
setelah mendapatkan perawatan selama satu minggu, hari ini Ilham diperbolehkan pulang oleh dokter. Kondisi fisiknya sudah lebih baik dan sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Tapi tidak dengan kondisi hatinya yang nampaknya masih banyak luka.
Ilham sangat merindukan istri imutnya Tia, gadis imut yang selalu membuat hati Ilham berdebar bila dekat dengannya.
"Kamu istirahat dulu ya Nak," titah Bu Karla setelah membantu Ilham berbaring dengan nyaman di atas ranjang milik Ilham. Ilham dibawa pulang ke kediaman Nugraha supaya tidak terlalu memikirkan Tia.
Ilham hanya mengangguk samar, dia bertekad untuk mengumpulkan tenaga supaya bisa menjemput kembali istrinya.
"Mah..," panggil Ilham saat Bu Karla berada di ambang pintu.
"Iya Sayang." Bu Karla menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Ilham.
"Apa Tia baik-baik saja?" tanya Ilham dengan suara yang masih lemah.
Bu Karla hanya mengangguk dengan senyum tipis. "Istirahatlah!" ucapnya lagi sebelum benar-benar keluar dari kamar Ilham.
Ilham hanya diam melamun, menatap lekat langit-langit kamar. Berbagai fikiran negatif memenuhi kepalanya sekarang. Apakah mertuanya akan mengijinkannya menjemput Tia? apakah Tia masih mau mendampinginya dan berjuang bersama dalam pernikahan ini?
Entah, tapi yang jelas dia sudah bertekad besok akan pergi ke kampung Tia untuk menjemputnya.
*****************
Sementara itu di provinsi yang berbeda, keluarga Gunawan sedang sibuk bebenah dan membersihkan rumah peninggalan kedua orang tua Pak Gunawan yang sudah lama tidak ditinggali.
Mereka semua bahu membahu membersihkan setiap sudut rumah dari debu dan sarang laba-laba.
Rumah peninggalan kedua orang tua Pak Gunawan memang jauh lebih besar dari rumah mereka yang di Bandung, sehingga meski semua anggota keluarga ikut membersihkan masih saja membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Assalamualaikum!" sapaan salam dari luar mampu mengalihkan perhatian semua orang.
"Waalaikumsalam!" jawab mereka serempak.
"Biar ayah yang lihat siapa yang datang," ucap Pak Gunawan yang diangguki oleh bu Nadia istrinya.
Beberapa menit berselang Pak Gunawan masuk kembali bersama seorang perempuan paruh baya dan seorang pria muda.
"Bu, kenalin ini tetangga kita namanya Bu Tinah sama anaknya Dimas," ucap Pak Gunawan memperkenalkan kedua orang yang masuk bersamanya ke dalam rumah.
"Saya Nadia istri Pak Gunawan dan ini anak-anak kami, Tia yang paling besar, lalu Ardi dan Meli yang paling kecil," ucap Bu Nadia memperkenalkan seluruh anggota keluarga pada tamunya.
Mereka pun tampak saling bersalaman dan beramah tamah layaknya orang yang baru kenal.
"Dimas, boleh minta tolong nanti ajak Tia berkeliling supaya lebih tahu daerah sini?" tanya Bu Nadia, Tia hanya diam tampak tidak memperdulikan apapun disekitarnya.
__ADS_1
"Boleh kok Tan, lagi pula kebetulan saya sedang punya waktu luang juga sebelum kembali mengajar," jawab Dimas sopan dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Tia, wajah imut tanpa polesan make up itu mampu mengalihkan dunianya seketika.
Tanpa seorang pun tahu ada ketertarikan di hati Dimas untuk gadis belia bernama Tia.
"Kamu mau jalan-jalan kemana Tia?" tanya Dimas mencoba menarik perhatian Tia yang sejak tadi hanya diam.
"Aku nggak tahu Mas, Mas kan yang lebih tahu, jadi saya ikut saja," jawab Tia ramah dengan senyum tipis.
Hati Dimas berbunga tatkala mendengar Tia memanggilnya dengan panggilan 'Mas' terdengar lebih akrab dan mesra.
Katakanlah Dimas berlebihan, tapi itu yang hatinya rasakan sekarang.
Setelah obrolan ringan yang cukup lama, akhirnya Bu Tinah dan Dimas pamit pulang dan berjanji akan sering berkunjung di kemudian hari.
"Teh...," panggil Bu Nadia pelan saat melihat Tia hanya terduduk diam di kursi ruang tamu. sambil melamun.
"Udah atuh, jangan melamun terus. Teteh masih muda jadi harus punya semangat muda. Songsong hari baru dan kembali ceria," kata Bu Nadia lembut, dia merasa Tia masih saja hanyut dengan permasalahannya dengan Ilham.
