Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
34. Aku belum siap


__ADS_3

Perlahan Ilham mendekatkan wajahnya ke wajah Tia, tatapan Ilham terkunci pada bibir ranum milik Tia, sorot mata Ilham mendamba akan bibir ranum istrinya. Perlahan Ilham mendekat dan sedikit memiringkan kepalanya, wajah mereka semakin dekat hingga nafas Ilham terasa hangat menyapu wajah Tia, detak jantung Tia berdetak dengan hebat melihat wajah Ilham yang semakin dekat, tapi sebelum bibir Ilham mendarat sempurna di bibir Tia pintu kamar Tia tiba-tiba terbuka


"Tia..Ilham.. makan dulu..!" seru bu Nadia dibalik pintu kamar Tia yang sudah terbuka sebagian.


Tia dan Ilham gelagapan yang mengharuskan mereka bereaksi dengan cepat. Tia langsung berdiri saat mendengar suara ibunya tersebut sedangkan Ilham karena kehilangan keseimbangan gara-gara Tia langsung berdiri langsung limbung tersungkur di pinggir ranjang.


Bu Nadia yang melihat reaksi dari anak dan menantunya itu hanya mengulum bibir agar tawanya tidak pecah.


"Maaf ya, ibu tadi lupa ketuk pintu dulu," ucap bu Nadia sambil menahan tawa.


"Nggak papa kok Bu, Tia keluar sekarang." Tia langsung keluar kamar tak lupa mengambil jilbab instan diatas meja belajarnya dan langsung memakainya dengan segera.


Sementara Ilham segera membenahi posisi duduknya setelah tadi sempat limbung dan tersungkur ditepi ranjang, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu kedua sudut bibirnya tertarik keatas membuat sebuah senyuman antara senyum malu kepergok mertua atau senyum bahagia karena tadi bisa sedekat itu dengan Tia.


Kini seluruh anggota keluarga Gunawan dan Nugraha tampak berkumpul diruang tengah untuk makan bersama, karena keterbatasan kursi sehingga mengharuskan mereka duduk lesehan beralaskan karpet, mereka duduk melingkar memenuhi ruangan tersebut dengan makanan berada ditengah-tengahnya.


Seluruh anggota keluarga tampak bahagia dengan sesekali mengobrol dan bercanda, berbeda sekali dengan pengantin baru itu yang satu sedang makan dalam diam sambil menunduk sedangkan yang satunya makan dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari seseorang yang beberapa jam lalu sudah menjadi istrinya.


"Udah dong Ham, nggak akan lari kemana-mana kok Tia nya, segitunya sampe terus diliatin," Ucap pak Nugraha dengan nada mengejek sambil terkekeh.


Dih, papah bener-bener deh sesuatu, ganggu aja! Ilham mendelik kesal ke arah papahnya, sedangkan Tia semakin menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


"Maklumlah pengantin baru!" ucap pak Gunawan menimpali sambil terkekeh juga


Lihatlah, kedua sahabat ini kompak sekali, rutu Ilham dalam hati.


"Sudah-sudah, kasian tuh anak-anak jadi pada malu kalau terus diledekin!" ucap bu Nadia melerai.


"Nggak papa Bu, Ilham udah kebal diledikin papah sendiri," ucap Ilham sambil mendelik sebal kearah papahnya, pak Nugraha hanya tersenyum untuk menanggapi.


***********


"Aaarrggghhhhh......!" Dion berteriak sekencang-kencangnya berharap teriakannya akan mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya, kamarnya kini sudah tidak berbentuk lagi semua benda sudah berhamburan tidak beraturan dilantai akibat ulahnya sendiri.


Rasa sesak didalam dadanya itu mengkomandoi air mata untuk tidak berhenti keluar dari peraduannya, hatinya sangat sakit ya sangat, gadis yang benar-benar dia harapkan menjadi pendampingnya kelak kini sudah menjadi milik orang lain.


"Aku sungguh menyayangimu Tia..," ucap nya lirih sambil memegang dadanya, dia terduduk lesu dilantai bersandar pada ranjang, dia terisak pilu didalam kamarnya ditemani sebuah foto yang dia pandangi sejak tadi.


"Kamu sudah janji untuk menungguku Tia.. tapi kenapa? kenapa kamu menikah Tia..," ucapnya frustasi sambil membelai foto yang dari tadi dia pegang, di foto itu terlihat dua remaja yang berdiri berdampingan sedang menampilkan senyum bahagia.


"Kamu tega Tia! kamu tega!" teriaknya lagi sambil meremas foto yang dia pegang lalu melemparkannya kesembarang arah.

__ADS_1


Sudah beberapa jam Dion masih saja menangis, berteriak dan melemparkan benda yang ada dihadapannya mencoba melampiaskan kemarahan yang membuncah didada, baru kali ini dia merasakan sakit yang seperti ini, rasa sakit yang tidak berdarah karena kehilangan seseorang yang ternyata memenuhi hatinya itu, entah sejak kapan hatinya penuh oleh seorang Mutia. Entah, dia bahkan tidak ingat sejak kapan itu.


