Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
28. Dilema


__ADS_3

"Ilham tidak mau dijodohkan Pah!" ucap Ilham sedikit berteriak.


Ilham baru sampai di ruang makan saat papahnya menuturkan akan menjodohkan Ilham bahkan akan melamarkan gadis itu tiga hari lagi.


"Kamu harus mau!" ucap Pak Nugraha datar tapi penuh penekanan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruang makan menuju ruang kerjanya.


"Mah, Ilham nggak mau dijodohkan Mah!" ucap Ilham memelas meminta dukungan dari sang mamah.


Ibu Karla merasa tidak tega dan mengelus kepala Ilhan lembut putra nya itu sedang bersimpuh didepannya lalu menenggelamkan kepalanya dipangkuan sang mamah.


"Mamah tahu Ham, kamu sukanya sama Anna kan?" ucap bu Karla sambil terus mengusap lembut kepala Ilham.


Ilham mendongakkan kepalanya lalu menggeleng.


"bukan Anna Mah, tapi Ilham menyukai gadis lain," ucap Ilham manja.


"Gadis lain?" ucap bu Mita kaget sambil mengkerutkan keningnya, Ilham mengangguk dan menatap kosong kesembarang arah.


"Gadis yang baru Ilham kenal, tapi mampu buat hati Ilham berdebar saat didekatnya Mah."


"Siapa gadis itu? cepat kenalkan pada Mamah!"


"Dia hanya gadis biasa Mah, gadis yang berasal dari keluarga sederhana di kampung, gadis yang hanya lulusan SMA tapi dia pekerja keras dan orang yang tulus." Ilham bercerita dengan mata yang berbinar


"Apa dia tahu identitasmu sebagai anak tunggal dari papah mu?" tanya ibu khawatir takut gadis yang disukai Ilham hanya memanfaatkan kekayaan anaknya saja. Ilham menggeleng sebagai jawaban untuk mamahnya


"Benarkah?" tanya ibu Karla tidak percaya, Ilham menganggukkan kepalanya pelan


"Dia orang yang tulus kepada semua orang mah, bahkan dia tidak terbiasa bergantung pada orang lain meski hidupnya susah, dia gadis yang mandiri Mah," tutur Ilham sambil menampilkan senyum manis pada sang mamah.


Ibu Karla hanya menghela napas dalam dan hanya diam tidak lagi menanggapi anaknya, jujur sebagai seorang ibu dia masih saja khawatir.


Jaman sekarang mana ada gadis yang tulus kalau tahu pria yang mendekatinya berasal dari keluarga kaya, nampaknya gadis itu sudah memperdaya Ilham


"Mah, tolong Ilham untuk mengejar cinta Ilham mah, tolong bilang ke Papah Ilham tidak mau dijodohkan Mah!" ucap Ilham memohon, bu Mita hanya diam dan menghela nafas berat.


aku belum yakin kalau gadis yang disukai Ilham tulus, apa aku setuju aja ya rencana papah buat jodohin Ilham? kayaknya papah nggak akan salah milih mantu

__ADS_1


"Hmmm.... mamah coba ya sayang, tapi mamah nggak janji, kan kamu tahu sendiri kalau Papahmu sudah mengambil keputusan susah untuk dibujuk" ucap bu Karla lembut.


Ilham diam matanya menunjukkan sorot kecewa dalam hati dia membenarkan perkataan mamahnya. Ilham bangkit dari posisinya lalu beranjak dari hadapan mamahnya menuju ruang kerja papahnya, dia akan coba bernegosiasi dengan sang papah untuk tidak menjodohkannya.


Setidaknya harus dicoba kan? siapa tahu papah bisa dibujuk


Tokk....tokkk...tokk...


"Pah... Ilham boleh masuk?" tanya Ilham dibalik pintu setelah memeberikan ketukan beberapa kali.


"Masuk!" titah pak Nugraha dari dalam


Ilham masuk dan melihat papahnya duduk disofa sedang memandangi sebuah foto, Ilham mendekat dan duduk disamping papahnya,


"Mmm... pah, Ilham-"ucap Ilham menggantung


"Mau bilang nggak mau dijodohkan?" ucap Pak Nugraha memotong ucapan anaknya. Ilham mengangguk antusias.


"Gadis yang kamu ceritan waktu itu gimana? kamu masih suka sama dia?" ucap pak Nugraha datar sambil menyimpan foto yang dia pegang dan pandangi dari tadi diatas meja didepannya.


