
Menjelang tengah malam Bulan masih berkutat di depan laptopnya, mengetik surat pengunduran diri. Tiba-tiba ia merasa yakin untuk keluar dari zona nyaman. Zona yang beberapa tahun terakhir menjadi sandaran hidupnya. Pekerjaan yang telah memberikan warna, menambahkan kepingan puzzle melengkapinya sebagian karena sebagian lagi harus dia temukan pada kisah selanjutnya. beberapa kejadian tidak menyenangkan ditambah dukungan dari ayah tercintanya, semakin membuat dirinya yakin.
Membuat keputusan demi langkah berikutnya. Mengorbankan satu hal demi hal lain yang ingin dicapai. Berharap kebaikan dalam setiap langkah yang dituju. Restu orangtua yang utama.
Wajah teman-teman seperjuangannya muncul bergantian, bos galak, bos besar, suasana kantor dan yang terakhir adalah wajah sang ayah. Bulan tersenyum mencetak surat yang baru saja dibuatnya, memasukkan ke dalam amplop seraya mengucapkan doa keberkahan.
-------------------
Ritual sarapan diwarnai nyanyian kanjeng ratu, delapan oktaf seperti biasa. Kali ini adik bungsuku yang menjadikan alasan nyanyian indah wanita cantik itu. Aku melirik sekilas Arka yang masih sibuk mengancingkan seragam sekolahnya. Aku menangkap sesuatu yang aneh pada celana biru tua milik adiku yang tengil itu. Entah apa nama modelnya tapi menurutku aneh.
'Ibu capek ya bolak balik dipanggil ke sekolah karena ulahmu'
'Uwuuu bundaku yang cantik jelita...sepertinya bapak kepala sekolah naksir sama bundaku yang aduhai ini'
Tak ayal Arka mendapat lirikan tajam dari ayah. Lelaki itu cemburu. Memang Arka kelewatan nakal. Dia senang sekali menjahili temannya, juga kanjeng ratu yang terkenal galak. Dia belum lega kalau belum membuat kanjeng ratu menaikkan suara. Dan akan semakin puas ketika bisa berbalasan menambah murka wanita yang telah susah payah melahirkannya ke dunia ini. Namanya Arka, hanya dia yg memiliki nama bukan dari keluarga galaxi, adiku yang kedua bernama Bintang. Bulan, Bintang, seharusnya nama Arka adalah matahari yang selalu membuat panas hati.
Kanjeng ratu seringkali mendapat ceramah dari guru BK di sekolah Arka. Tingkah konyolnya seringkali membuat guru murka. Dia tidak benar-benar nakal, dia hanya jahil. Senang usil. Dia tidak merokok, apalagi mabuk. Dia sangat terkenal seantero jagat SMP Tunas Muda. Tapi tidak ada satupun anak perempuan yang tertarik dengannya karena sering menjadi korban kejahilan. Pernah suatu ketika aku mewakili kanjeng ratu menghadap guru BK. Masalahmya sepele tapi menyebalkan. Arka menaruh kadal yang dibelinya di depan SD di tas salah seorang teman perempuannya. Sialnya perempuan itu adalah perempuan yang ditaksirnya. Dia salah sasaran.
'Ayah, Ibu, adik-adikku, doakan hari ini Bulan menyampaikan surat pengunduran diri di tempat kerja. Semoga keputusan ini menjadi yang terbaik untuk Bulan dan juga keluarga kita'
Aku menyela keributan ibu-anak itu. Seketika semua terdiam mencerna ucapanku. Ayah tersenyum hangat.
'Ayah doakan yang terbaik untuk semua anak-anak ayah baik yang nakal maupun yang penurut. Bagaimanapun sikap kalian ayah tetap sayang. Jadilah manusia yang berguna'
----------------------
Aku berangkat ke kantor diantar Bintang, adiku yang kedua. Sekolahnya searah dengan tempat kerjaku. Selain hemat aku juga bisa datang lebih pagi agar tidak terlambat. Terlambat satu menit gaji dipotong dan lagi aku harus mempersiapkan diri mengirim surat pengunduran diriku. Sepanjang perjalanan aku memikirkan alasan yang tepat agar suratku lekas disetujui. Aku memilih pagi-pagi agar teman-temanku tidak heboh dan lagi bu sandra pasti sudah datang. Bos galak itu sangat rajin, dia tidak pernah terlambat.
