
"Tia..!" teriak seseorang dari ambang pintu yang mampu mengalihkan perhatian kedua pengantin baru itu untuk menoleh ke sumber suara
"Kenapa kamu menikah?" tanya orang itu dengan nada bergetar seperti menahan tangis, dadanya naik turun seperti menahan kekesalan dan amarah, mendengar pertanyaan itu hati Tia sesak seolah pasokan oksigen diparu-paru nya direnggut secara paksa, mata Tia memanas dan matanya mengkilat seketika itu satu bulir bening lolos meluncur di pipinya.
Kenapa hati ini sakit Tuhan..?
"Dia siapa Tia?" tanya Ilham dengan penasaran
Tia gelagapan dan langsung membelakangi Ilham untuk menyeka air matanya
"Dia Dion, sahabat Tia waktu SMA," ucap Tia pelan sambil menundukkan pandangannya, Ilham hanya ber'oh' saja menanggapi jawaban dari istrinya.
Hening..
Dari dalam rumah bu Nadia melihat kedatangan Dion dan kecanggungan yang tercipta antara Tia, Ilham dan Dion.
"Oh..nak Dion datang,makasih ya sudah repot-repot datang, mari langsung makan saja yuk! para tamu yang lain sudah pada pulang jadi mulai lenggang nampaknya," ucap bu Nadia ramah sambil menyongsong Dion dan menarik lengan Dion untuk mengikutinya.
Dion masih tidak mengalihkan pandangannya dari Tia bahkan saat melewati Tia, Tia pun menatap Dion dan mata mereka bertemu beberapa saat. Ilham hanya menatap Dion dan Tia dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
Sebenernya pemuda tadi siapa nya Tia?
Hati Ilham mulai gusar melihat tatapan Tia pada Dion begitupun sebaliknya. Ilham mulai menerka-nerka ada hubungan apa Tia dengan Dion yang katanya hanya teman SMAnya itu.
Grep...
Lagi-lagi Ilham menggenggam tangan Tia meremasnya dengan pelan untuk meyakinkan hatinya sendiri bahwa Tia sudah menjadi istrinya dan sudah menjadi milikya. Apapun hubungan Tia dan Dion itu adalah masa lalu Tia dan Ilham adalah masa depan Tia, hati Ilham mencoba meyakini pemikirannya itu.
Tia menoleh ke arah Ilham.
"Makasih,, udah mau nerima aku jadi suami kamu." Tia hanya diam tidak merespon perkataan Ilham
"Aku harap kamu nerima aku sebagai suami kamu tidak hanya di lisan saja tapi di hati kamu juga," ucap Ilham lembut tapi penuh penekanan sambil terus menggenggam tangan Tia.
Tia seolah terhipnotis dan langsung meng-anggukan kepalanya
"Maaf.. boleh saya bicara dengan Tia?" tanya Dion yang sudah berdiri didepan Tia dan Ilham
"Bicara saja!" ucap Ilham dengan nada datar menatap Dion tidak suka.
"Saya mau bicara berdua dengan Tia."
Ilham menganggat sebelah halis matanya merasa heran dengan permintaan teman SMA Tia
Tia menoleh ke arah Ilham seakan meminta ijin lewat tatapan matanya yang mampu membuat Ilham mengangguk setuju lalu meninggalkan Dion dan Tia sesuai permintaan Dion tadi.
Hening.
"Jadi mau bicara apa?" ucap Tia mencoba memecah keheningan dan kecanggungan yang terbentang diantara keduanya
"Kenapa kamu menikah?" ucap Dion dingin
Tubuh Tia membeku, lidahnya kelu, dia hanya diam membisu sambil menundukkan kepalanya
__ADS_1
"Apa kamu menganggap perasaanku lelucon?"
Tia masih membisu
"Apa kamu tidak percaya akan janji yang telah ku ucapkan?"
Lagi-lagi Tia masih membisu
"Jawab!" nada bicara Dion sudah mulai meninggi merasa gemas sendiri karena Tia hanya diam
"Apakah perasaanku juga sebuah lelucon bagimu?" guman Tia pelan tanpa mengangkat kepalanya yang masih menunduk
Kamu selalu bisa melambungkan ku tinggi dan menjatuhkan ku secara bersamaan Dion
Aku lelah menunggu mu, aku lelah menjalani cinta sendirian Dion, aku mau bahagia
"Maksudnya?" ucap Dion sambil menautkan kedua halisnya
"Dion, aku sudah jadi istri orang dan kamu sudah bertunangan, dan selama ini kita hanya bersahabat tidak pernah lebih," ucap Tia lirih dia mendongakan kepalanya menatap Dion dengan sendu bulir bening lolos meluncur di pipinya.
