
Di sudut kampung yang masih asri dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota seorang gadis sedang duduk termenung diatas ranjangnya, dia duduk dengan melipat lututnya dan menyandarkan dagunya diantara kedua lututnya itu.
Tia menghela nafas berat beberapa kali dia mencoba mengerti dan memahami situasi yang sedang terjadi, begitu banyak kejutan yang dia alami hari ini dari mulai kenyataan tentang masa lalu sang ayah, rencana pernikahannya yang mendadak serta kenyataan yang ternyata dia dilamar oleh Ilham yang ternyata juga merupakan anak dari pimpinan tertinggi ditempat dia bekerja.
Entah perasaan apa yang menghinggapi hatinya saat ini ada kebahagiaankah?ada kesedihankah?dia sendiri tidak mengerti yang jelas dia terkejut ya dia hanya terkejut, keterkejutannya membuat dia tidak sadarkan diri satu jam yang lalu didepan pemuda dan keluarga yang melamarnya.
"Makan dulu Nak," ucap bu Nadia lembut yang kini sudah duduk disamping Tia.
Tia mengangkat wajahnya dan melihat senyum sang ibu yang begitu menenangkan lalu mengangguk pelan menyetujui ajakan sang ibu.
Keduanya keluar dari kamar Tia dan menuju meja makan sederhana yang berada di rumah mereka.
Seluruh anggota keluarga makan dengan senyap, ya hanya anggota keluarga Gunawan saja yang ada disana karena keluarga pak Nugraha sudah pamit pulang dari setengah jam yang lalu.
"Ayah tidak akan memaksamu untuk menikah kalau kau tidak menginginkannya Nak," ucap pak Gunawan setelah menyelesaikan kunyahan terakhir makan malamnya
"Ibu juga tidak mau Tia tertekan dengan pernikahan ini," tutur bu Nadia menimpali perkataan suaminya
Tia menghela nafas berat lalu mengangkat wajahnya untuk melihat wajah ayah dan ibunya secara bergantian
"Tia mau menikah kok yah, maaf tadi Tia hanya terkejut melihat pak Nugraha dan A Ilham saja," ucap Tia meyakinkan
"Tia hanya merasa terkejut itu saja" ucapnya lagi
"Kamu yakin Neng?" tanya ibu
"Iya bu, bismillah Tia niatkan ibadah," ucap Tia sambil tersenyum kepada kedua orang tuanya, ayah dan ibunya tampak tersenyum bahagia mendengar penuturan putri sulungnya tersebut, bu Nadia pun sudah tidak menentang pernikahan ini karena mengetahui perangai calon menantunya yang santun dan sopan serta berasal dari keluarga yang ramah dan baik.
"Tia pamit ke kamar" ucap Tia bangkit dari duduknya yang dijawab anggukan oleh kedua orang tuanya.
********
Di kediaman Nugraha seorang pemuda sedang berjalan mondar mandir sambil mengenggam erat ponsel nya kepanikan masih menghiasi wajahnya, dia cemas dengan keadaan sang pujaan hati yang pingsan setelah menerima lamaran darinya.
Apa Tia tertekan dalam perjodohan ini?
Dia melangkahkan kakinya menuju sebuah cermin yang berada di dalam kamarnya, dia memperhatikan pantulan dirinya dalam cermin dengan seksama lalu sesekali memutar badannya.
"Aku nggak jelek kok malah ganteng, kok Tia sampe pingsan sih gara-gara lihat calon suaminya itu aku," gumam ilham pada pantulan dirinya dalam cermin yang ada dihadapannya, saat sedang asyik dengan kegiatannya tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dan terlihat pak Nugraha sedang berkacak pinggang disana
"Ngapain? kayak anak perawan aja, jangan lama-lama ngacanya nanti kacanya bisa retak atau pecah!" ucap pak Nugraha dengan nada mengejek sambil masuk dan duduk ditepi ranjang milik anaknya itu.
Ilham merotasikan bola matanya jengah, dia berdecih sungguh papa nya ini luar biasa sekarang dia semakin yakin kalau dia bukan anak kandung dari papanya ini mengingat papanya sama sekali tidak simpati dengan keadaan yang menimpa dirinya sekarang.
"Nggak usah liatin papah gitu deh, durhaka kamu entar"
"Huhmmm..." Ilham menghela nafas berat dan menghampiri sang papa lalu duduk disampingnya
"Seminggu lagi acara ijab qabulnya, persiapkan diri baik-baik!"
