
Nisa meletakkan pakaian ganti buat suaminya diatas kasur, kemudian ia duduk didepan meja rias menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Penasaran ingin menanyakan paper bag buat siapa karena ternyata berisi 2 batang coklat kesukaannya.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka. Membuat Nisa bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Fahri yang sontak mengerutkan kening saat Nisa mendekatinya dalam keadaan dirinya hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang. Padahal biasanya Nisa akan mengalihkan pandangan ketika ia melihat tubuh Fahri yang polos.
"Mas itu paper bag buat Nisa bukan?" Nisa menatap Fahri dengan wajah yang penuh harap. Namun Dimata Fahri, wajah Nisa yang seperti itu sungguh sangat menyebalkan karena mampu membuatnya bergejolak karena gemas. Bahkan ada sesuatu yang ikut bereaksi dan menggeliat. Shitt dengan cepat Fahri segera meraih pakaiannya yang berada diatas ranjang.
"Memangnya itu apa isiinya?" Fahri menatap Nisa yang berdiri disamping belakangnya.
"Itu isiinya coklat. Ada dua malah" Ucap Nisa sambil meraih paper dari atas meja dan membukanya didepan Fahri.
"Ambil saja kalau mau. Itu dikasih orang, tapi kalau enggak suka kasihin Art saja jangan dibuang. Kasihan yang bawain." Ucap Fahri sambil memunggungi Nisa, ia tampak santai mengenakan pakaian didepan istrinya. Malah Nisa yang memalingkan wajah saat Fahri melepaskan handuk disaat sudah mengenakan pakaian dalam.
Astaghfirullah, kenapa main pelorotin gitu aja sih padahal ada tempat ganti baju malah ganti seenaknya disini.
Dengan cepat Nisa membalikkan badannya dan kembali duduk didepan meja rias, membuka coklat yang sudah beberapa Minggu tidak ia cicipi.
"Jangan banyak banyak makan coklatnya. Sisain buat besok, tidak akan ada yang minta ini kok." Fahri meletakkan handuk yang bekas dipakainya diatas pundak Nisa. Entah kenapa kalau ia tidak menjahili istri kecilnya itu serasa ada yang kurang. Hatinya senang ketika melihat wajah Nisa yang kesal tapi tidak berani mengekspresikan kekesalannya.
Sabar ca, sabar. Ini ujian Nisa mengeratkan giginya menahan kesal, tangannya berulang kali mengusap dada berharap bisa meredam kesal yang memuncak. Terhitung sudah bukan satu atau dua kali suaminya itu selalu membuatnya kesal. Meletakkan handuk basah disembarang tempat, dan lebih parahnya meletakkan handuk dengan menyampirkannya diatas pundaknya seperti sekarang ini. Ingin rasanya ia melempar haduk pada wajahnya yang tampan namun tanpa dosa itu. Namun ia sadar kalau yang selalu membuatnya kesal itu adalah suaminya sendiri, orang yang harus ia hormat dan patuhi.
"Sudah belum makan coklatnya?" Tanya Fahri dari atas tempat tidur dengan mata yang terpejam.
"Kenapa?" Nisa menoleh sekilas kearah tempat tidur, dimana suaminya sedang merebahkan tubuhnya terlentang.
"Lelah banget pengen dipijat, lutut dan betisku pegal-pegal. Bisa mijat gak?" Fahri langsung merubah posisi tubuhnya menjadi tengkurap tanpa menunggu jawaban Nisa bisa apa enggaknya mijat.
__ADS_1
Itu mah bukan nanya atuh, tapi nyuruh monolog Nisa, namun tak urung ia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat kearah tempat tidur untuk memijat suaminya yang seumur umur belum pernah dilakukannya.
Sedangkan Fahri yang sedang tengkurap langsung mengulum senyum saat merasakan ada pergerakan disampingnya. Yang sudah dipastikan kalau itu istri kecilnya yang akan memijatnya. Fahri membayangkan wajah Nisa yang memberengut sebal. Arrngghhh Fahri mengerang. Saat merasakan pijatan Nisa dikakinya yang lebih pantas disebut elusan. Ia kesal karena bukan menghilangkan pegal malah menambah pegal anggota tubuh lainnya karena ada yang terbangun.
