
Waktu memang berlalu begitu cepat, tak terasa sudah enam bulan Tia menjalani pernikahannya dengan Ilham.
Hubungan mereka sudah berkembang lebih jauh semenjak tinggal di rumah mereka sendiri. Meski kadang Ilham lebih mementingkan Anna dari pada Tia, Tia berusaha mengerti dan memahami.
Tia bukannya tidak sakit hati, dia hanya berusaha bersabar diri dan meyakini bahwa semua akan baik-baik saja. Keputusan yang pada akhirnya dia sesali.
Hari ini hari ulang tahun Ilham, Tia sudah mempersiapkan sebuah kejutan kecil untuk merayakan ulang tahun suaminya itu. Tanpa sepengetahuan Ilham, sebulan terakhir dia belajar memasak dan membuat kue pada chef yang kerja di restoran Ilham. Dan inilah hasil pembelajarannya itu, sebuah kue ulang tahun dengan hiasan buah dan coklat di atasnya.
Tia sebetulnya tidak bisa memasak, tapi dia merasa termotivasi untuk belajar karena Ilham selalu membandingkannya dengan Anna yang bisa masak banyak makanan favorit Ilham. Meski Ilham selalu melakukannya tanpa sadar, tapi Tia tahu diri kalau dirinya sedang dibandingkan.
"Sudah jam segini tapi A Ilham belum pulang," gumam Tia cemas. Berulang kali dia melirik jam bundar yang berada di salah satu dinding rumahnya.
Tia meremas kedua tangannya yang mendadak berkeringat, fikiran-fikiran negatif memenuhi kepalanya. Dia menelepon Ilham berulang kali tapi tidak diangkat, pesannya juga tidak ada satu pun yang Ilham balas.
"Ya Alloh, lindungi suamiku," gumam Tia pelan sambil meremas tangannya sendiri.
Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Ilham masih belum pulang.
Tia sudah tidak sabar, dari satu jam yang lalu dia mondar-mandir gelisah. Sesekali dia lirik kue ulang tahun yang dia buat dengan susah payah dan sebuah kado yang dia siapkan untuk Ilham.
Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan, dengan tergesa dia mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Halo Yang." Seketika itu hati Tia lega mendengar suara Ilham di sebrang sana.
"Aa kenapa belum pulang?" tanya Tia cemas.
"Anna sakit, dia di rawat di rumah sakit."
Degh! mendadak hati Tia merasa tidak nyaman. Jadi sejak tadi Ilham bersama Anna sementara dirinya mengkhawatirkan keadaan Ilham. Tidak, ini ternyata tidak mudah. Tidak mudah selalu berusaha baik-baik saja mengetahui suaminya sedang bersama wanita lain meski wanita itu sedang sakit.
"Aa nggak akan pulang malam ini," Ilham menjeda kalimatnya, "Magh Anna kambuh, kasian nggak ada yang menemaninya malam ini." Ilham menjelaskan dengan nada khawatir.
Mendengar penjelasan Ilham, mata Tia memanas lalu meloloskan cairan bening membasahi pipinya, hatinya merasa sakit sekali. Kalau Ilham tidak pulang, bagaimana dengan kue dan kejutan ulang tahun yang susah payah dia siapkan sejak sore?
"Ya sudah A," jawab Tia lemah.
"Makasih Yang, eh tapi Aa usahain pulang kalau Anna udah tidur."
"Hmm." Hanya gumaman yang Tia berikan sebagai jawaban sebelum Ilham menutup panggilannya.
Ingin rasanya Tia melarang Ilham untuk tidak menemani Anna, tapi dia tidak punya keberanian itu. Akhirnya dia hanya terduduk lemas memandangi kue ulang tahun dan sebuah kado untuk suaminya itu. Lama dia pandangi kedua benda tersebut dengan pipi yang basah karena air mata.
Ternyata semua ini tidak mudah. Tidak mudah mengetahui bahwa aku bukan prioritas kamu dan harus selalu berpura-pura baik-baik saja. Terlalu menyakitkan A, batin Tia menangis pilu.
"Aku harus ambil keputusan," gumam Tia sambil terisak pilu.
__ADS_1
Tia meremas baju di dadanya berharap sesak yang dia rasa bisa berkurang. Berulang kali dia memukul dadanya sendiri berusaha dengan keras untuk bisa menghilangkan rasa sesak itu tapi tidak bisa. Dia putus asa, dia sudah berusaha mengerti hubungan Ilham dan Anna, tapi nyatanya hatinya sakit.
Dan...Tia memutuskan menyerah.
"Sepertinya ini jalan terbaik." Tia sudah membulatkan tekad. Lantas dia beranjak berdiri lalu mengambil sebuah kertas dan bulpoint.
Tia menuliskan semua isi hatinya, dia bertekad untuk bisa bahagia dengan dirinya sendiri mulai hari ini.
Setelah mencurahkan isi hatinya, kini Tia hanya duduk termenung melihat tiga benda yang teronggok di atas meja. Tanpa terasa sudah memasuki waktu subuh dan Tia masih di posisinya itu tanpa bergerak sedikitpun, tapi kali ini air matanya sudah mengering dan tatapannya kosong.
