Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
50. Siapa?


__ADS_3

"Pah, Ilham mohon tolong beri tahu Ilham alamat paman Guna di jawa tengah," mohon Ilham.


"Untuk apa?" tanya Pak Nugraha datar.


"Untuk memperbaiki kesalahan Ilham Pah," jawab Ilham tegas dengan menunduk.


Setelah sering mendengarkan nasehat Parto, Ilham memutuskan untuk mengikuti saran karyawannya itu. Ilham berusaha tidak terus menyalahkan diri sendiri tapi berusaha menunjukkan dirinya lebih bertanggung jawab.


Ilham harus berdamai dengan dirinya dan keadaan, begitu Parto bilang. Ilham mulai menata kembali hidupnya dengan bertanggung jawab atas pekerjaan dan kepercayaan sang papah. Dia mulai mengembalikan Ilham yang dulu, Ilham yang ramah dan selalu berfikir positif.


Pak Nugraha terdiam beberapa menit, dia menimbang banyak hal dalam fikirannya. Benarkah dia bisa percaya pada putranya kali ini?


"Apa jaminan yang bisa kamu berikan jika papah mau ngasih alamat paman Guna di jawa tengah?" tanya Pak Nugraha dengan tatapan penuh selidik.


"Kali ini Ilham hanya ingin meminta maaf, dan... tidak akan pernah memaksa Tia untuk bersama Ilham lagi kalau dia tidak mau," jawab Ilham dengan kepala menunduk.


Ya, kali ini dia akan lebih menerima semua konsekuensi atas perbuatannya pada Tia. Kali ini dia tidak akan memaksakan kehendaknya bila Tia tidak mau menerimanya kembali.


Sudah dua bulan berlalu semenjak Tia meninggalkan rumah, dan ini batas yang Ilham miliki sebagai manusia. Dia sudah tidak tahan dengan situsi yang tidak jelas seperti ini. Jadi dia bertekad akan menyelesaikannya secepat yang dia bisa.


Kalau semua harus berakhir ya sudah, setidaknya harus ada nama yang jelas atas hubungannya dengan Tia. Agar... Tia dan dirinya bisa melanjutkan hidup masing-masing, bukan?


Masalah tidak akan selesai kalau terus di hindari, jadi Ilham memutuskan untuk menghadapinya dan memperjelas semuanya secepat mungkin. Tia berhak bahagia meski tanpa dirinya, jadi dia tidak akan lagi memaksa Tia untuk tetap bersamanya bila Tia tidak bahagia.


"Baiklah." Pak Nugraha bangkit dari duduknya lalu menuju meja kerjanya.


Diambilnya secarik kertas lalu menuliskan sesuatu dengan bulpoint di tangannya.


"Ini, berusahalah sebaik yang kamu bisa Nak! tidak semua orang di dunia ini bisa dapat kesempatan kedua. Jadi pergunakan ini dengan baik," ucap Pak Nugraha menyerahkan secarik kertas itu pada Ilham.


Ilham menerima secarik kertas itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Terima kasih banyak Pah," ucap Ilham tulus.


"Jaga kepercayaan Papah kali ini dengan baik Ham!"


"Pasti Pah."

__ADS_1


Ilham bergegas keluar dari ruang kerja sang papah lalu dia masuk ke dalam kamar miliknya yang berada di rumah orang tuanya.


Disimpannya secarik kertas yang diberikan sang papah dengan baik di dalam saku jaketnya. Tidak lupa secarik kertas itu dia foto sebagai jaga-jaga kalau fisiknya hilang dia masih punya fotonya.


Dia mengemas beberapa pakaian yang sekiranya diperlukan, lalu dia memesan tiket pesawat melalui aplikasi online. Dia juga mereservasi sebuah kamar hotel melalui aplikasi online, sebagai jaga-jaga kalau dia tidak diperbolehkan menginap di rumah mertuanya.


Ilham menghela napas dalam, di perhatikannya sekali lagi barang bawaan dan kesiapannya untuk pergi ke jawa tengah. Beruntung kemarin dia memang mengajukan cuti kerja selama tiga hari ditambah sabtu minggu, jadi dia punya waktu lima hari untuk menyelesaikan urusannya di jawa tengah.


Semuanya sudah dia persiapkan dengan baik, hasilnya nanti cukup berserah saja kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui.


"Bismillah...," gumamnya pelan sambil menyeret koper ke luar kamar.


Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya dia pun bergegas pergi ke bandara menggunakan taksi online.


