PELAKOR SEXY HABIISSSS....

PELAKOR SEXY HABIISSSS....
TERHEMPAS


__ADS_3

(POV YUDHA)


Dimas sendiri mengantarku mengambil mobil di pinggir jalan depan kost Anna, aku heran kenapa mobil tadi tidak ikut dibawa sebagai barang bukti. Janggal juga. Walaupun aku merasa tidak cocok dengan Dimas tapi aku berusaha ramah dan bercerita tentang kejadian tadi. Aku ingin mengajak Anna ke bar untuk bersenang-senang.


Disini aku tidak bercerita tentang Mr. Killer atau tentang vidio mesum yang di kirim Luna. Aku bercerita untuk mengisi waktu supaya tidak sepi. Aku merasa wibawaku lenyap karena ada Dimas yang mendominasi obrolan kami.


"Aku baru sampai disitu sudah di tangkap polisi." keluhku.


"Jelaslah, karena Anna hampir di culik oleh pria bertopeng yang menyebut dirinya bernama Yudha."


"Tidak mungkin penjahat menyebutkan namanya, jangan-jangan ini sebuah komplotan. Aku merasa janggal saja."


"Penjahat itu mengaku karena sudah tertangkap dan sempat di gebukin."


"Mana orangnya?" selidikku.


"Sudah kabur katanya. Tadi laporannya begitu, aku sendiri tidak tahu pasti. Supaya jelas, tanyakan langsung ke kantor polisi." Dimas menakutiku. Brengsek benar orang ini. Aku jadi sangsi dengan Dimas. Kenapa dia ada di polisi?


"Aku ingin tahu kebenarannya, dimana Anna berada?"


"Aku dengar dia mau dibawa ke Surabaya untuk berobat, karena ada pendarahan sedikit."


"Dia di rumah sakit apa?"


"Alamat ada di surat tadi, semua ada, jelas, transparan."


"Apa kamu bawa suratnya?" tanyaku ingin memastikan.


"Pak Jaya yang bawa." kata Dimas menghentikan mobilnya. Rupanya sudah sampai di depan kost Anna. Padahal Dimas tadi tidak ada disini kenapa dia tahu kost Anna. Aku tambah curiga saja.


"Trimakasih Dimas." kataku turun dari mobilnya. Malam ini aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Aku ingin menghubungi Mr killer kembali. Kenapa dia begitu bodoh dan bisa ketangkap.


Sampai di rumah aku langsung ke kamar. Aku membuka ponsel cadangan dan mengisi nomer baru. Aku tidak sabar chat Mr. Killer.


- P...- tulisku lima kali.

__ADS_1


- Boss, telpon saja - balasnya. Aku langsung menelponnya.


"Hallo boss."


"Kau kenapa bisa ketangkap?" tanyaku gusar.


"Ketangkep bagaimana bos, orang saya sampai disana wanitanya sudah geletak di depan kost dan banyak cowok disitu ada dua polisi juga."


"Jadi bukan kamu yang mau menculik dia. Trus siapa dalangnya. Untung kamu belum beraksi."


"Mana saya tahu boss, mungkin wanita itu banyak musuhnya."


"Aku curiga kenapa penculiknya mengatas namakan diriku. Banyak kejanggalan disini."


"Selidiki bos, jangan mau di kadalin oleh seorang wanita."


"Oke. Aku tutup teleponnya, nanti aku hubungi lagi."


"Siap boss."


-Angkat sayank, atau lihatin saja wajahmu sedetik aku sudah puas - tulisku.


Sumpah!! Wanita ini kaku sekali. Dari dulu sudah berapa nomer aku pakai menelpon dia, tapi tetap saja tidak di jawab. Terakhir malah di blokir, selalu begitu. Dasar pacar durhaka. Gerutuku.


Lemas sudah. Akhirnya aku rebahan sambil melihat galeri ponsel, foto Luna dalam segala pose terpampang di galeri. Wajah Luna sangat cantik ketika masih hamil. Aku mencintainya. Saat enak-enaknya memandangi wajah Luna, ada telepon masuk.


"Hallo." tanyaku kurang bersemangat. Nomer yang masuk belum aku kenal.


"Hallo pak Yudha Perkasa, saya pak Lukas dari kantor Lawyer Dedy and Rekan."