"Iya Bu," jawab Tia singkat dengan senyum tipis, ibunya benar bahwa dia harus semangat menyongsong hari baru dan berusaha jadi lebih baik.
Tia menghela nafas dalam berkali-kali berusaha untuk tidak larut kembali dalam lamunan kenangan masa lalunya bersama Ilham yang mungkin sama sekali tidak memikirkannya.
"Ayah sama Ibu sudah bicara, kamu lanjut lagi kuliah ya Teh, biar nggak bosen di rumah terus," kata Bu Nadia lembut, usapan lembut dia berikan pada pucuk kepala Tia.
"Persiapkan segala sesuatunya, tahun ajaran baru Teteh udah bisa daftar kuliah di kampus manapun yang Teteh mau. Nanti ibu minta tolong Dimas untuk antar Teteh cari kampus yang cocok," ucap Bu Nadia lagi dengan tersenyum hangat.
Semenjak Pak Gunawan membuka identitas sebenarnya, dan pertemuannya kembali dengan keluarga angkat serta sahabatnya Pak Nugraha. Keuangan keluarga Gunawan sudah membaik, karena mendapatkan sokongan dana dari keuntungan pengelolaann pabrik NGFood di Bandung.
"Makasih ya Bu," ucap Tia tulus.
"Iya, yang penting Teteh sekarang semangat jangan ngelamun terus," kata Bu Nadia menyemangati.
Tia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
**********
Pagi yang cerah di provinsi yang berbeda, cuaca yang cerah tidak mampu membuat hati Ilham ikut cerah seperti cuaca pagi ini. Hatinya merasa gelisah dan gundah menahan rasa rindu dan bersalah secara berasamaan.
Hati Ilham bergejolak tidak menentu, ada rasa cemas, khawatir serta rindu yang bercampur menjadi satu.
Setelah perdebatan panjang dengan sang papah, akhirnya Ilham diijinkan pergi mengendarai mobilnya sendiri menuju kampung Tia untuk meminta maaf dan menjemputnya kembali pulang ke kota bersamanya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, mobil yang dikendarai oleh Ilham terparkir sempurna di depan halaman rumah Tia, dengan tergesa dia keluar dari dalam mobil lalu sedikit merapihlan kembali penampilannya.
__ADS_1
Hatinya berdebar menahan rasa rindu ingin segera bertemu dengan istrinya Tia.
"Tok...tok...tok.." Ilham mengetuk pintu dengan perlahan sambil menahan gejolak hati yang tidak menentu.
Beberapa saat menunggu tapi tidak ada yang merespon ketukan pintu darinya.
"Assalamualaikum." Ilham mengucap salam untuk mencari respon yang punya rumah.
Masih tidak ada respon apapun dari dalam rumah.
"Tok...tok..tok.., assalamualaikum." Ilham mengetuk pintu dan mengucapkan salam dengan tidak sabar.
Tolong jangan biarkan ketakutannya selama ini menjadi kenyataan.
Ilham berkeliling mengitari rumah Tia yang tampak tertutup tanpa celah, seperti tidak berpenghuni.
Tiba-tiba ada Bi Saroh tetangga Tia menyapa Ilham yang sejak tadi tidak menyerah mengetuk dan mengucap salam.
"Aden cari keluarga Pak Gunawan?" tanya Bi Saroh ramah.
"Iya Bi, saya Ilham menantunya Pak Gunawan, apa Bibi tahu kenapa rumahnya seperti kosong tidak ada orang ya?" tanya Ilham gusar.
"Loh, Aden nggak tahu kalau keluarga Pak Gunawan sudah pindah kembali ke kampung halaman Pak Gunawan yang di Jawa tengah?" ucap Bi Saroh penasaran.
Bagai disambar petir di siang bolong, Hati Ilham sakit, dadanya sesak. Ternyata semua ketakutannya selama ini terjadi. Mertuanya membawa pergi Tia untuk menjauh darinya.
Lalu bagaimana dengan nasib pernikahannya sekarang? bagaimana dengan perasaan rindu dan bersalahnya?
Ya Tuhan, Ilham mendadak tidak bisa berfikir sekarang. Lututnya lemas, pasokan oksigen di dadanya terasa direnggut paksa, tubuh Ilham luruh di tanah. Tanpa dikomandoi air matapun sudah menganak sungai membasahi pipinya.
Sekarang Ilham harus bagaimana?
*********
hilaw aku update, terima kasih yang masih setia menunggu cerita recehku ini..
maaf kalau tidak sesuai ekspektasi dan membuat jenuh.. ceritanya otw ending ya gengs..
jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca..
makasih,,,
salam,
__ADS_1
_AB_