
(POV YUDHA)
Aku merasa tertekan dan prustasi setelah kematian Luna. Pergi ke bar atau ke tempat hiburan lain juga tidak ada gunanya. Beruntung aku bertemu Dirgantara teman bisnisku yang paling solid. Temanku ini sudah seperti saudara, dulu dialah yang menjadi mak comblang antara aku dengan Hanun.
Dirga memaklumi keputusanku untuk menceraikan Hanun, walaupun sampai hari ini Hanun tidak mau diceraikan. Masalahku ngenggantung, cerai tidak, tapi kami sudah pisah ranjang dan jarang ngomong. Hanun tinggal di rumah kecil dan aku sekarang tinggal di rumah besar dengan bibi serta pembantu lain. Ribet berurusan dengan Hanun, dikit-dikit mau bunuh diri. Menggores urat nadi sampai minum obat tidur yang banyak.
Semua masalah keluargaku aku ceritakan kepada Dirga. Saat pertama kali bertemu, pertemuan pertama setelah lama tidak pernah berjumpa dengan Dirga sangat mengesankan. Kami punya kesibukan masing-masing yang padat. Aku pribadi sangat senang bisa bertemu dengan Dirga setelah sekian tahun menghilang. Supaya kami terus bisa bertemu akhirnya kami punya rencana mau membuat Water Boom untuk masyarakat menengah ke bawah.
Pertemuan kedua mengagetkan aku. Deja vu, ada wanitaku di kantor Dirga. Aku yakin dia itu Luna walaupun dia mengaku bernama Dhevalee. Saat ini dia kelihatan lebih berisi dan lebih cantik, mempesona. Masalah ini harus aku telusuri, siapa yang mati dan siapa yang aku hadapi saat ini.
Yang lebih mencengangkan, membuat lututku lemas adalah pengakuan Dirga, dengan mengatas namakan cinta Dirga mengaku telah membuat wanita itu hamil. Mulutku seketika bungkam, lidahku kelu, aku mencoba menahan rasa marah, sakit hati dan terluka yang tiba-tiba bercampur menjadi satu.
Aku tidak tahu kenapa perasaan itu muncul, padahal aku belum tahu kebenaran indentitas dari wanita yang mirip Luna itu. Terus yang meninggal waktu ini siapa.
Perasaan gundah itu membuat kakiku kembali melangkah menuju kantor Dirgantara. Sudah sore dan karyawan sudah ada yang pulang, aku berencana mencari file yang menunjukan biodata wanita itu.
Sampai di depan ruangan Dirga, aku tidak jadi masuk, tidak mungkin biodata ada di ruangan ini, pasti ada di ruangan HRD. Akhirnya aku masuk ke ruang sekretaris, aku kaget wanita itu belum pulang, masih ada dalam keadaan tidur. Aku memandangnya dengan cermat, dia sangat lelap. Bibirnya terbuka sedikit mengundang hasratku. Sekuat tenaga aku menahan gejolak jiwaku, ingin sekali menyentuh nya dan memeluknya.
Aku mengambil ponselku "cekreekk" gambar wanita ini sudah pindah ke ponselku menjadi wallpaper. Setelah itu aku mengambil ponselnya, saat aku mau membuka ponselnya dia tiba-tiba menggeliat. Aku kaget cepat masukin ponselnya ke saku celana. Gemetaran tanganku merasa mencuri, aku tidak mencuri tapi meminjam sebentar.
Aku menarik nafas berusaha tenang. Memandangi wanita ini membuat aku tersiksa dan ingin menggumulinya, akhirnya aku berbisik dan berusaha membangunkannya. Dia bangun dengan ekspresi kaget dan langsung pergi ke kamar mandi.
Aku cepat-cepat keluar dari ruangan itu menuju tempat parkir. Dalam perjalanan pulang pikiran berjecamuk ingin menemui wanita itu. Aku sangat rindu dan ingin terus bersamanya.
Sampai di rumah aku cepat mengambil ponsel wanita itu dengan tangan gemetaran karena mencuri. Semoga wanita itu tidak lapor polisi. Hampir sebagian karyawan dan scurity tahu kedatanganku. Kelihatan juga di scurity.