Tia menghirup nafas berat lalu bangkit berdiri dan bergegas menjalankan sholat subuh. Setelah sholat Tia melakukan panggilan pada papah mertuanya.
"Halo Pah, maaf ganggu subuh-subuh."
"....."
"Saya mau minta bantuan Papah."
*******************
Setelah melaksanakan sholat subuh Ilham bergegas pulang. Kondisi Anna sudah membaik jadi dia bisa meninggalkannya sendiri di rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan hampir empat puluh lima menit, akhirnya dia sampai di rumahnya.
Dengan tidak sabar dia memasuki rumah yang ternyata tidak terkunci, kening Ilham terkerut dalam, ada perasaan aneh yang menyusup dalam hatinya.
Meski begitu Ilham tetap melanjutkan langkahnya, Ilham mempercepat langkahnya ingin segera bertemu dengan Tia. Rasanya dia sangat merindukan istrinya itu.
Setibanya dia di ruang tengah yang menyatu dengan dapur, Ilham menghentikan langkahnya. Keningnya terkerut dalam.
"Kok Papah ada di sini?" tanya Ilham heran.
Pak Nugraha mendongakkan kepalanya yang sedari tadi dia tundukkan. Pak Nugraha bangkit dari duduknya lalu menyodorkan secarik kertas ke hadapan anaknya.
Ilham tidak mengerti, dia mengambil secarik kertas yang diberikan Papahnya, kemudian dia melirik kue dan kado yang teronggok di meja makan.
Degh!
Mendadak dadanya berdebar, detak jantungnya berpacu dengan cepat. Ilham menggeleng pelan, lalu pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan.
"Ti-a ma-na Pah?" tanya Ilham terbata setelah menyadari istrinya tidak ada dimana pun.
"Ehm.. Tia hanya titip surat ini ke Papah dan tidak bilang mau kemana," ucap pak Nugraha datar.
Pak Nugraha menepuk pelan pundak Ilham sebelum dia meninggalkan putranya itu sendirian.
Hati Ilham gelisah, dengan tergesa dia buka surat yang dia pegang kemudian membacanya.
__ADS_1
*Untuk A Ilham, Suamiku.
A teima kasih untuk semua yang telah Aa beri ke Tia selama ini. Terima kasih karena sudah mau menerima pernikahan ini meski kita hanya dijodohkan. Terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang Aa berikan selama ini.
Tia merasa dicintai.
Maaf selama ini Tia masih belum bisa menjadi istri yang baik buat Aa. Maaf Tia tidak bisa memasakkan Aa makanan enak, tidak seperti teh Anna. Maaf tidak bisa memahami Aa sebaik teh Anna memahami Aa.
Tia sadar, selama ini Tia hanya jadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Tia berusaha mengerti kalau teh Anna adalah prioritas Aa. Tapi A, ternyata hati Tia tidak sekuat itu, hati Tia lelah terus berpura-pura baik-baik saja melihat Aa selalu memprioritaskan teh Anna.
Dan akhirnya Tia memutuskan untuk menyerah.
Raihlah kebahagiaan Aa sendiri tanpa Tia.
Oh iya lupa, selamat ulang tahun A. Semoga Aa bahagia selalu dengan teh Anna. Maaf tidak bisa ngasih apa-apa, hanya kue yang Tia buat sendiri dan kado yang tidak begitu berharga.
Maaf kalau rasa kuenya tidak enak, hehe
Salam,
Mutia*.
Ilham terduduk lemas dengan air mata yang sudah menganak sungai di pipinya. Dia remas surat yang dia baca, lalu melirik kue dan kado yang teronggok di meja makan.
Dengan langkah gontai dia meraih kado berbentuk kotak berukuran kecil yang terbungkus rapi berwarna merah marun itu. Ilham buka kotak itu dan melihat ada sebuah jam tangan sederhana di dalamnya. Tidak bermerk dan juga tidak mahal.
lutut Ilham lemas, dia bersimpuh di lantai masih memegang surat dan kado ditangannya. Seketika itu tangisnya pecah, dia menangis sejadi-jadinya merutuki dirinya yang tidak peka akan perasaan istrinya.
Dia menyesal karena telah menyakiti istrinya tanpa dia sadari. Hatinya sakit mengetahui istrinya menyerah untuk berada di sampingnya..
Maafkan Aa sayang...
***************
Hilaw... aku balik lagi, hehe (nggak ada yang kangen juga, 😂 oke baiklah)
Moon maap nih part ini aku buat sambil bercucuran air mata.
Mau titip pesen aja buat semua, jangan pernah menyia-nyiakan atau menyepelekan apa pun yang kita dapatkan dengan mudah. Karena saat sesuatu itu hilang dari hidup kita, siapa tahu malah bikin hati kita hampa..
(eciye.. sok bijak😂😂😂)
udah gitu ajah..
Makasih,
salam,
__ADS_1
_AB_