
Setelah Tia mengantarkan makan siang Pak Nugraha Tia bergegas kembali ke pantry. Sesampainya dia di pantry dia langsung membuka loker dan mengambil cermin kecil didalam tasnya, Tia melihat dirinya dipantulan cermin dia memperhatikan seragam dan nametage yang dia kenakan, dia yakin tidak ada kesalahan dengan seragam yang dia kenakan sudah sesuai dengan instruksi yang diberikan Bunga,
"Hmm.. apa yang salah ya?" gumam Tia pelan, padahal saat sampai di pantry sekembalinya dia dari restoran tadi dia bergegas menggunakan seragam yang di berikan Bunga agar atasannya tidak mempertanyakan identitasnya sebagai karyawan baru di pabrik ini.
"Ah jam makan siang hanya tinggal 15 menit lagi aku harus bergegas," gumam Tia sambil mengambil mukena dan bergegas pergi ke mesjid untuk menunaikan sholat dzuhur.
Setelah menunaikan sholat dzuhur Tia kembali ke pantry dan bermaksud memakan makan siang nya yang tidak sempat dia makan tadi, "nggak papa gitu ya, aku makan? lapar banget rasanya, hmm..," gumam Tia sambil memegang perutnya
"Nggak papa kayaknya ya, kan kerjaan aku sudah beres," gumam Tia lagi sambil membuka kotak makan siangnya, Tia makan dalam diam sambil duduk bersimpuh dilantai dan bersandar pada lokernya
"Alhamdulillah..," gumam Tia setelah habis menegak air putih setelah menghabiskan makan siangnya.
"Pak Nugraha tadi kenapa ya liatin aku kayak gitu, apa jangan-jangan..," gumam Tia menerka-nerka dan sontak menutup mulutnya yang mengaga karna kaget dengan pikiran yang terlintas dipikirannya.
Nggak mungkinkan aku anak dia yang hilang, atau dia jatuh cinta sama aku gitu.. ah pikiran ini kenapa sich mikir yang aneh aneh aja.., batin Tia
"Nggak mungkin ah..," gumam Tia sambil menggelengkan kepalanya pelan menepis pikiran-pikiran aneh yang silih berganti dalam pikirannya.
"Hm... ah mungkin dia kaget aja ya baru liat aku disini, udah itu yang paling bener," gumam Tia lagi.
Sisa jam kerja nya Tia habiskan dengan membantu beberapa karyawan yang sesekali minta dibuatkan minum dan meminta untuk mem-fotocopy berkas. Tak terasa jam pulangnya tiba, Tia bersiap untuk pulang dan mencari tempat kos-kosan yang akan Tia tinggali kedepannya.
Setelah sedikit bertanya kepada beberapa karyawan tentang tempat kos-kosan yang lumayan murah tapi nyaman, pilihan Tia labuhkan pada sebuah kos-kosan dekat dengan restoran yang katanya milik anaknya pak Nugraha, meski butuh naik akutan umum lagi untuk pergi ke pabrik tapi setidaknya jarak yang ditempuh lebih dekat dari pada jarak yang harus dia tempuh kalau berangkat dari rumah.
"Jadi kapan mau ditempatinya Neng?" tanya ibu separuh baya yang memiliki perawakan badan sedikit tambun dan tidak begitu tinggi yang ada di depan Tia
"Insya alloh minggu depan Bu," jawab Tia pada ibu separuh baya didepannya yang merupakan pemilik dari kos-kosan yang akan Tia tempati nanti.
__ADS_1
"Panggil aja bude Haryo, semua anak kos disini panggil ibu gitu, soalnya ibu bukan orang sunda. hehe," ucap ibu pemilik kos-kosan dengan senyum ramahnya. Tia hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi perkataan ibu itu
"Ya sudah ini kuncinya, oh iya disini ada aturan jam malam ya dan jangan bawa teman laki-laki kedalam kamar, boleh terima tamu laki-laki tapi hanya di ruang tv di bawah," tutur bude Haryo lembut menjelaskan sedikit peraturan di kos-kosannya.
