Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
12. Sudah Seharusnya


__ADS_3

Tia bergegas melangkahkan kaki meninggalkan restoran sesaat setelah seorang pelayan restoran memberikan bungkusan berisi pesanan makan siang untuk big bosnya, Tia berbalik dan bergegas pergi tanpa menghiraukan pemuda yang sedang menghampirinya, sesaat setelah Tia berbalik pemuda itu akan berlutut dengan satu lututnya didepan Tia, tapi Tia tidak sempat melihat aksi pemuda itu.


Sesampainya di pabrik NGFOOD Tia bergegas masuk ke pantry dan menata makanan dalam bungkusan ke sebuah piring dan menaruhnya di atas nampan, Tia berjalan menuju ruangan Pak Nugraha dengan membawa nampan yang berisi makan siang big bosnya itu.


Tokk..tokk...tokk


Tia mengetuk pintu ruangan didepannya itu sampai ada sahutan mempersilahkannya masuk yang sontak membuat Tia bergegas memegang handle pintu lalu membuka pintu dan melangkah masuk.


"Maaf pak, ini makan siang bapak, maaf apabila sedikit terlambat," cicit Tia sambil meletakkan piring berisi makan siang diatas meja yang berada dihadapannya.


Sesaat setelah Tia meletakkan piring diatas meja pak Nugraha mendongak dan berucap terima kasih "terima kasih," sahut Pak Nugraha sambil mengutas senyuman ramahnya, tapi sedetik kemudian senyum itu memudar kala dia menatap wajah gadis yang berada dihadapannya itu.


Dia mematung, tangan yang akan digunakannya untuk meraih piring dihadapannya pun hanya menggantung diudara beberapa saat sampai akhirnya dia tarik kembali.


"Maaf nona ini siapa?" pertanyaan itu lolos keluar dari mulut Pak Nugraha sambil tetap lekat menatap wajah gadis dihadapannya.


"Ya??" hanya itu kata yang keluar dari mulut Tia yang sudah merasa gugup karena tatapan bos nya itu, Tia sedikit menunduk dan menatap seragam dan namtage yang dia kenakan.


Apa bapak ini tidak melihat seragam dan nametage yang aku kenakan? kenapa masih bertanya aku siapa. batin Tia


Tia masih saja diam, menimbang jawaban apa yang harus dia lontarkan akan pertanyaan dari bosnya itu.


"Ohh kamu officegirl baru di lantai ini," perkataan Pak Nugraha itu membuyarkan lamunan Tia kala itu dan Tia hanya mampu mengangguk mengiyakannya, Pak Nugraha masih menatap intens pada Tia melihat seragam dan nametage yang Tia kenakan.


"Baiklah kamu bisa kembali bekerja," ucap Pak Nugraha memutus tatapannya dan mulai meraih piring yang berada didepannya.


"Iya pak terima kasih," sahut Tia sambil bergegas meninggalkan ruangan bosnya itu. setelah Tia menutup pintu dari luar, Pak Nugraha bergegas menelpon seseorang.


"Hallo," suara seseorang disebrang sana.


"Hallo, secepatnya keruangan saya dan tolong bawa CV dari officegirl baru dilantai ini," ucap Pak Nugraha dengan nada serius.


"Baik Pak," telepon pun diakhiri oleh Pak Nugraha.

__ADS_1


Guna, akhirnya ada secercah harapan aku bisa mengembalikan apa yang semestinya ada pada tempatnya, dan memang sudah seharusnya aku lakukan ini dari dulu. batin Pak Nugraha


Masih enggan menyantap makan siangnya Pak Nugraha terlihat masih asik dengan lamunannya sampai suara ketukan pintu membuatnya tersadar kembali.


Tokk..tokk..tokkk


"Masuk!" Seseorang dibalik pintu itu bergegas masuk, tampak seorang pria paruh baya yang berpakaian formal menghampiri Pak Nugraha


"Pak ini CV yang anda minta tadi," ucap pria paruh baya tersebut sambil meletakkan map berwarna hijau diatas meja atasannya itu. Pak Nugraha mengambil map itu dan mulai membuka dan membacanya.


