
Ilham berjalan gontai masuk ke dalam kamar hotel bintang tiga yang sudah dia reservasi sebelumnya. Hatinya belum baik-baik saja setelah di usir secara halus oleh Tia dari rumah mertuanya.
Ilham mendesah putus asa bersamaan dia menjatuhkan badannya di atas ranjang. Ilham memijit pangkal hidungnya, dia merasa pusing memikirkan nasib pernikahannya akan dibawa kemana.
Badannya yang lelah tidak sebanding dengan kelelahan yang dirasakan hatinya. Dia menatap lekat langit-langit kamar, tanpa dia sadari satu buliran bening lolos dari sudut matanya. Apakah ini konsekuensi yang harus ditanggungnya atas kebodohannya? terlalu berat menurutnya.
Setelah puas menangis dia pun memaksakan diri bangkit untuk membersihkan diri dan melaksanakan sholat isya.
Disaat seperti ini memang akan lebih menenangkan mengadu sama Sang Maha Mengetahui.
Setelah selesai mengerjakan kewajibannya, Ilham merangkak naik ke atas ranjang. Dia merebahkan badannya disana, karena kelelahan yang dirasakan badan dan hatinya, tidak butuh waktu lama untuk alam mimpi menyapanya.
Keesokan paginya Ilham terbangun sedikit kesiangan, beruntung masih bisa sholat subuh meski mendekati waktu syuruq. Setelah sholat, dia berdoa untuk kebaikan pernikahannya dengan Tia.
"Sepertinya aku harus menunjukkan keseriusan tentang yang aku ucapkan kemarin," gumam Ilham seraya bersiap untuk pergi ke rumah mertuanya.
Sesampainya di depan rumah mertuanya Ilham tidak langsung mengetuk pintu. dadanya berdebar menatap pintu didepannya. Ilham takut mendapat penolakan lagi seperti kemarin malam, meski secara halus tapi tetap menyakitkan.
"Kenapa nggak ketuk pintu?" Suara seorang pemuda membuat Ilham terjengit kaget lalu menoleh dengan cepat ke sumber suara.
Lelaki tidak tahu diri! pagi-pagi sudah bertamu, batin Ilham
Ilham menatap pemuda sebayanya itu dengan sengit, napasnya memburu menahan gejolak amarah dalam hati yang tiba-tiba mencuat melihat keberadaan Dimas di depannya.
Tapi tidak dengan Dimas, lihatlah pemuda itu sedang tersenyum hangat ke arah Ilham. Ilham memicingkan matanya curiga, apa dia tidak menganggap Ilham sebagai saingannya? kenapa dia bisa setenang ini?
"Tok...tok...tok..." Dimas mengetuk pintu mendahului Ilham yang masih sibuk dengan fikiran negatif pada Dimas.
"Eh ada Nak Dimas sama Nak Ilham, masuk Nak!" sahut Bu Nadia yang datang di belakang mereka berdua.
"Kok tante tahu-tahu ada dibelakang?" kaget Dimas sambil terkekeh.
"Habis dari warung," jawab Bu Nadia singkat sambil memimpin langkah untuk masuk ke dalam rumah.
Ilham hanya diam memandang keakraban Dimas dan ibu mertuanya itu.
Ilham dan Dimas pun mengekori langkah Bu Nadia masuk ke dalam rumah lalu mereka duduk di sofa ruang tamu setelah dipersilahkan duduk oleh Bu Nadia.
"Pagi-pagi sudah ada disini aja, nggak ada kerjaan Bos?" sindir Ilham tanpa melihat ke arah Dimas.
"Kamu juga kan?" ledek Dimas dengan senyum lebar.
Ilham mendengus kesal.
"Ayo Mas, kita berangkat!" ajak Tia yang tiba-tiba sudah berada diantara mereka berdua.
Ilham terpaku menatap Tia yang sudah rapih dengan pakaian santai tapi tetap manis sesuai usianya.
Mas? siapa yang Tia panggil Mas? batin ilham.
"Ayo!" sahut Dimas antusias.
