Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
51. Maaf


__ADS_3

Dahi Ilham berkerut, menatap pemuda itu dengan sengit. Apa semudah itu posisinya tergantikan? Ilham menatap Tia yang kini juga sedang menatapnya.


"Dia... siapa Tia?" tanya Ilham pelan sambil menahan gejolak amarah di dadanya yang terasa menyesakkan.


"Di-dia..." Mendadak lidah Tia menjadi kelu, otaknya seakan tidak bisa bekerja. Ada apa dengan dirinya?


Benarkah Dimas mempunyai posisi penting di hatinya sekarang? Tia tidak menemukan jawabannya, sulit sekali.


Apakah bisa semudah itu hatinya berpindah? atau hanya perasaan nyaman karena Dimas hadir membalut luka Tia yang sedang menganga?


Setelah ketegangan di depan pintu masuk rumah, akhirnya Ilham dipersilahkan masuk ke dalam rumah, semua orang duduk di kursi sofa di ruang tamu. Pak Gunawan duduk di kursi sofa panjang bersebelahan dengan istrinya, Tia duduk di kursi sofa panjang lainnya bersebelahan dengan Dimas, sedangkan Ilham duduk di sofa tunggal. Sementara itu Ardi dan Meli sudah diminta masuk kamar dan tidak boleh mendengar percakapan orang dewasa.


Ilham menatap sengit Dimas, haruskah pemuda itu masih disini? tidak tahu diri sekali dia, begitu fikir Ilham.


"Jadi maksud Nak Ilham kesini apa?" tanya Pak Gunawan memecah keheningan yang terbentang diantara mereka sejak lima belas menit yang lalu.


"Mohon maaf sebelumnya Ayah, Ibu, tapi apa boleh kita bahas ini hanya dengan anggota keluarga saja," sindir Ilham sambil melirik Dimas.


Ayah? Ibu? keluarga? batin Dimas.


Ibu Nadia yang mengerti maksud Ilham langsung melempar pandangan pada Dimas seraya tersenyum.


"Nak Dimas, makasih sudah bantu Tia hari ini buat lihat-lihat kampus, tapi mohon maaf sekali kami ada masalah keluarga yang ingin diselesaikan. Kalau.. Nak Dimas tidak keberatan-" ucap Bu Nadia hati-hati.


Dimas yang tahu diri mengangguk pelan, senyum tipis mengulas di bibirnya.


"Tidak usah sungkan tante, saya senang bantu Tia. Saya Pamit Om,Tante, Tia," ucap Dimas seraya bangkit berdiri lalu menganggukkan kepalanya pelan ke arah Ilham. Dimas melangkahkan kakinya keluar rumah seraya mengucapkan salam.


"Ekhemm.." Pak Gunawan berdehem untuk menyadarkan Ilham yang hanya diam menatap Tia.


"Eh.., Maaf Ayah, Ibu, Ilham datang kesini sebenarnya mau minta maaf yang sebesar-besarnya atas sikap Ilham yang tidak bertanggung jawab pada Tia." Ilham menjeda kalimatnya seraya melirik ke arah Tia yang masih diam menunduk.


"Maaf.. karena Ilham sudah lalai dari kepercayaan Ayah dan Ibu yang menitipkan Tia pada Ilham," sesal Ilham.


"Maaf.. sebenarnya Ilham malu untuk datang ke sini tapi Ilham ingin semuanya jelas.. terutama hubungan pernikahan Ilham dan Tia." Ilham mengucapkannya sambil tertunduk malu.


"Pernikahan kamu dan Tia?" tanya Pak Gunawan dengan satu halis terangkat.


Ilham menelan salivannya dengan susah payah, lalu mengangguk pelan.


"Apa selama ini kamu menganggap Tia istrimu?" tanya Pak Gunawan dingin.


Ilham semakin gugup mendengar nada bicara mertuanya, tangannya dingin dan berkeringat. dahinya mulai dipenuhi peluh. Sesekali Ilham seka peluh yang ada di dahinya dengan punggung tangannya.


"Maaf Ayah," akhirnya hanya itu yang bisa Ilham ucapkan.


"Apa kamu-" ucapan Pak Gunawan menggantung saat mendapat usapan lembut di lengannya yang diberikan oleh istrinya.

__ADS_1


Pak Gunawan menoleh ke arah Ibu Nadia yang menggeleng pelan padanya sebagai isyarat untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


Pak Gunawan menghembuskan napas kasar seraya memalingkan wajahnya kesal.


"Ilham..," panggil Bu Nadia dengan lembut, Ilham mendongakan kepalanya yang sejak tadi menunduk.


"i-iya Bu," jawab Ilham singkat.


"Ayah sama Ibu kecewa sama sikap kamu ke Tia, tapi insya alloh apapun keputusan kalian berdua akan kami dukung," kata Bu Nadia lembut.


"Jadi, semua keputusan ada pada Tia," ucap bu Nadia lagi seraya melirik ke arah Tia yang hanya diam dari tadi.