Jam keberangkatannya masih dua jam lagi, tapi dia tidak mau mengambil resiko terlambat. Lebih baik menunggu di bandara dari pada ketinggalan pesawat, begitu fikirnya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, dia sampai di salah satu bandara di jawa tengah. Setelah memastikan barang bawaannya lengkap dia bergegas mencari taksi untuk mengantarkannya ke rumah mertuanya.


Sepanjang perjalanan, dadanya berdebar, tangannya dingin karena gugup. Entah, rasanya dia lebih gugup dari pada dulu sebelum dia mengucap ijab qabul.


Sepanjang perjalanan Ilham tidak berhenti meremas tangannya sendiri. Dalam otaknya dia menyusun banyak kalimat permohonan maaf yang akan dia sampaikan pada mertuanya dan Tia tentunya.


Dada Ilham berdebar melihat rumah yang yang berada tidak jauh dari mobil yang dia tumpangi. Cahaya pendar lampu meneranginya dari gelapnya malam. Ya, Ilham sampai disini saat waktu menunjukkan pukul delapan malam.


"Makasih ya Pak," ucap ilham sambil memberikan beberapa lembar uang pada supir taksi itu.


Ilham mulai melangkah keluar dari mobil dengan menyeret koper miliknya, dengan langkah pasti dia menuju rumah yang ada di depannya. Saat tepat berada di depan pintu masuk dada Ilham kembali berdebar, tangannya gemetar. Terdengar sayup-sayup suara yang sedang bersenda gurau dari dalam rumah.


Ilham menghela napas dalam, dia menelan salivannya dengan susah payah. Dia sudah sampai sini dan tidak bisa mundur lagi, apapun hasilnya nanti dia harus bisa menghadapinya.


"Bismillah...," gumamnya pelan sebelum memberanikan diri mengetuk pintu yang ada di depannya.


"Assalamualaikum.." Ilham mengucap salam di sela-sela ketukan pintu yang dia berikan pada daun pintu yang ada di depannya.


"Waalaikumsalam..," jawab seseorang dari dalam rumah.


Deg.

__ADS_1


Suara itu, suara yang selama dua bulan ini Ilham rindukan. Debaran di dadanya semakin menggila, ah rasanya jantungnya berdetak kencang seperti ingin keluar dari peraduannya. Ilham memegang dadanya mencoba merayu jantungnya supaya bisa berdetak normal kembali.


Saat daun pintu itu dibuka, Ilham menahan napas. Matanya kini bertatapan dengan manik mata coklat milik seseorang yang sangat dia rindukan, manik mata milik Tia.


Ingin sekali dia menghambur memeluk istrinya sekarang. Tapi tidak, dia harus bisa menahan diri, dia harus meminta maaf terlebih dahulu baru setelah itu dia boleh berharap bisa memeluk istrinya lagi.


"A Ilham," gumam Tia pelan, sorot matanya menunjukkan keterkejutan.


Ilham tersenyum lebar pada Istrinya yang sedang menatapnya dalam keterkejutan.


"Tia.. apa kabar?" Pertanyaan basa basi itu lolos begitu saja dari mulut Ilham.


Aku merindukanmu sayang, ingin sekali Ilham melontarkan kalimat itu. Tapi tidak, mulutnya rapat dan tenggorokannya tercekat. Kata rindu itu hanya bisa dia teriakan dalam hati saja.


Untuk beberapa saat Ilham dan Tia hanya saling diam mematung tanpa kata dan sapaan. Mata mereka bersitatap cukup lama, satu sama lain memancarkan kerinduan lewat sorot mata.


"Siapa Tia?" tanya seorang pemuda yang kini sudah berada tepat di belakang Tia. Pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu memutuskan kontak mata antara Ilham dan Tia.


Dahi Ilham berkerut, menatap pemuda itu dengan tatapan sengit. Apa semudah itu posisinya tergantikan? Ilham menatap Tia yang kini juga sedang menatapnya.


"Dia... siapa Tia?" tanya Ilham pelan sambil menahan gejolak amarah di dadanya yang terasa menyesakkan.


"Di-dia..."


***********


hilaw aku update gengs😎 cerita ini otw ending ya.. ada yang sudah bisa menebak endingnya seperti apa?


Mpok Neti : ya jelas, ceritanya gampang ditebak gitu


Hahahaa.. ya sudah kalau gitu nggak aku tamatin aja ya? hehe


Nggak deng, gpp aku akan berusaha menamatkan cerita yang aku mulai ya gengs, semoga saja saya bisa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


otraylah, selamat membaca! mohon tinggalkan jejak setelah membaca ya..


makasih,

__ADS_1


Salam,


_AB_


__ADS_2