"Mmm... yang cleaning service dipabrik?" tanya Ilham memastikan. Pak Nugraha hanya mengangguk samar.


Pak Nugraha hanya menoleh sekilas ke arah Ilham lalu menatap kosong kesembarang arah, pak Nugraha menghela nafas berat.


"Mamah mu tidak akan setuju kamu mengejar gadis cleaning service Ham," ucap pak Nugraha datar, Ilham mengangguk samar lalu menghela nafas panjang.


"Aku tahu pah" ucap Ilham pelan sambil menyandarkan kepalanya disandaran sofa.


"Kalau kamu tahu kenapa masih memupuk perasaan pada gadis yang tidak akan mamahmu restui? apa kamu berencana kawin lari hum?" ucap Pak Nugraha masih dengan ekspresi datarnya.


"Nggak juga Pah, aku akan berusaha untuk mendapatkan restu dari Mamah."


"Kamu yakin gadis itu akan tahan dengan perlakuan mamah kamu walaupun kalian direstui menikah?"


"Ilham akan jaga dia pah, apapun yang terjadi!" ucap Ilham tegas


"jangan terlalu percaya diri, ingat mamah mu itu sudah bersusah payah mengandung, melahirkan dan merawatmu dari kecil, jangan sampai kamu menyakitinya hanya karena gadis yang baru kamu kenal nak," ucap Pak Nugraha serius yang kini sudah menegakkan punggungnya dan meletakkan kedua sikunya diatas kedua pahanya.

__ADS_1


Ilham hanya diam mendengar penuturan papahnya, dalam hati dia membenarkan semua yang dikatakan oleh papahnya, kalaupun dia nanti bisa membela gadis pilihannya tapi mungkin itu akan menyakiti mamahnya, sungguh Ilham merasa dilema sekarang.


Bagaimana ini? apa aku harus merelakan kisah cintaku yang bahkan belum dimulai?


"Kamu lihat foto itu!" titah Pak Nugraha pada Ilham, Ilham menurut dan langsung menegakkan punggungnya lalu meraih foto diatas meja tersebut, dipandanginya lekat foto itu, tampak dua pria seumurannya yang saling rangkul dan sedang tertawa lepas, pria yang satu Ilham yakini itu papahnya waktu muda dan pria yang satunya lagi dia merasa tidak asing dan merasa pernah melihatnya.


Siapa ini ya? kok wajahnya tidak asing


"Dia Gunawan sahabat papah yang sudah papah anggap sebagai saudara sendiri, dulu kami bersahabat sejak SMA dan berlanjut sampai kuliah, Guna anak yang baik dia cerdas makanya meski dia anak yatim piatu dia mampu menyelesaikan kuliahnya sampai S2 dengan berbekal beasiswa, Guna sudah yatim dari usia 12 tahun, semenjak ayahnya meninggal dia hanya tinggal dengan ibunya yang hanya bekerja sebagai petani dan sesekali berjualan kue, Guna kehilangan ibu kandungnya saat dia masih duduk di kelas 3 SMA, semenjak saat itu Guna ikut tinggal dirumah kakek dan nenekmu, Guna anak yang baik dan mampu membawa diri makanya kakek dan nenekmu menyayanginya seperti menyayangi papah." Pak Nugraha menghela napas berat diam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya, dia mengatur nafasnya seperti menahan sesak didadanya.


"Setelah lulus S2 kami sama-sama memiliki mimpi mempunyai perusahaan dibidang makanan, akhirnya dengan berbekal ilmu dan modal yang kami punya kami merintis perusahaan pertama kami, kamu tahu? Guna merelakan sepetak sawah satu-satunya peninggalan ayah dan ibunya dijual untuk modal awal perusahaan kami." Pak Nugraha lagi-lagi terdiam dia menghela napas berat dan kini matanya sudah berkaca-kaca, sorot matanya memperlihatkan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.


