Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
22. Semoga Saja


__ADS_3

"Hmmm.. Tia, a-apa bo-boleh aku kenal kamu lebih jauh?" tutur Ilham sedikit terbata, meski gugup dia tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi untuk bisa lebih dekat dengan gadis yang telah menggetarkan hatinya ini.


"Hah..?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Tia, dia heran kenapa Ilham menanyakan hal itu kepadanya.


*N*ah loh Ham, mau ngomong apa lagi coba. batin Ilham frustasi karena suasana sudah semakin canggung diantara keduanya.


"Hmmm... ma-maksudku boleh kan aku jadi temen kamu sama kayak Anna?" tutur Ilham kelabakan memcoba menghilangkan kecanggungan yang ada, seketika itu Tia tersenyum dan mampu membuat jantung Ilham kembali berdetak kencang.


"Boleh kok A, Tia seneng kalau banyak temen," ucap Tia sambil terus tersenyum.


Tuhan senyumnya itu, buat aku meleleh.. ijinkan aku lebih dekat dengannya Tuhan... doa Ilham dalam hati.


"Pada ngobrol apa sih seru banget kayaknya," tanya Anna yang sudah berada di belakang Ilham dan Tia. Ilham menampakkan wajah kesal sedangkan Tia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Anna.


Ya ampun An, kenapa datang diwaktu yang tidak tepat sih. rutuk Ilham dalam hati


"A Ilham..!" panggil Tia pelan yang mampu mengalihkan perhatian Ilham menoleh kearahnya dengan degub jantung yang kembali berdetak kencang.


"Hmm...?" Hanya itu yang bisa Ilham lontarkan wajahnya sudah menunjukkan kegugupan. Tia hanya tersenyum


"Maaf ya, Tia tinggal kan udah ada teh Anna," ucap Tia sambil beranjak berdiri.


"Ta-tapi Tia," cicit Ilham mencegah Tia pergi tapi tidak dihiraukan oleh Tia karena kini gadis itu sudah masuk kedalam kamar kosnya, Ilham hanya mampu melihat punggung Tia yang terus belalu meninggalkannya, Ilham menghela napas berat seakan berat untuk ditinggalkan oleh Tia.


"Woyyy!!" Kaget Anna sambil menepuk pundak Ilham yang membuyarkan lamunan Ilham tentang gadis imutnya itu.


"Apa sih An." Ilham terlonjak kaget dan mendengus kesal. Anna hanya tergelak melihat ekspresi sahabatnya itu.


"Ini nih, klo baru ngerasain jatuh cinta sekarang.. jadi aneh gini kan ekspresinya tapi lucu tau lo Ham..," ucap Anna meledek sambil terus tergelak. Ilham hanya mampu memperlihatkan wajah yang sudah merah padam menahan kesal menanggapi ledekan sahabatnya itu.


"Kamu bukannya bantuin malah ledekin, huh!" ucap Ilham mendengus kesal sambil bersidekap tangan didepan dadanya.


"Kan tadi gue bantuin ninggalin kalian berdua, emang udah ngobrol apa aja? udah dapet nomor hp nya kan?" seloroh Anna sambil masih menahan senyum dibibirnya.


"Nomor hp apaan, belum kemana-mana td ngobrolnya, lo nya keburu dateng, gue kesel kan jadinya," ucap Ilham masih bersungut kesal.

__ADS_1


"Hahahahah... lamban lo!" ledek Anna masih tertawa


"Sialan lo..." Ilham mendengus kesal sambil duduk kembali diatas sofa.


*******


Dikediaman Gunawan


Disebuah ruang tamu sudah duduk dua pria paruh baya disebuah sofa yang berhadapan, sudah dari 15 menit yang lalu posisi keduanya saling bersidekap tangan didepan dada dan menyilangkan kaki, mereka masih diam dan hanya saling melempar pandangan yang tidak dapat diartikan.


"Jadi, apa maksud kedatangan anda kemari Pak Nugraha yang terhormat," ucap Pak Gunawan memecah keheningan dan kecanggungan yang tercipta diantara mereka berdua dari tadi.


"Ekhem..." Pak Nugraha berdehem lalu sedikit membenarkan posisi duduknya.


"Aapa kabar Guna?" tanya Pak Nugraha tidak menanggapi pertanyaan Pak Gunawan.


"Cih.. basa basi macam apa ini?" Pak Gunawan berdecih kesal dengan tanggapan Pak Nugraha.


"Ayolah..! kita bahkan baru bertemu setelah 20 tahun, ramah sedikit kenapa," seloroh Pak Nugraha dengan nada suara yang masih tenang.


"Aku mau melamar anak pertamamu Guna" ucap Pak Nugraha langsung tanpa basa basi lagi.


