelsm hidupku setelah mama neninggal.Pak Dirga dengan seksama mendengar dan merekam semua yang aku katakan.
__ADS_1
"Aku dengar kamu dijual ke kota dan menjadi pembantu di keluarga kaya?"
"Yang itu rahasia, aku tidak ingin ada yang tahu. Cerita itu aku simpan."
"Ceritalah padaku aku siap mendengarkan, siapa tau aku bisa menolongmu."
"Sudahlah, aku berat menceritakannya."
"Trimakasih kau sudah mau cerita, walaupun aku masih penasaran. Mungkin di kemudian hari kamu mempercayaiku."
"Permisi pak, saya kerja." kataku berdiri.
"Ya mulailah kerja, jangan ngoyo, jika kau ngidam sesuatu, kasi tahu aku." degg!! hatiku tiba-tiba mencelos mendengar kata ngidam. Berarti dia sudah tshu sejauh utu
"Apa Dhevalee bercerita yang itu juga?" tanyaku kurang senang.
"Maaf Luna, Dhevalee hanya mengatakan kamu hamil diperkosa majikanmu. Makanya aku ingin supaya kau mengatakan siapa laki-laki itu. Aku ingin memenjarakannya."
"Tidak usah di ungkit masalah itu saya bisa menjadi single parent."
"Aku masih ada Lun, jangan putus asa." katanya menatapku. Yailahh....ternyata ada maunya. Aku malas menjawab.
Kebiasaanku bekerja disiplin dan tidak senang menunda-nunda membuat pak Dirga memuji aku setinggi langit.
"Lun..kamu khan punya hotel, apa kamu pernah mengelola secara langsung?"
"Belum, waktu itu aku masih magang di hotel Dhevalee, keburu ada masalah ini. Ini pengalaman pahit, semoga anakku tidak mengalami hal serupa."
Hari ini perasaanku sedikit lega karena bisa mengeluarkan isi hatiku. Pak Dirga berjanji akan menolongku membuka kasusku.
*****
__ADS_1