Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
17. Selalu Seperti Ini


__ADS_3

Setelah kedatangan Ilham akhirnya Bude,Pak Haryo dan Tia pergi meninggalkan klinik dan kembali ke rumah kosan nya Bude Haryo.


Ilham tampak khawatir dan panik sudah 30 menit dia berada di ruangan rawat inap untuk menjaga Anna sahabatnya, tapi selama itupun Anna masih belum sadarkan diri yang membuat Ilham duduk dengan gelisah.


Diraihnya tangan Anna lalu dia genggam dengan lembut.


"Sadar yuk An! kamu nggak cocok cuma tiduran aja, mending kamu cerewet aja kayak kemaren-kemaren, aku kangen banget sama omelan recehmu," gumam Ilham lirih sambil menatap lekat wajah sahabatnya yang terlihat pucat.


Perlahan mata Anna mengerjap berusaha membuka mata dengan sempurna, dan digerakkan tangan kanannya lalu dia pegang pelipisnya yang dia rasak sedikit berdenyut nyeri, Anna mengernyitkan keningnya dan berusaha memfokuskan penglihatannya pada sosok disampingnya yang sedang menggenggam tangan kirinya yang sedang tertanjap jarum infuls.


"Ham, ngapain lo disini?" tanya Anna dengan suara yang lemah dan lirih.


"Kamu udah sadar An? alhamdulillah!" seru Ilham lega mendapati sahabatnya itu telah sadar.


"Emang gue kenapa?" ucapnya bingung sambil mengedarkan penglihatannya ke penjuru ruangan.


"Kamu tadi pingsan di kosan, badan kamu demam, jd tadi bude sama suaminya bawa kamu ke klinik ini," jawab Ilham lembut tanpa melepaskan tangan Anna yang sedang ia genggam.


"Kamu kenapa bisa kayak gini An?" lanjutnya lagi.


"Cewek tangguh kok bisa juga tumbang," sindir Ilham sambil sedikit terkekeh pelan.


"Gue juga masih manusia kalau lo lupa," sahut Anna mencebik kesal.


"Lagi sakit masih aja jutek,"ucap Ilham masih terkekeh melihat sikap Anna yang malah menggemaskan menurutnya.


"Ceh.. ngomong sih ngomong tp tangan gue lepasin napa, pegel tau di pegang kayak gitu mulu," tutur Anna kesal yang meminta Ilham melepaskan genggaman tangannya.


"Ehh... maaf An, aku khawatir tadi sama kamu takut kamu nggak bisa bangun lagi," tutur Ilham sambil melepaskan genggaman tangannya lalu menampilkan senyumnya.

__ADS_1


"Sialan lo, ngarepin gue nggak bangun lagi," ucap Anna masih kesal


"Udah istirahat aja, ada aku yang jagain kamu disini kok," tutur Ilham lembut sambil menatap lembut pada sahabatnya itu.


'aku', 'kamu', tumben bener ni anak lembut ke gue?. batin Anna heran melihat sikap Ilham.


"Gue mau pulang aja ke kosan Ham, gue udah nggak papa," ucap Anna sambil berusaha duduk.


"Yakin udah nggak papa?" tanya Ilham khawatir.


"Aku panggil dokter sebentar ya," lanjutnya lagi sambil berlalu pergi keluar ruangan.


"Gimana sudah enakan badannya?" tanya dokter pria paruh baya berbadan tambun yang datang menghampiri Anna sambil tersenyum lalu memeriksa cairan infuls Anna.


"Udah enakan kok Dok," jawab Anna tersenyum sungkan. dokter hanya mengangguk dan tersenyum.


"Yuk pulang!" ajak Ilham sambil membantu Anna untuk berdiri.


"Sebentar," ucap Anna sambil mengangkat tangannya yang masih tertancap jarum infuls. Ilham menepuk keningnya pelan dan terkekeh pelan.


"Aku panggilin suster sekalian aku urus administrasinya."


