Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
31. Ya Sudah..!!


__ADS_3

Sore itu di kediaman Gunawan ibu Nadia sudah sibuk memasak dibantu bi Saroh untuk jamuan tamu yang akan melamar Tia, meski dia tidak menyetujui rencana pernikahan Tia yang diungkapkan suaminya tadi pagi tapi dia masih ingin menjamu dan menghormati tamu yang akan berkunjung ke rumahnya nanti.


"Tia...! Neng...!" panggil ibu Nadia dibalik pintu kamar putrinya itu


"iya kenapa bu?" jawab Tia dari dalam kamar tanpa membuka pintu


"Buka dulu pintunya! nggak sopan bicara sama orang tua teriak-teriak!" kesal ibu sambil memberikan beberapa ketukan pada pintu kamar anaknya


ceklek


"Iya Bu maaf..," cicit Tia penuh nada penyesalan setelah membuka pintu kamarnya dan menatap ibunya yang sudah berkacak pinggang di depannya.


"Udah sholat ashar?"


"Udah Bu."


"Udah mandi?"


"Belum," jawab Tia pelan sambil menunduk


Ibu Nadia mendengus kesal, heran sekali dengan anak gadisnya ini yang terkadang malas mandi seperti anak bujang.


"Cepat mandi tamunya sebentar lagi datang!" titah ibu sambil berlalu meninggalkan Tia.


"Iya," jawab Tia malas sambil meraih handuk lalu pergi ke kamar mandi.


Sebenarnya Tia masih belum mengerti situasi apa yang sedang dihadapinya ini, diapun masih tidak tahu harus bersikap seperti apa nanti.


Ya sudahlah terima takdir!


Akhirnya Tia hanya pasrah dan percaya saja bahwa Tuhan akan memberikan jalan terbaiknya.


********


Di sebuah mobil mini bus yang bisa dibilang cukup mewah Ilham masih setia dengan ekspresi wajah yang ditekuk tanpa ada semangat sedikitpun, jelas saja dia tidak semangat karena dia tengah hanyut dengan ratapan akan kandasnya kisah cintanya yang gugur bahkan sebelum betunas.


Ya sudahlah terima nasib!


"Kok calon manten cemberut aja dari tadi" canda nenek yang duduk di kursi tengah mobil, Ilham hanya menoleh lalu tersenyum kikuk menanggapi candaan dari neneknya.


Mobil memang dikendarai sendiri oleh Pak Nugraha dia sengaja menyetir sendiri tidak menggunakan supir karena ini acara keluarga saja itu pikirnya, disamping pak Nugraha duduk kakek dengan tenangnya, sementara nenek dan mama Mita duduk dikursi tengah dan Ilham duduk dikursi belakang sendiri.


Ilham hanya mengarahkan pandangannya ke balik jendela berharap pemandangan yang dilewatinya bisa sedikit menghibur kegundahan hatinya, semakin lama mobil itu melaju Ilham merasa pemandangan ini seperti pernah ia lewati tapi kapan? dan akan menuju kemana sebenarnya mobil yang dikemudikan papahnya ini? pertanyaan demi pertanyaan menghinggapi pikiran Ilham mencoba mengusik dan berhasil mengalihkannya dari ratapan Ilham tentang kisah cintanya.


Kayak pernah lewat jalan ini


Setelah 45 menit melakukan perjalanan mobil yang ditumpangi Ilham berhenti di pekarangan sebuah rumah sederhana bercat coklat yang nampak tidak asing dalam ingatan Ilham.


Kok kayak pernah juga datang ke rumah ini


Pak Nugraha dan kedua orang tuanya nampak antusias keluar dari dalam mobil mata mereka memancarkan rasa kebahagiaan, berbeda dengan bu Mita dan Ilham yang nampak malas keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Akhirnya kita akan bertemu dengan putra kita yang sudah hilang 20 tahun," ucap kakek sambil merangkul pundak nenek dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"Iya Pih, ayo!" ucap pak Nugraha antusias sambil memimpin jalan untuk mengetuk pintu rumah di depannya itu,


Tokkk...tokk...tokk


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam..," sayup-sayup terdengar suara dari dalam rumah


Ceklek


Pintu rumah sudah dibuka dan tampak pak Gunawan dan bu Nadia berada di ambang pintu


Deg


Itu ibunya Tia! batin Ilham


Hening sejenak diantara mereka, mereka hanya saling melempar pandangan satu sama lain.


"Guna.. mamih merindukan mu Nak!" ucap nenek sambil menghambur memeluk pak Gunawan yang hanya berdiri mematung dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


"Kami merindukan mu Nak, sangat!" kini kakek yang bersuara dengan sedikit bergetar menahan tangis haru sambil sesekali menepuk lembut punggung istrinya yang sudah bergetar karena terisak dalam pelukan pak Gunawan.


Pak Gunawan pun kini sudah terisak menumpahkan kerinduan yang sudah dia tahan selama 20 tahun kepada kedua orang tua angkatnya itu.


Pak Nugraha pun sesekali menyeka air mata diujung matanya, sedangkan bu Karla hanya menatap datar melihat pemandangan itu, bu Nadia pun hanya menatap dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.


Jadi Tia yang akan aku lamar? yeay..!! terima kasih Tuhan.., pekik Ilham girang dalam hati


Akhirnya setelah drama sedih yang menguras air mata didepan teras rumah, pak Nugraha dan keluarganya termasuk Ilham dipersilahkan masuk oleh pak Gunawan dan Istrinya, setelah pak Nugraha dan keluarganya duduk dengan nyaman di sofa ruang tamu, bu Nadia tampak ramah menyambut dan menghidangkan beberapa kudapan.