Tidak salah lagi dia itu Luna, aku berani berkata begitu karena aku pura-pura jadi Luna dan chattingan sama Dhevale setelah puas chattingan aku chat tante Dessire.
"Maaf bu, saya menemukan handphone di parkiran, apa ini punya ibu?" aku memperlihatkan poto handphone Luna.
"Itu handphone anak saya, bisa saya ambil sekarang."
__ADS_1
"Suruh anak ibu yang ambil supaya saya percaya dan tidak salah orang."
"Alamatnya?"
"Jalan ashoka, saya tunggu di CK." tulisku.
Aku tidak tahu apa sebabnya ponsel secanggih ini hanya ada WA saja. Apa Luna belum sempat download aplikasi yang lain atau sengaja menutup diri dari wara wiri sosmed.
Mobilku aku parkir di depan CK, malam ini tempat parkir penuh. CK tidak jauh dari rumahku. Dengan sabar dan penuh harap aku menunggunya sambil mendengarkan beberapa lagu slow dari playlist mobil. Sekitar 20 menit mobil Rubicon Luna muncul. Aku melihat Luna turun hanya memakai hot pan dan tank top, dia membiarkan perutnya yang sedikit buncit bebas dilihat orang.
"Mari, aku membawa ponselmu." kata ku menarik dia masuk ke mobilnya.
"Kau?! apa maksudmu?" aku tidak menjawab aku memaksa dia masuk mobil aku juga masuk ke mobilnya.
"Nona Dhevalee apakah begitu cara berpakaianmu, nanti kalau calon suamimu melihat akan terjadi perang. Kamu tahu pak Dirga orangnya sangat cerewet kalau calon istrinya....."
"Apa sih, kau menyindirku!" bentaknya tidak terima.
"Aku bicara sebenarnya." kataku menatapnya.
Aku membiarkan dia marah-marah dan memakiku. Aku seolah menebus karmaku, sekarang dia memakiku. Dulu aku menghinanya. Biarlah, asal aku bisa dekat dengannya aku terima.
"Kamu mau kemana?" dia memukul lenganku. Aku tetap menyetir mobilnya menuju rumahku.
"Apa maksudmu membawa aku kesini, aku akan lapor polisi. Aku akan hancurkan hidupmu." Luna emosi.
"Aku hanya mau bicara face to face, dan yang utama aku mau minta maaf."
"Aku tidak memaafkan kau!!" pekiknya. Aku tidak heran dia mengamuk dan mencakarku ketika aku membukakan pintu mobil.
"Aku tidak berbuat apapun kamu sudah mengamuk, malu dilihat pelayan."
__ADS_1
"Aku tidak peduli, aku akan mengamuk terus ......"
"Nonaa...." bibi berlari memeluknya.
Ohh..untung ada bibi, tanpa sadar dia dituntun sama bibi ke dalam kamar ku. Bibi seolah sutradara handal yang mengerti jalan cerita yang harus aku tempuh.
"Bibi kangen sama nona, kemana larinya waktu ini? nona banyak berubah dan tambah cantik."
"Aku juga kangen sama bibi, trimakasih banyak atas bantuan bibi waktu itu."
"Nyonya Harun marah besar kepada bibi, sekarang dia tinggal di rumah kecil, sudah mau cerai dengan tuan Yudha. Tinggal ketok palu saja."
"Kenapa harus cerai?"
"Biar saja mereka punya urusan. Sudah berapa bulan kandungannya?"
"Lima bulan bi, sudah di USG."
"Cewek apa cowok?"
"Jagoan bi, doain semoga sehat dan selamat."
"Bibi selalu berdoa sama Tuhan semoga nona sehat dan panjang umur. Tiap hari bibi tanya ke tuan kalau ketemu nona supaya diajak pulang."
"Trimakasih bi, nanti kalau aku punya rumah kita akan ngumpul."
"Nona sudah makan? bibi bawain makan kesini ya."
"Tidak usah bi aku sudah makan."
Aku sangat senang mendengar perbincangan bibi dengan Luna, aku tersenyum dalam hati. Ternyata aku bisa punya anak dan tidak mandul.
__ADS_1
"Bibi bikinin kami minum seperti biasa." kataku dan memberi kode supaya bibi keluar. Aku mengunci pintu, perlahan mendekatinya.
****