"Eh, eh. Mas kenapa? Ada yang sakit ya? Maaf" Dengan cepat Nisa mengelus lembut bagian kaki suaminya yang ia pijit tadi. Ia kaget mendengar suara Fahri yang meraung. Tak menyangka pijatannya malah menimbulkan rasa sakit, padahal perasaannya tidak terlalu kencang.
"Stop. Hentikan!" Fahri langsung membalikkan tubuhnya kembali terlentang, dengan sigap ia menarik tangan Nisa hingga tubuh mungil istrinya itu langsung tersungkur menimpa tubuhnya sendiri.
"Mas kenapa? Maaf ya kalau ada yang sakit. Soalnya aku baru pertama kali ini memijat orang. Jadi enggak tahu gimana caranya." Nisa menatap wajah Fahri penuh iba. Ia mengira suaminya itu merasakan sakit luar biasa yang disebabkan oleh pijatannya. Namun sesaat kemudian Nisa mengerutkan keningnya saat merasakan ada yang berdenyut keras mengganjal di perutnya. Ia terjengkit kaget dan langsung hendak menggulingkan tubuhnya dari atas tubuh Fahri. Namun Fahri menahannya sambil membisikkan mantra ditelinga Nisa yang mampu membuat Nisa langsung terdiam "Jangan lari dari tanggung jawab! Siapa suruh membangunkannya." Fahri menarik tangan Nisa yang terasa kaku dan mengarahkannya pada bagian tubuhnya yang menegang.
"Ta tapi. Aku tidak membangunkannya sama sekali. Mana bisa begitu." Nisa menarik tangannya, merasa geli dan malu harus memegangi benda yang menurutnya sangat aneh itu. Halus tapi kerasnya itu tidak bisa dipatahkan. Namun tenaganya kalah kuat oleh tenaga Fahri yang terus memegangi tangannya, mau tidak mau ia pun menuruti keinginan suaminya itu. Dengan bergetar Nisa menempelkan tangannya sambil memejamkan mata. Gelenyar aneh pun langsung dirasakan oleh tubuhnya yang seketika memanas. Setelah tangan Nisa menyentuh miliknya, dengan erat Fahri memeluk kepala sang istri dan mengecup puncaknya. Ia memejamkan mata merasakan nikmat yang mengambang.
Namun, lama kelamaan bersamaan dengan elusan lembut dari tangan Nisa tubuh Fahri sudah tidak bisa diajak kompromi. Has ratnya kian memuncak dengan nafas yang memburu. Ia menarik tubuh Nisa disejajarkan dengan wajahnya. Tanpa permisi ia menci um bibir ranum Nisa yang masih beraroma wangi coklat yang dimakannya tadi. Bibir yang awalnya hanya mendaratkan ci uman kini berubah menjadi lu matan yang menuntut membuat Nisa yang belum terbiasa menjadi kewalahan mengatur nafas.
"Masshhhhmpptt" Baru saja Nisa membuka mulut memanggil suaminya, namun Fahri langsung membungkamnya. Tidak mau mendengar protes apapun, yang ia inginkan hanya menuntaskan rasa yang sudah di ubun-ubun. Perlahan tangannya menyusup pada punggung halus Nisa melepaskan pengait yang menutupi gunung kembarnya yang tidak terlalu besar namun sangat pas pada genggaman tangan Fahri.
Tanpa diketahui Nisa, kancing piyamanya pun sudah terlepas semuanya. Dengan secepat kilat Fahri melepaskan kaos dan melemparnya ke sembarang arah. Dan kini tubuh keduanya hanya menyisakan pakaian dalam bagian bawah.
"Mas stop. Ini sudah mau maghrib." Nisa yang sudah paham dengan apa yang diinginkan suaminya, ia menolak halus karena memang waktunya yang tidak memungkinkan, tidak sampai setengah jam lagi waktu maghrib akan tiba.
"Janji. Enggak lama" Ucap Fahri dengan suara beratnya karena menahan gairah. Nafasnya makin memburu saat tubuhnya yang sudah tak terhalang sehelai benang bersentuhan langsung dengan tubuh istrinya yang serupa dengan dirinya, tak ada penghalang. Ia mengarahkan pusatnya sesaat setelah melepaskan segitiga miliknya dan juga milik Nisa. Ia kembali melu mat bibir istrinya dengan lembut, saat tubuh intinya sudah mengarah masuk bahkan sudah merasakan hangatnya inti tubuh sang istri yang siap mencengkeramnya. Suara ketukan pintu kamar diikuti panggilan sang mama. Membuat Fahri memejamkan matanya sambil mengerang kesal.
