
Arlan POV
Sore itu Arlan sengaja pulang lebih awal buru-buru menyelesaikan pekerjaan karena terimgat janjinya kemarin siang. Dia menganggap itu sebuah janji meskipun terdengar hanya sekedar gurauan.
Bayangan gadis yang ia temui tanpa sengaja ketika menjenguk ibu temannya tak mampu ia hilangkan. Begitu kuat menguasai ruang hatinya.
‘Cckckckkk....anak jelek itu sudah berhasil mempermainkan perasaanku’
Arlan berusaha sekuat tenaga me lupakan gadis itu. Dia tidak boleh jatuh cinta kepada anak kecil. Jangan sampai menyandang predikat pedofil. Kata orang itu tidak ber_akhlak.
Semakin berusaha Arlan semakin tidak mampu menepis perasaannya. Mungkin Arlan sudah terkena ajian jaran goyang, hahahaaaa....
‘Masa jaman modern seperti ini masih ada pelet’
Arlan terus bermonolog dengan dirinya sendiri di depan cermin seperti anak ABG baru mengenal cinta padahal usianya sudah tidak muda, sudah 27 tahun.
Ada getaran aneh ketika pertama kali Arlan menatap manik mata Bulan. Seperti tidak asing bahkan Arlan merasa sudah dekat. Sebenarnya Arlan bukan tipe lelaki gombal tetapi kemarin di depan Bulan dia tampak seperti seorang playboy yang senang menggoda mangsanya.
*****
Kedua wanita beda usia itu tampak sedang terlibat pembicaraan serius. Si anak tampak mengerutkan wajahnya tidak suka. Sudah menjadi kebiasaan kanjeng ratu yang senang berceramah panjang lebar apalagi menyangkut jodoh.
Bulan dikejar-kejar untuk segera menikah karena kanjeng ratu khawatir anak kedua nya akan terhambat jodohnya jika anak pertama nya belum juga menikah. Lagipula apa kata orang kalau anak gadisnya sampai sekarang belum laku. Kanjeng ratu khawatir selama ini Bulan tidak pernah dekat dengan lelaki secara spesial. Jangan kan kedekatan spesial sekedar menceritakan harapan tentang sosok idaman pun tidak pernah.
‘Pokoknya kamu harus segera menikah, Bulan ! Ingat apa kata dokter tadi’
Kanjeng ratu menaikkan intonasi penuh penekanan.
‘Sendiko dawuh kanjeng ratu....tapi Aku harus menikah dengan siapa? Kambing tetangga?’
‘Kamu ini susah diajak bicara atau ga ngerti siiih? Ya sudah pokoknya kamu harus menikah, titik!’
__ADS_1
‘Urusan dengan siapa kamu menikah nanti bapakmu yang carikan’. Kanjeng ratu menambahkan.
Masih ingat cerita siti nurbaya? Itu film masa muda ibuku. Film yang menceritakan perjodohan gadis muda sebagai penebus hutang ayahnya. Kalau Aku tidak salah ingat Aku berbeda usia jauh sekali dengan ibuku. Apakah cerita itu masih relevan dite rap kan di masa sekarang?.
Ceklek
Bulan mengernyitkan dahi merasa bingung. Keajaiban apalagi yang akan terjadi setelah ini. Arlan datang seorang diri, tapi untuk apa? Ibu mbak Dita sudah dipindahkan ke ruang ICU.
‘Hai Bulan, Aku datang lagi’
‘Ibu mbak Dita sudah dipindahkan ke ruang ICU kak, kakak salah alamat’
‘Tidak, Aku memang sengaja ingin bertemu kamu kok kan kemarin Aku sudah janji’
Kanjeng ratu menatap kami bergantian mencerna apa yang terjadi.
‘Aku Arlan tante’ Arlan tersenyum mengarahkan tangan kanannya kepada kanjeng ratu.
‘Iya tante saya pacar Bulan, bagaimana keadaan Bulan tante? Apakah sudah lebih baik?’
Bulan memutar kepala membulatkan mata, kesal. Rasanya dia ingin melenyapkan pria tidak tahu malu itu. Bagaimana bisa dia mengaku pacar di depan kanjeng ratu. Dasar penbuat onar.
‘Bulan sudah diijinkan pulang nak Arlan, mungkin selepas Isya kami pulang ke rumah’ kanjeng ratu antusias menanggapi pria tak tahu malu itu. Dan Aku, tak bisa berbuat apa-apa. Salah bicara sedikit saja kanjeng ratu tidak segan-segna menenggelamkanku ke dalam kolam Lumpur.
