Pelangi Di Ujung Senja

Pelangi Di Ujung Senja
Bab. 59


__ADS_3

3 Bulan Kemudian...


Hari demi hari berlalu begitu saja, bagi orang yang menghabiskan waktu dalam kesendirian dan pekerjaan. Tapi tidak bagi Nisa, yang terhitung sudah tiga bulan ia menetap di Jakarta dan menjadi istri dari seorang Fahri Septian Wijaya, yang setiap harinya dihabiskan dengan mengurusi bunga-bunga ditaman.


Sudah dua bulan ia menempati rumahnya sendiri yang dibeli Fahri, setelah satu bulan lamanya tinggal di pondok indah mertua. Dan mama Risa sebenarnya sangat keberatan anak menantunya keluar dari rumah dan memilih tinggal sendiri. Karena ia pikir, nanti pun rumahnya akan menjadi milik Fahri. Namun dengan alasan ingin mandiri dan penjelasan dari sang suami yang harus memberikan privasi pada anak dan menantunya, akhirnya mama Risa mengijinkan Fahri dan Nisa untuk pindah ke rumah yang baru saja dibeli. Dengan syarat jangan jauh-jauh dari tempat tinggalnya sekarang.


Bersyukur Fahri mendapatkan rumah yang masih satu kawasan dengannya, bahkan lokasinya pun masih satu komplek dengan rumahnya cuma beda blok.


Dan itu membuat Nisa bahagia bukan main, bukan tidak nyaman ia tinggal bersama mertuanya, namun ia ingin belajar berumah tangga yang sesungguhnya, tanpa ada pembelaan dari sang mertua. Karena selama ini setiap kali ada apa-apa, mama Risa lah yang selalu memasang badan untuknya.


Karena masih berada didalam kawasan yang sama, mama Risa pun sering menghabiskan waktu dirumahnya, seperti sekarang ini. Keduanya sudah janjian mau belanja bulanan, sekalian mampir terlebih dulu ke kantornya Fahri membawakan makan siang.


"Ma, kita makan disini atau nanti sekalian di kantornya mas Fahri?" Nisa menatap sang mama mertua yang sedang mencicipi udang goreng buatannya.


"Disini saja lah, mama sudah lapar." Mama Risa mbuka piring yang sudah disiapkan di meja.


"Iya ma. Takutnya nanti kita pas sampai sana mas Fahri belum sampai ke kantor. Soalnya barusan ngasih tahu meetingnya belum selesai." Nisa yang baru selesai memasukkan kotak makanan kedalam tas khusus buat suaminya, menyusul sang mama duduk.


"Lha terus gimana? Fahri makan diluar enggak? Nanti kita bawain makanan malah enggak dimakan." Mama menata Nisa yang baru saja duduk didepannya.


"Enggak apa-apa ma. Mas Fahri tetap minta dibawain makan kok. Katanya mau makanan dari rumah saja." Nisa menceritakan permintaan suaminya yang ingin dibawakan makan siang dari rumah.


"Fahri itu mirip banget sama papa. Dia enggak pernah romantis, tapi langsung menunjukkan cintanya dengan tindakan. Pura-pura enggak perhatian, tapi dia tahu apa yang kita inginkan." Ucap mama Risa sambil tersenyum membayangkan sikap suaminya yang seperti Fahri sekarang.


Nisa menunduk, ia hanya memakan udang goreng yang dicocol ke mayonaise. Mungkin karena efek dari pikiran yang terganggu jadi mempengaruhi pada selera makannya.

__ADS_1


Sudah satu Minggu terakhir, Fahri sering pulang malam. Karena ada beberapa proyek yang sedang ia kerjakan bersama Nadira, mantan kekasihnya. Dan setiap hari juga Fahri selalu memberi kabar dimana pun ia berada. Namun tetap saja Nisa merasa khawatir, ia takut suaminya terjebak pada cinta masa lalu karena keseringan bersama. Dan semenjak itu pula perasaan Nisa tak karuan, moodnya sering tiba-tiba memburuk, dan berakhir dengan menangis sendiri.


"Ca, kenapa cuma makan udangnya saja? Memangnya bakal kenyang?" Mama Risa menatap heran pada Nisa yang sedari tadi ia perhatikan hanya memakan udang tanpa nasi.


"Masih kenyang ma, jadi cukup makan udang saja." Nisa menggelengkan kepalanya, yang masih ditatap heran oleh sang mertua. Karena menyebut dirinya masih kenyang, tidak mau makan nasi. Tapi udang goreng hampir habis sendiri, tidak mencerminkan orang yang masih kenyang.


Masih kenyang, tapi udang satu piring sudah hampir habis setengahnya dimakan sendiri, kalau begini ceritanya pasti kenyang walaupun enggak makan nasi.


Mama Risa mengulum senyum, merasa lucu dengan tingkah menantunya itu. Tapi ia bersyukur pernikahan yang sempat di khawatirkan nya, tidak banyak mengalami kendala. Fahri yang pendiam sangat cocok dengan Nisa yang memiliki karakter hampir mirip dengan dirinya.