Mendengar sahutan Dimas, Ilham mendelik sebal ke arah pemuda itu. Menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aa nggak ijinkan kamu pergi sama laki-laki itu Tia," sahut Ilham membuat Tia dan Dimas menghentikan langkah mereka. Tapi tak berselang lama Tia melanjutkan langkahnya kembali.
Ilham semakin geram dibuatnya tapi tidak bisa berbuat apapun. Dia hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangan disamping badannya.
"Aa akan pulang ke Bandung nanti sore," sahut Ilham sedikit berteriak.
Tia menghentikan langkah lalu berbalik seraya tersenyum manis, hati Ilham menghangat melihat senyum manis Tia. Tanpa sadar seyuman lebar sudah mengulas di wajah Ilham. Dia percaya diri bahwa Tia akan mengurungkan niatnya untuk pergi bersama Dimas.
"Hati-hati A." Hanya kata itu yang Tia ucapkan sebelum berbalik dan benar-benar pergi bersama Dimas.
Seketika itu senyum Ilham surut, hatinya sakit, matanya memanas melihat kepergian Tia bersama Dimas.
Nafas Ilham memburu, tangannya mengepal lalu satu tinjuan dia layangkan ke udara untuk menghilangkan rasa yang membuat dadanya sesak saat ini. Tapi nyatanya rasa itu masih saja tidak mau hilang malah semakin terasa menghimpit dadanya.
Setelah berpamitan kepada mertuanya, Ilham memutuskan kembali ke hotel. Ah, rasanya dia merasa putus asa, sepertinya memang Tia sudah tidak mau bersamanya lagi. Meski begitu setidaknya dia sudah di maafkan.
Ilham tidak bergairah untuk membeli oleh-oleh atau sekedar berjalan-jalan menghabiskan waktu sebelum dia kembali lagi ke Bandung, dia lebih memilih tidur mengurung diri di kamar hotel.
*********
Sementara itu di salah satu toko oleh-oleh di daerah jawa tengah.
"Kamu yakin akan melakukan ini?" tanya Dimas pada Tia. Tia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Apa ini tidak terlalu keterlaluan?" tanya Dimas lagi. Tia hanya menggeleng.
__ADS_1
"Ya sudah terserah," ucap Dimas pasrah.
Tia hanya mengulum senyum melihat wajah Dimas yang kepo terhadap keputusannya.
"Makasih selama beberapa hari ini Mas selalu temenin Tia kemana pun Tia pergi," ucap Tia tulus dengan senyum yang mengembang.
"Jangan sungkan, Mas seneng bisa nemenin kamu Tia," jawab Dimas tulus dengan senyum tipis.
"Jadi, apa aku tidak punya kesempatan?" tanya Dimas memastikan.
"Maaf Mas, dan makasih untuk semuanya," ucap Tia penuh penyesalan.
"Yah, aku patah hati Dek," ucap Dimas sedikit mendramatisir dengan memegang dadanya.
Mereka berdua meledakkan tawa bahagia. Setelah menyelesaikan urusan belanja, mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Aku pulang ya Tia," ucap Dimas tepat di depan pintu rumah Tia.
"Loh? nggak mampir dulu Mas?" tanya Tia.
"Nggak, takutnya malah nggak mau pulang," kelakar Dimas sambil terkekeh.
Tia mencebik pura-pura kesal sambil mengulum senyum.
"Jadi, apa Mas bener-bener nggak punya kesempatan?" tanya Dimas lagi memastikan.
"Mas...," panggil Tia mirip sebuah rengekan, sorot matanya menunjukkan penyesalan.
Dimas maju beberapa langkah untuk memangkas jaraknya dengan Tia, dia ulurkan tangannya lalu menepuk pelan pucuk kepala Tia kemudian memberikan elusan lembut beberapa kali.
"Meski Mas patah hati, tapi Mas berdoa untuk kebahagiaan kamu Dek," ucap Dimas lembut.
"Mas juga harus bahagia," ucap Tia tulus. Dimas hanya mengangguk pelan seraya tersenyum.
