
Meeting berjalan dengan lancar hingga selesai dan akan diakhiri dengan acara makan siang bersama sebagai penutupan meeting kali ini. Karena memang sudah waktunya makan siang, Fahri yang hendak berpamitan terpaksa menunggu dulu Chandra yang sedang menerima panggilan telepon. Tidak mungkin dirinya pulang tanpa pamit pada kliennya, sungguh tidak sopan.
"Permisi sebentar" Bobi berdiri dan menjauh dari meja yang kini hanya menyisakan Fahri dan Nadira yang sedang merapikan berkas-berkas penting, dan memasukkannya kedalam map. Ia hendak melipir sekalian ke toilet, karena Rani sang istri menghubunginya.
Fahri yang duduk berhadapan dengan Nadira, fokus pada ponsel dengan kedua tangannya yang sibuk mengetikkan sesuatu. Hingga ia terkejut saat Nadira memanggil kemudian tersenyum menyaksikan keterkejutannya.
"Sorry, kenapa? Fahri mendongak menatap Nadira yang masih tersenyum kearahnya sambil memegang map.
"Maaf jadi ngagetin ya, mau makan apa biar sekalian pesan sekarang sambil nungguin Pak Chandra." Nadira menatap Fahri yang sedari tadi bolak balik mengintip ponselnya, menunggu pesan dari Nisa yang mematikan sambungan teleponnya secara sepihak tadi.
"Aku mau makan dikantor. Istri sudah bawain makan barusan." Jujur Fahri yang membuat Nadira langsung mengangguk tanpa banyak bertanya lagi.
.
.
Tanpa keduanya sadari, dibalik kaca tebal yang menjadi sekat kafe. Ada sepasang mata, dari sosok yang berdiri mematung menatapnya dengan tatapan penuh luka dan kekecewaan. Bagaimana tidak, sepengetahuannya Fahri mengaku sedang meeting dengan beberapa orang. Namun kenyataannya hanya duduk berdua dengan perempuan yang tak lain mantan kekasih dari suaminya itu sambil bertatapan mesra. Nisa menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes. Ia masih tetap berdiri melihat Interaksi Fahri dengan perempuan yang ia ketahui bernama Nadira yang diakui suaminya pernah menjalin kasih selama hampir 3 tahun.
Fahri yang membelakanginya terlihat seperti sedang bergenggaman tangan dengan Nadira yang menatap Fahri sambil tersenyum. Sedangkan Fahri yang menunduk terlihat oleh Nisa dengan segala dugaannya pasti sedang memegang tangan Nadira karena terlihat dari kedua tangan yang berada diatas meja dengan wajah yang menunduk.
Nisa membalikkan badannya kemudian ia meninggalkan kafe tempat dimana suaminya sedang mengenang masa-masa indahnya dulu. Ia mencari keberadaan mama Risa yang juga tidak menyadari keberadaan dirinya.
__ADS_1
"Maaf Fah. Aku seperti melihat ada istrimu disana." Nadira yang tidak sengaja melihat Nisa, memberitahu Fahri sambil menunjuk keluar dimana tempat Nisa tadi berdiri menatapnya.
"Apa?" Fahri menatap Nadira kaget, kemudian ia berdiri mengedarkan pandangannya keluar mencari keberadaan sang istri yang sama sekali tidak terlihat olehnya.
"Aku pamit duluan, tolong bilangin pak Chandra maaf gak bisa menunggu beliau." Tanpa menunggu jawaban Nadira, Fahri langsung meninggalkan meja yang tinggal menyisakan Nadira yang melongo menatap kepergiannya.
Sebegitu khawatirnya Fahri, beruntung sekali kamu Nisa.
Nadira menghela napas panjang, membuang rasa yang sedikit ngilu menggores dihatinya, terus menyadarkan diri dan hati agar selalu berpijak pada bumi dan sadar akan kenyataan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa lagi dihati Fahri.
"Mama, lagi dimana?" Tanpa basa basi Fahri langsung menanyakan keberadaan sang mama setelah panggilannya terhubung.
"Apa sama Nisa juga?" Tanpa menjawab pertanyaan mama Risa, Fahri malah kembali memberondong sang mama dengan pertanyaan.
"Iya, tapi ini Nisa nya enggak tahu belok kemana. Ini mama juga sedang mencarinya. Memangnya kenapa, ada apa?" Mama Risa balik bertanya dengan nada khawatir.