"Fah. Caca, sayang. Ayo turun makan dulu sekarang mumpung belum maghrib. Papa sudah nungguin. Tapi kalau mau nanti juga enggak apa-apa." Suara mama Risa yang kencang namun hanya sekali panggilan membuat Nisa yang sedang menahan nafas karena sesuatu yang memasukinya mendadak membuka suara.
"Iya ma sekarnghmmptt" Bibir Nisa kembali dibungkam saat bicaranya belum tuntas. Dan dengan sekali hentakkan, Fahri telah memasukkan inti tubuhnya dengan sempurna. Dan selanjutnya hanya deru nafas dan erangan serta de sahan menggantikan keluhan yang sedari tadi dikeluarkan Nisa mengingat waktu yang berasa mengejarnya.
__ADS_1
"Fahri sama Nisa kayaknya makannya nanti pa" Mama Risa kembali menarik kursinya kemudian duduk dan mengambil nasi serta lauk buat suaminya.
"Ya sudah enggak apa-apa. Tadi papa minta mama memanggil mereka siapa tahu mau makan bareng sekarang." Ucap papa Fandy yang kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya. Ia memilih makan sebelum Maghrib karena mau ada acara di mesjid dan kemungkinan pulangnya akan larut.
"Jadi papa berangkat sekarang pas maghrib. Terus nanti habis isya enggak pulang dulu?" Mama Risa menatap suaminya yang sedang fokus mengunyah makanan.
"Iya. Nanti kalau mama mau kesanya nyusul saja. Anak-anak ajakin biar bersosialisasi dengan lingkungan disini. Apalagi Nisa pendatang baru biar pada kenal."
"Iya pa. Kalau Nisa pasti mau, tapi kalau Fahri sendiri belum tentu. Selalu saja banyak alasan pekerjaan lah apa lah." Keluh mama Risa yang menceritakan kebiasaan putranya yang susah kalau diajak pada acara-acara di mesjid lingkungan tempat tinggal mereka.
Setelah 30 menit berlalu, akhirnya era ngan panjang keluar dari bibir Fahri bersamaan dengan berkumandangnya suara adzan maghrib di mesjid. Ia menggulingkan tubuhnya kesamping, agar Nisa tidak terbebani oleh tubuhnya. Namun dengan secepat kilat tubuh mungil perempuan disampingnya itu langsung bangun dan duduk sejenak. Fahri mengerutkan keningnya melihat Nisa yang langsung bangun tidak seperti biasanya yang memilih tergeletak karena lemas.
"Hei. Mau kemana? Istirahat dulu sebentar. Memangnya enggak lemas gitu?" Fahri menarik tangan Nisa yang hendak berdiri meninggalkannya.
"Masss. Ini sudah maghrib, sebentar lagi Iqamah. Ayo bangun mandi dan keramas lagi. Mas dikamar mandi sebelah saja takutnya enggak keburu kalau mandi disini nungguin aku." Ucap Nisa dengan wajah frustasinya. Ia kembali bangkit dan berdiri dengan tubuh polos yang ia tutupi dengan selimut.
....
Siapa dia? Nadira duduk dipinggiran ranjang dengan hati yang diselimuti rasa penasaran akan sosok perempuan yang sudah mampu membuat seorang Fahri move on darinya dalam waktu yang kurang dari satu bulan. Ia meyakini Fahri move on dari kisah cinta 3 tahun bersamanya, karena melihat sikap Fahri yang begitu tenang saat meminta dirinya untuk melupakan masa lalu.
Mudah bagimu melupakan aku Fah, karena memang sudah ada seseorang. Tapi tidak bagiku, bukan hal mudah melupakan waktu 3 tahun kebersamaan yang dilewati dengan begitu banyak kenangan indah diantara kita. Air mata pun keluar menetes membasahi wajah Nadira yang terlihat lesu. Kejadian demi kejadian yang dilewatinya benar-benar seperti pukulan telak. Kandasnya kisah cinta dirinya dengan Fahri dan juga fakta tentang keluarga baru dari ayahnya di Singapura.
🍁🍁🍁
Happy reading Bestie ❤️
__ADS_1