Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
15. Selalu Mengerti


__ADS_3

Disinilah Ilham sekarang sedang terbaring di ranjang dikamarnya di rumah kediaman Nugraha, dia sedang terbaring sambil menatap langit-langit kamarnya, pikirannya sedang berkelana entah kemana, semenjak obrolan bersama papahnya tadi pagi Ilham masih saja termenung memikirkan perkataan papahnya tentang tanggung jawab dan sang papah yang sudah ingin pensiun mengurusi perusahaan.


Apa selama ini aku terlalu egois mengejar semua mimpi-mimpiku tanpa memperhatikan perasaan Papah?.


Ilham mengusap kasar wajahnya dengan gusarnya, haruskah dia mengambil tanggung jawab itu sekarang, dia masih belum bisa mengambil keputusan yang pasti, dia butuh seseorang untuk bertukar pikiran.


Ilham bangkit lalu mengambil jaketnya lalu bergegas meninggalkan rumah dan menuju seseorang yang selalu bisa diajak bicara saat keadaan hatinya kalut seperti ini.


Setelah beberapa menit mengendarai motor maticnya tibalah Ilham di tempat yang dia tuju, sebuah bangunan kosan tempat seseorang tinggal, seseorang yang selama ini selalu bisa diajak bertukar pikiran dan pemberi solusi terbaik dalam menghadapi setiap masalah yang dihadapinya.


Ilham merogoh saku celananya mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan kepada seseorang yang akan ditemuinya tepat didepan gerbang bangunan kosan itu.


"Hallo assalamu'alaikum..," sapa Ilham ketika panggilan tersambung


"Iya wa'alaikumsalam."


"Ada dikosan kan?"


"Kenapa? mau curhat? bawa makanan yang banyak!" suara disebrang sana tanpa mau menjawab pertanyaan Ilham.


Klik.. panggilan diakhiri oleh seseorang disebrang sana tanpa menunggu jawaban dari Ilham, "ceh.. dasar!" Ilham mendengus kesal tapi tetap melajukan motornya kembali mencari makanan yang diminta oleh seseorang yang tadi dia telpon.


Setelah 15 menit mencari makanan untuk sogokan kepada seseorang yang bisa diajak bicara, Ilham kembali lagi ke kosan yang menjadi tujuannya untuk menemui sesorang yang menurutnya 'nyaman' diajak berdiskusi selama ini.


Setelah berada di depan gerbang bangunan kosan itu kini Ilham berpapasan dengan Bude Haryo pemilik bangunan itu.


"Oh nak Ilham, nyari Neng Anna ya?" sapa bude Haryo ramah.


"Iya bu boleh masuk?" tanya Ilham tersenyum canggung


"Boleh, tapi hanya sampai jam 9 malam ya,hmmm.. dan ini sudah jam 8 kurang," jawab bude haryo kembali ramah sambil mengingatkan jam malam yang menjadi peraturan di kosan nya tersebut.


"Baik Bu," cicit Ilham sambil tersenyum

__ADS_1


Ilham masuk dan seperti biasa hanya menunggu di sofa ruang tv yang berada dilantai bawah bangunan tersebut, dia kembali melakukan panggilan pada Anna untuk meminta dia turun dan menemuinya.


"Halo.. An, gue udah di bawah cepetan keburu baksonya dingin," ucap Ilham ketika telponnya tersambung


"Ok," jawab Anna singkat


Anna keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang tv yang berada di lantai dasar bangunan kosannya.


"Wihhhh.. aromanya mantab beuddd..!" sahut Anna setelah berada di dekat Ilham yang sedang duduk menunggu kedatangan Anna


"Iya dong bakso terenak buat sahabat tercinta kuh," jawaban Ilham asal saat melihat keberadaan Anna didekatnya


"Ck, bilang aja mau nyogok biar didengering curhatannya," cibir Anna setelah duduk di sofa yang sama dengan Ilham.


"Kamu memang selalu mengerti dirikuh..," jawab Ilham dengan senyum jenaka dan mengerlingkan matanya ke arah Anna


"Ceh, nggak usah rayu-rayu nggak mempan," cibir Anna sambil mengibaskan telapak tangannya kearah wajah Ilham.


