Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
44. ingin pulang


__ADS_3

Pagi harinya, seperti pagi-pagi biasanya setelah sholat subuh Tia sudah bersiap dan mematut diri untuk berangkat bekerja.


Ilham hanya memperhatikan istrinya dengan senyum yang mengembang.


"Ngapain sih Yang, subuh-subuh udah sibuk aja?" tanya Ilham.


"Ya mau berangkat kerjalah A, yuk anterin!" seru Tia sambil menyampirkan tasnya.


Ilham hanya diam tidak bergerak dari posisinya.


"Kok Aa diem? nggak mau ya nganterin aku?" Dahi Tia berkerut.


"Kamu hari ini nggak usah kerja," jawab Ilham enteng. Dahi Tia semakin berkerut dalam.


"Kita dikasih cuti sama Papah tiga hari buat liburan," ucap Ilham dengan senyum yang mengembang.


"Kita?" Tia heran.


Ilham hanya mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya.


Apa itu berarti semua orang di pabrik akan tahu statusku? batin Tia.


"Kok kayak yang nggak seneng?"


"Hmm?" Tia menjawab dengan bergumam.


"Apa semua orang di pabrik akan tahu dengan status kita?" Tia bertanya dengan hati-hati.


"Iya, Papah akan melakukan pemberitahuan resmi atas pernikahan kita," jawab Ilham bangkit dari duduknya lalu memeluk istrinya gemas.


"Kamu istriku dan semua orang harus tahu hal itu." Ilham mengeratkan pelukannya pada Tia


"Tapi A, jadi aku nggak bisa kerja di pabrik lagi?" tanya Tia dengan suara lirih.


Ilham mengangguk pelan.


"Kamu menantu Papah, kenapa juga harus kerja jadi officegirl?"


Tia tidak begitu suka dengan kabar yang baru ia terima, rasanya dia akan kehilangan jati dirinya. Tia merasa suami dan keluarganya tidak menerimanya apa adanya.


"Ta-tapi aku bosen kalau hanya di rumah," jawab Tia dengan nada sedih.


"Kayaknya kamu harus cepet hamil dan punya anak biar nggak kesepian," seloroh Ilham sambil terkekeh.


"Aa mah," rajuk Tia.


Ilham hanya terkekeh geli.


"Ya udah sih, kamu bisa bantuin urusin restoran, sementara aa bantu Papah di pabrik," tutur Ilham setelah mengurai pelukannya.


Tia akhirnya hanya mengangguk lemah lalu menyimpan kembali tasnya.


"Ayo kita turun! Mamah pasti udah nungguin." Ilham menggandeng tangan Tia untuk mengikuti langkahnya.


Sesampainya mereka di dapur, Tia merasa tidak senang karena ternyata Anna sudah ada di sana.

__ADS_1


Kok teh Anna ada disini lagi sepagi ini? batin Tia.


"Ngapain lo? nginep lagi?" tanya Ilham setelah melihat keberadaan Anna yang sedang duduk manis di meja makan.


"Iya, kenapa?" tanya Anna malas.


"Ck, kayak nggak punya rumah aja lo," cibir Ilham.


"Kenapa sih? tante Karla aja nggak keberatan." Anna memeluk bu Karla dengan gemas, bu Karla tersenyum mendapat perlakuan Anna.


Tia hanya diam memperhatikan kedekatan mertuanya dengan Anna. Ilham melirik sekilas ke arah Tia dan dia mengerti apa yang dirasakan istrinya.


"Kenapa Ham? Tia keberatan gue nginep disini sering-sering?" tanya Anna setelah mengikuti arah pandang Ilham.


"Nggak-" ucapan Ilham menggantung.


"Ini rumah Mamah sama Papah, jadi Tia tidak punya hak untuk keberatan teh," ucap Tia tenang sambil tersenyum tipis memotong ucapan Ilham.


"Tuh kan, Tia aja nggak keberatan," sahut Anna enteng. Anna dengan senyum mengembang kembali duduk lalu mulai memakan makanannya.


Ilham dan Tia makan dalam diam. Bu Karla pun ikut makan dalam diam sambil sesekali melirik ke arah menantunya. Dia paham menantunya merasa tidak nyaman karena keberadaan Anna.


Anna yang tidak paham situasi terus saja berceloteh riang sambil mengunyah makanannya.


"Ham, nanti anterin gue ke kosan," pinta Anna yang sebenarnya adalah perintah.


"Kenapa? nggak bisa pulang sendiri emang lo?" Ilham mengangkat wajahnya malas.


"Ayo dong!" rengek Anna.


Ilham menoleh ke arah Tia yang hanya menunduk seolah-olah tidak mendengar perkataan Anna.


"Kenapa? emang Tia nggak bolehin ya?" tanya Anna penasaran. Mendengar namanya disebutkan sontak membuat Tia mendongakkan wajahnya menatap Anna.


Tia hanya tersenyum tipis.


"Anterin aja A, teh Anna nya kasihan," ucap Tia datar membohongi dirinya sendiri.


