Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
37. Kedatangan Anna


__ADS_3

Pagi harinya Tia sudah bersiap untuk berangkat kerja sementara Ilham masih bermalas-malasan diatas ranjangnya sehabis sholat subuh.


"Kenapa nggak berhenti kerja saja sih, Yang?" tanya Ilham sambil memperhatikan Tia yang tengah bersiap.


"Ya terus aku diem di rumah juga mau ngapain A?" tanya Tia sambil mengenakan hijabnya di depan cermin.


"Ya apa harus kerja jadi officegirl di pabrik Papah?" tanya Ilham yang sudah duduk bersila menatap Tia yang sudah rapih dengan seragam kerjanya.


"Kenapa? Aa malu punya istri hanya seorang officegirl?" selidik Tia sambil mendudukkan dirinya di pinggir ranjang dan berhadapan dengan suaminya.


"Kok gitu bilangnya?" tanya Ilham tidak terima.


"Ya siapa tahu Aa malu punya istri seperti Tia yang hanya seorang officegirl yang tidak berpendidikan," cicit Tia sambil menunduk.


"Nggak gitu, hey," ucap Ilham sambil memegang dagu Tia dan mengangkat kepala Tia untuk bersitatap dengannya.


"Dengerin Aa, Aa bangga punya istri mandiri dan pekerja keras seperti kamu, kamu percaya atau tidak tapi Aa sangat mencintai kamu, Sayang," ucap Ilham dengan penuh keseriusan sambil menatap Tia sendu.


Tia merasa terharu mendengar perkataan suaminya.


"Ya udah yuk kita sarapan, setelah itu Aa antar kamu kerja," ajak Ilham sambil bangkit dan menarik lengan Tia.


"Aa masih pake sarung," ucap Tia sambil menarik tangannya untuk menhentikan langkah Ilham.


"Udah sih nggak apa-apa Yang, nggak bakal ada yang lihat ini, lagian kamu baru jam setengah enam pagi udah mau berangkat kerja aja, siapa sih yang buat jadwal kerja officegirl masuk sepagi ini," dengus Ilham kesal sambil melanjutkan langkahnya. Tia hanya mengulum senyum mendengar perkataan suaminya itu.


Sesampainya di ruang makan yang bersebelahan dengan dapur tanpa sekat, tampak bu Karla sedang sibuk memasak bersama Anna. Ternyata meski orang berada bu Karla selalu memasak dan bangun pagi, dia tidak seperti orang kaya pada umumnya yang bangun siang dan sudah banyak yang melayani.


Melihat keberadaan Anna, Tia terpaku heran karena Anna sepagi ini sudah ada di rumah Ilham, apa mereka sedekat itu.


"Selamat pagi!" sapa Ilham pada mamahnya dan Anna.

__ADS_1


"Pagi!" jawab bu Karla tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Cieeee... pengantin baru, cieee....," ucap Anna dengan nada meledek sambil mendekat dan duduk di samping kiri Ilham, sementara Tia duduk di samping kanan Ilham.


"Subuh-subuh udah disini aja lo," ucap Ilham dengan nada menyindir.


"Semalem gue dateng terus nginep aja sekalian, lagi pula belum ucapin selamat juga sama pengantin baru," seloroh Anna sambil mengambil roti yang sedang dimakan Ilham.


"Isshhhh... roti gue!" seru Ilham kesal melihat Anna mengambil roti yang sedang dia makan.


"Ah elah, pelit amat lo, tinggal bikin lagi kenapa?" ucap Anna enteng sambil terus melahap roti Ilham yang baru dia rebut.


Tia hanya melihat perdebatan keduanya, tanpa siapa pun tahu hati Tia berdenyut nyeri memperhatikan kedekatan suaminya dengan Anna yang notabene teman kecil suaminya itu.


Mereka serasi sekali, dan lagi sudah sedekat itu. aku merasa jadi orang ketiga yang hadir diantara keduanya, batin Tia sedih.


"Makan yang banyak, Sayang!" titah bu Karla pada Anna sambil mengelus lembut rambut Anna dan tersenyum manis.


"Tia, loh kamu?" Tiba-tiba bu Karla melihat ke arah Tia dan memperhatikan seragam yang dipakai Tia dengan ekspresi terkejut.


Tia mengulas senyum tipis ke arah mertuanya yang terkejut melihat dia mengenakan seragam officegirl.


"Iya Mah, Tia hanya seorang officegirl," cicit Tia sambil tersenyum tipis.


Mamah Karla kaget tahu menantunya seorang officegirl, aku tau kok Mamah Karla pasti malu punya menantu seorang officegirl, gumam Tia dalam hati.


Melihat ekspresi Tia yang berubah sendu, bu Karla merasa tidak enak hati.


"Maaf mamah hanya kaget," ucap bu Karla tidak enak hati.


"Makan yang banyak supaya kerjanya kuat," ucapnya lagi sambil tersenyum ramah, Tia hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Habis nganterin Tia, lo harus nganterin gue!" titah Anna enteng sambil mengunyah roti.


"Ogah!" jawab Ilham.


"Harus mau!" Anna masih memaksa.


"Ogah!" Ilham masih tidak goyah.


"Tante!" rengek Anna dengan nada manja.


"Anterin aja kenapa sih Ham, kasian kan Anna," ucap bu Karla sambil sibuk melanjutkan aktivitasnya.


Tia hanya diam dengan perasaan yang tidak menentu, merasa tidak pantas berada di tempat itu.


Aku nggak betah banget disini, merasa jadi orang asing. Ayah, Ibu, Tia kangen.


Tia mengerjapkan matanya cepat agar cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya tidak tumpah.


Tia makan dalam diam, hanya bisa memperhatikan kedekatan Ilham, Mamah Karla dengan Anna.


Ilham larut dalam obrolan bersama Anna dan mamahnya sambil sesekali tertawa tidak terusik sama sekali dengan keberadaan Tia, bahkan mungkin lupa kalau Tia juga berada di ruangan itu.


*********


Jangan lupa tinggalkan jejak like,komen,vote, dan rate bintang lima setelah membaca cerita recehku ini😄


Makasih...


Salam Hangat,


_AB_

__ADS_1


__ADS_2