"Hah? apa nggak kecepetan Pah?"
__ADS_1
"Kalau lama-lama takutnya Tia berubah pikiran, terus anak papah yang ganteng ini depresi gara-gara batal nikah," ucap pak Nugraha enteng yang mampu membuat Ilham menggeram menahan kesal dan melayangkan tatapan tajam ke arahnya
"Pah, doain anak itu yang baik-baik Pah,"ucap Ilham sambil mengeratkan giginya menahan kesal
"Udah kamu tidur! besok harus kerja, inget bentar lagi punya istri yang harus dinafkahi, jangan males!" ucap pak Nugraha sambil bangkit dan menepuk pelan pundak anaknya lalu keluar dari kamar anaknya itu.
Ah.. seminggu lagi? aku sudah tidak sabar menghalalkanmu Tia-ku
Ilham merasa ada banyak bunga indah bertebaran memenuhi rongga hatinya mengingat seminggu lagi dia akan mempersunting sang pujaan hati, dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang lalu berguling kesana kemari persis seperti anak kecil yang kegirangan mendapatkan mainan baru
Ah.. Tia-ku
********
Seminggu telah berlalu...
Kini hari yang dinanti oleh Ilham pun tiba dari sehabis subuh Ilham sudah bersiap menggunakan pakaian formal berjas putih lengkap dengan peci putih yang senada dengan celana dan bajunya, dari satu jam yang lalu dia sudah tampak gelisah menghapalkan kata-kata ijab qabulnya di depan cermin, sesekali dia duduk lalu berdiri lagi, hum entahlah perasaannya tegang melebihi akan menghadapi sidang skripsi.
"Hey boy, kenapa mukanya gitu?" ucap pak nugraha dengan nada mengejek dari balik pintu kamar Ilham sambil terkekeh merasa geli dengan ekspresi wajah Ilham sekarang
"Ya ampun Pah, segala ekspresi Ilham dikomentarin," ucap Ilham mendelik kesal pada sang papah
Ugh.. papah ini sesuatu sekali!
"Sudah jangan digangguin terus anaknya pah! yuk sayang kita berangkat!" ucap bu Karla yang sudah berada dibelakang pak Nugraha, bu Karla menghampiri Ilham lalu mengapit lengan Ilham mengajaknya keluar dari kamar untuk bersiap pergi menuju tempat akad nikah yang akan diadakan di rumah Gunawan.
Sementara itu dirumah Gunawan sudah tampak beberapa kerabat yang hilir mudik yang sibuk mempersiapkan acara akad nikah, rona bahagia tampak menghiasi wajah-wajah mereka seolah ikut merasakan kebahagiaan kedua mempelai yang akan mengikat janji sucinya hari ini.
Tia tampak cantik dan anggun dengan kebaya putih sederhana yang melekat di tubuhnya lengkap dengan kain berlatar warna hitam yang digunakan sebagai bawahannya, polesan make up sederhana yang membuat dia terlihat bersinar dengan hijab yang dibalut sederhana lengkap dengan sedikit hiasan bunga melati diatasnya tak luput menjadi peran pelengkap yang menjadikan Tia terlihat cantik hari ini, sungguh berbanding terbalik dengan air muka yang ditunjukkannya murung tanpa rona kebahagiaan.
"Neng.. meuni geulis pisan (cantik sekali) anak ibu" ucap ibu takjub sambil memegang pundak Tia dari belakang memandang pantulan wajah anaknya di cermin, Tia hanya tersenyum menanggapi perkataan ibunya
"Rombongan mempelai laki-laki nya udah datang, tunggu disini saja sampai akad selesai baru Tia keluar ya," titah ibu lembut, Tia mengangguk samar tanda mengerti
"Ya sudah ibu keluar dulu," ucap ibu lagi sambil berlalu keluar kamar Tia
Beberapa menit berselang...
"Saya terima nikah dan kawinnya Mutia Gunawan Binti Gunawan dengan mas kawin......"
"Sah?"
"Sah.."
Sayup-sayup terdengar suara ijab qabul dari luar kamar berhasil ditangkap oleh pendengaran Tia, satu bulir cairan bening lolos dari ujung pelupuk mata Tia
Aku sudah jadi istri A Ilham..
Ada sedikit rasa sesak di dadanya, entahlah apa karena belum ada cinta dihatinya untuk Ilham? atau karena hal lain? yang jelas dia harus bahagia lebih tepatnya memaksakan bahagia atas pernikahan ini, dia harus menerima pernikahan ini dengan ikhlas dan hati yang lapang
Ini sudah jalan takdirku..
