Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
46. keputusan


__ADS_3

Di sebuah desa kecil di sudut kota Bandung, seorang gadis belia sedang duduk termenung di atas ranjangnya, kakinya dia tekuk lalu ia tenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.


Senja sudah menyapa, langit sudah berwarna jingga, tapi gadis itu masih belum bergerak sedikit pun dari posisinya sejak siang tadi.


ceklek


pintu kamar terbuka secara perlahan lalu seorang wanita paruh baya masuk. Dia melangkah perlahan lalu duduk disamping gadis yang masih asyik tenggelam dalam lamunannya.


Wanita paruh baya itu mengelus lembut ramput gadis yang ada dihadapannya. Merasakan sebuah sentuhan di kepalanya, gadis itu mendongakkan kepalanya.


"Ibu," lirih gadis itu dengan suara serak dan mata bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Makan yuk Nak!" ajak ibu Nadia pada anaknya Tia, ya gadis itu adalah Tia.


Tia menggelengkan kepalanya pelan, "Tia nggak lapar Bu," lirih Tia dengan tatapan kosong.


"Nak, sudah tiga hari kamu tidak makan teratur dan hanya mengurung diri dikamar. Bapak sama ibu khawatir, makanlah walau sedikit biar kamu nggak sakit," bujuk bu Nadia lembut.


Kali ini Tia hanya diam tidak merespon ucapan ibunya. Dia bahkan lupa sudah berapa hari dia seperti ini kalau ibunya tidak mengingatkannya barusan. Ternyata sudah tiga hari dia seperti ini, sudah tiga hari dia meninggalkan rumah suaminya. Dan sudah tiga hari juga tidak ada yang mencarinya. Bahkan Ilham, suaminya juga tidak mencarinya.


Tia menghela nafas berat, ternyata sebegitu tidak berharga dirinya untuk Ilham. Keputusan untuk pergi pun bahkan tidak suaminya cegah, Ilham mengabaikannya seperti ini tanpa kejelasan dan penjelasan.


Sakit? tentu saja sakit. Hatinya sakit sekali mengetahui kenyataan bahwa keberadaannya memang tidak pernah dianggap oleh Ilham.


Ya sudahlah dia harus berhenti berharap mulai hari ini.


"Tia..," panggil bu Nadia lirih, hatinya sakit sekali melihat putri sulungnya harus mengalami permasalahan rumah tangga di usianya yang masih belia.


Tia menoleh ke arah bu Nadia yang ternyata sudah menangis disampingnya. Tia menghambur kepelukan ibunya, dia merasa jadi anak yang selalu menyusahkan kedua orang tuanya terlebih dengan permasalahan yang dia miliki sekarang.


"Maaf Bu, maaf Tia nyusahin Ibu sama Bapak terus," lirih Tia sambil terisak dalam pelukan ibunya.


Bu Nadia menggeleng, "Tia anak yang baik, apa yang terjadi tidak sepenuhnya salah Tia atau Ilham. Tapi salah kami sebagai para orang tua yang telah memaksakan kehendak kami pada kalian." Bu nadia menjeda kalimatnya, "Sekarang teteh makan, Bapak sama Ibu sudah bicara sama pak Nugraha dan kami sudah sepakat." Tia hanya melirik ibunya dengan tatapan sendu.


Jadi secepat inikah keputusan harus diambil? jadi secepat inikah semuanya harus di akhiri?


Tanpa terasa air mata sudah menganak sungai di pipi Tia, kenapa semuanya jadi seperti ini? saat harus menikah diputuskan dengan waktu cepat, begitupun dengan perpisahan semuanya diputuskan dengan cepat pula.


Tia benar-benar merasa dirinya tidak punya kuasa penuh atas hidupnya sendiri, karena semuanya diatur dan diputuskan oleh orang tuanya.

__ADS_1


"Sekarang makan dulu ya," ucap bu Nadia sebelum dia beranjak keluar dari kamar Tia. Tia hanya mengangguk lemah, dia menghela nafas berkali-kali lalu dia hapus jejak air mata di pipinya. Tia bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar untuk makan seperti ajakan ibunya tadi.


********


Sementara itu di sebuah rumah sakit swasta di kota Bandung, seorang pemuda sedang terbaring lemah dengan selang infus yang menacap di punggung tangan kirinya. pemuda itu hanya menatap kosong ke arah pintu masuk.


"Kamu sudah sadar sayang?" tanya bu Karla setelah masuk ke dalam ruangan anaknya dan mendapati mata anaknya telah terbuka. Ilham hanya mengangguk samar, dia bahkan tidak ingat sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri.


