
Seirah keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian kantornya. Pandangannya langsung dia tujukan ke tempat dimana Ryan suaminya masih tidur tadi saat dia masuk ke kamar mandi.
Nampak kasur itu telah kosong. Seirah mengedarkan pandangannya dengan sangat Hati-hati mencari sosok yang membuat dirinya malu setengah mati.
Namun setelah pencarian itu, dia tidak melihat sosok yang dia cari.
"Fiuh... Syukurlah dia sepertinya sudah keluar" ucap Seirah lega.
"Tapi, kemana dia?"
"Apakah dia ke kamar Monica? ah, apa urusanku jika dia kesana toh bagaimana pun mereka masih berstatus suami istri" guman Seirah sembari mendekat ke arah meja riasnya.
Seirah duduk di depan meja riasnya. Saat Seirah sedang memoles wajah cantiknya dengan make up. Betapa terkejutnya Seirah saat melihat sosok laki-laki berbadan tegap tengah berada di belakangnya dan sedang menatapnya.
"Akh" pekik Seirah kaget
"Sejak kapan kamu berdiri disana" ucap Seirah yang langsung membalikkan badannya menghadap laki-laki itu yang tidak lain adalah Ryan.
"Sejak kamu mengucapkan tentang ku dan Monica" ucao Ryan santai dengan sedikit tarikan naik di sudut bibirnya.
blush....
Wajah cantik natural Seirah yang belum tertutup make up sederhana langsung berubah menjadi merah merona karena malu.
Seirah langsung membalikkan tubuhnya menghadap cermin kembali.
Ryan yang melihat dengan jelas ronah merah di wajah Seirah dapat menyimpulkan bahwa wanita cantik yang ada di hadapannya itu tengah malu.
"Kenapa masih disana?" ucap Seirah dengan nada cuek untuk menutupi rasa malu yang menderanya.
"Pengen aja disini" ucap Ryan santai. Dia masih ingin disana untuk memandangi wajah sang istri.
Saat Seirah ke kamar mandi tadi, dia bangun dan menuju ke balkon. Saat dia masuk, dia malah mendengar Seirah berguman dan menjadi topiknya adalah dirinya.
Ryan sangat yakin bahwa Seirah sedang dilanda cemburu saat itu. Ah, dia sangat bahagia mengetahui hal itu.
Dan benar saja, saat melihat rona merah di wajah cantik sang istri. Ryan sangat yakin bahwa Seirah memiliki perasaan yang sama padanya.
__ADS_1
"Mandi sana, ini udah siang. Kamu ngga ke kantor emang" ucapan Seirah berhasil membuat Ryan beranjak dari tempatnya.
Seirah bisa bernafas lega saat Ryan menurutinya masuk ke kamar mandi.
Tapi, sesaat dia kembali kaget karena tiba-tiba kepala Ryan muncul di balik pintu kamar mandi.
"Boleh minta tolong ngga?" ucap Ryan.
"Apa?"
"Tolong siapin baju ku untuk ku pakai ke kantor dong" pinta Ryan dan di angguki oleh Seirah.
Selama kepulangan Ryan di rumah besar ini, Seirah memang belum pernah melakukan kewajibannya sebagai istri terhadap Ryan. Seperti menyiapkan segala kebutuhannya.
Karena selama ini, Seirah selalu berangkat pagi mendahului Ryan.
Tapi, pagi ini karena Seirah kesiangan akhirnya dia melakukan tugas pertamanya untuk menyiapkan keperluan suaminya.
Setelah selesai dengan riasan wajahnya. Seirah masuk kedalam ruang pakaian untuk menyiapkan pakaian kerja Ryan. Lalu, dia turun kebawa untuk memastikan sarapan mereka sudah siap.
Tapi, itu hanya sekedar formalitas sih. Karena Seirah sangat yakin kalau semua itu sudah siap meskipun pagi ini dia tidak ikut memasak.
Seirah sudah menyiapkan alarm dengan mode getaran tepat disampingnya untuk memudahkan dia terbangun. Tapi, sayang tidurnya sangat nyenyak.
Sesampainya di ruang makan, sesuai dugaan Seirah semua sudah siap di meja makan. Tinggal menunggu yang punya rumah untuk menyantapnya.