"Tapi-" ucapan Ilham menggantung.


"Udah sih, Tia aja nggak apa-apa," sahut Anna enteng memotong ucapan Ilham.


Akhirnya Ilham mengantarkan Anna pulang ke kosannya. Tia hanya berdiam diri di kamar setelah kepergian Ilham dan Anna.


"Tokk...tok..tok.." Suara ketukan di pintu kamar terdengar membuat Tia bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu.


"Eh Mah, masuk!" ajak Tia setelah membuka pintu dan tampak bu Karla sedang tersenyum di balik pintu.


Bu Karla tersenyum tipis lalu masuk ke kamar Ilham, kemudian duduk di pinggir ranjang.


"Sini duduk Tia!" titah bu Karla saat melihat Tia hanya berdiri tidak ikut duduk bersamanya.


Tia menurut lalu duduk disamping bu Karla.


"Tia, apa kamu tidak nyaman dengan kedekatan Ilham dan Anna?" tanya bu Karla lembut.

__ADS_1


Tia hanya menunduk dan merapatkan bibirnya enggan untuk menjawab pertanyaan mertuanya.


"Ilham dan Anna sudah berasama dari usia mereka lima tahun, kebersamaan mereka sudah terjalin dua puluh tahun. Jadi akan sulit kalau tiba-tiba harus jaga jarak." Bu Karla menjelaskan dengan lembut.


"Tapi Ilham mencintaimu Nak, mamah tahu anak mamah seperti apa." Lanjutnya lagi.


Tia masih diam tidak mau menanggapi.


"Kamu harus belajar menerima kedekatan mereka, harus percaya kalau Ilham hanya mencintai kamu Tia, istrinya." Bu Karla mencoba meyakinkan tapi dia tidak sadar kalau kata-katanya baru saja membuat hati Tia semakin ragu pada perasaan Ilham padanya.


Kening Tia berkerut dia merasa tidak setuju sepenuhnya dengan apa yang diucapkan mertuanya.


Coba tanya ke setiap istri diluar sana, apa akan nyaman melihat suaminya bergaul begitu dekat dengan wanita lain yang tidak punya ikatan darah dengannya.


Sedetik kemudian Tia tersenyum tipis ke arah mertuanya lalu mengangguk pelan. Dia berusaha menenangkan mertuanya supaya tidak khawatir tanpa kata-kata. Tia mencoba membohongi diri sendiri, lalu berusaha meyakini semua akan baik-baik saja.


"Mamah harap pernikahan kalian selalu harmonis dan bahagia," ucap bu Karla tulus. Kini dia merasa tenang dengan jawaban yang diberikan Tia.


"Amin," jawab Tia singkat.


Bu Karla bangkit berdiri lalu memberikan usapan lembut di pucuk kepala Tia sebelum dia berlalu pergi keluar dari kamar Ilham.


Setelah bu Karla meninggalkannya sendiri. Tia hanyut dalam lamunannya sendiri, dia semakin merasa tidak pantas berada di samping Ilham. Setelah mengetahui bahwa hubungan Ilham dan Anna terjalin hampir dua puluh tahun, Tia merasa...dia adalah orang ketiga di hubungan keduanya. Dan harusnya yang mengalah adalah orang ketiga, bukan? begitu fikirnya.


Ayah, Ibu, apa yang harus Tia lakukan? batin Tia.


Tia hanyut dalam lamunannya sendiri, sampai tidak menyadari kalau Ilham sudah duduk disampingnya sambil menopang dagu dengan salah satu tangannya. Ilham menatap lekat wajah Istrinya dengan senyum mengembang.


"Lamunin apaan sih? serius amat kayaknya," sahut Ilham sambil terkekeh.


Tia terjengit kaget tersadar kembali dari lamunanya. Dia menoleh cepat ke arah Ilham.


"A, Tia mau pulang ke rumah Ayah, Ibu," ucap Tia tiba-tiba.


"Eh, kok dadakan Yang?" Ilham tersentak kaget dengan keinginan istrinya.


"Mumpung dapat libur kan," ucap Tia dengan tatapan memohon.


"Huhm.. ya sudah!" jawab Ilham pasrah.


Nggak peka banget sih, dikasih libur itu biar bisa berduaan, malah mau pulang kampung, dumel Ilham dalam hati.


************


Terima kasih untuk kakak-kakak readers yang masih mengikuti cerita recehku ini.


Sebenarnya aku yang amatiran ini bingung cerita ini akan dilanjut atau tidak. Soalnya jumlah like dan komennya sepi banget kayak hati aku sepi tanpa penghuni, eciyeee.. uhuk!


Bingung viewersnya nambah tiap hari tp like dan komennya nggak ada, syedih aku tuh.. hiks hiks


Tapi yaa sutralah, let it flow aja. Mungkin karyaku ini masih butiran debu yang tidak pernah dilihat dan dianggap, aihhh baper!


Moon maap nih jadi curhat panjang lebar.


Makasih,

__ADS_1


Salam hangat,


_AB_


__ADS_2