
"Pah.. a-aku.." Ilham tidak mampu menyelesaikan kalimatnya suaranya tercekat ditenggorokan, sungguh dia dilema keputusan apa yang harus dia ambil.
"Ham, Papah mohon!" jelas sekali pak Nugraha memohon kepada anaknya dengan menggenggam salah satu tangan anaknya itu, dengan sedikit ragu Ilham menganggukkan kepalanya pelan, Pak Nugraha tersenyum tipis lalu memeluk anaknya.
"Kamu tidak akan pernah menyesalinya nak," ucap pak Nugraha sambil menguraikan pelukannya.
"Ilham permisi ke kamar dulu Pah," ucap Ilham sambil beranjak berdiri lalu meninggalkan papahnya yang masih duduk dengan nyaman disofa ruang kerjanya, pak Nugraha hanya mengangguk samar.
Saat Ilham berada didaun pintu dia kaget karena mendapati mamahnya sedang duduk bersimpuh dilantai dengan wajah yang basah dan mata yang sembab, ibu Karla menaruh telunjuk didepan bibirnya memberi kode kepada anaknya untuk diam tidak berkata apapun, ilham mengangguk lalu membantu mamahnya untuk bangkit berdiri.
Ilham memapah mamahnya untuk duduk di sofa didalam kamarnya.
"Mamah kenapa tadi ada didepan ruang kerja papah?" tanya Ilham saat sang mamah sudah mulai tenang duduk disofa, hanya gelengan pelan yang mamahnya berikan.
"Ham,, ini semua salah mamah maafkan mamah Ham!" ucap bu Mita kembali terisak
"Mamah nggak salah, Mamah hanya salah paham." ucap Ilham lembut dia tahu bahwa sang mamah mendengar semua pembicaraannya dengan sang papah
"Ham, mau kan bantu mamah buat nebus rasa bersalah mamah?" ucap bu Mita sambil menggenggam kedua tangan Ilham lembut, Ilham memalingkan pandangannya lalu menutup matanya.
"Ilham siap menikah dengan gadis pilihan papah mah," ucap Ilham lirih sambil membuka kembali kelopak matanya, sorot matanya menunjukkan rasa kecewa yang teramat dalam.
Selamat tinggal kisah tak terucap
"Ya sudah mamah istirahat ya, Ilham ke kamar dulu," ucap Ilham setelah membaringkan mamahnya diatas ranjang yang berada dikamar mamahnya.
Sesampainya dikamarnya Ilham merebahkan tubuhnya diatas ranjang, dia pejamkan matanya lalu menghela nafas berat beberapa kali sungguh dadanya sesak saat ingat sebentar lagi dia akan menikah dengan seseorang yang tidak dia cinta dan bahkan tidak dia kenal, sesak sekali yang dia rasa didadanya.
__ADS_1
Sungguh pilu kisah cintanya, untuk pertama kali hatinya bergetar karena seorang gadis tapi dia harus merelakan cintanya tanpa sempat ia ungkapkan.
Tuhan.. apa ini akhir dari kisah cintaku? atau awal dari kisah cintaku?
Tiga hari berselang....
"Silahkan Bapak menandatangani berkas-berkas prosedur pembebasan!" titah salah satu petugas polisi yang berada didepan pak Gunawan, Pak Gunawan bergegas melakukan apa yang diperintahkan oleh polisi tersebut. Setelah selesai pak Gunawan bangkit dari duduknya dan menyalami petugas polisi tersebut.
"Selamat atas kebebasan anda Pak Gunawan," ucap Andre menyambut kebebasan pak Gunawan sambil mengulurkan tangannya
"Terima kasih banyak Pak Andre," jawab pak Gunawan dengan senyum tipis lalu menyambut uluran tangan Andre dan menjabatnya.
"Silahkan pak saya antar kerumah bapak!" ucap Andre sambil membukakan pintu mobil untuk pak Gunawan.
"Terima kasih," ucap pak Gunawan lalu masuk kedalam mobil bersama Andre menuju rumahnya.
Sesampainya dirumah pak Gunawan segera turun dari mobil Andre dan mengajaknya untuk mampir.