Ilham paham maksud ibu mertuanya itu.


"Maaf Ayah, Ibu, Ilham mengecewakan kalian selama ini. Ilham janji akan berusaha introspeksi dan memperbaiki semuanya," kata Ilham penuh penyesalan.


"Baiklah, Ayah tidak mau kecewa lagi," ucap Pak Gunawan ketus.


"Ilham akan berusaha yang terbaik Ayah," ucap Ilham tegas.


"Baiklah, selesaikan urusan kalian berdua!" tegas Pak Gunawan seraya bangkit berdiri lalu meninggalkan ruang tamu.


"Ibu tinggal ya," ucap Bu Nadia lembut lalu mengikuti langkah suaminya.


Tinggalah Ilham dan Tia di ruang tamu itu ditemani keheningan.


Sepuluh menit...


Lima belas menit...


Masih belum ada yang mengeluarkan suara dari keduanya, hanya suara jangkrik yang mengalun indah yang mampu didengar keduanya.


"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan Tia permisi dulu A," ucap Tia sambil bangkit berdiri. Sebelum dia melangkah Ilham mencekal tangan Tia untuk menahannya.


"Maafin Aa," hanya kata Itu yang mampu Ilham ucapkan.


Tia melirik tangannya yang di cekal oleh Ilham, hati Tia tiba-tiba berdesir melihat benda yang melingkar di pergelangan tangan Ilham. Sebuah jam tangan murah yang dia belikan untuk Ilham.


Kepala Ilham mendongak menatap manik mata Tia dengan lekat, ada sorot kerinduan disana.


"Maaf Sayang, maafin Aa," mohon Ilham dengan mata berkaca-kaca.


"Aa salah Sayang, Aa... tidak peka dengan perasaan kamu." Kini Ilham menundukan pandangannya malu dengan kebodohannya selama ini.


"Aa tidak akan maksa karena Aa tahu, Aa salah. Tapi bila mungkin tolong maafin Aa Sayang." Sekali lagi Ilham memohon dengan tatapan menghiba.


Tia masih diam tidak memberi respon apapun.

__ADS_1


"Aa mohon Sayang." Ilham kembali memohon, kini air matanya sudah tidak bisa dia tahan. Air matanya sudah bercucuran begitu saja.


Tia tertegun melihat Ilham menangis dengan air mata yang tidak berhenti menetes.


Hati Tia merasa tersentuh melihatnya. Kini dia duduk kembali di tempatnya yang tadi sehingga tatapannya sejajar dengan Ilham.


"A, Tia tahu, Tia tidak lebih berharga dari pada teh Anna di hidup Aa," ucap Tia dengan hati yang pedih. Ilham menggeleng cepat mendengarnya.


"Jadi, Tia nggak mau mengganggu hubungan Aa dan Teh Anna lagi," jawab Tia dengan suara bergetar menahan tangis.


Ilham menggeleng cepat, lalu dia berlutut di depan Tia, kedua tangan Tia dia genggam erat.


"Sayang, Aa minta maaf, Aa bodoh tidak bisa membedakan mana rasa sayang pada sahabat dan mana rasa sayang pada istri. Aa bodoh tidak bisa membedakan prioritas dalam hidup. Maaf, tapi hati Aa maunya kamu, kamu yang Aa cinta dan kamu juga yang harusnya Aa prioritaskan. Jika mungkin tolong beri Aa kesempatan untuk memperbaikinya," tutur Ilham dengan air mata yang terus menetes dan tangan yang tidak lepas mengenggam kedua tangan Tia.


Tia kini terisak mendengar pengakuan Ilham.


"Aa mohon." Sekali lagi Ilham memohon dan menghiba.


Melihat ketulusan dan kesungguhan Ilham meminta maaf, akhirnya Tia menganggukan kepalanya pelan.


"Iya Tia maafin Aa," ucap Tia lirih.


Mendengar dirinya dimaafkan, Ilham mendongak dengan senyum yang mengembang. Dia memeluk Tia dengan erat.


"Makasih Sayang, makasih," ucap Ilham seraya mengeratkan pelukannya.


Rasa lega dan rindu bercampur menjadi satu. Keduanya hanyut dalam tangisan dan pelukan.


"Aa harus pulang," ucap Tia datar setelah mengurai pelukannya dan tangis keduanya reda.


Ilham menoleh kaget, kenapa dia di usir? bukankah dia sudah dimaafkan?


"Aa tidak boleh nginep disini?" tanya Ilham dengan tatapan memelas.


Tia menggeleng.


"Nggak boleh A, kita udah nggak sama kayak dulu," ucap Tia tenang.


"Kok.. gitu?" kaget Ilham.


Jadi, dimaafkan bukan berarti mereka kembali bersama?


********


otw ending, tolong tinggalkan jejak setelah membaca😊


makasih,

__ADS_1


__ADS_2