Ketika melewati ruangan bu sandra aku sedikit menoleh mencari keberadaannya, kosong. Tumben belum datang. Beberapa langkah kemudian aku mendengar bu sandra menyebut namaku.
__ADS_1
'Ada apa Bulan? Apa sepagi ini kamu sudah akan meminta pekerjaanmu?'
'Ti...tidak bu saya ada sedikit keperluan dengan ibu' aku berusaha menormalkan jantungku meskipun tidak sepenuhnya bisa menyembunyikan keterkejutanku.
'Masuklah'
Aku duduk di hadapan bu sandra, menahan getaran tanganku menyerahkan amplop surat pengunduran diriku.
'Apa ini?'
'Begini bu, sebelumnya saya minta maaf, bisa bergabung di perusahaan ini merupakan anugrah bagi saya namun ada sesuatu hal yang ingin saya perjuangkan dan saya harus memilih'
Bu sandra membuka amplop, membacanya perlahan, berulang-ulang.
'Kamu masih punya waktu satu bulan sampai surat permohonanmu disetujui pimpinan. Meskipun sejujurnya saya ingin kamu tetap disini'
-------
Gawaiku bergetar, pesan masuk dari kak Arlan yang berniat mengajakku makan siang. Tidak, bukan mengajak tapi memaksa. Dia bilang sudah ada di restoran depan kantorku. Si tukang perintah itu semakin hari semakin menyebalkan.
Dengan malas aku melangkahkan kaki menuju restoran yang dimaksud kak Arlan. Dia sangat tampan berbalut pakaian formal. Dia sedang tersenyum ke arahku ketika aku menarik kursi di hadapannya.
'Neng, senyum dikit kek abang jauh-jauh datang masa dicemberutin'
'Kak Arlan ngapain kesini?'
'Mau makan lah, laper. Tapi ga enak kalau ga ada kamunya'
'Lebay kak'
__ADS_1
'Mau makan apa?'
'Kak Arlan aja yang pesan aku pemakan segala'
'Uuuuh waooow mau dong dimakan'
'Ga lucu kak'
'Iya emang ga lucu karena yang lucu itu kamu, seneng bersumgut-sungut kayak anak marmut. Tapi uwu siiih'
Di tengah perdebatan pelayan membawakan pesanan kami. Selalu saja aku dibuat terkejut oleh lelaki aneh didepanku ini. Dia memsankan makanan yang kusuka, tidak terlalu pedas.
Kami makan tanpa bersuara. Hanya kakinya yang usil menendang-nendang kakiku. Aku berusaha mengacuhkannya. Kalau melihat tingkah lelaki itu aku jadi ingat Arka. Semenyebalkan itu memang dekat dengan orang jahil, selalu menajdi korban kejahilan. Kata Arka biar cewek-cewek rindu, tidak bisa melupakan kenangan bersamanya.
'Neng, jangan nunduk terus nanti ngiler. Nanti sore aku jemput. Jam berapa kamu pulang?'
'Eh tidak usah'
'Jangan membantah. Dosa membantah calon suami'
'Dosa membantah suami, bukan calon suami. Kabari kalau sudah mau pulang'
---------------------
Kami sibuk menyiapkan acara ulang tahun perusahaan. Pak Ronald memberi pesan acaranya harus meriah karena ini ulang tahun emas perusahaan. Usia emas seharusnya melambangkan kemapanan, kebijaksanaan.
Pak Ronald tidak ingin membuat malu karena acara nantinya akan dihadiri kerabat dan rekan bisnisnya. Meskipun bukan perusahaan raksasa namun kehadirannya mampu menjadi pesaing ketat perusahaan besar. Perusahaan keluarga yang sudah turun temurun tidak tergoyahkan oleh perubahan jaman.
Aku tidak terllau banyak terlibat karena hanya bertugas sebagai seksi dokumentasi. Sibuknya nanti, ketika orang lain sibuk menikmati acara, aku sibuk mengabadikan momen istimewa tersebut. Aku tidak terlalu suka keramaian. Aku lebih senang bersembunyi di balik layar, tidak ada yang memperhatikan. Di saat orang lain sibuk menyusun acara, aku hanya perlu mengelus kamera. Mendengarkan teman-temanku berdebat. Sekian lama masih belum juga mendapatkan kata sepakat. Ahh sudahlah lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku saja.
__ADS_1