Para pelayan disana, tidak terkecuali Ibu Ami dan Bi Ratna memandang heran ke arah Seirah. Pasalnya, baru kali ini majikan kesayangan mereka tidak ikut memasak hari ini.
Karena selama ini yang memasak makanan di rumah ini kebanyakan adalah Seirah. Walaupun, dia tidak sempat untuk masak pasti Seirah akan memberikan kabar itu kepada dua orang pelayan kepercayaannya.
Tapi, hari ini Para pelayan di buat bertanya-tanya akan hal itu.
Bahkan bukan hanya itu saja. Ibu Ami dan Bi Mirna yang sangat mengenal Seirah, mereka sangat kaget melihat kondisi wajah Seirah yang nampak beda dari hari-hari biasanya.
Tidur Seirah yang sangat nyenyak tadi malam sangat memberikan efek positif pada diri Seirah dan itu sangat nyata terlihat.
"Selamat pagi nyonya" Sapa Ibu Ami dan Bi Mirna saat Seirah sudah turun dari tangga.
__ADS_1
"Selamat pagi Ibu Ami, Selamat pagi Bi Mirna" Seirah balas menyapa mereka.
"Apakah tidur nyonyq sangat nyenyak, nyonya sangat segar pagi ini" ucap Ibu Ami yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Seirah yang sembari berjalan menuju ke ruang makan tiba-tiba saja menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Ibu Ami.
"Apakah sangat terlihat Bu, Bi" ucap Seirah yang nampak sudah merona.
Kedua pelayan itu sama-sama mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Seirah.
Seirah tersenyum kikuk.
"Bu, Bi aku sangat lapar. Ayo kita sarapan" ucap Seirah mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Silahkan nyonya. Semua susah kami persiapkan" ucao Ibu Ami mengarahkan Seirah ke ruang makan yang biasa Seirah tempati bersama dengan semua pekerja yang ada di rumah besar itu.
Mereka melewati Monica atau Farah palsu yang sudah mengambil tempat di meja makan utama. Monica nampak gusar setiap kali berhadapan dengan Seirah.
Rasa takut selalu menjalar dalam dirinya tatkala melihat Seirah. Ancaman Seirah selalu menari-nari dalam pikirannya. Ditambah lagi saat dia mendapat mandat dari bosnya beberapa hari yang lalu untuk lebih berhati-hati dan waspada kepada Seirah. Karena mereka semua mengira apa yang terjadi kepada Alex Kekasih dari Monica dan juga anak dari Pak Hartono adalah ulah dari Seirah yang marah karena Alex sudah mencelakai Seirah dan Lucas. Seirah bukan orang sembarangan yang bisa mereka lawan. Seirah mendapat penjagaan yang sangat ketat dari Orang-orang Black Devil dan juga dari kekuasaan keluarga Pratama. Karena hal itulah mereka harus berhati-hati kepada Seirah.
Monica diperintahkan untuk fokus kepada tugas awalnya yakni untuk terus memikat Ryan agar Seirah bisa di keluarkan dari keluarga Pratama. Mereka masih sangat percaya bahwa rencana mereka belum diketahui oleh Ryan sehingga mereka masih sangat percaya diri untuk terus menjalankan aksi mereka.
Padahal, seandainya mereka tahu bahwa bukan Ryan yang masuk dalam rencana mereka. Melainkan merekalah yang masuk dalam rencana Ryan. Mereka pasti akan menangis darah jika mereka mengetahui hal itu.
Seirah melirik tajam ke arah Monica yang berhasil membuat wanita itu bergidik ngeri.
"Berhenti" sebuah suara menghentikan langkah Seirah menuju ke ruang makan dimana para pekerja sudah menunggunya disana.
*************
Terima kasih para readers Pelangi di Ujung Senja
**Othor sangat berterima kasih kepada kalian, karena sudi membaca cerita othor. Othor masih pemula dalam hal menulis yah. Jadi mohon di maklumi jika masih banyak typo bertebaran. Dan mungkin kata2 yang berantakan.
Jangan lupa kasi othor saran yah. Jika misalnya ada yang tidak berkenan.
Jangan lupa dukung cerita othor yah. Dengan cara beri Like, Comment dan kasih vote.
__ADS_1
Jangan lupa juga tambahkan cerita** Pelangi di Ujung Senja **di daftar favorit kalian yah.
Salam sayang dari othor 🥰😘😘😘**