"oke," ucap Anna sambil menyatukan jari telunjuknya dengan ibu jarinya membentuk sebuah lingkaran.


Sekitar 30 menit Anna dan Ilham sudah sampai dikosannya Anna, karena malam sudah semakin larut jadi Ilham hanya bisa mengantar Anna sampai gerbang kosannya saja karena mereka tidak mau melanggar aturan malam dari pemilik kosan.


"Ann.." panggil Ilham lirih saat sampai di depan gerbang kosan Anna, Anna menoleh dan menaikkan satu alisnya seolah bertanya kenapa Ilham memanggilnya. Hening beberapa saat diantara keduanya.


"Jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah, klo tante Paula tahu kondisi kamu tadi pasti dia langsung datang kemari," lanjut Ilham memecah keheningan diantara keduanya

__ADS_1


"Jangan bilang apapun sama Mami,Ham," ucap Anna pelan tapi bernada ancaman. Ilham hanya menganggukan kepalanya pelan.


"Marko.." ucap Ilham pelan menggantung


"Jangan sebut nama laki-laki itu!" potong Anna dengan setengah berteriak dan melayangkan tatapan tajam pada Ilham. seketika Ilham mengunci rapat bibirnya untuk tak melanjutkan kalimat yang sudah tercekat ditenggorokkannya.


"Ya sudah istirahatlah, jaga kesehatan dan aku permisi pulang," tutur Ilham lembut. Anna hanya mengangguk dan berlalu masuk lalu mengunci kembali pintu gerbang kosannya. Setelah Anna sudah tidak terlihat dari jangkauan pandangannya Ilham segera melajukan motor maticnya bergegas pulang mengingat malam semakin larut.


*******


disebuah kamar kos yang luasnya hanya enam kali empat meter seorang gadis sedang berbaring menatap lekat langit-langit kamarnya, pikirannya melayang jauh entah kemana, hatinya? ah entahlah apa yang hatinya rasakan sekarang. Berkali-kali dia menghirup napas dalam dan membuangnya perlahan begitu sampai berkali-kali, dia berusaha untuk sedikit menetralkan kembali rasa sesak yang tiba-tiba datang setelah seseorang mwngirimkan pesan melalui ponselnya.


"*Tia, apa kabar?"


"eh aku ganggu nggak ya?"


"ini aku Nadia"


"eh nggak maksud apa-apa sih cuma mau bilang katanya Dion baru jadian ya sama adik tingkat kita yang jadi ketua osis tahun ini, ituloh yang anaknya Pak Hakim guru Biologi, inget nggak?"


"berita itu bener nggak sih Ya*?"


begitulah isi pesan yang masuk dari salah satu teman sekelas Tia yang bisa dibilang ratu gosip dan paling kepo seangkatannya dulu dimasa SMA, lalu kenapa dia sangat peduli dengan kisah percintaan Dion? jawabannya karena dulu dia juga sangat mendamba Dion dan pernah menyatakan perasaannya ke Dion hanya saja dia ditolak, makanya sampai hari ini dia selalu ingin tahu tentang kisah percintaan Dion ya meski harus bertanya lewat Tia.


Aku pikir kamu serius dengan ucapan kamu ke aku Yon, ternyata hati aku kamu buat patah lagi dan lagi, bahkan belum ada sebulan Yon kamu bilang cinta dan mau serius ke aku. batin Tia meringis merasakan sakit yang teramat perih bukan karena Dion punya pacar baru tapi karena Tia membiarkan hatinya percaya akan ucapan Dion yang akan tulus dengan perasaannya ke Tia.


"Aku harus sadar aku siapa dan Dion siapa, heyy hati sadar dong," ucap Tia lirih sambil beberapa kali memukul pelan dadanya yang terasa sesak. Air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya kini sudah jatuh dan menganak sungai di pipi Tia..


"Kenapa selalu seperti ini?" Lanjutnya lagi sambil terisak.

__ADS_1


__ADS_2