"Kau sudah gila Gaha!" ucap Pak Gunawan meninggikan suaranya bahkan dia sudah berdiri dari posisi duduknya karena kaget mendengar penuturan Pak Nugraha, nafasnya memburu menahan emosi yang meletup-letup didadanya.


"Apa salahnya dengan itu Gaha? anak gadismu sangat cantik dan perangainya juga baik, aku menyukainya Gaha," seloroh Pak Nugraha masih mempertahankan nada bicara dan ekspresi wajah yang tenang.


"Kau!" bentak Pak Gunawan lagi, matanya sudah merah menahan amarah.


"Ck.. berlebihan sekali kau ini, bertambah usia masih saja belum mendewasakanmu," ledek Pak Nugraha.


"Diam kau! aku tidak akan pernah sudi menikahkan anak gadisku dengan pria yang seumuran dengan ayahnya sendiri!"ucap Pak Gunawan masih dengan nada tinggi.


"Hahahaha..." Pak Nugraha tertawa dengan kencang mendengar penuturan Pak Gunawan, Pak Gunawan hanya mengkerutkan keningnya dan kembali duduk disofa yang tadi dia duduki.


"Aku hendak meminang anakmu untuk jadi istri dari anakku, bukan untuk jadi istri mudaku, aku tidak segila itu Gaha, hahaha," tutur Pak Nugraha masih dengan tawanya yang renyah.

__ADS_1


"Ma-maksudmu jadi istri anakmu?" ucap Pak Gunawan mulai melembut.


"Iya aku ingin meminang Tia untuk jadi menantuku dan istri dari Ilham," tutur Pak Nugraha dengan nada serius. Pak Gunawan tampak diam berfikir.


"Ayolah! berikan aku kesempatan untuk mengembalikan semua ketempat semula, mengembalikan semua pada posisinya," ucap Pak Nugraha tenang sambil mengangkat cangkir berisi kopi yang ada dihadapannya itu lalu mengesap minuman itu sedikit dan mengembalikannya lagi ketempat semula.


Pak Gunawan masih terdiam mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan Pak Nugraha.


"Itu tidak perlu aku sudah mengikhlaskannya, lagi pula aku tau posisi ku dan aku cukup sadar siapa diriku dimasa lalu dan masa sekarang," tutur Pak Gunawan tulus sambil menghela napas pelan.


"Ayolah Guna jangan buat sisa hidupku selalu berada dalam rasa bersalah, kita sudah pada dewasa bahkan sudah tua, jangan terus terjebak dengan keegoisan dan salah paham," tutur Pak Nugraha serius. Pak Gunawan masih diam tidak mau menanggapi.


"Pikirkanlah dan buat semuanya mudah, jangan mempersulit keadaan, setidaknya jika bukan demi hubungan kita dimasa lalu tapi coba pikirkan demi masa depan anak-anakmu kelak," ucap Pak Nugraha sambil bangkit dari posisi duduknya.


"Aku pamit Gaha, dan aku minta maaf atas semua kesalahanku beserta istriku dimasa lalu padamu," ucap Pak Nugraha tulus sambil berlalu keluar dari rumah Pak Gunawan. Pak Gunawan masih diam membisu tidak bergerak maupun berucap.


Pandangannya kosong menerawang kedepan, ingatan 20 tahun yang lalu masih melekat diingatan dan membekaskan luka yang masih menganga dalam sudut hatinya.


"Ayah..!" panggil Ibu pelan sambil menepuk punggung tangan suaminya lembut menyadarkan Pak Gunawan dari lamunannya.


"Huhm.. kenapa Bu?" Pak Gunawan sedikit terlonjak kaget menatap ke arah istrinya yang sudah duduk disampingnya.


"Tadi siapa? kok ibu denger Ayah marah?" tanya ibu lembut takut suaminya masih dalam keadaan marah.


"Bukan siapa-siapa hanya teman yang sudah lama tidak bertemu," ucap pak Gunawan datar.


"Tapi tadi ibu denger masalah meminang, menjadikan menantu, dan nama Tia disebut-sebut itu kenapa Yah?" tanya ibu masih penasaran.


"Sudahlah ayah cape mau istirahat," ucap Pak Gunawan ketus sambil bangkit dan berlalu menuju kamarnya. Ibu hanya menghela napas berat melihat kepergian suaminya itu.


Semoga aja kamu nggak papa disana Ya, ibu selalu mendoakanmu dari jauh Neng. batin ibu masih merasa khawatir dengan kondisi Tia yang beberapa saat lalu menjadi bahan perdebatan antara suaminya dan tamunya tadi.


*******


terima kasih banyak pada kakak-kakak readers yang masih setia dengan cerita author ini, mohon tinggalkan jejak like dan masukkannya dikolom komentar ya..

__ADS_1


makasih... ditunggu komenannya yang banyak luv..luv.. ❤❤❤❤


__ADS_2