"Papah masih keukeuh minta gue segera gantiin posisi dia."


"Bagus dong jadi CEO muda dong lo," jawab Anna sambil manggut-manggut mengunyah bakso dalam mulutnya


"Gue masih belum siap An!" ucap Ilham gusar


"Apasih yang belum siap? orang cuma tinggal skripsi doang, sambil jalan kan bisa," jawab Anna enteng


"Gue mau ngejar mimpi gue, gue nggak minat jadi pengusaha," ucap Ilham sambil menghela napas berat dan menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa


"Paman Gaha udah sabar banget ngalah sama lo Ham, selama ini dia nggak protes lo ambil jurusan kuliah tata boga disamping lo ngambil jurusan bisnis, beliau juga udah sabar biarin lo menjalankan bisnis restoran selama ini sampe lo harus nunda skripsi jurusan bisnis lo, gantian dong sekarang lo yang ngalah." Anna berucap sambil terus melahap bakso dihadapannya.


"Iya juga sih, tapi An," ucap Ilham masih ragu


"Ya elah terserah lo aja sih, ngapain ribeutin hidup gue mulu kalo lagi galau, mana cuma bawa bakso lagi nggak bawa temen nya yang laen." Anna mendengus kesal saat tau baksonya habis dan curhatan Ilham masih belum selesai juga.

__ADS_1


"Jadi anak itu sekali-kali bahagiain orang tua dong jangan egois mulu napa!" lanjut nya lagi sambil membereskan bungkusan bakso dan mangkuk yang dia gunakan tadi.


Ilham hanya diam tak bergeming, memang benar apa yang dikatakan sahabatnya itu kalau dia sudah terlalu egois selama ini.


"Oke deh, makasih yah An, cuma lo yang bisa ngertiin gue," ucap Ilham sambil mengusak kepala Anna dan membuat rambut coklat gelap milik Anna berantakan


"Ya elah lo mah kebiasaan," sahut Anna kesal dan menepis tangan Ilham dari atas kepalanya


"Inget ya kalau lo udah jadi CEO awas aja lo sampe lupain gue!" ancam Anna


"Diihh.. lo ngancem??" cibir Ilham yang tidak terpengaruh dengan ancaman Anna


"Udah mending sono lo pergi yang jauh, entar Bude marah udah malem juga lo masih keluyuran di kosan khusus putri, digrebeg warga baru tau rasa lo!" usir Anna sambil beranjak dari posisis duduknya menjadi berdiri hendak berlalu meninggalkan Ilham


"Ceh,, biarin napa digrebeg juga orang sama calon tunangan sendiri," jawab Ilham asal sambil beranjak berdiri


"Ck.. MANTAN calon tunangan, ogah banget gue, dari kecil ampe sekarang sama lo mulu masa sampe tua juga harus sama lo, dihhh kayak nggak ada cowo lain aja," jawab Anna kesal menekankan pada kata 'MANTAN' sambil melipat tangan didepan dadanya.


Ilham hanya terkekeh menanggapi ocehan sahabat sekaligus mantan calon tunangannya.


"Iya deh mana berani hamba bersanding dengan seorang ratu," ucap Ilham sambil membungkukkan badan bergaya seperti abdi dalem kerajaan


"Gue pulang ya, sekali lagi makasih!" ucap Ilham lalu bergegas meninggalkan bangunan kosan Anna.


Anna hanya mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamarnya, saat sampai didepan pintu kamarnya, Anna berpapasan dengan Tia yang baru keluar kamarnya dan hendak turun kedapur mengambil minum, Tia mengangguk sambil tersenyum tapi Anna hanya berlalu masuk kedalam kamar tanpa membalas senyum Tia.


Ya ampun jutek banget sih, untung cantik. batin Tia sambil berlalu turun kelantai bawah menuju dapur


*********


makasih yang sudah baca karya author ini, jangan lupa tinggalkan like dan ditunggu sarab dan kritik membangunnya di kolom komentar..


makasih...

__ADS_1


__ADS_2