************
Ilham berjalan gontai keluar dari lobi hotel setelah melakukan check out. Lalu dia masuk ke dalam taksi yang sudah dipesankan pihak hotel untuk mengantarkannya ke bandara.
Hati Ilham masih tidak baik-baik saja. Selama menunggu keberangkatan, dia hanya duduk melamun di tempat tunggu seraya menghela nafas berat beberapa kali.
Inikah akhir dari kisah cintanya? Ah, rasanya seperti mimpi, menikah dalam waktu cepat dan berpisah dalam waktu cepat.
Sudahlah, kalau memang berakhir sudahlah! batin Ilham.
Ilham berjalan gontai masuk ke dalam pesawat. Setelah memastikan kursi miliknya, Ilham duduk dengan malas tanpa memperhatikan orang yang duduk disampingnya.
Saat pesawat take off dan menimbulkan goncangan, Ilham merasakan tangannya di genggam oleh orang yang ada di sampingnya. Ilham hanya membiarkannya saja tanpa menoleh. Tapi semakin lama gengaman tangan itu semakin erat sampai membuat Ilham mengerutkan dahinya.
"Aa Tia takut," lirih orang yang ada disampingnya, suara seorang gadis.
Dada Ilham berdebar mendengar suara yang sangat dia kenali. Dengan perlahan Ilham menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke arah orang yang ada disamping kanannya, berharap apa yang didengarnya bukan halusinasi saja.
Saat kepalanya menoleh sempurna, matanya terbelalak, lidahnya kelu dan tenggorokannya mendadak kering. Ilham menelan salivannya susah payah, benarkah dia Tia, istrinya?
"Ti-tia?" kaget Ilham.
Gadis itu hanya mengangguk seraya tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya.
"Ka-kamu?" Ilham masih tidak percaya apa yang dilihatnya adalah nyata.
"Iya, Tia mau ikut Aa pulang ke Bandung," ucap Tia dengan senyum yang tidak pernah luntur mengulas wajahnya.
Ilham hanya diam mematung tidak memberikan respon apapun. Tuhan, jika ini mimpi tolong jangan bangunkan Ilham sekarang.
Tia mendengus kesal melihat Ilham yang masih tidak percaya. Tia hempaskan tangan Ilham yang sejak tadi dia genggam.
Dengan satu gerakan Ilham merengkuh tubuh mungil Tia lalu memeluknya erat. Ilham tersedu di pundak istrinya. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu dalam hatinya.
Eh, tapi tunggu, ada hal yang harus dia pastikan sebelum dia merasa percaya diri. Dia takut merasa kecewa seperti kemarin.
Ilham mengurai pelukannya lalu menatap lekat manik coklat milik Tia.
"Sa-sayang, kamu ikut ke Bandung un-untuk?" tanya Ilham terbata dengan tatapan penuh selidik. Dadanya berdebar menunggu jawaban Tia.
"Tia minta maaf A, Tia pergi gitu aja dari rumah tanpa pikir panjang." Tia menjeda kalimatnya. Ilham masih diam dengan sabar menunggu kalimat Tia selanjutnya.
"Bolehkah Tia pulang lagi ke rumah? apa Aa masih mau nerima Tia?" tanya Tia dengan kepala menunduk.
Ilham merasa mendapatkan angin surga mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Tia.
__ADS_1
Ilham kembali merengkuh tubuh Tia memeluknya lebih erat dari sebelumnya. Tangisnya pecah, air matanya bercucuran dengan deras.
Bahagia, iya Ilham bahagia Tia mau menerimanya kembali. Ilham berjanji dalam hati dia tidak akan menyia-nyiakan lagi keberadaan Tia di hidupnya. Cukup satu kali dia membuat kebodohan yang dia sesali.
Ilham mengurai pelukannya lalu menangkup wajah Tia, ditatapnya gadis yang ada di depannya itu dengan tatapan penuh cinta.
"Aa mencintaimu Sayang," ucap Ilham tanpa keraguan.
"Tia juga cinta Aa," ucap Tia dengan tersipu malu dan pipi yang merona.
"Se-serius?" tanya Ilham dengan mata berbinar.
Tia mengangguk malu-malu.