‘Alhamdulillah kalau begitu artinya Bulan sudah sehat. Nanti Arlan antar sampai rumah’ Arlan semakin menyebalkan. Dia memanfaatkan keberadaan kanjeng ratu untuk memojokkanku. Tentu saja kanjeng ratu kegirangan, tersenyum lebar.
‘Tidak perlu kak’ Bulan menyela dengan nada ketus. Betapa tidak, dia sangat kesal kepala Arlan yang membuat suasana semakin tidak menyenangkan. Sungguh Arlan sukses menambah penderitaan bagi Bulan.
‘Bulan, kamu tidak boleh begitu. Kamu mau cari di mana lagi yang seperti mak Arlan ini sudah tampan baik hati pula’ kanjeng ratu memperingatiku. Jangan lupakan penekanan pada setiap kata ditambah bola matanya yang menatapku tajam. Ingat, setiap perkataannya adalah perintah yang tak terbantahkan.
Arlan merasa menang di atas angin mendapatkan pembelaan dari sang calon ibu mertua. Arlan begitu percaya diri mengklaim kanjeng ratu sebagai calon ibu mertua. Tentu saja wanita mana yang mampu menolak pesonanya. Diam-diam Arlan menyetujui kanjeng kata-kata kanjeng ratu mengenai dirinya, tampan dan baik hati. Perlu ditambahkan: digilai banyak wanita. Seketika Arlan mengeluarkan senyum smirknya menggoda Bulan.
__ADS_1
‘Aku ini limited edition dek. Kamu ga punya alasan untuk menolakku. Aku bisa menjamin mulai saat ini kamu tak akan bisa tidur tanpa memikirkan aku’ Arkan semakin menjadi saja. Semakin berani menggoda Bulan bahkan dia sekarang sudah menatap mata gadis itu sambil menik turunkan alisnya.
Bulan semakin geram kepada pria di hadapannya. Dia hanya bisa pasrah dengan perlakuan absurd Arlan. Baru kemarin kenal sudah berani sekali dia. Kenapa dia seperti jelangkung datang tak diundang pulang tak diantar. Perilaku jahilnya sudah tidak bisa ditolerir.
‘Sudah kak bicaranya? Aku mau bersiap dulu sebentar lagi mau pulang. Apa kakak sedang mencari Korean baru? Ingat ya kak, Aku tidak akan pernah menjadi korbanmu’ Bulan semakin ketus.
‘Jangan marah dek, kalau Bulan marah lalu siapa yang akan menerangi malamku? Bulan mendelik tajam dibalas seringaian licik Arlan dan tawa bahagianya.
****
Bulan merasa terjebak suasana yang tidak menyenangkan. Selama itu hatinya kacau. Dia sadar kebenaran bahwa lelaki tampan itu pasti banyak digilai wanita. Tanpa sadar Bulan sudah mengakui ketampanan Arlan.
Arlan semakin berani menatap gadisnya. Tidak cantik tapi berhasil memporak porandakan hatinya.
‘Pokoknya Aku antar! Jangan menolak’
‘Terserah’
Pintu terbuka mengejutkan dua anak muda yang sedang bersitegang itu. Muncullah sosok kanjeng ratu. Entah kapan wanita itu keluar dari ruangan ini.
‘Lah ibu dari mana? Kapan ibu keluar?’
‘Kalian asik berdua sampai-sampai ibu terlupakan. Ibu baru saja menyelesaikan administrasi perawatanmu. Kalau sudah rapi ayo kita pulang’. Fix, wanita yang melahirkanku sekarang sudah berpindah haluan menjadi sekutu lelaki menyebalkan, Arlan.
Arlan menyambar koper milik Bulan dan bergegas berjalan menuju pintu keluar diikuti kanjeng ratu. Bulan masih terpaku di tempatnya.
‘Kalau kamu tak mau pulang ya sudah di situ saja biar di temani hantu penunggu rumah sakit’. Arlan berbalik badan memperingati Bulan. Bulan berjalan mengikuti kedua orang itu dengan hati dongkol.
****
Seperti biasa jalanan Ibukota selalu macet tidak peduli meskipun hari sudah beranjak malam. Bulan tak bersuara dia hanya diam menatap keluar melalui jendela di sisi kirinya. Arlan sibuk menyetir dan berbincang dengan kanjeng ratu. Membuat Bulan semakin bertambah dongkol. Tidak habis pikir dengan keajaiban sosok di sampingnya.
__ADS_1
Restu orangtua adalah yang utama. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh Arlan. Baginya restu orangtua membuat hidupnya mudah. Itulah alasan mengapa Arlan lebih memilih mengakrabkan diri dengan kanjeng ratu dibanding dengan gadis Judes itu.