Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
21. Apa boleh?


__ADS_3

*S**ebulan sudah berlalu*


Anna dan Tia sudah semakin akrab karena mereka lebih sering bertemu dan mengobrol, entah itu mengobrol saat menonton tv bersama, kebetulan memasak mie instan bersama saat akhir bulan dan belum gajian, dan terkadang saling curhat dan menginap di kamar masing-masing. Tia merasa mempunyai kakak dan Anna mempunyai seorang adik yang tidak pernah mereka rasakan selama ini.


"Jadi pria yang waktu itu mantan teteh?" pertanyaan itu lolos dari mulut Tia disela-sela cerita Anna tentang dirinya. Anna hanya mengangguk pelan.


"Ck.. dasar pria nggak tau diuntung, nggak bersyukur tuh pria, masa teh Anna yang sebaik ini masih diselingkuhi." Tia bersungut kesal mulai menyumpah serapahi Marko karena terlalu hanyut dalam cerita Anna. Anna tertawa melihat ekspresi Tia yang menggemaskan menurutnya.


"Terus pria yang jenguk teteh itu siapa?"Tia bertanya lagi mulai penasaran dengan kelanjutan ceria Anna.


"Dia sahabat terbaik ku dari kecil," jawab Anna datar


"Kenapa nggak jadian aja sih teh kalau dilihat dia kayak yang perhatian gitu sama teteh," seloroh Tia sangat bersemangat.


"Cih.. tau apa sih gadis kecil hm?" Anna berdecih merasa lucu dengan tingkah Tia.


"Sudah ah sana balik ke kamar kamu!" ucap Anna sambil mendorong pelan badan Tia yang sedang berbaring disampingnya diatas ranjangnya.


"Enggak ah, mau nginep aja disini enak ada kasurnya.," ucap Tia cuek dan malah mulai memejamkan matanya.


"Cih.. enggak ada nginep-nginepan kamu tuh kalau tidur nggak mau diem dan makan tempat, aku jadi susah tidur dan akhirnya kesiangan bangun, sudah ah sana!!" tutur Anna panjang lebar sambil bersungut kesal dan terus mendorong tubuh Tia pelan yang akhirnya membuat Tia menyerah dan bangkit.


"Teteh kok tega sih ngusir aku." Tia pura-pura merajuk.


"Sana nggak!" ucap Anna lagi sambil mengangkat bantal dan bersiap melemparkannya ke arah Tia.


"Iya deh iya.. selamat malam tuan putri," sahut Tia sedikit membungkukan badannya lalu menutup pintu kamar Anna dari luar.


"Ya ampun anak itu lucu sekali, aku jadi ngerasa punya adik," gumam Anna pelan sambil terkekeh lalu membenarkan posisi tidurnya dan memejamkan matanya.


Sebulan ini Ilham tidak menghubungi Anna tidak juga berkunjung ke kosan nya, dia juga tidak ikut mengurusi restorannya karena ingin fokus untuk menyelesaikan skripsi jurusan bisnisnya.


Dan setelah sebulan dia berusaha keras akhirnya usahanya membuahkan hasil, minggu depan dia akan sidang skripsi dan itu berarti sebentar lagi dia akan menyelesaikan satu dari beberapa tanggung jawabnya.


"Hmmm.. Alhamdulillah satu persatu harus segera selesai," gumam Ilham pelan sambil menutup laptopnya setelah ia mengirimkan email draft terakhir dari skripsinya pada dosen pembimbingnya.


Sejenak Ilham melirik jam dinding dikamarnya waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, dia bangkit dari duduknya dan bergegas menunaikan sholat ashar, setelah menyelesaikan ibadahnya Ilham melipat sejadahnya dan berniat berkunjung ke kosan Anna, rasanya dia merindukkan sahabatnya itu dan ini waktu yang tepat untuk berkunjung karena pasti Anna sudah pulang dari bekerja. Dan dia pun sedikit berharap bisa bertemu gadis yang sudah menggetarkan hatinya disana.

__ADS_1


Sesampainya Ilham dikosannya Anna sejenak ia melakukan panggilan pada Anna memastikan Anna berada dikosannya.


"Hallo.. An? ada dikosan?"


"Aku masih dijalan Ham, bentar lagi sampe, kenapa?"


"Aku ada didepan kosan kamu, aku tunggu di dalam saja ya."


Klik panggilanpun diakhiri Ilham segera turun dari motornya setelah memarkirkan motornya ditempat khusus parkiran kosan, ia membuka helmnya dan meletakkannya disalah satu kaca spion motornya.


Saat Ilham masuk ke ruang tv kosan Anna, ia melihat ada seorang gadis yang sedang duduk disofa yang terlihat sedang asyik menonton televisi.


