
Keesokan harinya Tia dan Ilham pamit pada keluarga Tia untuk pulang ke kota, berhubung besok hari senin dan mereka harus mulai masuk kerja.
"Aku kesel deh Yang, sama Papah," dumel Ilham yang sekarang sedang sibuk mengemudikan mobilnya untuk pulang ke kota. Tia yang duduk disampingnya hanya menoleh heran.
"Kenapa?" tanya Tia polos.
"Iya kita kan pengantin baru, harusnya Papah kasih kita cuti kek, ini mah langsung disuruh masuk kerja, kan jadi bete," rengek Ilham terdengar sangat manja di telinga Tia.
Ini A Ilham kok jadi kayak anak kecil gini ya, manja, gumam Tia dalam hati.
"Ya kita mau cuti juga mau ngapain A?" tanya Tia datar.
Merasa lebih nyaman bekerja dari pada berduaan terus dengan suaminya ini, bukan tidak mau hanya dia masih merasa canggung saja karena belum terlalu lama mengenal suaminya itu.
"Ya kita kan bisa honeymoon atau jalan-jalan gitu Yang, kamu kok kayak yang semangat gitu mau kerja ada yang kamu taksir ya di pabrik?" celoteh Ilham masih dengan nada manja.
Malah nanya yang nggak penting, batin Tia mulai jengah dengan sikap suaminya.
Mungkin karena Tia berasal dari keluarga sederhana, maka dia tumbuh menjadi seseorang yang mandiri dan tidak pernah mengeluh dengan apa yang dimiliki. Makanya dia merasa risih dengan sikap manja suaminya ini yang baru dia tahu.
"Iya nggak gitu A, nanti juga kita bisa jalan-jalan kalau weekend," ucap Tia santai.
"Nggak bisa Yang, weekend ini Aa udah mulai masuk kuliah lagi." Masih merengek manja.
"Oh ya sudah, bisa nanti lagi kan jalan-jalan nya kalau ada waktu luang," jawab Tia datar.
Ilham memberengut kesal mendengar penuturan Tia yang sama sekali tidak mau diajak honeymoon atau jalan-jalan olehnya.
"Kok Aa cemberut?" tanya Tia polos setelah melihat ekspresi yang ditampilkan Ilham.
"Aa kesel sama kamu!" dengus Ilham kesal.
__ADS_1
Nah loh ini malah kayak anak remaja yang lagi merajuk sama pacarnya
Tia menghela nafas berat, berusaha mengalah akan sikap suaminya itu.
"Maaf ya A, Tia nggak tahu kalau pengantin baru itu harus ngapain, lagi pula Tia belum pernah pacaran dan punya hubungan sama laki-laki jadi Tia nggak tahu harus apa, belum lagi Tia baru kenal sama Aa terus langsung dinikahkan jadi Tia masih bingung, maaf ya A," tutur Tia sambil memberanikan diri mengenggam salah satu tangan Ilham yang bebas tidak berada di atas setir mobil.
Hati Ilham menghangat mendengar penuturan Tia, tidak seharusnya dia memaksakan kehendaknya pada Tia, mungkin Tia butuh waktu untuk adaptasi dengan status baru mereka, belum lagi mungkin Tia belum bisa mencintai Ilham seperti Ilham yang sudah mencintai Tia dari semenjak pertama bertemu.
Ilham menautkan jari-jari mereka, lalu menariknya dan mencium tangan Tia penuh kelembutan berusaha menyalurkan perasaan kasih sayang pada istrinya itu.
"Aa minta maaf ya kalau terlalu maksa kamu yang mungkin masih kaget dengan status baru kita, Aa akan nunggu dengan sabar," ucap Ilham sambil tersenyum manis ke arah Tia, Tia hanya membisu mendengar ucapan suaminya itu.
Tadi manjanya kebangetan, sekarang bisa dewasa gitu, udah ah terserah, batin Tia.
**************
Sesampainya di kota, Ilham membawa Tia untuk tinggal sementara di kediaman Nugraha bersama kedua orang tuanya.
"Yuk masuk Yang!" ucap Ilham setelah membuka seatbelt yang membelit badannya, dia membuka pintu lalu keluar mobil, Tia hanya mengekori langkah suaminya itu.
"Assalamualaikum," sapa Ilham pada penghuni rumah saat sudah masuk ke dalam rumah yang tampak sepi itu.
"Waalaikumsalam," jawab bu Karla yang sedang berjalan menghampiri anak dan menantunya itu.
"Baru sampai Ham?" tanya bu Karla setelah berada di depan anak dan menantunya itu.
"Iya Mah," jawab Ilham sambil mencium tangan ibunya dengan takjim. Tia mengikuti Ilham ikut mencium tangan mertuanya itu.
"Ya sudah istirahat saja dulu," titah bu Karla ramah.
"Baik Mah makasih," jawab Ilham sambil menarik tangan Tia untuk mengikuti langkahnya. Tia tersenyum dan sedikit mengangguk ke arah mertuanya itu lalu mengekori langkah suaminya masuk ke dalam kamar pribadi Ilham.
__ADS_1
"Nah ini kamar Aa, dan sekarang jadi kamar kita," ucap Ilham riang setelah berada di sebuah kamar yang luasnya bisa empat kali lipat kamar Tia dikampung.
Kamar bercat dominan abu-abu dan putih itu tampak elegan dan rapih dengan beberapa barang tertata dengan rapih. Sisi lain dari suaminya yang baru Tia tahu, kalau suaminya itu orang yang rapih dan bersih tidak berantakan seperti pria kebanyakan.
"Kamu istirahat ya," ucap Ilham menuntun Tia untuk duduk di pinggir ranjang.
"Apa sudah lapar lagi hum?" tanya Ilham lembut sambil terus mengenggam tangan Tia.
"Enggak A, masih kenyang," jawab Tia singkat.
"Ya sudah, istirahat yuk!" ajak Ilham yang sudah berbaring diranjangnya.
Dengan canggung dan ragu Tia ikut merebahkan tubuhnya disamping suaminya itu. Mungkin karena kelelahan setelah mengemudikan mobil berjam-jam membuat Ilham langsung tertidur disamping Tia.
Tapi tidak dengan Tia yang masih mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar Ilham, lalu memperhatikan wajah suaminya dengan seksama.
Tiba-tiba ada perasaan aneh yang masuk ke dalam hati Tia, Tia merasa dirinya jauh berbeda dengan suaminya itu. Tia merasa tidak pantas jadi pendamping dari pria yang sedang tertidur pulas itu, harusnya Ilham bisa mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dari dirinya, pikir Tia.
Pantaskah aku mendampingimu A, pria baik dan sesempurna Aa yang berpendidikan, tampan dan memiliki harta. sementara aku hanya seorang gadis kampung biasa, batin Tia tiba-tiba merasa rendah diri dibandingkan dengan suaminya itu.
********
Doakan semoga author amatiran ini bisa up rutin cerita ini😄
Terima kasih buat kakak-kakak readers yang mau membaca dan mengikuti karya recehku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak like,komen, rate dan vote ya biar aku semakin semangat buat up lagi.
Makasih...
Salam hangat,
_AB_
__ADS_1