
Tia sudah mulai melaksanakan tuganya sebagai cleaning service sekaligus office girl dilantai itu sendirian, mulai dengan menyapu dan mengepel semua ruangan yang ada dilantai itu, sebelum semua penghuni ruangan dilantai itu berdatangan Tia sudah menyelesaikan tugas menyapu dan mengepel,
Tia menyeka keringat didahinya dengan punggung tangannya dan menghela napas lelah, "tinggal bersihin toilet dan kaca," gumamnya pelan sambil menyenderkan punggungnya disalah satu dinding yang berada dipantry,
saat Tia akan beranjak dari posisi nyamannya terdengar ribut-ribut dari arah pintu lobi dan ternyata beberapa karyawan sudah masuk dan bersiap untuk memulai pekerjaannya, Tia masih menatap lekat ke arah beberapa karyawan itu
Coba kalau aku berpendidikan tinggi mungkin aku bisa jadi salah satu dari mereka, batin Tia sedih
Tia langsung menggelengkan kepalanya pelan untuk menepis pikiran yang barusan ada dipikirkannya.
"Harus bersyukur apapun keadaannya," gumam Tia pelan sambil melangkah menuju toilet dan bersiap untuk membersihkan ruangan itu.
Pukul 11.00 siang Tia sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk bersih membersihkan dan terkadang membantu membuatkan kopi untuk para petinggi dilantai itu. Tia duduk berselonjor dilantai pantry sambil bersandar pada loker yang berisi alat-alat kebersihan. "Ternyata cari uang itu cape yah," gumam Tia pada diri sendiri sambil sesekali terkekeh dan menyeka peluh yang ada di keningnya, karena lelah Tia masih berlama-lama dalam posisi dan lamunannya, tanpa Tia sadari ternyata waktu makan siang sudah tiba ditandai dengan beberapa karyawan yang sudah berbondong-bondong lewat didepan pantry akan menuju kantin pabrik untuk makan siang, ada juga yang ijin keluar pabrik untuk makan siang diluar pabrik.
"Sudah jam makan siang rupanya," gumam Tia sambil beranjak berdiri dari posisi duduknya, dia hendak mengambil kotak makan siang yang dia bawa dari rumah tadi, tapi saat dia mau membuka tempat makannya tiba-tiba Erna datang menghampirinya.
"Tia.."
"Iya Bu," jawab Tia sedikit kaget dan langsung menoleh ke sumber suara
"Tolong belikan makan siang buat pak Nugraha yah, direstoran yang kemarin ini uangnya," ucap Erna sambil menyodorkan uang seratus ribu dan beberapa uang sepuluh ribuan.
Tia mengangguk dan menutup kembali tempat makan yang sudah terbuka sebagian, mengurungkan niat untuk makan dan mengembalikkan kotak makan itu kedalam loker. Tia mengambil uang yang disodorkan Erna lalu bersiap untuk membelikan makan siang untuk big bosnya itu. tapi sebelun dia beranjak dari posisinya tiba-tiba Bunga masuk dengan menenteng bungkusan plastik,
"Tia ini seragam buat kamu pake selama kerja ya, didalamnya udah ada nametage dan beberapa kelengkapannya juga, mulai besok dipake ya Tia," ucap Bunga sambil menyerahkan bungkusan yang dia bawa sedari tadi, Tia hanya mengangguk dan mengambil bungkusan yang diberikan Bunga dan memasukkannya kedalam loker.
"Oh iya Bunga, soal yang nyediain makan siang big bos kedepannya siapa? biar jelas aja gt jobdec nya jadi nggak nyari-nyari lagi," ucap Erna mencegah langkah Bunga meninggalkan pantry, Bunga pun berbalik dan kembali melangkah ke arah Tia,
"Mulai besok kamu yang bertanggung jawab buat nyediain makanan buat Pak Nugraha, beliau sukanya makanan yang dibuat direstoran anaknya, restoran yang kemarin," tutur Bunga
"Jadi restoran kemarin punya anaknya ya bu?" tanya Tia menyela perkataan Bunga, Bunga mengangguk dan menghela napas untuk melanjutkan perkataannya.
"Hmm.. berangkatnya dari sini jam 11.30 siang aja biar kesini sampe pas jam makan siang, berangkatnya pake ojek online aja, buat uangnya bisa minta langsung ke Erna dan iya satu lagi ngasih makan siangnya di tata di piring jangan kayak kemaren dikasihin langsung sama bungkusannya nggak sopan," jelas Bunga panjang lebar sebelum dia berlalu meninggalkan Tia dan Erna yang masih ada di pantry.
