
Seirah dan Kedua pelayan setianya kompak berbalik untuk melihat ke sumber suara yang menghentikan mereka.
"Kaliam mau kemana?" tanya si pemilik suara itu yang tidak lain adalah Ryan yang berada di atas tangga hendak turun untuk sarapan.
"Mau sarapan" ucap Seirah santai. Itu di luar, tapi di dalam Seirah sekuat tenaga untuk menutupi rasa yang berkecamuk dalam dirinya. Setiap kali melihat Ryan yang terlintas di benaknyq adalah adegan demi adegan dirinya berada dalam pelukan suaminya itu.
"Lalu, kenapa kamu melewatkan meja makan jika ingin sarapan" ucao Ryan yang kini sudah berada tepat di hadapan Seirah.
ibu Ami dan Bi Mirna sontak saja mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang untuk kedua majikannya itu.
"Karena aku akan sarapan bersama dengan semua pekerja rumah ini seperti biasa" Lagi-lagi Seirah berucap dengan santai.
"Mulai hari ini, kami makan disini bersamaku" perintah Ryan tegas.
Seirah hendak protes, tapi dia kalah cepat karena Ryan langsung mengeluarkan perintah kedua yang tidak bisa di tolak dan di bantah.
"Ibu Ami, mulai hari ini perintahkan semua pekerja rumah ini untuk makan bersama di meja makan utama"
Seirah, Ibu Ami dan Bi Mirna serta beberapa pelayan yang mendengar langsung perintah itu di buat melongo tak percaya atas ucapan Ryan barusan tidak terkecuali Monica atau Farah palsu yang sedari tadi berada di kursi meja makan utama.
"Bu, kenapa bengong" ucap Ryan
"Maaf tuan" ucap Ibu Ami.
"Apa yang kamu bilang barusan" kini Seirah yang angkat bicara memperjelas semuanya.
"Aku memerintahkan mulai hari ini, kita semua makan bersama di meja makan utama tanpa terkecuali" tegas Ryan.
Seirah menatap tidak percaya ke arah Ryan. Begitu juga dengan orang-orang yang ada disana.
Ibu Ami dan Bi Mirna kompak menatap Seirah dengan tatapan meminta persetujuan atas semua itu.
Ah, para pelayan disana lebih patuh terhadap Seirah hehehehe.
Seirah yang melihat tatapan Ibu Ami dan Bi Mirna, dia langsung mengerti makna tatapan itu. Seirah langsung memberikan anggukan tanda setuju. Ibu langsung menjalankan perintah itu segera.
"Kamu benar-benar nyonya dirumah ini Seirah. Bahkan para pelayan lebih patuh ke pada kamu ketimbang kepada ku" batin Ryan yang bahagia melihat itu.
"Aku sangat bahagia Seirah. Kamu akan selalu jadi nyonya di rumah ini" batin Ryan lagi.
"Cih! dasar. Setelah ini, jangan harap kamu akan menjadi nyonya lagi dirumah ini."
"Aku bersumpah akan menendang kamu keluar dari istana ini Seirah"
Batin Monica bermonolog.
__ADS_1
.
Sesuai dengan perintah Ryan, Kini semua orang telah berkumpul di meja makan utama termasuk semua pekerja dirumah besar itu kecuali penjaga di gerbang. Para penjaga akan masuk makan setelah bergantian dengan penjaga yang lain yang sudah makan. Itu semua demi keamanan dan kenyamanan bersama.
Meja makan utama nampak ramai, tapi sunyi. Tidak seperti biasanya saat para pekerja rumah itu makan bersama Seirah. Saat makan bersama Seirah nyonya rumah mereka, mereka tidak akan canggung untuk sekedar berceloteh dan bersenda gurau.
Tapi kali ini, mereka nampak bingung nan canggung karena keberadaan Ryan dan juga Farah. Ryan sudah seperti sang Kaisar di drama-drama kolosal yang memiliki aura yang bisa membuat orang tidak dapat bicara atau sekedar mengangkat kepala mereka.
Dan juga si rubah iblis Farah palsu alias Monica. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan ketidak sukaannya atas kehadiran para pelayan dan penjaga rumah besar itu untuk makan bersama. Tatapan benci dan jijik selalu dia tampakkan ke arah para pekerja. Tapi tidak saat Ryan menatapnya.
"Hemm" dehaman Ryan memecah kesunyian.
"Baiklah, mari kita mulai sarapannya" ucap Ryan.
Namun, ucapan itu masih belum bisa membuat orang-orang disana bergerak mematuhi perintah.