"Di awal kami merintis perusahaan, papah jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Mita Larasati putri tunggal dari Pak Reksi Perdana seorang pengusaha hotel ternama di Bandung, papah terlalu dibutakan oleh cinta sampai apapun papah lakukan demi mendapat restu untuk menikahi mamahmu, Guna sebagai sahabat terbaik papah selalu mendukung apapun usaha papah untuk mendapatkan restu Pak Reksi termasuk ikut bersusah payah mengembangkan perusahaan NGFOOD hingga memiliki omset yang besar sesuai persyaratan Pak Reksi untuk meminang mamamu, Guna menyetujui mengatasnamakan NGFOOD sepenuhnya milik papah agar papah bisa menikah dengan mamahmu, enam tahun berselang NGFOOD berkembang menjadi salah satu pabrik makanan terbesar di Bandung, waktu itu papah sudah menikah dengan mamahmu bahkan kamu sudah berusia 4 tahun waktu itu."


"Selama enam tahun Guna setia mendampingi papah sebagai sekertaris papah padahal dia berhak atas 50% dari perusahaan tapi dia selalu menolak mendapat jabatan tinggi, suatu ketika NGFOOD mengalami kerugian besar karena pengelapan dana perusahaan yang tidak sedikit jumlahnya, bukti mengarah semua kepada Guna, papah menyangkal semuanya karena papah yakin Guna bukan orang seperti itu, tapi mamahmu dia marah kepada papah karena terlalu membela Guna akhirnya mamahmu meminta papah memilih mempertahankan pernikahan kami atau mempertahankan Guna diperusahaan."


"Dan papah memilih mempertahankan pernikahan papah?"tanya Ilham menyela cerita papahnya, Pak Nugraha tampak mengangguk samar


"Kakek dan nenekmu kecewa pada papah karena mengambil keputusan tanpa menyelidikinya terlebih dahulu, satu bulan berlalu papah baru mengetahui yang sebenarnya, bahwa Guna di jebak dan difitnah oleh salah satu manager di pabrik atas penggelapan dana tersebut, dia membuat bukti seolah Guna yang melakukannya, papah menyesal dan penyesalan papah terlambat karena Guna sudah menghilang dan memutus semua akses papah untuk menemukannya dari semenjak dia papah usir dari perusahaan." Pak Nugraha mengakhiri kalimatnya dengan terisak kini air mata yang sejak tadi dia tahan sudah menganak sungai dipipinya, dia sudah tidak memikirkan wibawa yang dia jaga didepan anaknya.


Ini sebabnya hubungan kakek, nenek dan papah serta mamah tidak harmonis. batin Ilham


"Papah baru tahu bahwa Gunawan selama ini menjalani hidup yang sulit disebuah kampung, anak-anaknya bahkan sulit mendapatkan makanan yang bergizi dan pendidikan yang layak karena kekurangan biaya hidup, sedangkan papah hidup mewah dan berkecukupan, padahal kemewahan yang keluarga kita rasakan hasil jerih payah Guna yang membantu papah tanpa mengenal waktu diawal merintis perusahaan." Kini Pak Nugraha tertunduk sambil terus tersedu pilu tidak mampu melanjutkan kalimatnya lagi, Ilham diam mencoba meresapi rasa bersalah papahnya itu, hanya tangisan penyesalan Pak Nugraha yang terdengar diruangan itu.


Tanpa ayah dan anak itu tahu dibalik pintu ada sepasang telinga yang ikut mendengarkan cerita pilu 20 tahun yang lalu itu, tubuh bu Karla luruh bersimpuh dilantai dibalik pintu sambil ikut menangis pilu mendengarkan cerita suaminya, kini dia paham kenapa semenjak kejadian itu rumah tangganya tidak seharmonis diawal pernikahan bahkan suaminya bersikap dingin dan tidak sehangat dulu, bu Karla membekap mulutnya sendiri supaya suara tangisnya tidak terdengar oleh Ilham dan pak Gunawan.


"Papah mohon menikahlah dengan anaknya Guna Ham! dan bantu papah mengembalikan semua haknya kembali," ucap Pak Gunawan tegas setelah mengakhiri tangisannya.


"Pah.. a-aku.." Ilham tidak mampu menyelesaikan kalimatnya suaranya tercekat ditenggorokan, sungguh dia dilema keputusan apa yang harus dia ambil.


tbc


*************


Terima kasih buat kakak-kakak readers yang masih mengikuti cerita author ini mohon koreksinya di kolom komentar ya karena author masih amatiran hehe..


mohon tinggalkan jejak LIKE,KOMEN,VOTE dan RATE bintang lima supaya author tambah semangat nulisnya...

__ADS_1


makasih... ❤❤❤❤


__ADS_2