PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
AKU YANG BODOH


__ADS_3

Tidak tahu apa istilahnya acara kemarin, pertunangan bukan, lamaran bukan, tiba-tiba disuruh berjanji, tanda tangan di atas kertas. Aku mau saja karena masih emosi dengan Yudha. Akhirnya aku menyesal, brengsek amat!!.


Ternyata aku cemburu terhadap Yudha yang datang menggandeng Hanun. Mulut lelaki gak bisa di percaya. Kesal banget. Cintaku jatuh di jalur yang salah. Ini jalur kereta api, kalau aku terusin aku bisa ringsek. Ya,Tuhan.... ini yang aku takuti cinta diantara istri pertama. Resmi aku menjadi pelakor.


Surat pernyataan yang aku tanda tangani, poin ke tiga tertulis,



Bersedia menikah dengan pihak pertama (Dirgantara) setelah selesai masa nifas.



Aku kesal sendiri, ternyata aku perlu banyak belajar sabar, tahan emosi dan sadar, bahwa Yudha cuma iseng untuk melampiaskan nafsu bejatnya padaku. Mengapa aku marah sama Yudha, aku yang seharusnya menyingkir kalau sudah tahu mereka kembali akur. Hanggap kehamilanku adalah bonus atas karma buruk yang pernah aku lakukan.


"Sayank kau sudah sarapan?" tanya Dirga saat aku melamun di belakang lap top. Pikiranku melayang jauh.


"Sudah!!" jawabku pendek.


Aku tidak tahu kenapa aku menjadi benci kepada Dirga. Padahal dia ingin melindungiku, menikahiku, membuat aku bahagia.


"Kau marah padaku?"


"Aku malah membencimu, seharusnya kalian bicara padaku, tidak harus menjebakku. Kalian menganggap aku apa, aku manusia yang punya perasaan dan harga diri."


"Maafkan aku sayank, aku pikir perasaanmu sama denganku, lagi pula kau butuh sandaran dan sosok ayah jika anakmu lahir."


"Kau terlalu naif, aku sudah biasa hidup sendiri dan menyelesaikan masalahku sendiri. Jika aku menanda tangani surat kemarin, bukan berarti aku cinta atau menyukaimu, aku kasihan kepada mereka dan menghargai jerih payah tante dan Dhevalee."


"Aku tidak menyangka kalau kau tidak menyukaiku....." getir suara Dirga. Dia berpikir aku seperti wanita lain yang silau dengan jabatannya dan harta yang dia sering dengungkan di telinga ku. Saat ini aku lebih berpikir untuk membereskan masalahku dengan saudara papa.


"Aku suka dan senang padamu sebatas bos dengan anak buah. Aku juga berpikir pangacara yang kau hadirkan kemarin untuk mengurus masalahku, ternyata dia hanya sebagai saksi yang ikut membubuhkan tanda tangan."


"Sayank, buat apa kamu mengurus hartamu, biarkan saudara papamu yang mengambil. Aku tiga kali lebih kaya darimu, kau boleh ambil semua asal kau mau menikah denganku."


Aku menyeringai melihat raut wajahnya yang frustasi. Dia pasti sedang menghitung rasa malunya kepada orang yang dia hadirkan kemarin. Aku tidak peduli, fiks, aku akan mengurus sendiri masalahku, apalagi Hanun sudah tahu siapa aku. Mungkin sebentar atau besok saudara papaku akan nongol dan mencariku.


"Tookk...tookk...tookk."


ketukan pintu membuat perbincangan ku dengan Dirga terputus. Aku bangun untuk membukakan pintu.


"Aku yang membukakan pintu, minum kacang hijaumu dulu." kata Dirga berdiri.

__ADS_1


"Trimakasih...." kataku.


Aku sangat kaget karena yang datang adalah nyonya Hanun. Apakah dia akan katakan bahwa aku dan Yudha ...


"Duduklah, tumben kau mampir kesini, Yudha saja yang sering datang.'


"Aku kangenlah padamu, ingat masa lalu, waktu kita kuliah bersama."


"Ada apa, aku dengar dari mulut Yudha kalau rumah tangga kalian kena badai."


"Laki biasa ngomong begitu cari simpaty. Padahal kami baik-baik saja."


"Kenapa kau tidak mau punya anak, siapa tahu dengan cara begitu Yudha lebih bahagia."


"Kita tadi malam sampai subuh bikin anak. Masalahnya Yudha belum mau repot dengan anak, dia maunya istrinya tetap langsing, cantik dan memuaskan dirinya. Lebih baik cari babu bodoh untuk sekedar hamil. Habis dia beranak kita ambil anaknya."