"Enggak ada apa-apa ma, cuma nanya aja. Soalnya Fahri juga ada disini di mall yang sama dengan mama, baru selesai meeting. Nanti mama kalau sudah ketemu sama Nisa kabari Fahri ma, Assalamualaikum." Fahri mengakhiri teleponnya, kemudian ia melangkah dengan pandangan yang terus mengedar, mencari sosok Nisa diantara lalu lalang pengunjung mall yang mulai rame menjelang makan siang. Perasaannya sudah tidak enak, karena sudah dipastikan Nisa akan salah paham padanya. Karena sudah sejak beberapa hari yang lalu, istrinya itu semakin sensitif. Bahkan pernah tiba-tiba menangis hanya karena ia tidak pernah mengungkapkan cinta.
"Berbeda dengan dua orang yang sedang mengkhawatirkannya, Nisa melangkah dengan santai. Ia sudah kembali bisa menguasai emosi dihatinya. Biarlah nanti akan ia selesaikan dirumah masalahnya dengan Fahri yang sudah mulai bermain-main api dibelakangnya. Nisa menghentikan langkahnya, saat ponsel yang ia simpan di sling bag nya terasa bergetar. Astaghfirullah mama!
Dengan cepat Nisa menggeser ikon hijau dilayar ponselnya keatas. "Iya ma, assalamualaikum" Nisa langsung menjawab panggilan telepon dari mama Risa dengan perasaan yang tidak enak karena sudah meninggalkan sang mertua.
__ADS_1
"Ca, dimana kamu sayang? Mama kaget pas tahu ternyata mama jalan sendirian padahal sedari tadi kita barengan."
"Maaf ma, tadi Nisa kebelet. Enggak sempat bilang sama mama. Nisa juga lagi nyari mama ini. Mama dimana?"
Maaf ma, Nisa bohong. Tadi Nisa habis menangkap basah putra mama yang sudah bermain api. Monolog Nisa sambil kembali menyimpan ponsel yang layarnya sudah kembali menghitam kedalam Sling bag. Ia melangkah menuju lift hendak naik ke lantai atas menyusul mama Risa yang sedang berada di sebuah supermarket terkenal, yang namanya sama dengan nama sebuah daerah.
Nisa masuk kedalam lift tanpa memperhatikan sekitarnya, ia masuk sambil menganggukkan kepala pada seseorang yang hanya ia lihat bagian kaki panjangnya tanpa melihat kearah wajahnya. Ia sudah malas harus berinteraksi dengan orang. Moodnya kembali semrawut setelah teringat lagi kejadian beberapa menit tadi, dimana ia melihat suaminya sedang menikmati senyuman Nadira.
Kening Nisa mengkerut sesaat setelah memperhatikan sepatu orang yang berdiri dihadapannya. Ia merasa familiar dengan sepatu itu. Sehingga membuat pandangannya perlahan naik keatas menilik tubuh jangkung dihadapannya tanpa ada yang terlewati. Dan berakhir pada kedua tangannya yang langsung menutup mulut. Saat tatapannya bersirobok dengan tatapan tajam laki-laki yang setiap malam selalu membuatnya tak berdaya. Laki-laki yang selalu menidurinya tanpa perasaan apapun selain nafsu. Entah keberanian dari mana, Nisa membalas tatapan tajam suaminya sambil berkacak pinggang. Namun baru saja ia hendak membuka mulut, tubuhnya ditarik dan didekap oleh Fahri dengan sebuah ke cupan sekilas, yang mendarat di bibirnya bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Fahri kembali melepaskan dekapannya dengan hati-hati tanpa bicara sepatah katapun.
Dasar laki-laki pikasebeleun, sudah berbuat serong dibelakang sana masih saja pura-pura polos.
Nisa menghentakkan kakinya keluar dari lift sambil mengusap kasar bibirnya. Diikuti Fahri yang tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang sedang dilanda cemburu. Dibalik rasa khawatirnya, hati Fahri berbunga-bunga mendapati Nisa yang selalu memperlihatkan kecemburuannya setiap kali ia menceritakan aktivitasnya dikantor, dan dilapangan yang membuatnya harus bertemu Nadira.
"Ngapain ngikutin terus? Sana temani tuh mantanmu, kasihan dia sendirian." Ucap Nisa dengan ketus. Ia menghentikan langkah saat mengetahui Fahri mengikutinya.
Fahri hanya mengedikkan bahu tanpa menghentikan langkahnya sehingga membuat dadanya sudah menyentuh bahu Nisa yang berdiri menatapnya dengan tajam.
🍁🍁🍁
Maaf ngegantung, mata sudah tidak bisa diajak kompromi, belum nyiapin amunisi juga buat siang 😔🙏
__ADS_1