
"A, bagaimana perasaan Aa sama teh Anna?" Pertanyaan Tia sontak membuat Ilham bungkam.
Aku harus jawab apa?
"Mmm... bisa nggak bahas itu dulu? Aa kangen sama kamu, kangen cerita banyak hal." Ilham bertutur dengan senyum yang mengembang.
Meski masih penasaran Tia hanya diam tidak mendebat suaminya lagi.
"Nanti pulang kerja, Aa jemput kamu dari kosan. Aa mau ajak kamu ke suatu tempat," ucap Ilham sambil memberikan usapan lembut penuh kasih sayang di pucuk kepala Tia.
Tia hanya mengangguk pelan.
************
Sore hari sepulang kerja Ilham menjemput Tia dari kosannya.
"Kok nggak bawa apa-apa?" tanya Ilham setelah Tia berada di depannya, mereka berada di parkiran kosan sekarang.
"Harus bawa apa emang?" Dahi Tia berkerut.
"Barang-barang kamu Sayang, nggak mungkin kan kita terus-terusan pisah rumah gini?" Ilham menjelaskan dengan nada lembut.
Tia tertegun mendengar ucapan Ilham, jujur dia masih belum yakin untuk menjalani pernikahan ini dengan sepenuh hati.
"Nanti lagi aja, Aa mau bawa Tia kemana?" ucap Tia berusaha mengelak dari pembahasan tinggal bersama Ilham.
"Ya udah, yuk jalan!" sahut Ilham sambil menuntun Tia untuk naik ke atas motornya.
Ilham menarik lengan Tia supaya memeluknya, Tia hanya menurutinya tanpa bantahan membuat Ilham mengembangkan senyumnya.
Setelah menempuh dua puluh menit perjalanan mereka sampai disebuah komplek perumahan.
Ilham memarkirkan motornya di carpot salah satu rumah. Tia turun dari motor Ilham dengan hati yang penasaran, meski begitu dia enggan bertanya pada Ilham rumah siapa yang akan mereka kunjungi ini.
"Yuk masuk!" ajak Ilham.
Ilham memimpin langkah sambil menggandeng tangan Tia, Tia hanya diam dan mengekori langkah suaminya.
Ilham membuka kunci pintu kemudian mendorong daun pintu. Setelah pintu terbuka tampak sebuah rumah minimalis yang tidak terlalu besar, hanya ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur yang menyatu dengan ruang tengah tanpa sekat dan satu ruang tamu yang tidak terlalu besar.
Tia menatap Ilham dengan dahi berkerut. Ilham hanya tersenyum melihat ekspresi Tia.
"Ini rumah kita Sayang, rumah dari hasil tabungan Aa selama buka restoran," ucap Ilham sedikit berbangga diri.
Tia masih diam dengan wajah penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Minggu depan kita pindah ke rumah ini, untuk sementara belum terlalu banyak barang. Nanti setelah pindahan kita belanja perabot rumah ya," Ilham bertutur semakin lembut dengan tatapan yang sendu.
Tia hanya mengangguk pelan sebagai respon, entahlah kali ini dia enggan sekali berdebat.
Ilham tiba-tiba memeluk Tia dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang Tia dan menyandarkan dagunya di pundak Tia. Tia hanya mematung mendapat perlakuan itu.
"Kenapa diem aja sih Sayang? Aa mau kita bangun rumah tangga yang harmonis dengan banyak anak, pasti mereka lucu-lucu." Ilham berceloteh dengan senyum yang mengembang.
"Tapi Sayang, gimana mau punya anak kalau kita tidak melakukannya?" seloroh Ilham dengan terkekeh.
Tia hanya diam tidak terpengaruh obrolan Ilham. Menyadari istrinya hanya diam saja, Ilham kemudian mengurai pelukannya kemudian membalikan badan Tia supaya berhadapan dengannya. Ilham mencengkram lembut pundak Tia.
