Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
27. Apa?


__ADS_3

"Ayah kamu ditangkap polisi Tia," ucap bi Saroh lirih penuh kesedihan, ibu Nadia kembali terisak setelah mendengar penuturan bi Saroh.


"Apa?" ucap Tia sedikit berteriak terkejut, begitupun Anna dan Ilham sama terkejutnya dengan penuturan bi Saroh.


Tia terisak tersedu dengan pilu bagaimana bisa ayahnya ditangkap polisi, kini dia paham kenapa ibunya sampai pingsan, Tia menggeser duduknya hingga berhadapan dengan ibu, dia genggam kedua tangan ibu dengan lembut.


"Kenapa ayah sampai ditangkap Bu?" pertanyaan Tia lirih sambil menatap lekat kedua manik mata ibunya yang tidak hentinya meneteskan air mata begitupun dengan mata Tia yang juga terus mengeluarkan air mata. Hanya gelengan kepala pelan yang ibu berikan.


Tia dan Ibu lalu berpelukkan sambil menangis pilu menyalurkan rasa saling menguatkan satu sama lain. Anna dan Ilham yang menyaksikan momen mengharukan itu pun saling berpandangan dan kembali menatap ibu dan anak itu dengan iba.


Tia mengurai pelukannya dengan ibu lalu menatap lekat mata ibu.


"Ibu tolong jelasin ke Tia apa yang sebenarnya terjadi?" pinta Tia sambil terus terisak.


Dengan terisak pula ibu menjelaskan kejadian dari beberapa hari lalu yang tiba-tiba ayah didatangi oleh pak lurah dan beberapa orang perangkat desa, kemudian dengan semena-mena menuduh Ayah sudah melakukan penyalahgunaan dana operasional desa dan memberikan beberapa kertas yang menunjukkan bukti penyalahgunaan dana tersebut.


Sebenarnya ayah sudah minta waktu beberapa hari untuk membuktikan bahwa ayah tidak penah melakukan hal yang dituduhkan tetapi tadi tiba-tiba polisi menangkap ayah.


"Ayah kamu nggak bersalah Tia, ibu yakin ayah nggak mungkin ngelakuin hal itu, ibu yakin meski kita hidup susah tapi ayah tidak akan pernah memberikan kita makanan dari uang haram," ibu bertutur dengan masih terus terisak Tia hanya manggut-manggut sambil terisak juga.


Bi Saroh memandang kedua anak dan ibu itu dengan iba dan sesekali mengelus lembut pundak ibu.


"Bibi yakin Tia, ayah kamu tidak mungkin melakukan hal itu," ucap bi Saroh sambil terus mengelus pelan punggung ibu Nadia dengan lembut.


"Sekarang mending kamu istirahat, temenin dan hibur ibu kamu, jaga juga kedua adik mu, bibi permisi dulu, ini sudah lewat isya takut suami dan anak bibi nyariin," ucap bi Saroh sambil beranjak berdiri dan menepuk pelan bahu Tia.


"Iya maksih ya bi udah jagain ibu sama adek-adek Tia," ucap Tia tulus, bi Saroh hanya mengangguk sambil tersenyum lalu berjalan keluar rumah.


Tia mengalihkan pandangannya pada kedua adiknya dan menghela napas dalam.


"Ardi, Melati masuk kamar gih, sholat isya lanjut tidur ya, biar teteh yang jagain ibu," ucap Tia lembut yang disambut anggukan oleh kedua adiknya. Sekarang pandangan Tia tertuju pada Anna dan Ilham.


"Makasih banyak ya Teh, A, udah anterin Tia, mumpung belum larut lebih baik teteh sama Aa pulang, maaf bukannya nggak sopan tapi tidak mungkin Tia ngajakin teteh sama Aa buat nginep dikondisi seperti ini," ucap Tia lirih tatapan sendu Tia layangkan kepada kedua orang didepannya itu.

__ADS_1


"Nggak papa Tia, kamu kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku dan Ilham," ucap Anna lembut sambil menepuk punngung tangan Tia


"Iya Tia kami akan selalu bantu kamu kalau kamu minta, kami permisi yah, Tia,Ibu," ucap Ilham lembut sambil menatap Tia dan Ibu Nadia bergantian. Ibu Nadia hanya mengangguk pelan dan Tia tersenyum.