"Sudah jam sepuluh, kita berangkat sekarang saja yuk." Mama Risa menatap jam yang melingkar di tangannya, mengajak Nisa yang baru saja menyelesaikan makannya, untuk berangkat sekarang.


"Iya ma, ayo. Tapi Nisa mau cuci tangan dulu sebentar." Nisa berdiri kemudian ia menuju dapur hendak mencuci tangan dan memanggil bi Lela, asisten rumah tangganya yang ia bawa dari Bandung.


"Bi, Nisa berangkat dulu ya.Jangan lupa pintunya di kunci. Kalau bibi sudah lapar makan saja, jangan nunggui jam dua belas." Nisa melongokkan kepalanya ke arah bi Lela yang sedang melipat baju yang baru saja ia angkat dari jemuran, dan nanti sore baru akan disetrika nya.


"Iya neng, hati-hati di jalan." Bi Lela berdiri mengikuti langkah sepasang mertua dan menantu yang selalu berduaan setiap pergi kemana-mana. Ia hendak mengunci pintu gerbang dan rumah, karena di kediaman Nisa dan Fahri tidak memiliki sekuriti seperti di rumah mama Risa.


Mama Risa mengerutkan keningnya keheranan, tak seperti biasanya sang menantunya itu duduk anteng tidak bersuara. Ia pun melihat Nisa tanpa menoleh ke samping, melainkan melalui spion tengah agar tidak menimbulkan gerakan.


Pantesan senyap, ternyata tidur, tapi hari ini sikapnya benar-benar aneh, ada apa ya? Apa mungkin lagi berantem? Tapi enggak mungkin juga, orang semalam mereka baik-baik saja.


Mama Risa menggelengkan kepala, berharap diamnya Nisa bahkan sampai tertidur dimobil hanya karena kelelahan, bukan karena sedang ada masalah dengan putranya.


"Ca, bangun. Sudah sampai" Mama Risa menyentuh pelan tangan Nisa, namun menantunya itu sama sekali tak bergeming.

__ADS_1


"Ca, bangun sayang! kita sudah sampai." Dari sentuhan pelan yang tidak berefek, berubah jadi guncangan intens di lengan Nisa yang perlahan membuka mata kemudian menegakkan duduknya sambil menatap sekeliling yang terlihat teduh. "Ma, kita dimana?" Nisa menatap mertuanya sambil mengedarkan pandangan, menilik tempat yang lama kelamaan mulai jelas ia kenali, yaitu basement dari gedung kantor suaminya. "Eh sudah sampai ya? Perasaan belum lama. Tahu-tahu sudah sampai." Nisa merapikan kerudungnya sambil tersenyum meringis kearah mama Risa.


"Kayaknya kamu kecapekan nak, jangan terlalu capek dirumah. Beres-beres rumah biarin kan ada bi Lela. Nanti kalau apa-apa dikerjakan sendiri, bi Lela malah enggak nyaman." Mama Risa menatap lembut menantunya. Ia tidak ingin Nisa kelelahan sehingga nanti mempengaruhi berat badannya, jadi menurun.


Aku bukan kecapekan kerja ma, tapi kecapekan melayani anak mama yang enggak ada capeknya.


Jawab Nisa yang tentunya hanya berani ia ucapkan di dalam hati.


"Sebentar ma, Nisa mau telepon mas Fahri dulu" Nisa merogoh tas hendak mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya.


Tak berselang lama, panggilan pun langsung terhubung. "Assalamu'alaikum, mas. Sudah dikantor apa masih di luar? Aku sama mama sudah di basement."


[Masih diluar, habis meninjau lokasi langsung meeting sekalian. Tapi sebentar lagi juga selesai kok, tinggal tanda tangan] Fahri langsung menjawab pertanyaan Nisa yang terdengar setengah berbisik.


"Ya sudah kalau begitu bekalnya aku simpan diatas meja saja ya. Soalnya mau lanjut ke mall nemenin mama belanja bulanan. Enggak apa-apa kan?"


[Iya simpan saja diatas meja. Jangan dibawa pulang lagi, bosan makan diluar terus. Ya sudah dulu, enggak enak sama pak Chandra dan Mr. Kim]


Degg.. Dada Nisa tiba-tiba terasa sesak, mendengar suaminya sedang meeting bersama kliennya yang bernama Chandra. Karena meeting bersama pak Chandra, sudah dipastikan ada Nadira juga yang notabene sekretarisnya pak Chandra, akan ikut hadir dan kembali berinteraksi dengan suaminya.


"I iya, Assalamu'alaikum." Nisa memasukan ponselnya yang sudah kembali menghitam setelah ia matikan sepihak, tanpa menunggu jawaban salam dari suaminya.


Sedangkan Fahri yang sedang berdiri menjauh dari meja tempatnya meeting, mengerutkan keningnya. Karena tidak biasanya istri kecilnya itu mematikan telepon sebelum ia menjawab salam. Mungkin terburu-buru.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2