"Lihat Aa Sayang! lihat mata Aa!" seru Ilham dengan tegas, dengan ragu Tia menatap lekat manik hitam milik suaminya itu.
"Aa cinta sama kamu Tia. Kamu istri Aa, sampai kapanpun akan seperti itu."
Tia tidak melihat kebohongan di sorot mata suaminya itu. Akhirnya Tia hanya mengangguk dan menghambur ke pelukan Ilham.
"Kamu percaya sama Aa?" tanya Ilham sambil mengeratkan pelukannya. Tia mengangguk dalam pelukan Ilham.
"Kok diem aja Yang?" tanya Ilham karena Tia hanya mengangguk saja dari tadi tanpa memberi tanggapan.
"Nggak apa-apa kok A, mungkin Tia hanya lelah," jawab Tia.
"Kamu pasti capek udah kerja dari subuh ya?" tanya Ilham dengan tatapan iba.
"Ya udah yuk kita pulang!" ajak Ilham.
"Pulang kemana?" tanya Tia.
"Sementara ke rumah mamah dulu ya, mau?" tanya Ilham lembut.
"Iya mau." Tia melangkah keluar dari rumah yang di ikuti Ilham.
***************
Sesampainya di kediaman Nugraha Tia dan Ilham di sambut hangat oleh bu Karla dan pak Nugraha. Bu Karla dan pak Nugraha berharap pernikahan Ilham dan Tia selalu bahagia.
"Yang..," panggil Ilham.
"Hum.. apa A?" jawab Tia malas, dia sangat lelah hari ini dan dia sudah ingin tidur dari tadi. Tapi baru saja mau sampai ke alam mimpi Ilham memanggilnya.
"Yang..." Kali ini dengan nada manja.
"Apa A?" tanya Tia yang sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Itu apa, mmm... Aa mau punya dede bayi," ucap Ilham malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tia seketika membuka mata lalu berbalik menghadap suaminya.
"Maksud Aa? Aa hamilin anak orang?" tanya Tia dengan nada terkejut.
Ilham juga terkejut dengan respon yang diberikan Tia.
"Eh.. bukan gitu, Aa ma-mau punya anak dari kamu," jawab Ilham malu-malu.
"Oh.." Tia hanya ber'oh lalu kembali memejamkan matanya, masih belum mengerti arah pembicaraan Ilham.
"Yang.. ih kok tidur lagi?" rajuk Ilham melihat Tia memejamkan matanya kembali.
"Ya terus Aa maunya Tia gimana? Tia ngantuk banget A," jawab Tia dengan nada manja.
"Eh tumben kamu manja Yang, Aa suka," ucap Ilham riang. Tia mengangkat sebelah halisnya heran melihat ekspresi suaminya yang... aneh.
"Maksud Aa, ituloh.. kapan Aa bisa dapat hak Aa sebagai suami?" ucap Ilham dengan malu-malu.
"Hak Aa?" tanya Tia masih tidak mengerti.
Ilham mengangguk lalu membisikan sesuatu pada Tia. Mata Tia membuka sempurna mendengar kalimat yang Ilham bisikan.
Ya Tuhan aku belum siap, batin Tia.
"Jadi kapan?" tanya Ilham mendesak.
"mmm... nanti ya A, Tia hari ini capek." Tia beralasan.
"Huhm... ya sudah deh," jawab Ilham kecewa.
"Tapi boleh bobo sambil peluk?" tanya Ilham lagi. Tia hanya mengangguk.
Ilham bersorak dalam hati.
Sabar! yang penting malam ini bisa bobo sambil pelukan, kemajuan kan? sorak Ilham dalam hati.
Ilham beringsut mendekat pada Tia lalu merengkuh tubuh istrinya itu, dia benamkan wajah Tia di dadanya.
Tuhan, kayak gini aja jantung aku udah mau copot apalagi nanti kalau lebih dari ini, batin Tia.
***********
Makasih yang masih mengikuti cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan rate bintang lima ya..
__ADS_1
Salam hangat,
_AB_