Sebelum berlalu Ilham sedikit tertegun menatap lekat sebuah foto yang menampilkan keluarga Tia, tampak Ayah,Ibu,Tia dan kedua adiknya, mereka tampak bahagia dengan senyuman yang menghiasi setiap wajah di foto itu.


Keluarga yang harmonis


"Sekali lagi makasih yah Teh, A, hati-hati di jalan," ucap Tia kepada Anna dan Ilham yang sudah diambang pintu.


Anna dan Ilham hanya mengangguk dan tersenyum lalu masuk ke mobil Ilham yang terparkir dihalaman rumah Tia. Mobil Ilham pun melaju meninggalkan halaman rumah Tia untuk kembali ke kota.


Setelah kepergian Anna dan Ilham, Tia mengajak ibu masuk kamar untuk beriatirahat.


********


Keesokan paginya dikantor polisi...


"Selamat pagi Pak, saya pengacara yang akan mendampingi Pak Gunawan yang baru semalam ditangkap," ucap seorang pria dewasa dengan stelan jas rapi menyapa salah satu petugas polisi.


"Pak Gunawan ada pengacara anda yang menunggu," ucap salah satu sipir penjara memanggil pak Gunawan.


Pak Gunawan mengkerutkan dahinya dalam namun tetap mengekori sipir tersebut menuju ke ruang kunjungan.


Siapa yang kirim pengacara?


"Selamat pagi Pak, saya Andre pengacara yang akan mendampingi anda dalam kasus ini," ucap pengacara tersebut sambil mengulurkan tangannya, pak Gunawan menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya meskipun masih bingung siapa yang mengutus pengacara tersebut.


"Saya diutus oleh Pak Nugraha untuk membantu anda," tutur Andre seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Pak Gunawan.


Ternyata ini pengacara utusan kamu Gaha


"Saya sudah menemukan beberapa bukti bahwa anda sebenarnya dijebak, dan saya juga sudah menemukan pelaku sebenarnya, saya mohon Bapak bersabar karena masalah prosedur, jadi Bapak masih harus menginap disini untuk beberapa hari sebelum kita ungkap kebenarannya pada kepolisian," ucap pengacara itu panjang lebar.

__ADS_1


"Baik, saya percayakan saja kepada anda Pak Andre," ucap Pak Gunawan tegas


"Baik Pak, kalau begitu saya pamit dulu nanti saya akan berkunjung lagi, bapak tenang saja karena bapak memang tidak bersalah," ucap Andre sambil bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya kearah pak Gunawan, pak Gunawan menyambut uluran tangan Andre dan menjabatnya.


"Tolong sampaikan rasa terima kasih saya pada pak Nugraha atas bantuan yang beliau berikan," ucap pak Gunawan


Andre mengulas senyumnya.


"Pak Nugraha hanya titip pesan bahwa ini untuk menebus kejadian 20 tahun yang lalu dan supaya Anda mempertimbangkan permintaan beliau tempo hari," tutur Andre sambil melepas jabat tangannya dengan pak Gunawan.


Huh!! aku pikir kamu tulus Gaha, ternyata bantuanmu ini pamrih!


"Apapun itu saya berterima kasih," ucap pak Gunawan dengan sedikit kesal


Andre pun meninggalkan kantor polisi dan pak Gunawan kembali ke sel tahanannya.


Dikediaman Nugraha....


"Mah.. tolong persiapkan beberapa hantaran dan sebuah cicin, tiga hari lagi kita akan melamarkan seorang gadis untuk Ilham," ucap pak Nugraha pada istrinya disela-sela makan sarapan paginya.


"Apa?"Ibu Karla terjengit kaget dengan penuturan suaminya


"Papah mau menjodohkan Ilham lagi pah?" tanyanya lagi.


"Papah pasti bercanda yah? hehe papah nih pagi-pagi udah bikin jantung mama maraton tahu nggak?" jawab ibu Karla sambil terkekeh tidak mau menanggapi serius penuturan suaminya.


"Apa wajah papah seperti bercanda mah?" tanya Pak Nugraha dingin sambil menatap istrinya dengan tajam.


Senyum bu Karla surut ketika mendapat tatapan tajam dari suaminya.


Glekk..


Dengan susah payah bu Karla menelan salivannya lalu melanjutkan sarapannya dalam diam.

__ADS_1


"Ilham tidak mau dijodohkan Pah!"


__ADS_2