Kegaduhan didalam kamar Dion sedikitpun tidak mengusik penghuni rumahnya yang lain karena memang kamar Dion dibuat kedap suara.


"Bagaimana bisa aku melepasmu begitu saja Tia? sedangkan hati dan pikiranku ini masih saja penuh dengan kenangan kebersamaan kita..," ucapnya lirih dengan suara yang serak, kini air mata itu sudah tidak keluar lagi, matanya sudah bengkak dan sulit untuk dibuka sehingga dia tertidur meringkuk diatas kasurnya dengan memikul beban hati yang begitu berat.


Terkadang, kita baru sadar sesuatu itu berharga saat sesuatu itu justru sudah bukan milik kita lagi.


*********


Langit sudah gelap, matahari sudah meninggalkan peraduannya yang digantikan oleh sang rembulan.


Di sebuah kamar seorang gadis yang beberapa jam yang lalu menyandang status sebagai seorang istri itu sedang duduk termenung diatas sajadah, tatapannya kosong dan air matanya sudah menganak sungai dipipinya, hatinya sesak setiap kali pikirannya meyakinkan hatinya bahwa kini dia sudah berstatus sebagai seorang istri dari Abrisyam Ilham Nugraha.


Takdir apa ini tuhan..?


Tia masih larut dalam lamunannya tapi kini air mata itu sudah tidak keluar lagi, dia menghela nafas berat berkali-kali untuk menstabilkan kembali perasaan dihatinya, dia menghapus jejak air mata dipipinya lalu beberapa kali menepuk pelan pipinya supaya tidak terlihat sudah menangis.


Beruntunglah saat Tia sudah mulai tenang pintu kamar baru dibuka, tampak seorang pemuda menggunakan baju koko dan sarung berada diambang pintu dengan senyum manis mengembang.


"Assalamualaikum..."


"Sudah sholat isya nya?"


"Sudah A, Aa udah sholat isya?"


"Ini baru pulang dari mesjid," ucap Ilham sambil melangkah masuk kedalam kamar dan menutup kembali pintu kamar.


Tia bangkit lalu menyambar tangan Ilham kemudian Tia cium punggung tangan suaminya itu dengan takjim, dia melipat sajadah yang tadi dia pakai untuk sholat isya kemudian dia melepaskan mukena yang dia kenakan lalu melipatanya.


Tia berjalan ke arah lemari untuk menyimpan peralatan sholatnya itu, lalu menoleh ke arah Ilham.


"Mau ganti baju A?" tanya Tia


"Iya, biar lebih nyaman tidurnya," ucap Ilham datar sambil membuka koper dan mengeluarkan baju kaos dan celana selututnya.


Dengan santainya Ilham berganti pakaian di depan Tia. Tia yang tidak siap merasa kaget lalu dengan segera membalikkan badannya untuk membelakangi Ilham, pipinya memanas, Tia merasa malu karena baru kali ini dia melihat seorang pemuda berganti pakaian didepannya selain adiknya Ardi itupun waktu Ardi masih kecil.


"Kenapa balik badan?" tanya Ilham sambil menautkan alisnya heran dengan tingkah istrinya.


"Eng... nggak itu apah..hmm.." jawab Tia terbata

__ADS_1


"Aa suami kamu ingat?"


"Ingat kok A"


"Suami istri itu tidak apa-apa saling melihat aurat pasangannya bahkan diperbolehkan untuk melakukan lebih dari sekedar melihat," ucap Ilham sambil tersenyum jahil ke arah Tia, Ilham memegang pundak Tia lalu membalikkan badan Tia untuk menghadap kepadanya.


Tia memejamkan matanya saat badannya kini berhadapan dengan Ilham.


"Kenapa merem hum?" tanya Ilham sambil menahan tawa


"Mmmmm...itu.." Tia masih menutup mata


"Aa udah pake baju kok," ucap Ilham datar sedekit kemudian Tia membuka matanya perlahan lalu menghembuskan nafas lega setelah melihat Ilham sudah berpakaian lengkap.


"Ayok kita bobo!" ajak Ilham sambil menggiring Tia


Tia tidak bergerak seolah kakinya dilem dengan lantai menggunakan lem super lengket.


"Loh..kenapa? belum ngantuk?emang nggak capek?" tanya Ilham heran Tia tidak mau bergerak.


"Mmm....." Cuma gumaman yang keluar dari mulut Tia


"Ayo dong kita bobo!" ajak Ilham mulai tidak sabar, Tia mengerjapkan matanya cepat berkali-kali mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan suaminya.


Ini beneran ngajak bobo arti sebenarnya atau.. kok semangat banget gitu?


Tuhan.. Tia belum siap.. Batin Tia meronta frustasi


bersambung..


********


Maaf baru bisa update, beberapa hari kemarin sempet kehilangan ide untuk melanjutkan cerita ini maklum author nya amatiran..hehe


terima kasih buat yang masih setia dengan cerita ini, mohon tinggalkan jejak like,komen, rate dan vote ya setelah membaca cerita ini.


makasih...


salam hangat


_AB_

__ADS_1


__ADS_2