Sindiran itu menusuk dan menghujam ke hulu hati. Perih. Aku baru sadar jadi yang kedua itu sedih, apalagi pelakor bermodal wajah cantik, pasti cepat bubar.


Aku baru yakin, Dirga tidak tahu bahwa aku dan Yudha punya hubungan. Bagaimana kalau dia tahu?


"Kamu yakin menikah dengan orang yang penuh masalah, seperti tidak ada cewek lain saja."


"Elegan apa, bekas orang lain, anak orang lain. Enak yang bikin, sampahnya ada yang nampung hahaha...."


"Hanun, kau tahu jalan keluar?"


"Makanya jangan ngatain orang, kalau tidak ingin sakit. Aku minta kau lempar tuh prempuan, kalau tidak rahasiamu satu persatu akan keluar dsri mulutku."


"Hanun dasar kau iblis, tahu gitu aku tidak undang kau kemarin, lebih baik aku dengan Yudha saja."


"Hahaha.....ini jamu sehat untuk pacar mu, ini yudha yang kasi bukan aku. Oke, aku pulang dulu, sampai ketemu di Bar atau Club."


"Sana pergi bikin kacau saja." bentak Dirga emosi. Lelucun yang tidak lucu.


Drama satu babak yang membuat aku mual. Manusia julid yang senang melihat penderitaan orang lain. Aku melihat Dirga mengedikan kepalanya sambil mengambil sebotol jamu dari Harun.


"Apapun yang kamu dengar jangan dimasukan ke hati, Hanun biasa suka ngeledek orang. Ini jamu dari Yudha."


"Aku sudah biasa mendengar hinaan dari orang, jangan khawatir." jawabku datar.


"Maafkan aku, minumlah jamunya."

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Maaf aku tidak mau minum jamu dari temanmu. Aku sudah minum obat dokter."


"Sayank, aku tidak enak kalau kau tidak minum.... hargai orang yang memberi kita sesuatu."


"Aku sedang hamil, takut minum jamu sembarangan."


"Baca tulisan ini. Tidak mungkin teman ku memberi sesuatu tanpa berpikir. Ini bagus untuk ibu hamil." desak Dirga membuat aku mengambilnya.


Walaupun Dirga mendesakku untuk minum jamu itu, tapi aku tetap tidak mau. aku membawa jamu itu ke toilet membuangnya. Aku sisakan sedikit supaya dikira aku sudah minum.


"Kau sudah minum? bagaimana rasanya?" tanya Dirga senang.


"Agak pahit." jawabku kembali duduk di belakang laptop.


"Obat biasa pahit, nanti kalau waktunya ke dokter aku yang ngaterin. Mulai sekarang kau tidak boleh jalan sendiri."


"Pak, jangan saya di perlakukan extrime begini. Saya mau menanda tangani surat yang kalian rekayasa kemarin, karena ada tante, Dhevalee, bukan karena saya ada maunya, ingat itu." kataku menatapnya.


Dirga berdiri dari singgasananya mengunci bibirnya dan keluar dari ruangan. Aku tidak peduli dengannya. Tidak berapa lama ponselku bergetar. Yudha menghubungiku.


"Hallo... ada apa?" tanyaku pendek, terdengar dia batuk-batuk kecil, mungkin sulit mengutarakan maksudnya.


"Tadi Yudha menelponku...."


"Apa hurusannya denganku, kau juga harus bersyukur aku mau mengangkat telponmu. Aku tidak mau ikut campur urusan orang lain. Kalian laki-kali mau nya apa? kalian pikir aku mainan?


"Luna!! kau kira dirimu korban, akulah korban itu supaya kau tahu."


Nyess....dadaku tiba-tiba sakit, biasanya Yudha memanggil sayank padaku, sekarang dia langsung memanggil nama. Apakah dia sudah baikan dengan Hanun? kurang ajar, dasar play boy kupu-kupu.


"Brengsek.. dasar pecundang, kau korban apa? buka telingamu, apakah perjakamu hilang karena aku, atau aku gonta ganti laki seperti istrimu. Yang disini menjadi korban adalah AKU!!" teriakku.


Tanganku gemetar, sakit hatiku. Aku membayangkan dia enak-enak dengan Hanun semalam.


"Jangan berteriak, kau harus sabar, karena kau lagi mengandung, aku tidak ingin kau emosi atau stress."


"Kau tidak usah peduli padaku, biar aku mati saja...." aku mematikan ponsel dan menangis. Aku benci sama Yudha.


Aku pergi ke kamar mandi menangis sepuasnya. Tidak tahu kenapa aku bisa begitu cemburu padanya, padahal dia sudah membuat air mataku jatuh setiap saat. Kalau dia disampingku, ingin aku tendang dirinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2