Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
Bab. 57


__ADS_3

"Selamat" Nadira kembali mengulurkan tangannya menjabat tangan Fahri. Memberikan ucapan selamat, dengan senyum yang dipaksakan. Walaupun ia sudah rela melepaskan Fahri dan tidak ada niatan untuk mengejarnya kembali. Namun ada perih yang dirasakan oleh hatinya.


Tidak menyangka dalam waktu yang tidak berselang lama setelah berpisah denganya, mantan kekasihnya itu telah mampu menambatkan hatinya pada perempuan lain. Kisah cinta bersamanya selama 3 tahun seolah tak berbekas.


"Terimakasih. Semoga kamu juga segera mendapatkan jodoh terbaik. Jangan pernah terkurung oleh masa lalu karena hanya akan menghambat jalannya kehidupan. Kita hidup itu melangkah maju, bukan mundur. Kita hanya ditakdirkan untuk bersama sebatas berteman bukan teman hidup." Fahri menerima jabatan tangan Nadira sambil memotivasinya. Cintanya dulu memang besar buat Nadira, tapi itu dulu. Nama Nisa kini sudah mulai bertahta dihatinya. Walau kadang gengsi masih membersamai.


"Selamat siang pak Fahri" Kedatangan Chandra, atasan Nadira yang tak lain adalah kliennya Fahri, menghentikan obrolan pribadi antara Fahri dan Nadira.


Keduanya kini sudah kembali bersikap formal. Dan Nadira mulai membuka percakapan tema pekerjaan.


Meeting berjalan lancar hingga selesai, dengan menghasilkan kesepakatan dari kedua belah pihak. Yaitu Fahri dan Chandra, dan pastinya keduanya akan lebih sering berinteraksi saat proyek sudah berjalan, agar mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan.


Kerja sama yang diperkirakan akan meraup keuntungan yang tidak sedikit itu, tidak serta merta membuat Nadira bangga dan puas sebagai sekretaris baru yang sukses menarik investor.


Mungkin kalau bukan Fahri dirinya akan merasa bangga dan puas, namun dialah Fahri. Orang yang ingin ia jauhi dan lupakan. Tapi bagaimana bisa ia melupakan Fahri apabila mereka dipertemukan dalam sebuah pekerjaan.


"Pak Fahri. Bagaimana kalau nanti malam kita rayakan kerja sama kita di kafe x?" Chandra menatap Fahri penuh harap, sambil menyesap minumannya.

__ADS_1


Mendengar ajakan Chandra, Fahri mengerutkan keningnya. Namun sesaat kemudian ia langsung menggelengkan kepalanya.


"Maaf pak. Sepertinya saya tidak bisa." Fahri menolak ajakan Chandra untuk merayakan kerja sama mereka. Tidak mungkin ia pergi, sedangkan istrinya tidak diajak serta. Walaupun Nisa dirumah tidak sendirian, ada mama Risa. Tapi tetap saja ia tidak bisa pergi sendirian, statusnya sudah berbeda dirinya bukan lagi seorang bujangan yang bebas pergi dan pulang malam.


"Yah enggak asik dong. Padahal saya sudah berharap kita bisa ngumpul bareng. Iya kan Nad?" Chandra menatap Fahri agak kecewa kemudian ia beralih menatap Nadira yang mengulas senyum padanya.


Makan siang yang super lama, akhirnya selesai juga saat jam hampir menunjukkan pukul satu siang. Fahri berdiri kemudian menjabat tangan Chandra dan Nadira bergantian. Ia memilih pulang duluan, ia melangkahkan kakinya sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya untuk memesan kendaraan online.


Setelah menghabiskan waktu 20 menit perjalanan, Fahri tiba di kantornya. Ia turun dari mobil setelah membayar ongkos yang masih menyisakan kembalian namun tidak ia ambil, memilih memberikannya pada sang driver. Fahri melangkah memasuki lobby kantornya, ia melangkah sambil membalas sapaan dan anggukan dari beberapa stafnya yang berpapasan.


Fahri membuka pintu dan masuk kedalam ruangannya, rasa lelah langsung menyergapnya, setelah satu Minggu menghentikan diri dari aktivitas kantor. Ia membuka jas dan meletakkannya di sandaran kursi kebesarannya, dan kini hanya menyisakan kemeja slim fit berwarna biru muda. Fahri menghempaskan tubuhnya di kursi, kemudian ia menggelengkan kepala berharap bisa sedikit mengenyahkan bayangan perempuan yang wajahnya selalu memerah setiap kali berada dibawah kungkungannya. Shitt


[Bungan apaan? Ini orang sudah nyuruh pake ngancam segala]


"Ya bunga, bunga lah. Memangnya ada berapa macam bunga? Masa gitu saja enggak paham!" Ucap Fahri sambil berdecak, ia kesal pada Bobi yang seolah dengan sengaja pura-pura tidak memahami maksudnya.