"Baik Bude terima kasih," sahut Tia sambil mengambil kunci yang diberikan bude Haryo tadi.
Kos-kosan ini memang kos-kosan khusus putri, bangunan dua lantai dengan kamar yang berjejer dilantai bawah dan atas, dilantai bawah terdapat sebuah ruangan tv dan sebuah dapur terbuka yang terlihat menyatu dengan ruangan tv tersebut, dilantai bawah juga ada area tempat menjemur pakaian dan tempat mencuci pakaian, sedangkan kamar mandi dan toilet berada didalam kamar masing-masing, luas kamarnya juga tidak terlalu luas hanya empat meter kali enam meter dengan kamar mandi yang luasnya hanya dua meter kali dua meter.
Setelah mendapatkan kos-kosan Tia bergegas pulang kerumah sesuai janjinya pada orang tuanya.
**************
Tiba dirumah...
"Assalamu'alaikum," ucap Tia sambil membuka pintu depan rumahnya
"Cape?" tanya ibu Tia lagi-lagi hanya memgangguk.
"Gimana udah dapet kos-kosannya?" tanya ibu lagi dan Tia hanya mengangguk lagi, akhirnya ibu memberengut kesal mendapat jawaban Tia yang hanya mengangguk.
"Kalau orang tua tanya itu dijawab Tia, jangan cuma ngangguk-ngangguk aja," ucap ibu kesal.
"Iya Bu maaf, Tia cape banget soalnya, Tia ke kamar ya Bu," jawab Tia malas sambil berjalan gontai masuk kedalam kamarnya meninggalkan ibu yang masih kesal dengan Tia.
Sesampainya dikamar, Tia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya.
"Cari uang itu cape banget ternyata," gumam Tia lirih sambil menatap lekat langit-langit kamarnya.
__ADS_1
*********
Disebuah ruangan didalam restoran Ilham masih setia dengan lamunannya sampai ada ketukan dipintu yang membuatnya tersadar dari lamunannya.
tokkk...tokkkk...tokkk
Orang yang mengetuk pintu itu membuka pintu dan memasukkan kepalanya kedalam ruangan tanpa bermaksud masuk.
"Bos sehat?" tanyanya kemudian sambil cengengesan memamerkan deretan giginya
"Apaam sih kamu parto," jawab Ilham malas menjawab pertanyaan salah satu karyawannya.
"Biasanya bos dari siang sampai malam nyanyi-nyanyi didepan dengan semangat liat pengunjung datang dan pergi, sekarang kok diem bae disini kayak anak perawan yang lagi dipingit tau nggak..hehe," celoteh Parto sambil melangkah masuk kedalam ruangan Ilham.
"Sekali lagi bilang gue anak perawan, gaji lo gue potong 50%," jawab Ilham ketus.
"Ishhh bos ancemannya gitu, eyke nggak suka," ucap Parto pura-pura merajuk berbicara layaknya laki-laki bertulang lunak.
"Apaan sih lo, gue geli tau nggak," jawab Ilham sambil melemparkan bulpoin yang ada didepannya kearah Parto
"Hap.." parto berhasil menangkap bulpoin yang Ilham lempar.
"Kenapa sih bos? lagi jatuh cinta ya?hehehe..," tanya Parto masih keukeuh menggoda bosnya
"Pergi atau gue lempar kursi nih?" sahut Ilham sambil melototkan matanya ke arah Parto.
Parto hanya terkekeh mendengar ancaman bosnya itu sambil berlalu meninggalkan ruangan bosnya itu.
__ADS_1
"Jatuh cinta buat si bos jadi nggak normal,, hehe," gumam Parto pelan sambil terkekeh dan menggelengkan pelan kepalanya.