"Sayang, kamu mau sarapan apa. Biar aku ambilkan" ucap Monica sok lembut.
para pekerja merasa sangat jijik saat mendengar ucapan Monica.
"Tidak Farah kamu sarapanlah. Biar Seirah yang melayaniku. Aku tidak mau kamu lelah" ucap Ryan setenang mungkin, tapi dalam hati dia ingin sekali membunuh wanita ular itu.
"Seirah, aku ingin makan nasi goreng. Bisa tolong ambilkan" pinta Ryan sangat lembut.
Seirah menuruti permintaan Ryan, baginya tidak ada alasan untuk menolak. Ini adalah tanggung jawab dan kewajibannya. Ryan adalah suaminya yang sah, baik di mata hukum maupun agama. Dia akan berdosa jika membantah suaminya. Apalagi ini hanya perkara kecil, tidak baik menolak bukan terlebih ini di saksikan oleh para pekerja di rumah itu.
Para pekerja yang ada disana juga merasa sangat bahagia. Ini pertama kalinya mereka melihat majikan mereka seharmonis ini. Mereka sangat berharap agar kedua majikannya itu harmonis selamanya. Dan untuk wanita pengganggu rumah tangga kedua majikannya, mereka sangat ingin wanita itu lenyap di muka bumi ini.
Mereka tidak ikhlas kebahagian kedua majikannya di kacaukan oleh wanita iblis itu.
"Kenapa kalian tidak makan? makan lah" ucapan Seirah membuat semua orang langsung menuruti apa yang dia ucapkan.
.
.
.
Sarapan selesai, kini Seirah dan Ryan tengah berada dam mobil Seirah menuju ke kantor masing-masing. Ryan memaksa agar Seirah mengantarkannya ke kantornya setelah Seirah menolak tawarannya untuk berangkat bersama dengan di supiri oleh Samy menggunakan mobil Ryan.
"Hei, bangun. Malah tidur, sudah sampai" ucap Seirah kesal.
"hoam...Udah sampai yah" racau Ryan.
Seirah menatap Ryan tajam setajam silet.
__ADS_1
"Kamu natapnya gitu amat sih. Ngga ikhlas banget nganternya" ucap Ryan.
"Emang ngga ikhlas"
"Jahat banget"
"Sana ih, aku nanti telat ke pengadilannya" kesal Seirah. Dia memang sangat buru-buru, pasalnya dia ada sidang hari ini.
"Tapi, nanti makan siang bareng yah" pinta Ryan
Sebenarnya Seirah ingin menolak, tapi dia urungkan karena dia tidak ingin seharian berdebat dengan Ryan. Seirah sangat paham, jika dia menolak ajakan Ryan maka laki-laki itu tidak akan ingin turun dari mobilnya. Dan tentu saja itu akan mengacaukan jadwalnya.
"Baiklah" ucapnya malas.
"Yes, ok. Sampai ketemu nanti siang" ucap Ryan girang.
Sebelum turun dari mobil, Ryan mengulurkan tangannya ke arah Seirah dan di raih oleh Seirah. Seirah menjabat tangan suaminya secara taksim selayaknya istri yang ke suaminya.
Dan itu dibalas dengan usapan lembut di kepala Seirah yang dilakukan oleh Ryan.
Tidak bisa mereka pungkiri, mereka berdua sangat bahagia melakukan itu.
"Aku turun, kamu Hati-hati bawa mobil" ucap Ryan.
"Hem"
cup.
Satu kecupan mendarat sukses di pipi Seirah. Ryan langsung turun dan menutup pintu mobil tanpa menghiraukan Seirah yang masih mematung karena masih tidak percaya dengan serangan mendadak dari Ryan.
Maaf yah, othor bisanya double up yah. Belum Bisa crazy up nih🙏🙏
*************
Terima kasih para readers Pelangi di Ujung Senja
**Othor sangat berterima kasih kepada kalian, karena sudi membaca cerita othor. Othor masih pemula dalam hal menulis yah. Jadi mohon di maklumi jika masih banyak typo bertebaran. Dan mungkin kata2 yang berantakan.
Jangan lupa kasi othor saran yah. Jika misalnya ada yang tidak berkenan.
Jangan lupa dukung cerita othor yah. Dengan cara beri Like, Comment dan kasih vote.
Jangan lupa juga tambahkan cerita** Pelangi di Ujung Senja **di daftar favorit kalian yah.
__ADS_1
Salam sayang dari othor 🥰😘😘😘**