"Ada apa pak Lukas." aku tahu ini lawyer kepunyaan Pak De.


"Begini pak Yudha, gugatan nona Luna telah berjalan, yang berwajib telah memanggil anda tiga kali via pos. Tapi anda tidak kooperatif. Pemberitahuan ini saya lakukan karena permintaan pak De."


"Maaf pak Lukas, saya sendiri belum menerima surat itu, dalam hal ini saya tidak bersalah. Aset nona Luna masih ada dan income utuh. Saya ini adalah ayah dari putranya nona Luna, jadi ini sesuatu yang janggal kalau dia sampai melaporkan saya secara hukum. Dia belum pernah membicarakan masalah ini secara personal." kataku mencoba membela diri. Aku sangat kaget dengan berita ini seperti petir disiang bolong.

__ADS_1


"Pak Yudha silahkan anda bicara dengan pengacara anda, jika laporan nona Luna anda anggap mentah, anda boleh mediasi face too face atau anda bisa menggugat balik. Ini hanya saran dan tolong anda mengikuti aturan yang berlaku."


"Tolong berikan saya waktu bertemu dan berbicara dengan nona Luna, saya sudah sering menelponnya tapi selalu di blokir." kataku frustasi.


"Nanti saya sampaikan. Trimakasih atas waktunya pak Yudha, selamat bertemu di pengadilan."


Aku seperti semaput dan berharap Luna mencabut gugatannya, karena bagiku tidak masuk akal. Teganya dia menjerumuskan aku, apa dia berpikir reputasiku. Aku ini Owner perusahan Real Estate.


Kembali aku menelpon Luna, aku tidak terima dengan gagasannya yang ingin menggugat aku ke pengadilan.


- Luna angkat telponnya, aku stress. Kenapa kau melaporkan aku ke polisi, aku tidak berbuat jahat. Apa kau tega melihat ayah dari anakmu di penjara - tulisku dengan harapan Luna mau membacanya.


- Jangan menganggap kebaikan orang sebagai sebuah kebodohan yang bisa dimanfaatkan, karena saat orang baik itu terlihat bodoh dia sedang menilai dirimu -


Di luar dugaan Luna nenjawabnya. Aku senang, walaupun jawabannya kasar dan menohok, kebiasaan kata-kata Luna selalu nenusuk hati jika dia marah.


- Yank, aku ingin bicara empat mata denganmu, tidak terbesit dalam pikiranku untuk menguasai apa yang kau punya. Hanya aku mencari waktu untuk mengembalikan semuanya kepadamu. Disamping itu ada saudara papa kamu yang banyak menghambat langkahku - tulisku.


- Tuan Yudha yang terhormat, aku tidak punya hubungan emosional denganmu, aku juga berharap DNA anakku berbeda denganmu. Saat ini aku memandangmu sebagai rival yang telah menipuku -


- Sayank, apakah kau mengerti arti dari tindakanmu ini. Jika aku kena kasus hukum sahamku akan anjlok. Nama perusahan, prestise, hancur semua -


- Waktu setahun cukup untukku menunggu itikad baikmu, tapi kau tidak ada upaya konfirmasi atau sekedar memberitahu langkahmu tentang aset yang kau kuasai -


- Itu sebuah kebetulan, aku belum kenal denganmu. Saat aku tahu kau yang punya aset itu aku panik dan mencari waktu untuk menceritakan padamu -


- Sudahlah, jalani saja. Bukankah kau lebih senang menghambur-hamburkan uang untuk Anna, daripada mengurus asetku. Persekongkolanmu sangat solid dengan saudara papa sehingga kau takut bergerak menentang ku -


- Sayank, itu tidak benar. Haruskah aku menangis dan mencium kakimu. Aku mencintaimu sayank -


- Tidak ada yang harus kau kerjakan, aku menjauh bukan karena aku tidak mencintaimu, aku menjauh karena sakit hatiku terlalu akut - tulis Luna.


Aku terhenyak membeku, aku baru menyadari kekhilafanku selama ini. Aku menelisik diriku dan mencoba mengingat kejahatanku kepada Luna. Terlalu banyak aku menyakitinya. Aku tidak menyangka Luna akan sekeras itu. Aku terlalu menggampangkannya, kenyataannya aku sekarang yang terhempas.


*****

__ADS_1


__ADS_2