"Apa ada yang anda butuhkan lagi pak?" tanya pria paruh baya itu.


"Tidak terima kasih, Aga, kamu bisa kembali keruangan mu," sahut Pak Nugraha sambil menggerakkan telapak tangannya tanpa menoleh ke arah Aga manager HRD di pabriknya ini, Pak Aga tampak mengangguk dan bergegas meninggalkan ruangan bosnya itu.


Guna akhirnya kamu harus keluar dari persembunyian mu dengan segera. batin Pak Nugraha sambil tetap lekat membaca CV officegirl yang tadi mengantarkan makan siangnya.


Pak Nugraha melanjutkan makan siangnya yang beberapa menit sempat tertunda tapi saat dia sedang menikmati makanannya tiba-tiba ponsel nya berdering menandakan ada panggilan masuk


"Halo wa'alaikumsalam, Pah," suara seseorang disebrang sana.


"Ngapain kamu ganggu makan siang papah?" sahut Pak Nugraha dingin.


"Pah, katanya papah ingin punya menantu," ucap pemuda disebrang sana tidak nyambung


Pak Nugraha bingung, lipatan dahi diwajahnya menunjukkan kebingungannya atas perkataan anaknya.


"Maksud kamu Ham?"


"Pah, apa Papah punya karyawan baru yang dua hari ini datang ke restoran buat bawain makan siang papah?" ucap Ilham anak semata wayang Pak Nugraha antusias.


"Iya" jawab Pak Nugraha malas yang sudah bisa menebak kearah mana percakapan ini tertuju.


Cih bahkan anak nakal ini sudah mengenalinya sebelum aku, pria tua ini. batin Pak Nugraha geli mengetahui anaknya sudah lebih dulu mengetahui hal yang baru dia ketahui

__ADS_1


"Pah siapa nama karyawan baru itu, umurnya berapa, ahhh sekalian alamat rumahnya ya pah.. hehe," masih antusias


"Memangnya Papah mu ini pegawai sensus penduduk apa?" jawab Pak Nugraha jengkel mendengar pertanyaan dari anaknya, Ilham hanya mampu mendengus kesal mendengar jawaban papahnya dibalik telpon.


Cih, ku kira anak nakal ini sudah tahu ternyata dia masih belum tahu rupanya, baiklah ilham kali ini kamu harus ikut permainan papah mu ini,, hehe. Pak Nugraha tertawa dalam hati


"Baiklah, kalau kau mau kenal karyawan papah ini, berhentilah main-main dan bantu papah untuk bekerja di pabrik,"


"Tapi ilham nggak ada bakat Pah."


"Ya sudah terserah kamu," jawab Pak Nugraha santai.


"Ya sudah ilham pikirin dulu."


"Jangan kelamaan, nanti keburu diambil orang loh hehe," sahut Pak Nugraha sambil terkekeh gemas sendiri dengan kelakuan anaknya.


"Isshhh Papah, doain yang baik-baik kenapa? nggak kasian sama anaknya yang jomblo sejak lahir?" Ilham memberengut kesal.


"Ya sudah papah mau lanjut makan, nanti nggak habis-habis makanan papah kalau terus dengerin celotehan kamu yang nggak ada habisnya ini."


"Oke pah, makasih ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam"


panggilan pun berakhir dan Pak Nugraha kembali menyantap makan siangnya dalam diam.


Disebuah ruangan di restoran seorang pemuda sedang bersungut-sungut kesal sambil memegang ponselnya


"Isshhh jahat banget sama anak sendiri, apa-apa harus ada timbal baliknya, kan males banget kalau harus kerja di pabrik. hmm..," gumam Ilham kesal sambil memangku dagunya dengan salah satu tangannya yang ia tumpukan diatas meja dihadapannya.


"Terus kenapa tadi gadis itu bisa berubah jadi parto ya, apa dia pergi gitu aja padahal tahu aku mau menghampirinya?" bergumam sendiri yang masih tidak mengerti kenapa dia susah sekali mendekati gadis yang sudah menganggu pola detak jantungnya dari kemarin.


"Hmmm....entahlah...," desahnya frustasi

__ADS_1


__ADS_2