PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
DIRUMAH PAK LUKAS


__ADS_3

Aku menitikkan air mata ketika anak buah pak Lukas memaksa ku ke mobil dan di suruh pulang. Sedih? Tentu saja. Aku melihat Yudha menangis. Terlihat putus asa dan sedih. Kini aku akan menjauh, bukannya aku berubah, tapi hanya ingin dia peka jika aku sudah lelah lahir bathin selama bersamanya.


Aku tidak ingin hati ku lebih jauh lagi terluka. Bukan aku benci padanya, aku hanya kecewa. Tidak menyapanya, bukan berarti tidak peduli dengannya. Aku hanya sedang menjauh untuk memberinya ruang, untuk berpikir apa pun yang sedang ingin dia lakukan. Bukannya aku munafik, tapi terkadang aku ingin menjauh karena itu lebih baik. Tolong jangan lupa ajari aku bagaimana cara agar mudah melupakannya.


Aarrrggghhh....aku berteriak sendiri di dalam mobil ingin sekali membuang bayangan Yudha dari otakku. Seharus nya aku bersyukur bisa lepas dari Yudha, tapi hatiku terasa ngilu. Apalagi melihat Yudha menangis, sedih banget.


Aku memacu mobilku keluar dari rumah Yudha, dari spion aku melihat Yudha baru di lepaskan dari pegangan anak buah pak Lukas. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Aku mencoba membuang bayangan Yudha dari otakku. Mobil aku arahkan ke sebuah Cafe Bar yang terkenal classy.


Kepalaku pusing memikirkan masalah ini, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Dua hari lagi aku menikah dengan pak lukas. Aku was-was kalau Yudha mengambil jalan pintas.


Kemudian aku turun dari mobil menuju Cafe Bar. Ramai juga, disini makanan mulai dari harga seratus ribu per porsi. Aku menaruh down payment lima ratus ribu supaya dapat table.


"Satu gelas minuman recomment Cafe Bar." kataku kepada seorang bartender.


"Muay Thai nona."


"Buatkan aku segelas." kataku menuju table kosong dan duduk.


Aku menggoyang gelas memastikan es nya sudah tercampur. Mataku menatap hampa minuman itu. Ketika tanganku meraih gelas, aku di kagetkan oleh kedatangan pak Lukas berserta enam orang anak buahnya.


"Sayank, boleh aku menemanimu." suara berat itu terasa menusuk jantungku, membuat aku berdebar. Aku menatap pak Lukas tidak berdaya.


"I want to be alone..." gumanku pelan. Aku ingin sendiri.


"Mari kita pulang sayank." bisiknya sambil memegang tanganku.


Kemudian tangan kirinya melingkar di pinggangku yang ramping, bergerak naik mengangkat tubuhku sampai berdiri. Mau tidak mau aku terpaksa melangkah mengikuti jalan nya pak Lukas. Pengunjung Cafe memandang kami saat berjalan keluar dari Cafe.


"Mobilmu akan dibawa Lukman, kau akan semobil denganku." kata pak Lukas membuka pintu Lamborghini.


Apa pak Lukas pamer, karena enam mobil Lamborghini yang berada di parkiran dinaiki oleh anak buahnya atau pengawalnya? Berarti ke enam Lamborghini ini miliknya? Se tajir itu? Ntahlah, aku bersikap biasa, pura-pura tidak kagum.

__ADS_1


"Kenapa ke rumah Yudha? kau rindu dengannya?" tanya pak Lukas setelah kami meluncur di jalan raya. Aku mengalihkan wajahku ke depan. Tampak jalanan sepi. Hari ini sedikit mendung.


"Kenapa kau menjemputku, aku punya penyakit moody, biarkanlah aku sendiri aku ingin menyendiri."


"Apakah kau tidak senang aku jemput atau kau menyesal kalau kita akan menikah. Katakan terus terang suasana hatimu."


Aku menarik nafas panjang, aku lelah. Pertanyaan yang sering membuat aku malas menjawabnya.


"Suasana hatiku berantakan, aku bosan hampa, aku sedih. Saat ini Aku tidak ingin siapapun dan kemanapun. Aku ingin sendiri, sampai moody aku hilang baru aku akan bicara." kataku menyenderkan kepala di jok mobil. Aku menutup mataku.