[Bunga itu banyak macamnya. Ada bunga kamboja, sedap malam, Anggrek, bunga bangkai juga ada. Gimana sih ini? seorang CEO tapi wawasan tentang bunga saja sangat sempit] Ucap Bobi dari sebrang sana yang sudah dipastikan sedang menahan tawa. Bobi memang orang yang paling gencar menggoda Fahri setelah menikah. Fahri yang tidak pernah mau mengakui kalau ia sudah menyukai istrinya. Berbanding terbalik dengan sikapnya yang selalu posesif dan perhatian walaupun kadang melalui orang lain. Seperti saat ini, meminta Bobi mbelikan bunga dan coklat yang sudah dipastikan buat Nisa, namun ia tak mau mengakuinya.

__ADS_1


[Jadi mau yang mana? Kalau buat Tante Risa mending yang Kamboja saja, beliau pasti suka. Secara Tante kan kolektor bunga. Jadi dikasih bunga apapun pasti akan diterima dengan senang hati]


"Sekalian saja Bunga bangkai! Maksudku bukan bunga begituan! Tapi bunga yang sudah dibentuk jadi buket. Lu pasti paham! Jangan lupa sekalian beliin coklatnya juga! Gak usah banyak tanya, pasti tahu seleraku seperti apa." Fahri menutup panggilannya sepihak, kemudian ia membuka akun media sosial milik istrinya yang baru ia ketahui semalam. Saat Nisa sudah terlelap dan ia iseng-iseng membuka ponselnya.


..............


Tepat Jam 5 sore. Fahri sampai dirumah dengan menenteng paper bag, ia melangkah masuk sambil memainkan ponselnya. Saat ia hendak menaiki tangga, sebuah tangan terulur meraih tangan kanannya, dan paper bag yang ia pegang pun seketika berpindah genggaman. Belum sampai habis rasa kegetnya, tiba-tiba benda kenyal mendarat dipunggung tangannya, sehingga berhasil membuat hatinya berdesir.


Ribuan kupu-kupu pun beterbangan memenuhi seluruh jiwanya yang baru saja merasakan betapa nikmatnya jadi seorang suami. Disaat jiwa dan tubuhnya merasakan lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kerumah disambut senyum hangat dan penuh hormat, oleh perempuan yang baru beberapa hari menjadi istrinya. Namun sudah mampu menjungkir balikkan hatinya. Seorang Fahri yang jelas-jelas sedang patah hati karena kandasnya jalinan asmara setelah hampir 3 tahun dibinanya. Namun dalam waktu singkat ia mampu mengambil sikap dan menjaga batasan dengan perempuan bernama Nadira, yang notabene cinta pertamanya.


"Paper bag nya sekalian bawa naik kekamar. Oh iya, dimobil ada bunga. Ambil saja kalau mau, tadi ada klien yang mengirim Bunga sebagai sambutan bergabung dengan perusahaannya. Iseng-iseng dibawa daripada layu disimpan dikantor." Fahri memberikan kunci mobil pada Nisa, kemudian ia membelokkan arah menuju dapur hendak mengambil air minum. Dengan perasaan senang, Nisa menerima kunci mobil yang diberikan Fahri, kemudian ia melangkah keluar rumah menuju mobil sang suami yang sudah terparkir rapi digarasi. Perlahan Nisa membuka pintu depan sebelah kiri. Binar kagum seketika terpancar dari matanya, ia memejamkan mata menghirup aroma bunga segar yang menguat dari buket yang sekarang sudah berada di tangannya. Nisa memundurkan badannya kebelakang, kemudian ia kembali menutup pintu mobil suaminya. Dengan tergesa ia kembali masuk kedalam rumah, dengan perasaan yang bahagia. "Mas. Ini bunganya buat siapa?" Nisa menatap Fahri yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kamu suka?" Fahri menjawab pertanyaan istrinya dengan sebuah pertanyaan yang langsung diangguki Nisa. "Suka. Ini bagus banget bunganya." Ucap Nisa sambil mendekap buket bunga segar penuh hati-hati.


"Ambil saja kalau mau. Dari pada layu, kan sayang." Fahri kembali meraih paper bag dari genggaman tangan kiri Nisa yang terlihat kesusahan karena membawa buket bunga yang lumayan besar. Ia melangkah duluan menaiki tangga, menuju ke kamarnya hendak membersihkan badan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Kopi mana kopi, Fahri butuh kopi buat begadang nanti malam biar gak terkantuk-kantuk dalam menyelesaikan tugasnya 😁


__ADS_2