Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
38. Harus Jelas


__ADS_3

Sesampainya di pabrik setelah diantar oleh Ilham, Tia bekerja seperti biasa setelah hampir dua minggu dia tidak bekerja dengan alasan sakit.


Semua orang yang ada di pabrik tidak mengetahui statusnya yang sekarang. Tia bersyukur akan hal itu, dengan begitu tidak akan ada yang tahu bahwa Ilham adalah suaminya sekarang. Setidaknya biarlah orang hanya mengenal Tia sebagai officegirl di pabrik ini saja.


Tia bekerja dengan tidak semangat karena masih memikirkan masa depan pernikahannya nanti akan seperti apa.


Dengan kejadian tadi pagi di rumah mertuanya, dia jadi semakin ragu untuk memberikan hatinya untuk Ilham, bukan karena Ilham tidak baik, hanya Tia sendiri tidak yakin tentang perasaan Ilham padanya.


Melihat kedekatan Ilham dan Anna tadi pagi, Tia harus memastikan perasaan Ilham pada Anna yang sebenarnya bagaimana.


Usia Tia mungkin masih belia namun dia bukan tidak bisa dewasa menyikapi kondisinya sekarang. Tia harus bijak dalam menentukan langkahnya ke depan, jangan sampai dia berkorban untuk hal yang tidak semestinya dan jangan sampai pula dia mengorbankan orang lain demi kebahagiaannya.


Tia harus memastikan semuanya jelas, baru dia akan mulai memikirkan langkah apa yang harus dia ambil untuk keberlangsungan pernikahannya.


Salahnya memang, dia terlalu mudah menyetujui pernikahan yang terkesan tergesa dan membingungkan buatnya. Tapi bukankah belum terlambat untuk memperjelas semuanya demi masa depan yang lebih jelas.


"Tia udah dateng? kamu sakit apa kok sampe nggak masuk dua minggu?" pertanyaan yang dilayangkan Erna membawanya kembali pada kesadaran dari lamunan panjangnya.


"Ehm.. apa Mbak?" Tia tersentak dan hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


"Sakit apa kamu?" tanya Erna lagi.


"Ehm.. sakit biasa sih Mbak, cuma kayaknya gejala tifus soalnya badannya lemes gitu."


"Oh, tapi sekarang sudah sehat kan? kok keliatannya masih lemes sih?" ucap Erna lagi.


"Ehm.. enggak kok Mbak, alhamdulillah Tia udah sehat, udah kuat kerja juga," ucap Tia dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Ya sudah, lanjutin lagi kerjanya," ucap Erna lagi sambil bersiap diri di belakang meja resepsionis, Tia hanya mengangguk samar.


"Hai.. hai.. gadis cantik jelita bernama Bunga baru datang nih," sahut Bunga riang dengan nada suara cempreng seperti biasa.


"Hai Mbak Bunga yang cantik jelita," sapa Tia sambil mengembangkan senyumnya.


"Ya ampun, Tia.. kangen banget," ucap Bunga dengan nada kaget sambil memeluk Tia gemas.


"Heh, teletubies kalau mau kangen-kangenan nanti aja, lima menit lagi breafing pagi," ucap Erna sambil merelai pelukan Bunga dan Tia.


"Sirik aja yang nggak dapet peluk!" Bunga mendengus kesal ke arah Erna.


"Nanti cerita ya kenapa kemarin kamu bolos kerja dua minggu," tutur Bunga pada Tia yang di respon anggukan kepala oleh Tia.


**************


Hari menjelang siang dan jam kerja Tia pun sebentar lagi berakhir. Seharian itu Tia tidak bertemu dengan Ilham, lebih tepatnya Tia menghindari pertemuan dengan Ilham.


Saat akan pulang kerja Tia bingung akan pulang kemana, kalau dia pulang ke rumah mertuanya dia masih merasa malu dan canggung. Akhirnya setelah berfikir berulang kali Tia memutuskan pulang ke kosannya saja, toh barang-barangnya masih banyak di sana.


Tia mengirimkan pesan pada Ilham, bahwa dia akan pulang saja ke kosan dan Ilham pun mengijinkan, dengan catatan setelah pulang kerja nanti Ilham akan menjemput Tia untuk pulang ke rumah orang tuanya lagi. Tia menyetujuinya, setidaknya dia memiliki waktu dua jam untuk sendiri dan berfikir ulang tentang pernikahannya.


"Yang, Aa udah di depan," ucap Ilham lewat telepon pada Tia setelah dia memarkirkan motornya di parkiran kosan Tia.


Tia bergegas keluar kamar dan menguncinya, lalu turun untuk menemui suaminya yang sudah berada di parkiran kosan.


Tia hanya membawa beberapa barang keperluannya saja yang dia masukkan kedalam tas travel yang tidak terlalu besar. Dia sengaja tidak membawa banyak barang, karena masih merasa kurang nyaman tinggal di rumah mertuanya. Dengan begitu dia masih punya alasan untuk sesekali pulang ke kosan.

__ADS_1


Sesampainya dia di tempat parkiran, Tia menghentikan langkahnya karena melihat sesuatu yang membuat hatinya kembali merasa tidak menentu.


Di depannya sekarang Ilham terlihat sedang asyik mengobrol bersama Anna, Ilham tampak tertawa lepas dan sesekali Ilham mengacak rambut Anna gemas. Tia hanya mematung melihat mereka berdua yang seoalah tidak menyadari keberadaannya.


Lagi-lagi A Ilham tidak menyadari kehadiranku saat bersama teh Anna, batin Tia sedih


"Eh, Yang." Akhirnya setelah sepuluh menit Tia menunggu, Ilham baru menyadari keberadaan Tia yang hanya diam mematung memperhatikannya dengan Anna.


"Ya udah, kerena Tia sudah dateng gue pergi ya,Ham," ucap Anna beranjak pergi sambil tersenyum ke arah Ilham dan Tia.


"Oke," jawab Ilham singkat, senyum masih belum luntur mengulas di wajahnya. Tia melihat ada kebahagiaan di sorot mata Ilham saat mengobrol dengan Anna.


Tia hanya mengangguk samar dan tersenyum tipis ke arah Anna.


"Ya udah yuk, Yang berangkat!" seru Ilham sambil menarik lengan Tia untuk naik ke atas motornya. Tia mematung tidak menggeser posisinya sedikit pun hingga membuat dahi Ilham berkerut.


"Kenapa? tanya Ilham heran.


"A, kita harus bicara," ucap Tia dengan nada serius.


********


Hallo...Hallo maaf dua hari kemarin tidak update, biasa author nya masih amatiran.


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan rate bintang lima setelah baca cerita recehku ini.


Makasih..

__ADS_1


Salam hangat,


_AB_


__ADS_2