Pak Lukas terdiam dia membiarkan diriku. Suara dari lewis capaldi, before you go mengaduk perasaanku. Galau banget. Air mataku menetes dari sudut mata, aku merasa sangat bosan dan hampa.


"Sayank, kita sudah sampai." kata pak Lukas pelan. Tangannya mengelus rambutku.


Aku membuka mataku dan menerima tissue basah yang disodorkan oleh pak Lukas. Dia sabar menungguku. Setelah menenangkan perasaanku pak Lukas memencet gull wing door, pintu mobil berengsel di atas itu terangkat. Aku turun dan menunggu karena aku tidak tahu ini dimana. Pengawal pak Lukas


berada di belakang kami


"Selamat siang pak." itu sambutan yang diberikan oleh beberapa orang yang berdiri di lobby.


"Sudah, silahkan pak."


Wow..ini istana. Rumah besar dan mewah berlantai dua. Aku kagum melihat interiornya. Elegan!. Pak Lukas mengajakku ke sebuah ruangan super mewah yang ditata artistik. Dia menarik kursi dan menyuruh ku duduk, dia ikut duduk disampingku. Kami di layani dua pelayan.


Di atas meja makan yang berputar terdapat masakan oriental. Aku tidak tahu apakah pak Lukas senang masakan oriental atau hanya sengaja menyuguhkan untukku.


"Makanlah, aku tidak ingin melihat kau pucat saat pernikahan kita."


"Trimakasih."


Aku makan ala kadarnya, nafsu makan ku hilang. Pak Lukas dengan sabar menemani ku, dia juga ikut makan.

__ADS_1


"Kita akan tinggal disini, kau suka?" katanya ketika menggiringku ke ruang keluarga. Aku mengangguk.


"Sayank, bagaimana kalau kita ke psykolog? kita kesana hanya tanya jawab. Itupun kalau kamu mau." ajakan pak Lukas sangat beralasan karena moody ku terlalu parah.


"Kapan-kapan aku periksa, aku dulu sudah pernah ke psykolog."


"Apa kau ingin beristirahat?"


Aku mengangguk. Dia membawaku ke sebuah ruangan musik. Baru masuk aku sudah merasa nyaman di ruangan ini. Semua tanaman hiasnya in door. Sebelah kiri ada alat musik lengkap. Suara dari NSYNC, this is promise you menyentuh hatiku. Aku duduk di sofa panjang.


"Kalau malam lampu otomatis menyala dan atap penutup ruangan akan terbuka setengah." jelasnya.


"Aku suka dengan suasananya, tiap hari aku bisa tidur disini."


"Boleh, nanti aku temanin."


Aku mengalami krisis kepercayaan kepada orang-orang di sekelilingku yang sudah baik, tapi aku menganggap mereka melakukan kebaikan karena modus.


"Aku mau mengundang Yudha, aku mau berbincang dengannya. Apapun keluhannya aku akan tampung, supaya tidak ada tuntutan di kemudian hari."


"Tidak apa-apa, semoga dia mengerti semua aku lakukan atas keinginannya. Jika dia keberatan supaya dia negosiasi denganmu."


"Sebenarnya permasalahanku dengan nya sudah final. Yang aku inginkan semua aset milikmu di kembalikan."


"Apa karena aku punya aset kau mau menikah denganku?"


"Astaga Luna, pikiranmu picik. Aku mencintaimu apa adanya. Aku hanya ingin seluruh asetmu di wariskan kepada Sean. Karena Sean masih kecil kau sebagai walinya. Itupun kalau kau mau. Tapi tidak apa-apa kalau Yudha terus mengelola."


"Maafkan aku, setiap orang yang mendekat padaku biasanya orientasi nya harta."


"Aku mencintaimu bukan karena kau ada apanya, tapi karena kau apa adanya. Kau Tidak seperti wanita lain yang senang hura-hura, itu yang aku kagumi."

__ADS_1


"Semoga kau tidak seperti laki-laki lain." kataku datar.


****


__ADS_2