Semenjak kepergian Tia, Ilham terus saja menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Pemuda itu terpuruk dan hanya mengurung diri dikamar sampai akhirnya bu Karla menemukannya tidak sadarkan diri karena dehidrasi. Ilham lalu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.


"Tia, mah...," lirih Ilham lalu kembali terisak pilu.


Bu Karla tahu ini hal terberat pertama yang dialami anaknya, dari kecil Ilham tidak pernah kehilangan sesuatu yang dia miliki dan selalu bisa mendapatkan yang dia mau dengan mudah. Itu semua karena bu Karla selalu memanjakannya sejak kecil.


Dan sekarang, sepertinya tuhan sedang menjelaskan padanya kalau selalu memanjakan anak adalah hal yang kurang tepat. Hal itu bisa menyebabkan anaknya terlalu rapuh menghadapi kesulitan mudah sekalipun.


Dia yakin keputusan yang diambil suaminya sudah tepat kali ini, jadi dia hanya harus percaya dan membantu anaknya untuk tetap kuat.


"Mah... Tia.." Disela-sela isakannya selalu kata itu yang terlontar dari mulut pucat Ilham.


"Kamu yang kuat ya Nak, semua akan diperbaiki oleh papa," ucap bu Karla sambil mengelus lembut kepala Ilham. Ilham hanya diam mencoba mencerna kalimat yang diucapkan oleh mamahnya.


Ilham hanya menatap datar pada sang papa, saat pak Nugraha beranjak masuk dan mendekati Ilham dan bu Karla, tampak seorang gadis yang juga ikut mengekori langkah pak Nugraha.


"Ham...," panggil gadis itu lirih, dia menatap Ilham iba.


"Maaf Ham, gara-gara gue-" Anna tidak melanjutkkan kalimatnya.


"Mulai hari ini lo harus bisa jaga diri lo sendiri An," kata Ilham dingin.


Anna hanya mengangguk pasrah, dia merasa sangat bersalah dengan yang terjadi dengan rumah tangga sahabatnya itu. Karena kebiasaannya yang selalu bergantung pada Ilham, Anna jadi tidak berfikir ulang dengan sikapnya selama ini yang justru telah menyakiti hati Tia.


"Tidak perlu Ham, jagalah Anna semaumu mulai sekarang," sahut pak Nugraha datar.


"Maksud papa?" kaget Ilham.


Ilham berusaha bangkit untuk duduk dengan susah payah.


"Papa sudah berbicara dengan mertuamu dan kami sudah sepakat," ucap pak Nugraha tenang.

__ADS_1


"Maksud papa apa?" tanya Ilham tidak sabar, kali ini dengan suara yang lebih keras dengan nada gusar.


"Kami memang tidak seharusnya memaksa kalian untuk menikah, jadi kami akan memperbaikinya," jelas pak Nugraha lagi.


Ilham tersenyum kecut mendengar penjelasan dari papahnya itu.


"Pah, pernikahan itu bukan permainan yang bisa dimulai dan diakhiri seenak kalian!" ucap Ilham lantang, terlihat kilatan-kilatan amarah dari sorot matanya.


"Kami yang memulai dan kami yang akan mengakhirinya." Pak Nugraha masih saja tenang.


"Nggak bisa pah, Ilham nggak mau!"


***********


hilaw.. maaf banget baru update, beberapa minggu ini aku yang amatiran ini lagi sibuk belajar kesana kemari biar lebih pinter hehe..


mpok Neti : alasan aja, bilang aja lagi mentok ide (menyipitkan mata, menatap sinis)


hahahahaha kok tahu๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Jadi ya gengs, aku mau jelasin alasan aku lama banget update cerita ini. Selain karena ini karya pertama aku, ini cerita juga aku tulis pas ada ide aja, jadi spontan aja gitu tanpa adanya outline atau persiapan apapun..


mpok Neti : pantes, ceritanya amburadul nggak bermutu (menyunggingkan senyum sinis)


hahahhahaha kok tahu๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


lagi-lagi itu benar gengs, aku yang buat cerita aja bingung mau dibawa kemana cerita ini. Tapi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa melanjutkan cerita ini, dan memberikan kejelasan pada hubungan Ilham dan Tia ya. Karena aku tahu rasanya digantung tanpa kejelasan itu sakit๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


mpok Neti : jiahhh dia malah baper๐Ÿค”


ya sutralah,, selamat membaca๐Ÿ˜‹


makasih yang banyak banyak untuk kalian kakak-kakak readers yang masih setia mengikuti cerita recehku inih..


love..love..love..


salam,


_AB_

__ADS_1


__ADS_2