"Kamu cantik dan baik sekali Nak, Guna beruntung mempunyai istri seperti dirimu," ucap nenek tulus memuji bu Nadia, bu Nadia hanya tersenyum canggung menanggapi pujian ibu angkat suaminya itu.


"Tentu Mamih, aku beruntung mempunyai istri seperti dirinya," ucap pak Gunawan merangkul bahu istrinya sambil tersenyum manis pada istrinya.


Semuanya tampak berbincang bahagia sambil sesekali tertawa, bu Karla merasa begitu iri atas kedekatan bu Nadia dengan kedua mertuanya padahal mereka baru beberapa saat lalu bertemu, sedangkan dengan dirinya kedua mertuanya itu selalu bersikap dingin padahal mereka sudah saling mengenal selama 25 tahun.


Ini kenapa jadi pada nostalgia sih, kapan acara lamar-melamar nya ini? pekik Ilham dalam hati merasa sudah tidak sabar dan jengah dengan para tetua yang sibuk bernostalgia dan melupakan niat awal mereka datang kesini.


"Pah.. kapan acara lamaran nya ini?" bisik Ilham pada pak Nugraha, pak Nugraha menoleh karena kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya.


"Kenapa emang?" tanya pak Nugraha sambil mengangkat sebelah halis nya


"Ihh.. si papah jawab pertanyaan dengan pertanyaan," ketus Ilham masih dengan nada berbisik, seketika itu tawa pak Nugraha pecah sampai mampu mengalihkan perhatian semua orang kepadanya.


"Ehm.. maaf, Guna nampaknya anakku sudah tidak sabar ingin melihat calon istrinya." ujar pak Nugraha sambil melirik ke arah anaknya dan menampilkan senyum mengejek, Ilham hanya mendengus kesal dan melebarkan matanya kearah sang papah.


Ah bodo, malu diurus belakangan yang penting aku bahagia.. hahaha racau Ilham dalam hati


Pak Gunawan memberi isyarat pada istrinya untuk memanggilkan Tia, selang beberapa menit bu Nadia sudah kembali bersama Tia, Tia hanya menunduk dalam.

__ADS_1


Senyum Ilham terbit dengan sangat manis saat melihat Tia. sebaliknya Tia hanya menunduk dengan perasaan gelisah, dia membenamkan wajahnya hingga hanya lantai dan alas kaki tamu yang di depannya saja yang dia lihat.


"Tia, ini pemuda beserta keluarganya yang ingin melamarmu, apa kamu menerima niat baik mereka nak?" tanya pak Gunawan pada Tia dengan senyum mengembang, Tia hanya tenggelam dalam lamunannya dan masih terus menundukkan wajahnya.


Hening..


Ilham sudah tidak nyaman dengan posisi duduknya detak jantungnnya melaju dengan cepat menunggu jawaban dari Tia, begitupun dengan kedua orang tua dan kakek nenek Ilham menanti jawaban dari Tia dengan sama tegangnya.


"Tia..," ucap bu Nadia lembut sambil menggenggam tangan Tia, dia paham kalau anaknya pasti sedang bimbang.


"Hmm.." Tia tersentak menoleh pada ibunya tersadar dari lamunan panjangnya sejak tadi, bu Nadia memberikan isyarat dengan gerak bola matanya.


"Mm... i-iya ayah Tia ma-mau menerima lamaran ini," ucap Tia terbata masih dengan menundukkan wajahnya seolah tidak mau melihat wajah pemuda yang sedang melamarnya.


Mendengar jawaban Tia hati Ilham dipenuhi bunga-bunga bermekaran dengan indah nya


Yes..!! pekik Ilham dalam hati bersorak bahagia


"Alhamdulillah..!!" ucap kakek, nenek dan pak Nugraha bersamaan


"Alhamdulillah.. terima kasih Tia..," ucap Ilham girang


Suara itu.. A Ilham! pekik Tia dalam hati sambil mengangkat wajahnya, mata Tia terbelalak melihat siapa yang berada di depannya, melihat pak Nugraha yang merupakan atasan tertinggi di tempat dia bekerja, menggeser sedikit pandangannya dan dadanya mendadak sesak melihat Ilham yang sedang tersenyum manis ke arahnya.


Takdir macam apa ini Tuhan...?


Seketika itu kepala Tia berdenyut nyeri, dadanya sesak, pandangannya mulai berkunang-kunang lalu sedetik kemudian pandangannya menggelap


Brukk...


Tia terkulai lemas tidak sadarkan diri


"Tia....!!" semua orang bersamaan berteriak memanggil nama Tia.


"Nak, sepertinya calon istri mu sangat takut menikah dengan mu hingga dia pingsan seperti itu," ucap pak Nugraha enteng sambil menyenggol lengan putranya, Ilham mendelik kesal pada papah nya, sungguh papah nya ini sangatlah sesuatu.


Ishhhhh


bersambung


********


Mohon maaf baru update, beberapa hari kebelakang author buntu ide, inspirasi untuk melanjutkan cerita ini mendadak buntu, sempat berfikir untuk tidak melanjutkan tetapi melihat jumlah viewer cerita ini bertambah setiap hari nya jadi author memutuskan untuk berusaha melanjutkan cerita ini.


mohon maaf apabila masih banyak kekurangan atau plothole dari cerita ini, author amatiran ini hanya berharap cerita ini bisa menghibur atau bahkan bisa menginspirasi para kakak-kakak readers semua.


mohon tinggalkan jejak LIKE, COMENT, VOTE dan RATE serta masukkan kedalam daftar bacaan favorite kalian apabila suka dengan cerita ini supaya authornya tambah semangat nulis.


makasih sayangkuhhh... ❤❤❤


salam hanyat

__ADS_1


_AB_


__ADS_2