"Apa arti dari air matamu Tia?" tanya Dion gusar
"Kita hanya ditakdirkan menjadi sahabat dalam lembaran kisah kita masing-masing tidak pernah lebih," ucap Tia dengan tenang sambil menyeka air matanya
"Maaf Dion, Aku mau sholat dzuhur takut waktunya keburu habis, sekali lagi terima kasih sudah datang ke nikahan aku," ucap Tia sambil bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Dion
"Semoga kamu bahagia." Tia menghentikan langkahnya mendengar penuturan Dion
"Pasti, aku akan bahagia," ucap Tia meyakinkan dan melanjutkan langkahnya
Tia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dan ternyata sudah ada Ilham sedang duduk di bibir ranjang.
"Sudah ngobrolnya?" tanya Ilham
"Sudah."
"Mau mandi dulu atau hanya wudhu?"
"Wudhu saja, takut waktu sholat keburu habis."
"Ya sudah Aa tunggu, kita sholat berjamaah." Tia mengangguk lalu menanggalkan aksesoris yang ada diatas hijabnya dan berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu.
Setelah mejalankan sholat berjamaah, Tia tidak buru-buru bangkit begitupun Ilham, setelah beberapa saat Ilham berbalik dan mengulurkan tangannya ke arah Tia.
Tia menyambut uluran tangan Ilham lalu dicimnya punggung tangan suaminya dengan penuh takjim, Ilham mengulurkan tangan yang satunya dan mengelus pucuk kepala Tia dengan lembut lalu tersenyum ke arah istrinya.
"Semoga kita jadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah ya."
"Amiin."
"Bantu Aa, supaya bisa menjadi suami dan imam yang baik buat Tia."
"Bimbing Tia juga untuk bisa jadi istri yang baik buat Aa."
__ADS_1
"Kita saling membantu dan mengingatkan ya, sayang" ucap Ilham lembut sambil tersenyum manis.
Tia mematung mendengar Ilham memanggilnya dengan kata 'sayang' Tia merasakan pipinya memanas lalu menunduk untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya sedetik kemudian Tia mengangguk canggung
Tia membuka mukenanya dan melipatnya beserta sejadah yang dia gunakan dan melipat juga sejadah yang digunakan Ilham lalu meletakannya didalam lemari
Tampak rambut hitam sebahu Tia tergerai indah saat mukena itu dibuka, Ilham terpaku melihat istrinya tanpa hijab untuk pertama kali.
Tia mengambil hijab instannya hendak memakainya tapi ditahan oleh Ilham
"Aa suamimu sekarang, jadi tidak usah pakai hijab kalau hanya ada Aa." Tia menatap Ilham canggung lalu dengan ragu menyimpan kembali hijabnya diatas meja belajarnya.
Keduanya kini duduk bersebelahan dibibir ranjang, kecanggungan mendominasi diantara keduanya.
"Maaf A,"
"Kenapa minta maaf?"
"Teh Anna gimana A?"
"Kenapa jadi bahas Anna?"
"Teh Anna pasti sedih kalau tahu A Ilham udah nikah sama Tia."
"Kenapa dia harus sedih?"
"Tia tahu, A Ilham sama teh Anna saling suka bahkan sudah tunangan," gumam Tia pelan sambil menunduk sedih
"Aa sama Anna batal tunangan karena Anna sendiri yang tidak mau bertunangan sama Aa, lagi pula Aa sukanya sama gadis lain bukan sama Anna."
"Siapa? maaf ya gara-gara Tia Aa nggak bisa nikah sama gadis yang Aa suka."
"Kata siapa? Aa udah nikah kok sama gadis yang Aa suka." ucap Ilham sambil mencubit pelan pipi Tia, Ilham gemas sendiri melihat tingkah istrinya.
Tia membulatkan matanya mendengar penuturan Ilham.
"Jadi maksud A Ilham Tia istri kedua Aa?" tanya Tia polos.
Ilham hanya tersenyum mendengar celotehan istrinya, Tia membisu karena Ilham menatapnya dengan intens, Tia membalas menatap Ilham hingga tatapan mereka beradu, tatapan Ilham mampu membungkam Tia untuk tidak berkata apa-apa lagi.
Perlahan Ilham mendekatkan wajahnya ke wajah Tia, tatapan Ilham terkunci pada bibir ranum milik Tia, sorot mata Ilham mendamba akan bibir ranum istrinya.
Perlahan Ilham mendekat dan sedikit memiringkan kepalanya, wajah mereka semakin dekat hingga nafas Ilham terasa hangat menyapu wajah Tia, detak jantung Tia berdetak dengan hebat melihat wajah Ilham yang semakin dekat, tapi sebelum bibir Ilham mendarat sempurna di bibir Tia pintu kamar Tia tiba-tiba terbuka
"Tia..Ilham.. makan dulu..!"
bersambung..
***********
makasih pada yang masih mengikuti cerita ini, mohon tinggalkan jejak like, komen, vote dan rate bingtang lima
makasih...
__ADS_1
salam hangat
_AB_