"Ehm.." Ilham berdehem dan sontak mampu mengalihkan perhatian gadis yang telah fokus pada tontonannya itu beralih menatapnya.


"Boleh ikut duduk disini?" tanya Ilham kemudian saat dia sudah berdiri disamping gadis itu.


"Boleh kok A, silahkan" ucap gadis itu sambil sedikit mengeser tubuhnya ke tepi sofa.


"Makasih," ucap Ilham tersenyum canggung sambil duduk di tepi sofa yang berlawanan dengan Tia ya gadis itu adalah Tia yang baru pulang kerja dan belum sempat berganti pakaian kerjanya.


"Hmm... lagi nunggu teh Anna kan?" tanya Tia memberanikan diri memecah keheningan diantara keduanya.


"Iya" jawab Ilham singkat.


"Kenapa sih suka nonton sinetron kayak gini?" tanya Ilham kemudian karena melihat tontonan Tia sebuah sintron yang hanya menampilkan penderitaan seorang istri dan pengkhianatan suami.


Tia hanya menoleh sebentar ke arah Ilham, "Lagi buming ini A, soundtrack nya aja selalu terdengar dimana-mana," seloroh Tia masih fokus dengan tontonannya.


Ilham hanya manggut-manggut bingung mau mulai obrolan apa lagi karena jujur dia gugup duduk satu sofa dengan gadis yang mampu menggetarkan hatinya itu.


"Assalamu'alaikum..," ucap Anna menghampiri keduanya.


"Kok pada diem?" heran melihat Ilham dan Tia hanya diam tidak menjawab salam Anna.


"Eh.. Teh wa'alaikumsalam," ucap Tia kaget karena fokusnya teralihkan dengan pertanyaannya Anna.


"Wa'alaikumsalam," ucap Ilham canggung

__ADS_1


"Nonton apa sih Ya? serius amat," tanya Anna penasaran dengan ekspresi serius Tia yang masih enggan mengalihkan fokusnya saat dia duduk diantara Ilham dan Tia.


"Ini loh Teh sinetron, ini suaminya nggak tau diri banget tau teh, masa udah dapet istri baik masih aja selingkuh, kan kesel jadinya," ucap Tia berapi-api menjelaskan alur cerita dalam sinetron yang dia tonton. Anna menoleh ke arah Ilham yang hanya diam terpaku.


"Lo ngapain diem aja? katanya naksir sama Tia," bisik Anna pada Ilham


"Nggak tau harus mulai dari mana ngajak ngobrolnya orang dari tadi dia serius nonton," balas Ilham masih berbisik.


"Ehkhem.. Tia kenalin ini...," ucap Anna menggantung karena terpotong oleh ucapan Tia.


"A Ilham kan? udah tau kali Teh," ucap Tia datar memotong perkataan Anna dan masih fokus dengan tontonannya.


"Liat kesini dulu kenapa sih!" ucap Anna mulai


kesal dengan sikap Tia yang masih cuek.


"Hmm.. ya sok teteh mau bilang apa?" Tia mengalah dan membenarkan posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Anna. Anna dengan sigap mematikan tv dan juga menghadap Tia.


"Aku mau ngenalin kamu ke sahabat terbaik aku, sini," ucap Anna serius sambil menarik ujung baju yang dikenakan Ilham supaya sedikit mendekat dan melihat ke arah Tia.


"Oh.. Mutia, panggil aja Tia A," ucap Tia tersenyum saat bersitatap dengan Ilham.


"Ilham.." ucap Ilham sedikit canggung dan gugup bisa bersitatap dengan Tia.


Ini kenapa sih mereka berdua kaku banget, masa harus aku juga yang repot bantuin kalian biar deket. lo hutang banyak sama gue Ilham. batin Anna


"Sekarang ngobrol berdua deh tuh, aku mau ganti baju dulu ke kamar," ucap Anna sambil bangkit dari duduknya.


"Loh.. kan A Ilham nunggu teteh kok malah ditinggal?" tanya Tia heran. Anna tidak menghiraukan ucapan Tia lalu melangkah meninggalkan mereka berdua.


makasih An, batin Ilham senang


"Hmmm.. Tia, a-apa bo-boleh aku kenal kamu lebih jauh?" tutur Ilham sedikit terbata, meski gugup dia tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi untuk bisa lebih dekat dengan gadis yang telah menggetarkan hatinya ini.


"Hah..?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Tia, dia heran kenapa Ilham menanyakan hal itu kepadanya.


Nah loh Ham, mau ngomong apa lagi coba, batin Ilham frustasi karena suasana sudah semakin canggung diantara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2