Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
Part 1 Nenek tua dan wanita cantik


__ADS_3

Semoga saja kebosanan ini tidak membunuhku. Sepanjang hari terkurung di dalam ruangan sempit dengan dua tempat tidur pasien yang hanya kutempati seorang diri. Tanganku terikat selang infus, kepalaku pening, tubuhku lemas kekurangan asupan makanan karena mual hebat yang kurasakan setiap menyentuh makanan. Ya, aku di sini di rawat inap karena kasus demam berdarah yang katanya sedang musim. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum, mana ada penyakit kok musiman seperti buah saja.


Namaku Bulan Mayshara, Nama cantik pemberian orangtuaku. Aku sangat bersyukur memiliki orangtua yang menyayangiku. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Keluargaku adalah keluarga sederhana. Aku sudah bekerja meskipun usiaku masih belia. Aku berharap bisa membantu orangtuaku meskipun penghasilanku tidak seberapa.


Tak banyak yang bisa kuperbuat selain duduk menikmati makan siang dari rumah sakit sambil menatap kaca jendela yang berembun karena tersiram hujan. Ada rasa bahagia ketika hujan tiba. Aku menyimpan harapan besar pada hujan yang seringkali menyisakan pelangi yang indah. Sambil tersenyum aku membayangkan pelangi dan bidadari mandi. Teringat cerita masa kecil dan berharap ketika dewasa aku akan menjadi secantik bidadari.


Ceklek


Suara pintu menyadarkan lamunanku dan seketika aku menoleh ke arah sumber suara. Beberapa orang berbaju petawat memasuki ruanganku membawa seorang pasien yang tertidur di atas ranjang diikuti seorang wanita cantik yang kupikir adalah anaknya.


‘Permisi mbak Bulan, saya mengantarkan pasien yang akan menempati bed sebelah mbak Bulan, Mahon maaf atas ketidaknyamanannya’. Seru perawat senior itu sopan. Aku tersenyum ke arahnya, ‘iya suster alhamdulillah ga sendiri lagi dan ga perlu mikirin yang horor-horor lagi’ candaku yang membuat semua mata tertuju kepadaku. Ya aku memang seramah itu, dan baik hati tentunya.


Aku memperhatikan pasien di atas bed tersebut, seorang nenek tua dengan mata terpejam entah sakit apa dia dan seorang wanita cantik yang kuduga anaknya sedang sibuk menata perlengkapan milik mereka. Cukup lama aku memperhatikan gerakannya. Seolah sadar kuperhatiakan dia menoleh ke arahku sembari tersenyum. ‘Hai, namaku dita, siapa namanu?’ Dia bertanya ramah kepadaku.


Aku kaget dan menjawab dengan gugup, ‘namaku Bulan. Apakah mbak dita anak ibu ini?’ Jawabku sekaligus bertanya balik seraya menunjuk nenek tua yang terbaring itu. ‘Iya ini ibu saya, sudah beberapa hari ini tidak sadar’ dia menjawab dengan senyum getir. Aku menatapnya seketika jantungku bergemuruh. Betapa sedihnya wanita itu menyaksikan ibu tersayangnya tak berdaya. Aku menjadi tidak enak hati kepada mbak Dita.


‘maafkan Aku mbak Aku tidak bermaksud membuatmu sedih’.

__ADS_1


‘Tidak apa bulan, tolong doakan agar ibuku segera sehat kembali’ ucapnya penuh harap.


‘Tentu mbak. Oh iya mbak jangan sungkan kalau mbak mau mengganti saluran televisi silakan rasanya Aku ingin tidur kepalaku masih terasa pening’.


Tanpa menjawab mbak Dita melayangkan seulas senyum di bibir cantiknya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Aku yang sudah sangat mengantuk segera memposisikan diri dengan nyaman.


Pelangi


Suara kereta dorong makanan membangunkan tidurku. Aku mengerjapkan mata perlahan menyadari bahwa hari sudah sore dan Aku belum mandi. Aah ingin rasanya Aku bolos mandi, dingin sekali cuaca sore setelah seharian hujan mengguyur Ibukota. Seketika tatapanku terkunci pada pahatan di langit senja, pelangi warna warni indah sekali.


Flashback


Aku melirik sekali lagi ke Sofia tempat duduk kanjeng ratu. Dia masih fokus pada sinteronnya. Dan ini adalah saat yang paling tepat untuk melarikan diri. Aku sudah tidak sabar ingin kabur dan segera bergabung bersama segerombolan anak-anak yang sedang asik bermandikan hujan sambil tertawa riang bahkan ada satu anak lelaki sempat melihatku dari balik jendela seraya meledekku. Hmmm awas kau nanti !


Kanjeng ratu tidak menyadari kalau tawanannya telah menyelinap kabur. Kini Aku sudah bergabung bersama Teman-temanku. Aku bahagia sekali. Aku rasa inilah kebahagiaan terbesar bagi anak-anak seusiaku.


Aku tak menyadari anak yang tadi meledekku ternyata sudah berdiri di depanku dan tiba-tiba mendorongku kasar. Dia masih marah kepadaku karena beberapa jam yang lalu dia tidak kupinjamkan sepedaku. Dia juga yang mendorongku hingga Aku terjatuh dari sepedaku.

__ADS_1


Aku menangis, Aku jatuh terduduk akibat dorongan anak lelaki itu. Dia memang terkenal anak nakal. Dia senang mengganggu teman-teman nya termasuk aku.


‘Kau tidak apa-apa? Hey, Kau cengeng sekali sih? Ayo bangun ‘ Aku mendongakkan kepalaku menatap anak lelaki yang kutaksir sudah duduk di bangku SMP. Tangannya terulur ke arahku berniat membantuku berdiri. Aku yang kesal dengan kata-katanya segera menepis tangannya dan berusaha berdiri. ‘Tidak perlu kak ! Aku bisa sendiri. Kakak tidak tulus menolongku!’ Ucapku galak. Kulihat matanya melotot ke arahku, ‘ya sudah kalau tidak mau ditolong tidak usah galak anak kecil !’. Ucapnya berteriak dan segera berlari. Aku berusaha mengejarnya.


‘Kakak tunggu! Kau mau kemana Aku ikut’.


‘Tidak ! Aku tidak mau diikuti anak kecil cengeng sepertimu. Segera pulang nanti ibumu mencarimu dan memarahiku’ dia terus berlari meninggalkanku. Tapi Aku tidak menyerah, Aku terus mengejarnya. Kulihat dia mulai menyerah memelankan langkahnya. ‘Ya sudah ayo kita lihat pelangi dari atas batu besar itu’


Aku sangat senang melihat pelangi. Kata ibuku pelangi itu adalah selendang bidadari. Kalau selendangnya saja cantik pasti bidadarinya jauh lebih cantik.


‘ kak, kalau sudah besar nanti Aku ingin seperti bidadari yang sangat cantik kak’ ucapku pada anak lelaki itu.


‘Iya Kau pasti akan sangat cantik kalau tidak cengeng. Aku malas melihat anak perempuan menangis, cengeng!’


Huuuffthhh ingin kupukul saja kakak ini


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2