Ilham sekali lagi memeluk Tia dengan gemas, hatinya berbunga mendengar kata cinta dari Tia.
Senja yang menguning menjadi saksi bersatunya cinta dua anak manusia yang pernah mengalami duka karena perpisahan. Keduanya larut dengan perasaan yang membuat hatinya berdebar dan berbunga secara bersamaan sampai tidak menghiraukan lingkungan sekitar.
"Ekhem..." Suara deheman dari kursi disamping mereka membuyarkan momen haru keduanya. Ilham dan Tia mengurai pelukan mereka lalu menoleh ke sumber suara.
Ternyata deheman itu dari seorang pria paruh baya yang sedang melipat tangan di depan dada serta tatapan tajam yang terpancar dari sorot matanya. Ilham dan Tia saling melempar pandangan.
"Kami minta maaf Pak." Akhirnya Ilham meminta maaf dengan sedikit menganggukkan kepala ke arah pria paruh baya yang ada di samping kirinya.
"Hmm.." Hanya gumaman yang pria paruh baya itu berikan.
Ilham membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan, tangannya tidak pernah lelah menggenggam tangan istri imutnya. Senyumnya tidak pernah surut mengulas di wajahnya.
"Eh Sayang, kok semalem Aa nggak boleh nginep di rumah?" tanya Ilham dengan wajah sedikit cemberut.
"Semalam itu Tia masih kesel sama Aa, waktu Tia pergi dari rumah kok Aa nggak susul Tia? jadi Tia sebel sama Aa nggak mau deket-deket," tutur Tia dengan sedikit rajukan.
"Maaf Sayang, waktu itu Aa sakit sampe dirawat di rumah sakit, jadi nggak langsung susul ke kampung, waktu Aa sembuh terus nyusul ke kampung-eh, kamu malah udah pergi ke jawa tengah," sesal Ilham sambil menunduk sedih.
"Aku tahu."
"Loh, kok?"
"Awalnya emang nggak tahu, tapi semalem Mamah Karla telpon dan jelasin semua," tutur Tia seraya tersenyum tipis.
"Jahat banget sih, kamu tega biarin Aa tidur sendirian di hotel padahal kan kengen banget," rengek Ilham sambil memijit hidup Tia gemas.
"Terus si Dimas siapa?" tanya Ilham dengan suara yang ketus.
"Cuma teman," jawab Tia enteng.
"Temen kok deket-deket gitu, pake pergi beruda lagi, kemana tadi?" tanya Ilham masih dengan nada ketus sambil bersidekap tangan di depan dada.
Tia terkekeh geli melihat kecemburuan Ilham.
"Rahasia," jawab Tia ingin menggoda Ilham.
"Ish.. jahatnya!" sahut Ilham sambil mengelitiki pinggang Tia. Tia terlonjak kesana kemari serasa terkikik geli.
"Ekhem..." Deheman dari pria paruh baya terdengar lagi, membuat keduanya kembali terlonjak kaget, lalu menghentikan aktivitas mereka yang masih tidak peduli dengan lingkungan sekitar.
"Maaf Pak," sesal Tia sambil sedikit mengangguk, lalu dia mendelik kesal ke arah Ilham.
"Kita lanjut nanti di rumah," bisik Ilham dengan senyum tertahan.
Tia mengerutkan dahinya dalam tidak mengerti maksud Ilham.
"Kita harus realisasikan proyek bikin baby," bisik Ilham lagi.
"Hah?" kaget Tia dengan wajah yang sudah memucat.
Ilham hanya terkikik geli melihat ekspresi istrinya itu.
Begitulah, selama perjalanan mereka habiskan dengan senda gurau. Meresapi rasa yang membuncah di dada, merasakan syukur, lega dan bahagia secara bersamaan.
Mereka berdoa semoga kebahagiaan dan kebersamaan ini tidak sementara, melainkan selalu diijinkan sampai mereka menua dan hanya dipisahkan oleh kematian saja.
-SELESAI-
***********
cerita Tia dan Ilham beneran selesai sampai sini ya gengs.. jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca.
maksih..
__ADS_1