
"Tenang Tia sabar! ikhlas!" gumamnya lirih menyemangati diri sendiri sambil sesekali mengelus dadanya yang terasa sesak, setelah menyelesaikan tugasnya untuk membereskan ruang meeting Tia bergegas pulang mengingat hari sudah mulai senja dan langit sudah mulai gelap. Saat melintasi lobby pabrik bulu kuduk Tia tiba-tiba berdiri dan..
Kyaaaaa!!!!
Tia berteriak terlonjak kaget karena ada yang menepuk pundaknya dari arah belakang.
"Kenapa Ya?" suara seseorang yang memegang pundak Tia dari belakang
*K*ok kayak kenal suaranya? mudah-mudahan masih manusia
"A Ilham? kok belum pulang A?" tanya Tia saat membalikkan badannya melihat seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang ternyata Ilham
"Sengaja nungguin kamu pulang," jawab Ilham lembut
Blush...
Pipi Tia merona, dengan susah payah dia menelan salivannya karena gugup dengan ucapan Ilham.
"Yukk..! aku anter pulang, sekalian mau main sama Anna," ucap Ilham datar sambil melangkah mendahului Tia. Tia mendengar penuturan Ilham menghela napas kecewa
*O*hhh kirain.. mana udah ge er lagi
Tia mengikuti langkah Ilham menuju mobilnya, mereka melangkah beriringan hingga masuk kedalam mobil. Didalam mobil pun mereka hanya terdiam tidak ada obrolan sama sekali hanya suara mesin mobil yang terdengar.
Duh mau ngajak ngobrol tapi apa ya? batin Ilham
Ilham sesekali melirik ke arah Tia lalu kembali fokus memperhatikan jalan didepan. Sedangkan Tia hanya mengarahkan pandangannya kearah jendela mobil mencoba mengalihkan perhatiannya menatap setiap pemandangan yang terlewati oleh mobil yang dia tumpangi.
Kecanggungan mendominasi antara keduanya akhirnya untuk memecah keheningan Ilham menyalakan radio didalam mobilnya, sebuah lagu mengalun indah dari siaran radio tersebut yang mampu menghipnotis pendengarnya untuk hanyut dalam setiap bait lagu.
🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵
Pernah aku jatuh hati
Padamu sepenuh hati
Hidup pun akan kuberi
Apapun kan ku lakui
Tapi tak pernah ku bermimpi
Kau tinggalkan aku pergi
Tanpa tahu rasa ini
Ingin rasa ku membenci
Tiba tiba kamu datang
Saat kau telah dengan dia
__ADS_1
Semakin hancur hatiku
Jangan datang lagi cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaannya
Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia aku tak apa
Biar aku yang pura pura lupa
🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵🎵
Saat Tia meresapi setiap lirik dalam lagu yang sedang melantun dari siaran radio, matanya melihat ada sebuah motor matic yang sangat dia kenal yang kebetulan berhenti disamping mobil yang dia tumpangi, mobil dan motor sama-sama berhenti saat lampu lalu lintas didepan menunjukan warna merah.
Diatas motor itu ada sepasang remaja sedang berboncengan sambil bersenda gurau, tampak senyum ceria menghiasi wajah keduanya, sang wanita memeluk pinggang sang pria dengan posesifnya dan sang pria sesekali mengelus punggung tangan sang wanita dengan penuh kasih sayang.
Melihat pemandangan itu hati Tia merasakkan sesak, mata Tia memanas dan cairan bening menumpuk dipelupuk matanya, kini matanya terpejam sejurus kemudian cairan bening itu lolos jatuh melalui pipinya.
Buru-buru Tia menyeka air matanya supaya tidak dilihat oleh Ilham tapi usahanya gagal karena Ilham justru menoleh saat Tia sedang menyeka air matanya.
"Kamu kenapa Ya, kok nangis?" tanya Ilham penasaran
"Eh? eng-enggak kok A, Tia hanya kelilipan," ucap Tia sedikit bergetar, dia kemudian berdehem beberapa kali untuk menormalkan suaranya kembali.
Bohong! dia kenapa? apa ada sesuatu yang menganggu pikirannya?
Saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, semua kendaraan mulai bergerak maju begitupun mobil yang ditumpangi Tia dan sebuah motor matic disampingnya yang kini berjalan beriringan hingga disebuah persimpangan jalan mulai berpisah menuju arah tujuan masing-masing.
Beberapa menit berselang, Tia dan Ilham sudah sampai dikosan Tia dan Anna, Tia keluar dari mobil dengan gontai dan hati yang masih terasa sesak.
"Makasih A," ucap Tia sambil memgangguk dan bergegas keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban dari Ilham.
Kenapa sih dia sebenernya, apa aku ada salah ya?
Ilham mengikuti Tia keluar dari mobil dan masuk kedalam kosan, ketika sampai di ruang tv ternyata sudah ada Anna yang duduk di sofa sedang menonton sambil memakan mie instan.