"Tidak usah sungkan Pak, maaf tapi saya tidak bisa mampir ada urusan lagi yang harus saya selesaikan, hmm.. Pak saya dititipi pesan oleh Pak Nugraha beliau berpesan kalau akan datang untuk melamar anak bapak petang nanti," ucap Andre sopan, Pak Gunawan hanya diam tidak menanggapi ucapan Andre
"Kalau begitu saya pamit Pak" ucap Andre membungkukkan badannya sambil tersenyum sopan lalu masuk kembali ke dalam mobilnya, pak Gunawan hanya meng-anggukkan kepalanya samar, pak Gunawan menghela napas pelan sambil menatap kepergian mobil Andre yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan matanya.
Bagaimana harus ku jelaskan masalah lamaran ini kepada istri dan anakku?
"Assalamu'alaikum," ucap pak Gunawan saat berada diambang pintu
"Wa'alaikumsalam," ucap Tia dari dalam rumah, saat pintu terbuka tampak pak Gunawan sedang mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Ayah..!" pekik Tia sambil menghambur ke pelukan pak Gunawan, pak Gunawan merengkuh tubuh putrinya dalam dekapan nya dengan erat entahlah ada rasa bersalah dalam hati pak Gunawan karena harus menikahkan Tia dengan anak sahabatnya sebagai syarat kebebasannya ini.
Bu Nadia pun menyambut kedatangan suaminya dengan hati yang gembira, tangis haru terdengar di ruang tamu rumahnya, mereka berpelukan sebagai keluarga begitupun dengan Ardi dan Melati meski mereka berdua belum paham apa yang terjadi tapi mereka bahagia sang ayah kembali ke tengah-tengah keluarga.
"Ada yang mau ayah bicarakan," ucap pak Gunawan sesaat setelah mengurai pelukan nya, dia menatap lekat putri sulungnya itu dengan sorot mata yang tidak dapat diartikan.
"Ayah mau bicara apa?" tanya Tia sambil menyatukan kedua halis nya
"Apa kamu mau menikah nak?" tanya Ayah sambil memberikan tatapan lembut dan usapan lembut dikepala Tia, Tia melonjak kaget dengan ucapan ayahnya, begitupun bu Nadia dia membulatkan matanya dan menatap suaminya dengan tatapan penuh selidik.
"Nanti sore akan ada yang melamar mu," ucap pak Gunawan lembut sambil terus mengelus lembut kepala Tia
"Apa?" ucap bu Nadia sedikit berteriak karena kaget sedangkan Tia hanya diam, dia masih belum bisa menangkap apa maksud ayahnya tersebut.
Apa sebenarnya yang Ayah bicarakan sih? kok aku nggak ngerti
"Yah! kenapa ngambil keputusan mendadak sih? Tia belum genap 19 tahun masa mau dinikahkan?" ucap bu Nadia sewot tidak terima anak gadisnya akan dinikahkan tanpa persetujuan dirinya terlebih dahulu.
"Tia boleh pikirkan tawaran Ayah, dan Tia juga boleh menolak jika tidak mau setelah melihat pemuda yang akan melamar Tia nanti," ucap pak Gunawan lembut tanpa menghiraukan istrinya yang sudah tidak tenang bak orang yang kebakaran jenggot.
"Yah! pokoknya ibu nggak setuju!" ucap bu Nadia masih keukeuh
"Ibu bisa menolak lamarannya jika tidak suka dengan pemuda yang akan melamar Tia nanti," ucap pak Gunawan datar sambil menatap istrinya lembut dia tahu kalau seperti inilah reaksi yang diberikan istrinya apabila dia mengetahui tentang hal ini, tapi yang sedikit mengganjal di hatinya ekspresi Tia tidak seperti yang ia bayangkan, Tia tidak marah, tidak menolak atau menangis, gadis itu hanya diam tertunduk.
"Ayah tidak akan memaksa mu nak, jadi pikirkanlah baik-baik !" titah pak Gunawan sambil mengelus kepala Tia lembut, Tia hanya mengangguk samar lalu berlalu masuk kedalam kamar tanpa berpamitan kepada orang tuanya.
Pak Gunawan menatap kepergian anaknya dengan hati yang tidak kalah sakitnya dia tahu anak sulungnya itu adalah anak yang baik dan penurut, serta selalu memikirkan perasaan orang lain termasuk orang tuanya, walaupun ia harus mengorbankan perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa ayah tiba-tiba membicarakan pernikahan?" gumam Tia lirih setelah menutup pintu kamarnya, dia menyandarkan tubuhnya dibalik pintu lalu tubuhnya luruh terduduk dilantai menatap nanar kesembarang arah.
Apa ini awal dari kisahku? aku bahkan tidak mengerti situasi seperti apa ini?