__ADS_1
"Ayo keluar Neng!" titah ibu yang sudah berada diambang pintu kamar.
Perlahan Tia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri ibunya, ibunya mengapit lengan Tia lalu menuntunnya keluar kamar dan menghampiri Ilham yang sudah berada di ruang tengah dengan beberapa orang tamu dan keluarga.
Senyum Ilham terbit dengan sangat manisnya melihat kedatangan Tia yang sekarang sudah menjadi istri sahnya, matanya tidak mau beralih dari sang pujaan hati, hati Ilham berdesir melihat betapa cantik istrinya itu hari ini
Cantik.. bahkan sangat cantik
Ilham mengulurkan tangannya ke arah Tia yang disambut malu-malu oleh Tia, Tia tersenyum canggung ke arah Ilham yang sedari tadi hanya tersenyum kearah Tia, mereka duduk berdampingan didepan penghulu lalu mereka menandatangani berkas-berkas pernikahan
"Silahkan Neng Tia dicium tangan suaminya!" titah pak penghulu.
Tia menurut diraihnya tangan Ilham dan diciumnya punggung tangan Ilham penuh takjim dengan sedikit membungkukkan badan, saat Tia bangkit tanpa aba-aba Ilham mengecup kening Tia yang berhasil membuat tubuh Tia menegang kaku, melihat adegan pengantin baru itu seisi ruangan riuh bersorak dan bertepuk tangan dibumbui juga dengan sorakan-sorakan bernada ledekan
"Wah tanpa disuruh pun langsung nyosor..hahaha," celetuk salah satu orang yang ada di ruangan itu, Ilham hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya sedangkan Tia hanya menunduk malu pipinya sudah bersemu merah karena menahan malu.
Grep..
Ilham menggenggam tangan Tia lalu menuntunnya duduk di kursi pelaminan, lagi-lagi Tia hanya diam merasa canggung dengan tindakan pemuda yang sudah jadi suaminya itu
"Nggak usah malu kita kan udah sah," bisik Ilham di telinga Tia sambil sedikit membungkuk karena tubuh Tia lebih pendek darinya, bisikkan itu membuat degub jantung Tia tidak karuan Tia merasa jantungnya seperti akan keluar dari peraduannya
Setelah acara akad nikah selesai dilanjutkan dengan acara resepsi sederhana yang hanya dihadiri kerabat terdekat, tetangga dan beberapa teman Tia yang masih berada satu kampung saja.
Kedua mempelai menyalami semua tamu yang datang dan sesekali berfoto dengan keluarga, kerabat dan para tamu, senyum tidak pernah luntur dari wajah Ilham, berbeda dengan Tia yang hanya tersenyum tipis sesekali saja.
Hari sudah semakin siang dan mendekati waktu dzuhur para tamu pun sudah pada pulang tinggal kerabat dan keluarga saja yang masih hilir mudik
Grep..
Lagi-lagi Ilham mengenggam tangan Tia hingga Tia menoleh kearah Ilham, kedua pandangan mereka beradu, Tia dapat melihat sorot mata bahagia dan senyum yang tidak pernah luntur dari wajah suaminya sejak selesai ijab qabul tadi.
Tia menatap lekat netra mata suaminya itu begitupun Ilham dia menatap lekat bola mata indah milik istrinya, keduanya saling menyelami perasaan masing-masing tanpa berkata-kata, beberapa menit keduanya hanya terpaku saling melempar pandangan
"Tia..!" teriak seseorang dari ambang pintu yang mampu mengalihkan perhatian kedua pengantin baru itu untuk menoleh ke sumber suara
"Kenapa kamu menikah?" tanya orang itu dengan nada bergetar seperti menahan tangis, dadanya naik turun seperti menahan kekesalan dan amarah, mendengar pertanyaan itu hati Tia sesak seolah pasokan oksigen diparu-paru nya direnggut secara paksa, mata Tia memanas dan matanya mengkilat seketika itu satu bulir bening lolos meluncur di pipinya.
Kenapa hati ini sakit Tuhan..?
bersambung
*********
terima kasih kepada para kakak-kakak readers yang masih setia dengan cerita ini, insya alloh kedepannya akan rutin up date 2 hari sekali.
Jangan lupa tinggalkan jejak LIKE,COMMENT, RATE dan VOTE ya setelah baca cerita ini..
makasih... ❤❤❤❤
salam hangat..
__ADS_1
_AB_