"Bu Erna emang anaknya pak Nugraha nggak kerja disini? bukannya ini pabrik milik pak Nugraha ya?" tanya Tia penasaran, sedetik kemudian dia merutuki tindakannya yang sudah penasaran akan hal yang tidak semestinya,
"Maaf bu, bila saya lancang," cicit Tia sambil menunduk saat Erna masih diam tidak menjawab dan memilih meneguk air putih dari gelas yang sudah sejak tadi dia pegang
"Nggak papa kok Tia, bukan hanya kamu yang penasaran tapi semua karyawan juga penasaran akan hal itu, pak Ilham anaknya pak Nugraha itu nampaknya kurang tertarik meneruskan perusahaan padahal katanya pak Nugraha udah mau pensiun tapi berhubung anaknya masih belum mau gantiin jadi masih dia yang memegang jabatan tertinggi di pabrik ini," jelas Erna setelah meneguk air putih dalam gelas yang dia pegang sampai habis.
"Udah mending kamu cepet berangkat gih, takut terlalu siang pak Nugraha nunggu makan siangnya," titah Erna sambil berlalu meninggalkan Tia, Tia hanya mengangguk dan bersiap pergi, setelah sebelumnya memesan ojek online, beberapa menit kemudian ojek yang dia pesan pun sudah menunggu dibalik gerbang, Tia pun bergegas naik dan memberikan instruksi untuk berangkat.
Sesampainya di restoran dia langsung menuju kasir dan membuat pesanan sama seperti kemarin, saat menunggu Tia duduk disalah satu meja restoran, karena sudah jam makan siang restoran tampak ramai oleh beberapa orang yang sedang menikmati makan siangnya sambil sesekali berbincang.
Tia hanya termenung entah pikirannya sedang berkelana kemana, dia hanya menatap lurus kedepan, di atas panggung tepat beberapa meter didepan Tia tampak seorang pemuda yang sama seperti kemarin tengah siap-siap akan menyanyikan sebuah lagu.
🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵
Tak mengerti
Apa yang telah terjadi
__ADS_1
Kau tak lagi sama
Engkau bukan engkau
Yang selalu
Mencari dan meneleponku
Dering darimu
Tak ada lagi
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Walau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Di sepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu
Tak mengerti
Mengapa engkau membisu
Kau tak lagi sama
Engkau bukan engkau
Sampai aku
Ragu untuk meneleponmu
Mengertikah kamu
Aku rindu kamu
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
__ADS_1
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Walau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Di sepanjang waktuku
Biarkan aku mencintaimu
Aku tak suka bila oh
Kau selalu dekat dengannya oh-hoo
Jangan engkau cemburu
Dia hanya sahabat di kelasku
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵
Ditengah lagu Tia jadi teringat dulu waktu SMA sering sekali dilabrak oleh pacarnya Dion gegara dia terlihat akrab dengan Dion, jadi pacarnya Dion selalu saja salah paham pada Tia kalau dia lah yang selalu jadi alasan mereka putus dengan Dion, Tia menghela napas panjang.
"Hmm..... apa semua yang dikatakan Dion itu benar yah" gumam Tia pelan masih tidak mengalihkan pandangannya kedepan, orang yang dipandang sudah sangat kegirangan karena merasa diperhatikan oleh gadis yang sejak kemarin sudah menganggu hatinya, setelah dia menyelesaikan lagu dia bergegas turun dan menghampiri gadis imut-nya itu.
"Hari ini nggak boleh gagal lagi tau namanya," gumam pemuda itu sambil berlari-lari kecil, dalam bayangannya dia merasa seperti pangeran yang sedang berlari ke arah tuan putri yang sedang menatapnya dengan senyuman terbaiknya, dalam benaknya alunan musik romantis mengiringi setiap langkahnya, dia berlari dengan antusiasnya dengan mata yang berbinar, dia berhenti saat jaraknya dan tuan putri itu hanya dua langkah dia langsung berlutut menggunakan satu lututnya dan menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah tuan putri rupawan itu.
"Boleh aku tau nama kamu?" tanyanya lembut masih dengan mata berbinar, tuan putri itu hanya tersenyum dan berkata.
"Nama saya parto," jawabnya sambil terkekeh. pemuda itu terhentak mendengar penuturan orang yang ada didepannya, dia bangkit berdiri dari posisinya tadi alunan musik romantis yang sedari tadi mengalun indah sudah berubah menjadi suara kaset kusut
"Anda sehat bos?" tanya orang didepannya lagi sambil terus terkekeh
pemuda itu hanya menoleh dan melempar tatapan tajam pada orang itu.
__ADS_1