Tia menghampiri Anna lalu duduk disamping Anna dan merebahkan kepalanya disandaran sofa.
"Kenapa Ya? tu muka kusut banget kayak cucian yang nggak disetrika" tanya Anna saat melihat eskpresi Tia yang kusut
"Nggak papa Teh mungkin hanya lelah," jawab Tia lesu
Anna melirik Ilham yang kini sudah duduk disampingnya, Anna memberi kode dengan tatapan mata seolah bertanya Tia kenapa karena dia merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan Tia, Ilham hanya mangangkat bahunya menandakan dia tidak tahu.
__ADS_1
"Hiks...hiks..hiks.. huwaaa!!" tangis Tia pecah. Anna dan Ilham seketika menoleh lalu kemudian mereka saling melempar pandang dan kemudian menatap Tia lagi dengan tatapan heran karena Tia tiba-tiba menangis.
"Kenapa?" tanya Anna lembut sambil mengelus pundak Tia dengan perhatian.
Tia menoleh dan menghambur kepelukan Anna. Anna dan Ilham semakin heran dan mereka saling melempar pandangan.
"Hiks...hiks..hiks.. itu kenapa suaminya jahat banget.. hiks...hiks mertuanya juga jahat hiks..masa gara-gara istrinya miskin jadi diperlakukan semena-mena hiks..huwaaa.." Tia berucap sambil terisak pilu
Anna dan Ilham saling pandang lalu sama-sama menatap pada layar televisi yang sama sekali tidak menampilkan alur cerita yang di dijadikan alasan Tia untuk menangis.
Bohong!
Anna dan Ilham hanya diam tidak mau terlalu memaksakan Tia untuk bercerita kalau dia sendiri tidak mau.
Anna masih memeluk Tia dan menepuk pundak Tia dengan lembut sedangkan Ilham hanya diam sambil menyandarkan kepalanya disandaran kursi, sesekali dia menghela nafas berat, sungguh hatinya ikut berdenyut sakit melihat gadis imutnya sedang menangis pilu.
Tia masih terisak pilu, bayangan demi bayangan kebersamaan dirinya dan Dion berputar-putar dalam pikirannya bak film layar lebar yang sedang berputar dibioskop.
Pengakuan cinta Dion, janjinya yang akan meminang Tia dan pernyataan bahwa pertunangannya dengan anak dari guru SMA itu hanya sebuah keterpaksaan masih terekam jelas dalam ingatan Tia, tapi yang terlihat tadi cara Dion memperlakukan tunangannya ketika berboncengan diatas motor nampak tulus dan bukan sebuah keterpaksaan.
Akhirnya ini batasanku, sebuah kisah cinta yang bahkan belum dimulai harus berakhir seperti ini. Terima kasih Tuhan setidaknya ini terjadi hari ini.., batin Tia menangis pilu
Aku harus bangkit, demi diriku dan demi masa depanku, biarlah hati ini sakit hari ini tapi besok hati ini akan baik-baik saja, batin Tia menyemangati diri sendiri.
Tangis Tia akhirnya terhenti saat adzan magrib berkumandang, Tia menarik dirinya dari pelukan Anna dan menatap kedua orang yang dari tadi setia mendengarkan dia menangis dengan tatapan sendu, merasa tidak enak karena telah membuat mereka khawatir dengan tingkahnya.
"Maaf ya Teh, A, Tia suka baper kalau nonton dan suka cengeng juga berasa ikut merasakan hehe," cicit Tia sambil terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebenarnya.
"Nggak papa Ya, udah magrib mending kita bubar buat sholat dulu, baru nanti kita ngobrol lagi," tutur Ilham lembut.
Merekapun akhirnya membubarkan diri untuk melaksanakan sholat magrib, Anna dan Tia memilih sholat dikamar masing-masing sedangkan Ilham sholat di mushola dekat kosan.
Mereka bertiga berkumpul kembali diruang tv setelah melaksanakan sholat, setelah drama yang diciptakan Tia tadi Anna dan Ilham memilih untuk tidak mengungkitnya dan mereka pun hanyut dalam obrolan serta bersenda gurau.
Ddrrttt...drrtt...drrttt...
suara ponsel Tia membuat mereka bertiga terdiam sejenak, Tia merogoh ponselnya yang berada disaku trainingnya dan melihat nama Ayah tertera dilayar ponselnya lalu Tia menggeser tanda hijau dan menerima panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum Ayah."
"........."
"Astagfirullah.. Ibu," ucap Tia bergetar, kini air matanya jatuh dan tidak bisa ia bendung sama seperti drama tadi sore.
Anna dan Ilham yang melihat Tia menangis lagi mulai panik dan khawatir.
"Kenapa lagi Ya?" tanya Anna panik
"I-ibu Teh.. hiks," cicit Tia lirih sambil terisak pilu
Kenapa lagi dia ini? batin Ilham mengerang frustasi
__ADS_1